Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Mengabadikan momen


__ADS_3

"Apa kamu merasakan hangat setelah seperti ini?" Zafer yang baru saja naik ke atas ranjang dan langsung melingkarkan tangan pada tubuh di balik selimut tebal itu, tetapi tidak kunjung membuat Tsamara berhenti menggigil.


Sampai beberapa menit berlalu, dengan sangat kuat memeluk, agar sedikit mengurangi kedinginan yang dirasakan oleh Tsamara, tetapi merasa gagal karena telah berpikir jika yang terjadi saat ini penyebabnya adalah ada jarak di antara mereka.


"Aku sama sekali tidak memanfaatkan keadaan ini karena berharap kamu tetap hidup. Jika sampai mati di rumah ini, semua yang kamu katakan akan benar-benar terjadi. Kamu akan menghantui aku dan aku berakhir di penjara, lalu Rayya berpaling dariku."


Kemudian Zafer memilih untuk berpindah ke bawah selimut dan berharap usaha berhasil untuk mengurangi rasa dingin yang tengah dirasakan oleh Tsamara.


Selama beberapa menit, ia terdiam tanpa membuka suara karena merasa jika posisi mereka saat ini sangat aneh. Sampai merasa gila karena saat ini tengah berpikir jika yang terjadi adalah hal konyol. Jadi, seperti biasa, Zafer kembali mengumpat untuk meluapkan kekesalan.


"Kamu tahu, ini adalah hal paling konyol yang pernah kulakukan. Memeluk erat wanita yang sangat kubenci dan ingin kusingkirkan dalam hidupku. Kenapa kamu harus sakit dan merepotkan seperti ini? Bukankah kamu adalah wanita kuat, yang bahkan tidak hancur ketika mengalami masalah pada kakimu."


Zafer berbicara sambil terus menatap intens wajah pucat Tsamara yang sudah tidak seperti tadi. Kini, sedikit ada cahaya terpancar, sehingga membuat Zafer merasa lega.


"Sepertinya obat yang kuberikan tadi mulai bekerja. Seandainya kamu tahu apa yang kulakukan hari ini, dengan apa membalas? Bahkan nyawamu sudah kuselamatkan."


Saat baru menutup mulut, Zafer mengeratkan pelukan karena kini tubuh Tsamara sudah tidak gemetar seperti beberapa saat lalu. Sekarang kelegaan mulai dirasakan olehnya dan di saat bersamaan, rasa kantuk melanda yang ditandai dengan menguap beberapa kali.


Sampai beberapa saat kemudian, kesadaran perlahan menghilang karena telah telah masuk ke dalam alam mimpi dengan posisi masih memeluk erat tubuh wanita yang suhu tubuh mulai perlahan turun.


Beberapa saat kemudian, mobil berwarna hitam tiba di depan pintu gerbang dan begitu memencet bel, tidak perlu menunggu waktu lama karena Paijo berjalan cepat menuju ke depan untuk membuka pintu.


"Selamat datang, Tuan." Paijo menatap pria paruh baya yang saat ini tengah berdiri di hadapan dengan raut kebingungan.

__ADS_1


Sementara sang dokter pun menjelaskan mengenai telpon Zafer yang membangunkan dari tidur nyenyak karena sang istri yang sedang menggigil ketika suhu tubuh tinggi.


"Silakan masuk, Dokter. Maaf karena saya tidak tahu. Istri saya bahkan tidak tahu karena tuan Zafer tidak mengatakan apapun." Paijo tadi sebenarnya baru saja menemani sang istri yang tengah menidurkan Keanu di kamar depan.


Jadi, mendengar jika ada yang menekan bel pada tengah malam dan sempat berpikir jika yang datang adalah majikan utama, yaitu orang tua Zafer.


"Tidak masalah. Tadi aku mendengar suara Zafer yang panik. Jadi, sepertinya tidak sempat mengatakan pada kalian. Di mana kamar mereka?" tanya sang dokter yang baru pertama kali datang ke rumah baru itu, tetapi sudah mengetahui alamat karena Adam Dirgantara telah memberitahu.


"Ada di sebelah kiri, Dokter." Paijo baru saja mengarahkan jari telunjuk pada kamar di bagian kiri dan kebetulan bertemu dengan sang istri yang baru saja keluar dari ruangan.


