Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Tidak akan pernah kembali


__ADS_3

Beberapa saat lalu, sosok pria yang saat ini tengah duduk di kursi kerja, mendengar suara ketukan pintu dan melihat salah satu orang yang disuruh untuk membuat kekacauan di kontrakan mantan istri telah datang. Rey Bagaskara tersenyum simpul.


"Apa semuanya sesuai dengan yang direncanakan?"


"Iya, Tuan Rey. Saya sangat yakin jika hari ini mereka tidak akan bisa menyelesaikan pesanan untuk acara makan siang di acara perusahaan hari ini," sahut sosok pria dengan pakaian serba hitam yang tadi langsung membungkuk hormat pada pria yang membayar mahal atas perbuatan untuk menghancurkan semua persiapan yang ada di sebuah rumah sederhana.


Rey saat ini mengangkat ibu jari karena rencananya untuk membuat Tsamara datang ke perusahaan dengan memohon maaf padanya karena tidak berhasil memenuhi pesanan untuk makan siang semua staf.


"Bagus, kau tidak pernah mengecewakanku. Aku akan memberimu satu tugas lagi." Rey saat ini tersenyum menyeringai begitu mendapatkan ide di kepala.


"Siap, Tuan. Apa yang ingin Anda perintahkan?" Pria berusia 35 tahun tersebut kini menatap intens bos yang ada di hadapan sambil menunggu perintah.


"Aku akan mengatakan nanti karena saat ini sangat sibuk. Pergilah, nanti aku menelponmu." Rey mengibaskan tangan dan begitu melihat pria tersebut membungkuk hormat dan berlalu pergi dari ruangan, langsung mengambil ponsel yang ada di saku jas.


Bahkan ketika memencet tombol panggil pada kontak Tsamara, Rey tidak berhenti tersenyum karena hari ini merasa sangat senang. "Rayya sangat pengertian karena memberikan nomor Tsamara tanpa aku meminta."


Namun, hingga panggilan mati, tidak mendapatkan tanggapan. "Sepertinya Tsamara tidak akan pernah mau mengangkat telepon dariku."


Kemudian Rey memilih untuk mengirimkan pesan pada salah satu staf yang mengurus pesanan catering. Bahkan Rey mengetik sambil tersenyum dan merasa yakin jika Tsamara akan menelpon.


Katakan pada pemilik catering pembawa acara hari ini dimajukan dan makanan harus sudah diantarkan sebelum pukul sebelas.

__ADS_1


Kemudian Rey menaruh ponsel ke atas meja dan menunggu hingga Tsamara menghubungi. Benar saja, sepuluh menit kemudian, dering ponsel terdengar dan wanita yang tidak mau mengangkat telepon darinya kini menelpon.


"Sekarang aku yang akan jual mahal padamu, Sayang. Bukankah kamu tadi tidak mau mengangkat telpon dariku? Sekarang aku ingin kamu merasakan hal yang sama." Rey berbicara sambil tersenyum seperti orang gila di ruangan kerja dan merasa sangat yakin jika Tsamara tidak akan menyerah untuk menelpon berkali-kali.


Benar saja, meskipun tidak mengangkat dan telpon mati, berkali-kali mantan istrinya tetap menelpon. Rey bahkan sangat senang ketika menghitung jika Tsamara sudah tiga kali menghubungi dan tidak diangkat.


Kemudian Rey mengangkat panggilan setelah Tsamara menelpon keempat kalinya. Namun, sama sekali tidak mengeluarkan suara karena ingin mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh wanita di seberang telpon.


Rey bahkan sudah menyalakan pengeras suara dan menaruh ponsel di atas meja karena merasa yakin jika wanita di seberang telpon akan berteriak dan tidak ingin indra pendengarannya terganggu.


Bahkan Rey sangat menikmati suara Tidak yang mengomel dari seberang telpon dan dianggap jika mantan istri kembali seperti dulu.


"Kamu memang sangat keterlaluan, Rey! Apa maumu sebenarnya? Apakah kamu sengaja melakukan ini untuk menghancurkanku? Kamu bahkan memiliki segalanya, tapi kenapa mengusik wanita lemah sepertiku?"


Bahwa makanan harus segera diantarkan lebih awal karena acara dimajukan, sedangkan saat ini masih belum siap karena ulah para penjahat yang diduga merupakan suruhan dari mantan suaminya tersebut.


Tsamara sangat frustasi karena khawatir jika Rey menang dan memanfaatkan kelemahannya, sehingga menghubungi mantan suami dan bertanya secara langsung apa yang diinginkan oleh pria yang dari tadi masih belum mengeluarkan suara sepatah kata pun.


"Kenapa kau diam, Rey? Apa yang sebenarnya kau inginkan?" teriak Tsamara yang tanpa memperdulikan apapun lagi ketika mengeluarkan amarah.


Tadi Tsamara menyuruh Anisa untuk membawa putranya agar dimandikan setelah makan dan langsung meluapkan amarah pada mantan suami yang dianggap sangat tidak punya hati.

__ADS_1


Sementara itu, Rey yang sengaja diam karena ingin Tsamara meluapkan semua kekesalan yang dirasakan. Hingga setelah wanita di seberang telpon diam, baru mengatakan apa yang diinginkan.


"Kamu sebenarnya sudah tahu apa yang kuinginkan, tapi berpura-pura tidak tahu. Sepertinya aku harus menjelaskan padamu, agar menyadari bahwa sebenarnya mantan suamimu ini masih sangat mencintaimu."


"Omong kosong! Aku bukan lagi Tsamara yang bodoh seperti beberapa tahun yang lalu. Aku tidak akan pernah jatuh pada jebakanmu!"


Tsamara benar-benar sangat marah dan sebenarnya ingin sekali mematikan sambungan telpon, tapi tujuan utama menghubungi mantan suami tersebut adalah ingin membahas mengenai masalah pesanan makanan.


"Tolong katakan pada staf di perusahaanmu, bahwa makan siang hari ini akan diantarkan sesuai jadwal yang ditentukan sebelumnya. Bukan jadwal yang tiba-tiba dirubah hari ini! Aku menghubungimu hanya ini untuk mengungkapkan itu saja!"


"Tunggu, Sayang! Jangan menutup telpon karena ada sesuatu yang perlu kau ketahui hari ini." Rey masih berbicara dengan sangat santai dan berpikir bahwa Tsamara akan patuh dan tidak akan menutup sambungan telpon sepihak.


Tsamara hanya diam saja karena sejujurnya ingin mengetahui apa yang diinginkan oleh Rey saat ini. Hingga beberapa saat kemudian membulatkan mata begitu mendengar apa yang disampaikan oleh mantan suami.


"Jika kau gagal mengantarkan pesanan makanan untuk makan siang serta perusahaan hari ini tepat waktu, harus membayar ganti rugi empat kali lipat dan aku akan menyebarkan kabar bahwa kau sangat mengecewakan pelanggan dan usahamu akan hancur. Jadi, tidak akan ada lagi yang bisa kau banggakan."


Rey kini tersenyum menyeringai ketika berhasil mengungkapkan apa yang diinginkan. "Kau hanyalah seekor kelinci kecil yang tidak boleh lupa diri karena ingin melawan harimau. Kembalilah padaku dan kita kembali seperti dulu lagi."


Sementara itu, Tsamara yang sudah menduga jika mantan suami akan mengatakan hal itu, sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menanggapi karena hanya menahan amarah yang membuncah di dalam hati.


"Jangan pernah bermimpi, Rey! Aku tidak akan pernah kembali pada pria bajingan sepertimu."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2