Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Ancaman


__ADS_3

"Aku pergi tanpa sepengetahuan tuan Zafer. Maafkan aku tidak bisa menjadi seorang istri dan menantu yang baik. Masih ada banyak wanita yang bisa menggantikan aku di rumah ini. Jadi, jangan melakukan hal yang merendahkan harga diri Anda, Tuan."


"Tuan Zafer mencintai wanita lain dan aku tidak mungkin bisa merebut hati putra kalian. Jadi, tolong pahami posisiku saat ini yang sangat sulit karena tidak diharapkan oleh seorang suami. Bukannya aku tidak mau memperdulikan permohonan kalian yang telah sangat baik padaku."


"Aku tidak bisa melanjutkan hidup ketika bersama seorang suami yang membenciku. Tolong jangan berlutut di hadapanku karena aku tidak bisa melakukan hal yang sama saat kakiku cacat."


Ada nada kekecewaan, serta rasa hancur yang mewakili perkataan Tsamara saat ini. Bahkan suaranya terdengar bergetar ketika meluapkan semua perasaan puncak di dalam hati.


Ia tidak tega melihat mertua berlutut di depannya, tetapi satu-satunya yang dipikirkan adalah nasib putranya. Ia tidak ingin Keanu yang selama ini belum pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah, akan semakin terluka karena melihat sikap kasar dari sang suami yang selalu membentak dan berteriak padanya.


Semua itu akan mempengaruhi mental dan tumbuh kembang putranya yang selama ini hidup tanpa kasih sayang seorang ayah. Ia ingin mencurahkan kasih sayang sepenuh hati untuk Keanu dan tidak menginginkan hal lain.


Erina refleks berjalan mendekati menantunya yang sudah menangis terisak dengan berurai air mata itu. Sebagai seorang ibu, tentu saja ia merasa miris melihat menantunya yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri itu menangis sesenggukan.


"Tsamara, jangan menangis. Maafkan kami karena telah membawamu masuk ke keluarga ini." Memeluk erat tubuh kurus yang terlihat bergetar hebat karena efek menangis.


Sementara itu, Tsamara menggelengkan kepalanya, "Tidak, Nyonya. Ini bukan salah kalian, tapi ini adalah murni kesalahanku. Jadi, jangan menyalahkan diri sendiri. Maafkan aku, karena ingin pergi dari sini. Tolong jangan salahkan tuan Zafer karena memang cinta tidak bisa dipaksakan."


"Kamu tidak boleh pergi, Tsamara karena sekarang, adalah tanggungjawab kami setelah Zafer membuatmu tidak bisa berjalan," ucap Adam yang sudah bangkit dari posisi dan menghampiri menantunya.


"Ku harus tetap di sini. Jika pergi, Zafer pun harus pergi dari sini karena ia adalah suamimu."


Sontak saja Tsamara merasa sangat terkejut karena secara tidak langsung, sang suami diusir hanya gara-gara wanita rendahan sepertinya.


"Tuan, jangan seperti ini. Aku yang ingin pergi, kenapa putra Anda juga harus meninggalkan rumah ini? Biarkan aku yang bertanggungjawab dengan keluar dari rumah ini?" lirih Tsamara yang semakin bingung dengan keputusan yang diambil.


Tsamara merasa sangat kebingungan karena tidak diizinkan pergi oleh mertuanya.


Akhirnya ia melakukan cara terakhir untuk membuat mertuanya mengizinkan untuk pergi meninggalkan istana megah yang hanya membawa penderitaan untuknya.


Dengan posisi tangan yang menyatu, ia mulai mendongak menatap ke arah wajah pria paruh baya yang sangat terkejut dengan perbuatannya.


"Aku mohon, Tuan. Izinkan aku pulang. Aku hanya ingin fokus mengurus Keanu. Jadi, tolong mengerti aku."


"Tsamara, jangan seperti ini," ucap Adam yang berusaha untuk membuat menantunya mengurungkan niat. "Aku akan membantumu merubah Zafer. Jika kita bersatu, pasti ia bisa berubah menjadi seorang suami dan putra yang baik."

__ADS_1


Namun, usahanya hanya sia-sia belaka karena melihat jawaban dari wanita itu langsung menggelengkan kepala.


"Aku ingin kau bisa membawa sebuah kebaikan di rumah ini. Terutama untuk membawa kebaikanmu pada Zafer yang sedang tersesat itu," ucap Adam yang sudah putus asa.


Tidak berhenti sampai di situ saja, ia pun melakukan hal yang sama seperti yang saat ini dilakukan menantunya. Tangannya terlihat menyatu dan mengarahkan tatapan penuh permohonan.


"Aku mohon padamu, Ayu. Jangan pergi dari sini. Bawalah kebaikanmu pada putraku. Ia membutuhkan sosok wanita sepertimu, jangan pergi."


"Iya. Mama mohon padamu, jangan meninggalkan kami," sahut Erina yang sudah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh suaminya.


Tsamara benar-benar merasa sangat terkejut dan sama sekali tidak pernah menyangka atau pun berpikir bahwa seorang pengusaha terkenal yang merupakan konglomerat itu selalu memohon padanya.


'Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Di satu sisi, suamiku sangat senang aku pergi. Akan tetapi, di sisi lain mertuaku memohon padaku untuk tinggal. Kenapa aku dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit ini?,' batin Tsamara dengan perasaan berkecamuk dan membuncah.


Tsamara yang masih terdiam membisu, kini menatap iba pada wajah mertuanya yang terlihat penuh ketulusan saat memohon kepadanya.