Kemudian menjelaskan perihal pria itu dan akhirnya mereka bertiga berjalan menuju ke arah ruangan kamar yang terbuka pintunya.


Sang dokter kini mengerutkan kening begitu melihat pintu yang rusak. "Ada apa dengan pintu ini? Apa majikan kalian berada di kamar dengan pintu rusak seperti ini?" Baru saja menutup mulut dan berjalan masuk, mengerjapkan kedua mata begitu melihat pemandangan di atas ranjang.


Begitu mengikuti arah pandang pria itu, Sumi menatap tak percaya dengan apa yang dilihat saat ini.


Suami istri itu pertama kali tidur satu ranjang dengan posisi berpelukan dan membuat Sumi merasa terharu sekaligus bahagia. Ini adalah pertama kali melihat hal baik di antara majikan.


'Ada kebaikan yang datang sebelum tuan Zafer menikahi wanita lain. Kenapa tidak sebelumnya terjadi hal seperti ini? Jika terus seperti ini, aku yakin pernikahan ini akan bertahan dan tidak akan ada perceraian,' gumam Sumi yang saat ini tengah memikirkan cara untuk tidak menggangu momen terbaik di rumah itu.


Sumi kini memegang pergelangan tangan sang dokter dan berbicara sangat lirih, "Maaf, Dokter. Apa saya bisa berbicara sebentar?"


Pria paruh baya itu pun mengerutkan kening karena merasa ada sesuatu yang tidak beres dan menganggukkan kepala. Kemudian berjalan keluar dari ruangan kamar yang saat ini ditempati oleh pasangan suami istri tersebut.

__ADS_1


Begitu sampai di ruang tengah, sang dokter menunggu sampai pelayan itu mengungkapkan apa yang ingin disampaikan.


Sumi sebenarnya merasa bahwa apa yang dikatakan sangat lancang karena hanyalah seorang pelayan, tetapi ingin melakukan sesuatu dan menganggap ini adalah sebuah kebaikan.


"Begini, Dokter. Tuan Zafer dari tadi tidak tidur karena menjaga nyonya yang sakit. Jadi, kasihan kalau sampai terbangun dan akhirnya tidak bisa tidur lagi. Bahkan biasanya akan sangat pusing jika baru tidur sejenak sudah dibangunkan. Apakah tidak bisa memeriksa tanpa sepengetahuan tuan Zafer? Maksud saya perlahan dan tidak menimbulkan suara."


Sumi tidak mungkin menjelaskan jika selama ini majikan rusak pernah tidur dalam satu kamar dan baru kali ini terjadi. Meskipun tidak melakukan apapun hari ini, tetapi paling tidak, bisa melihat sebuah kebaikan dari majikan pria yang selama ini terlihat sangat kasar dan jahat tersebut.


Bahkan tadi merasa tidak percaya dengan pemandangan itu dan berencana untuk mengabadikan momen penting dan bersejarah tersebut, lalu ditunjukkan pada majikan perempuan yang menyuruh untuk mengabari semua hal yang terjadi di rumah itu.


Sementara itu, sang dokter yang mengerti dan merasa jika pelayan tersebut sangat perhatian pada majikan, akhirnya menuruti dan mengeluarkan stetoskop dan alat pengukur suhu dari dalam tas.


"Tolong bawakan tas ini. Aku tidak mau saat mengambil alat, majikanmu bangun dari tidur. Kamu sangat baik karena memperhatikan hal-hal kecil, tapi sangat penting ini. Aku akan memeriksa dulu. Semoga bisa memeriksa bagian dada nyonya rumah ini."


"Kalian tunggu saja di sini, agar tidak menambah suara."


"Baik, Dokter. Kami akan menunggu di sini," jawab Paijo yang kini tengah mewakili sang istri.


Mereka hanya menatap sang dokter yang berjalan menuju ke arah ruangan kamar. Kemudian Sumi mengingat sesuatu dan mencubit pinggang sang suami.


"Aku lupa untuk mengatakan pada dokter, agar mengambil rekaman atau foto dari tuan dan nyonya hari ini."


"Sudahlah! Jangan ikut campur mengenai hal yang bersifat privasi. Jangan sampai kita dituntut karena mengabadikan momen intim pasangan suami istri." Paijo mengingatkan sang istri, agar tidak berlebihan dalam menyikapi hal yang terjadi hari ini.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2