Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Melanjutkan hidup dengan baik


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Zafer masuk ke dalam mobil dan membiarkan Rayya mengemudi meninggalkan area rumah sakit dan memecah lalu lintas ibukota.


Sepanjang perjalanan, Zafer hanya mengunci rapat bibirnya karena tidak punya daya lagi untuk berbicara. Ia hanya memikirkan akan memberikan terbaik sebagai hal terakhir untuk orang tua.


Sementara itu, Rayya yang saat ini fokus mengemudi, melihat ke arah jalanan yang agak sedikit macet. Sesekali melirik ke arah sang suami yang terlihat sangat kacau dan terpuruk hari ini.


Tadi saat mengurus administrasi, dering ponsel berbunyi dan yang menelpon adalah Harry saat menagih bayaran untuk supir.


Pria yang telah membunuh orang tua Zafer tersebut memang mengaku pada polisi jika melakukan itu karena efek mengantuk dan merelakan di penjara seumur hidup untuk mempertanggungjawabkan perbuatan.


Namun, dengan satu syarat bahwa tidak akan membuka mulut jika mendapatkan banyak uang yang diberikan pada anak dan istri. Berpikir bahwa keluarga tidak akan kekurangan saat ia tidak bisa memberikan nafkah karena harus berakhir di penjara.


Karena Rayya tadi tidak ingin mentransfer uang ke rekening istri dari wanita itu, sehingga memilih untuk menyuruh Harry mengurus semuanya dan tidak akan melibatkannya, sehingga para polisi tidak akan memanggilnya.


'Untung tadi aku sudah mentransfer uang ke rekening Harry, jadi sekarang tidak akan ada lagi masalah ataupun hal yang melibatkanku. Semoga selamanya tidak akan ada yang tahu bahwa akulah dalang dibalik kejadian kecelakaan mertuaku.'

__ADS_1


Rayya sebenarnya merasa khawatir jika sampai ketahuan oleh para polisi dan berakhir di penjara. Bahkan mungkin langsung dihabisi oleh sosok pria yang terlihat memejamkan mata di sebelahnya tersebut.


'Zafer tidak boleh tahu jika akulah yang merencanakan semua ini karena mungkin nyawaku bisa melayang seketika begitu ketahuan,' gumam Rayya yang saat ini tengah memikirkan berbagai macam kemungkinan buruk.


Namun, berusaha untuk berpikir positif dan tidak akan pernah ketahuan karena sudah menutup mulut sopir itu dengan uang agar anak dan istri tidak kekurangan hidup tanpa diberikan nafkah suami saat berada di penjara.


Sebenarnya Rayya juga merasa takut karena ini adalah pertama kali merencanakan untuk melenyapkan seseorang dan benar-benar menjadi kenyataan setelah mertua yang sangat dibenci pergi dari dunia ini.


Meski terlihat sangat tenang di depan semua orang, tetapi sebenarnya merasa sangat takut karena secara tidak langsung sudah melenyapkan nyawa dua orang.


Ia tidak akan merasa tenang jika Tsamara masih berkeliaran di sekitar sang suami, jadi sudah bertekad untuk melenyapkan istri pertama tersebut agar tidak menghalangi jalannya menjadi nyonya rumah utama di keluarga Dirgantara.


'Aku tidak mungkin melakukan hal seperti ini jika jalanku mudah untuk menjadi penguasa di keluarga Dirgantara. Namun, karena ada banyak penghalang, sehingga perlu disingkirkan agar membuatku menjadi penguasa satu-satunya di istana itu.'


Saat Rayya fokus mengemudi dengan menatap ke arah jalanan ibukota dengan banyaknya kendaraan yang melintas hari itu, mendengar suara bariton dari Zafer yang membuatnya menelan saliva dengan kasar.

__ADS_1


"Rayya, apakah kematian orang tuaku membuatmu merasa lega dan senang?" tanya Zafer yang dari tadi ingin sekali bertanya mengenai hal yang mengganggu pikiran karena melihat sang istri sama sekali tidak mengeluarkan air mata kesedihan begitu mendengar kabar kematian orang tuanya.


Kemudian beralih menatap ke arah sosok wanita di balik kemudi tersebut. "Aku merasa bahwa kamulah satu-satunya orang yang merasa senang dan lega setelah orang tuaku meninggal."


Astaga! Kamu berbicara apa, Sayang? Mana mungkin aku merasa bahagia saat orang tuamu meninggal. Aku menahan diri untuk tidak terlihat lemah di depanmu karena ingin menghiburmu. Jika aku juga bersedih seperti yang dilakukan Tsamara, bagaimana caraku untuk membuatmu bangkit dari keterpurukan?"


"Aku akan menjadi wanita yang kuat dan mendampingimu, Sayang. Kamu membutuhkan dukungan dan support dari orang yang menghiburmu untuk tidak terpuruk. Bukan wanita lemah yang malah membuatmu larut dalam kesedihan dan tidak bisa melanjutkan kehidupan."


Rayya bahkan seperti merasa menjadi seorang wanita hebat dan bijak begitu berhasil mengalihkan kecurigaan Zafer dengan berbicara dewasa.


'Bukankah aku adalah seorang wanita yang sangat hebat karena bisa membuat Zafer tidak lagi mencurigaiku?' gumam Rayya yang saat ini merasa lega begitu mendengar jawaban dari pria yang duduk di sebelahnya.


"Kamu benar," sahut Zafer kali ini tidak ingin lagi mencurigai Rayya karena semua hal yang dikatakan wanita itu memang benar adanya.


"Aku harus tetap menjalani hidup dengan baik dan berusaha untuk membanggakan orang tuaku. Papa dan mama harus melihat dari atas sana bahwa putranya sudah berubah menjadi pria yang bertanggung jawab," ucap Zafer yang saat ini kembali fokus menatap ke arah sebelah kiri dan mencoba untuk menenangkan diri.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2