Bahkan ia yang merasa sangat tidak enak, kebingungan untuk mengambil keputusan. Saat tengah bimbang, sentuhan jemari lembut mertuanya mendarat di wajahnya untuk menghapus bulir bening di pipi.


"Mama mohon padamu, jangan pergi meninggalkan rumah ini. Tetaplah menjadi menantu kami, Sayang karena akan sangat berdosa jika kamu pergi dan bercerai dengan Zafer."


"Kami akan menganggap Keanu sebagai cucu sendiri dan memberikan semua hal terbaik padanya. Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya."


Pria paruh baya yang merupakan tuan rumah itu, refleks mengiyakan perkataan sang istri. "Kami akan melakukan apapun untuk membuat Keanu bahagia."


Tsamara saat ini berpikir tidak ingin menjadi penyebab hubungan buruk antara orang tua dan anak.


Dengan berpikir sesaat, Tsamara mengambil napas teratur sebelum mengeluarkan keputusannya. "Baiklah, aku tidak akan pergi dari rumah ini. Apakah kalian senang?"


Beralih menatap ke arah putranya dan bergumam di dalam hati. 'Maafkan Mama, sayang. Akan lebih baik kau tinggal di rumah utama, agar tidak selalu melihat sikap kasar ayah tirimu.'


Perasaan haru dan bahagia pasangan suami istri yang langsung mengungkapkan rasa terima kasihnya dan memeluk erat tubuh Tsamara di kursi roda.


"Terima kasih, Sayang. Mama sangat bahagia karena kamu tidak pergi dari sini. Bukan kami ingin membuatmu menderita, tapi ingin kamu membawa kebaikan di rumah ini."


"Khususnya kepada putraku yang saat ini tengah tersesat. Salahkah seorang ibu berharap putranya akan berubah suatu saat nanti?"

__ADS_1


Tsamara seperti robot karena dari tadi hanya menggeleng lemah saat mendengar kalimat terakhir yang sangat menghiba dari seorang ibu. "Mama tidak salah karena semua orang tua ingin yang terbaik untuk anak-anaknya."


"Orang tua tidak pernah salah dan jika bersalah, maka kembali ke pasal satu tersebut. Itu yang sering aku dengar dari ceramah para alim ulama."


'Sebenarnya yang salah adalah aku karena ditakdirkan masuk ke dalam kehidupan seorang tuan muda sepertinya,' jerit batin Tsamara yang saat ini tengah meratapi nasibnya yang menikah dengan seorang tuan muda kasar dan arogan seperti Zafer.


Tentu saja Tsamara hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati dan menggantungkan hidupnya pada sang pencipta alam semesta yang sanggup membolak-balikkan hati manusia.


'Ya Tuhan, bisakah aku menjalani pernikahan ini. Bagaimana mungkin bisa bertahan sampai akhir. Kuserahkan saja semuanya kepada-Mu.'


"Tsamara, jangan pernah menuruti perintah dari suamimu yang salah. Aku tahu kalau surga istri ada pada restu suami dan mengharuskan istri mengikuti perintah suami. Akan tetapi, kamu harus melihat dulu bagaimana suamimu dan perintahnya itu."


"Apakah membawa ke jalan kebaikan atau keburukan. Kamu mengerti itu, kan?" Adam Dirgantara kali ini berbicara dengan sangat tegas untuk memberikan sebuah ultimatum, agar menantunya itu bisa bersikap tegas saat putranya melakukan sebuah kesalahan.


Tidak ada pilihan lain, akhirnya Tsamara memilih untuk menyetujui apapun yang dikatakan oleh pria paruh baya tersebut.


"Iya. Aku mengerti itu dan akan selalu mengingat pesan Tuan. Aku memutuskan akan tetap berada di rumah ini."


"Syukurlah, akhirnya kamu menyetujui permintaan kami, Sayang." Erina kembali langsung memeluk sang menantu idamannya.


Sementara itu, Tsamara hanya tersenyum tipis saat mertuanya terlihat sangat menyayanginya seperti putri kandung sendiri.


'Aku akan mencoba bertahan di sini. Namun, jika suamiku mengeluarkan talaknya, aku akan segera pergi dan tidak akan pernah kembali," lirih Tsamara di dalam hati.


Setelah puas mengungkapkan puji syukur dan rasa terima kasihnya pada sang menantu yang merupakan wanita shalihah dan menjadi idaman setiap laki-laki itu, pasangan suami istri yang tak lain adalah Adam dan sang istri kini mengajak Tsamara masuk ke dalam rumah karena ingin menunggu Zafer.


Tadi, ia menghubungi putranya agar segera pulang ke rumah untuk membahas masalah ini.


Ia ingin memberikan sebuah ultimatum keras pada putranya yaitu jika sampai sekali lagi Tsamara mempunyai niat untuk meninggalkan rumah, yang akan bertanggungjawab adalah Zafer.


Salah satu tanggungjawabnya adalah, Zafer pun harus pergi dari dan tidak akan mendapatkan harta satu peser pun karena akan menyumbangkan semua hartanya ke panti asuhan.


Jika sampai Tsamara melangkah keluar dari rumah ini, kamu pun harus angkat kaki dan akan menyumbangkan semua harta kekayaan keluarga ke yayasan amal. Dari pada memberikan harta padamu dan hanya kamu gunakan di jalan penuh kesesatan dan membuat orang tua menderita saat meninggal nanti.


Itulah ancaman yang akan ia ucapkan pada putranya nanti ketika pulang.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2