Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Tidak bisa berbuat apa-apa


__ADS_3

Sementara itu di luar ruangan kamar, Erina yang masih belum bisa menghilangkan kekhawatiran pada Rayya, meskipun sudah mengatakan baik-baik saja dan hanya marah pada Zafer karena tidak menjawab telpon saat sedang sibuk.


Erina mengetahui penyebab Zafer tidak menerima panggilan Rayya karena sedang menelpon Tsamara. Antara senang dan khawatir seolah menjadi satu saat ini karena dua menantunya berhasil membuat perasaannya serasa seperti roller coaster.


"Apa yang harus kulakukan pada dua menantuku yang sangat berbeda itu? Aku tahu jika salah satu diantara istri pasti akan tersakiti. Dulu berpikir bahwa Tsamara yang selamanya akan mendapatkan penderitaan karena perbuatan jahat Zafer."


"Namun, sesuatu yang tidak pernah diduga kini terjadi pada wanita yang sangat dicintai putraku. Sepertinya Zafer sangat marah pada Rayya, sehingga memilih tidak memperdulikan karena malas bertengkar."


Erina yang berbicara sendiri ketika berjalan menuju ke lantai dasar, menemui salah satu pelayan wanita dan memberikan perintah untuk berjaga di depan ruangan kamar Rayya.


"Kamu harus selalu stand by di depan pintu ruangan nyonya Rayya. Jika, sama sekali tidak ada suara dari dalam, harus mengatakan padaku. Aku sangat khawatir jika wanita itu menyakiti diri sendiri saat sedang marah."


"Baik, Nyonya. Saya mengerti," jawab pelayan wanita berusia 40 tahunan tersebut dan langsung membungkuk hormat begitu berpamitan dan menuju ke lantai atas untuk melaksanakan perintah dari majikan perempuan.


Kemudian Erina berjalan ke halaman dan duduk di kursi yang ada di bawah pohon palem, tetapi baru saja keluar dari pintu utama, melihat mobil milik sang suami baru saja memasuki pintu gerbang dan akhirnya hanya menunggu di sana.


Begitu melihat anak laki-laki yang sedang digandeng oleh sang suami sambil membawa dua kantong plastik besar berisi aneka snack kesukaan Keanu, Erina tersenyum dan melambaikan tangan.


"Wah ... banyak sekali jajannya. Apakah Nenek boleh minta satu?"


"Boleh," ucap Keanu dengan logat khas anak-anak yang sangat lucu dan menggemaskan bagi siapapun yang mendengar.


Kemudian mengambil satu snack dari dalam plastik besar yang berada di tangan sang kakek, lalu menyerahkan ke tangan nenek.


"Terima kasih, Sayang." Erina yang langsung tersenyum dan menerima Snack itu, kini mencium kening anak laki-laki tersebut dan memanggil Sumi yang biasa menjaga Keanu.

__ADS_1


Karena ingin berbicara serius dengan sang suami mengenai masalah tes DNA dan menyampaikan ide dari Tsamara. "Temani Keanu menikmati makanan ini sambil nonton film kartun di ruang santai."


"Baik, Nyonya." Sumi kebetulan tadi berada di dekat halaman dan langsung menghampiri majikan, begitu memanggil.


Tanpa membuang waktu, berjalan masuk bersama anak laki-laki yang saat ini terlihat sangat senang karena membawa banyak makanan.


Tentu saja sudah membantu membawakan dua kantong plastik berukuran besar tersebut saat masuk ke dalam rumah.


Begitu melihat pelayan dan Keanu sudah menghilang di balik pintu, Erina saat ini memberikan kode pada sang suami agar duduk di kursi. Begitu mendaratkan tubuh di sana, mulai menceritakan pembicaraannya dengan Tsamara yang nekat melakukan pemalsuan hasil tes DNA demi bisa tetap bersama Keanu.


"Menurutmu bagaimana? Apakah bisa menyuruh orang untuk membuat konspirasi ini lancar? Bukankah ada banyak kenalan yang bisa membantu?"


Adam Dirgantara sebenarnya sudah memikirkan tentang perbuatan Rey hari ini saat memaksakan sesuatu yang menyakiti Tsamara. Bahkan meskipun memiliki kuasa dan bisa membayar pengacara hebat, tetap saja khawatir gagal dan dimenangkan oleh mantan suami Tsamara.


Hal yang ada di pikiran Tsamara sama dengan idenya. Memang tadi sempat berpikir akan hal yang sama. Hanya saja, merasa ragu untuk menyampaikan pada menantunya karena berpikir wanita itu tidak akan pernah setuju saat melakukan sebuah kebohongan.


Adam Dirgantara mengetahui bahwa tes DNA akan dilakukan di rumah sakit yang letaknya tak jauh dari perusahaan Bagaskara. Kebetulan memiliki satu orang kenalan di rumah sakit itu.


Begitu menunggu selama beberapa detik, suara dari seberang telpon terdengar.


"Halo, Tuan Adam."


"Bagaimana kabarmu, John." Adam mencoba untuk berbasa-basi sebelum mengungkapkan perintah.


"Tentu saja sangat baik, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu? Sepertinya Anda membutuhkan sesuatu," ucap seorang pria yang tak lain bekerja sebagai dokter kepala di rumah sakit.

__ADS_1


"Sepertinya kamu sudah sangat hafal dengan tabiatku saat menghubungimu. Aku tidak akan bertele-tele dan memang menelponmu karena membutuhkan bantuan." Adam sebenarnya merasa malu berbicara dengan pria di seberang telpon karena menghubungi hanya saat membutuhkan saja.


Namun, karena tidak ada jalan lain, akhirnya terpaksa meminta tolong dan menceritakan semuanya.


Erina yang tadi sama sekali tidak mendapatkan tanggapan dari sang suami, hanya mendengarkan pembicaraan tersebut. Namun, masih menebak-nebak apa yang menjadi jawaban dari orang di seberang telepon karena melihat sang suami kini sudah menampilkan wajahmu.


Erina merasa kesal karena tidak bisa mendengar jelas pembicaraan yang tidak di loudspeaker. Akhirnya hanya menduga bahwa sang suami tengah mendapatkan kabar buruk.


Adam yang beberapa saat lalu menjelaskan mengenai ide untuk memasukkan hasil tes DNA, seketika merasa kecewa begitu mendengar penjelasan dari pria yang menjadi satu-satunya harapan.


"Saya memang sudah mendengar bahwa hari ini akan dilakukan tes DNA dari putra pengusaha sukses. Namun, semua proses dijaga ketat oleh para polisi dan diawasi. Seolah sudah menduga akan dilakukan pemalsuan, jadi rela mengeluarkan uang banyak untuk menyuruh para polisi berjaga. Jadi, maafkan saya karena kali ini tidak bisa membantu."


John Zent adalah dokter kepala di rumah sakit yang sangat dihormati dan bisa melakukan perintah apapun karena memang diberikan kekuasaan oleh direktur rumah sakit yang mempercayakan semua hal padanya.


Namun, saat salah satu kenalan meminta bantuan mengenai pemalsuan tes DNA yang sangat dijaga ketat oleh para aparat kepolisian, langsung ditolak dengan menceritakan semuanya.


Sementara itu, Adam yang langsung menampilkan wajah muram dan kali ini seperti kehilangan harapan ketika berpikir bahwa yang terjadi adalah Rey mungkin akan memenangkan gugatan hak asuh Keanu dengan memanfaatkan kelemahan Tsamara yang tidak bisa berjalan.


"Baiklah. Aku sekarang mengerti dan sepertinya memang tidak bisa berbuat apapun untuk memasukkan hasil tes DNA. Jangan meminta maaf karena justru akulah yang harus melakukannya saat selalu merepotkanmu."


"Tidak masalah, Tuan Adam. Saat bisa membantu, pasti akan melakukannya. Namun, karena kali ini tidak bisa berbuat apapun saat ada banyak polisi di rumah sakit, jadi tidak bisa berbuat apapun," ucap John dengan penuh penyesalan.


"Terima kasih, John. Mungkin lain kali, kamu bisa membantuku lagi. Baiklah, selamat bekerja. Aku akan mengatakan kabar ini pada menantuku." Adam kini memencet tombol merah dan beralih menatap ke arah sang istri yang terlihat sangat penasaran.


Kemudian menjelaskan perkataan dari dokter kepala yang ada di rumah sakit. "Sepertinya kita memang tidak bisa berbuat apa-apa pada hasil tes DNA Keanu."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2