Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Penjelasan dokter


__ADS_3

Saat ini, Tsamara sudah berada di depan ruang operasi dan menunggu selama beberapa jam hingga proses selesai dengan perasaan penuh kegelisahan dan juga kekhawatiran.


Ia yang masih menggenggam erat tasbih di tangan sambil berdoa untuk keselamatan pria yang sedang berjuang melawan maut di meja operasi, kini mengingat sesuatu dan menoleh ke arah wanita paruh baya yang sedang memangku putranya.


"Hubungi Rayya karena harus tahu apa yang terjadi pada suami. Biar bagaimanapun, Rayya masih menjadi seorang istri untuk Zafer."


Tsamara berharap Rayya akan menyadari kesalahan begitu mengetahui bahwa Zafer saat ini sedang berjuang melawan maut setelah mengalami kecelakaan ketika menuju ke tempat pria yang menjadi selingkuhan wanita itu.


Wanita paruh baya tersebut seketika melaksanakan perintah dan menghubungi majikan wanita yang sebenarnya bisa dibilang menjadi penyebab awal mula kecelakaan.


Mungkin jika majikan laki-laki tidak mengetahui perselingkuhan sang istri, mana mungkin akan pergi dari rumah dan berakhir mengalami kecelakaan.


Tadi bahkan pihak polisi mengatakan bahwa kecelakaan tersebut diakibatkan sopir yang mengkonsumsi minuman beralkohol.


Sebuah hal yang selalu terlihat kebetulan karena masih belum melupakan kejadian kecelakaan yang menimpa majikan utama karena ulah supir yang mengantuk dan sekarang karena efek minuman beralkohol.


Meskipun seperti terlihat sangat kebetulan, tapi merasa jika kecelakaan yang terjadi pada keluarga Dirgantara hampir mirip dan juga berpikir apakah ada kaitan dari dua hal buruk yang menimpa majikan.


Begitu selesai menghubungi majikan wanita yang terdengar sangat terkejut begitu mengetahui kecelakaan dan mengatakan akan datang ke rumah sakit.


Kini, menatap ke arah majikan wanita yang masih terlihat fokus pada tasbih ketika berdoa.


"Nyonya, kenapa selalu kecelakaan menimpa keluarga Dirgantara? Saya benar-benar khawatir jika terjadi hal buruk pada tuan Zafer. Apakah kecelakaan itu sudah diatur oleh seseorang untuk menghancurkan keluarga Dirgantara?"


Tsamara yang tadinya sibuk berdoa sambil menunduk menatap ke arah tasbih emas di tangan, saat ini menoleh ke arah wanita paruh baya tersebut dan tengah memikirkan kemungkinan dari pemikiran itu.


"Apakah mungkin ada orang jahat yang memang berencana untuk menyingkirkan keluarga Dirgantara? Memang biasanya orang hebat selalu banyak yang iri dan ingin menghancurkan, tapi bukankah polisi sudah mengatakan jika semua murni kecelakaan karena kelalaian supir?"


Meskipun berbicara seperti itu, tapi Tsamara merasa ragu dengan apa yang barusan dikatakan dan berpikir jika ada kemungkinan orang jahat sudah mengatur kecelakaan untuk menyingkirkan keluarga Dirgantara.


Saat ini, ia tengah memikirkan berbagai macam kemungkinan dan berniat untuk membahas dengan polisi agar menyelidiki secara tuntas karena mencurigai bahwa semua yang terjadi pada keluarga merupakan ulah jahat dari seseorang.

__ADS_1


"Aku akan berbicara dengan polisi mengenai masalah ini dan juga menyelidiki kecelakaan yang menimpa papa serta mama. Kenapa aku dan suami tidak berpikir ke arah sana? Kira-kira siapa musuh dari keluarga ini? Apakah rekan bisnis atau masih keluarga?"


Tsamara saat ini seolah meminta pertimbangan dari wanita paruh baya tersebut yang sudah lama bekerja di keluarga Dirgantara.


Siapa tahu memiliki pandangan atau kecurigaan pada seseorang, sehingga bisa mencari celah ataupun informasi pada polisi dan bisa segera menemukan pelaku. Jika benar itu adalah sebuah sabotase untuk melenyapkan nyawa.


Sementara itu, kepala pelayan saat ini tengah mengingat-ingat mengenai beberapa hal yang mencurigakan, tapi masih belum menemukan apapun.


"Saya akan mencoba untuk mengingat-ingat sesuatu yang mungkin terlupakan, Nyonya Tsamara. Jika bener apa yang menimpa keluarga Dirgantara adalah ulah seseorang yang jahat, sudah dipastikan bahwa mereka bukanlah manusia, melainkan iblis tidak punya hati."


"Bahkan bisa dibilang lebih buruk dari hewan," ujar wanita yang terlihat sudah berkaca-kaca bola matanya karena mengingat jika sangat menyayangi majikan yang telah meninggal akibat kecelakaan dan sekarang berlanjut pada keturunan yang menjadi penerus dari keluarga.


Jika sampai majikan laki-laki yang sedang berjuang melawan maut diri meja operasi tersebut juga menyusul orang tua, merasa sangat menyesal dan sekaligus hancur karena sudah menganggap seperti keluarga sendiri.


"Semoga tuan Zafer segera sembuh dan tidak diajak oleh orang tuanya pergi ke dunia yang berbeda."


"Tolong jangan berbicara seperti itu. Kita harus optimis dan berpikir positif serta berdoa. Semoga Tuhan melindungi suamiku dan bisa selamat dari maut. Bahkan para tim dokter sedang berjuang di dalam sana, jadi kita tidak boleh menyerah ataupun negatif thinking."


Begitu benar apa yang dipikirkan oleh Tsamara, kini melihat sosok wanita yang dianggap telah menjadi penyebab utama dari kemurkaan Zafer, sehingga memutuskan untuk pergi dari rumah menuju ke tempat selingkuhan Rayya.


Rayya yang tadi mendapatkan telpon mengenai kecelakaan yang menimpa Zafer, buru-buru pergi dan menyuruh Raymond mengantar. Namun, tidak memperbolehkan pria itu memperlihatkan diri ketika menuju ke ruang operasi.


Meskipun Rayya merasa marah pada Zafer, tetapi tidak bisa menghilangkan kekhawatiran pada pria itu.


Ia ingin melihat bagaimana keadaan pria yang masih berstatus sebagai suaminya. Bahkan tadi meminta pengertian pada Raymond untuk melihat keadaan Zafer dan berharap pria itu tidak melarang ataupun cemburu.


"Bagaimana dengan keadaan Zafer? Apa para dokter belum keluar dari ruangan operasi?" tanya Rayya yang saat ini menatap ke arah ruangan di mana pria yang baru saja mengalami kecelakaan tengah ditangani.


Tsamara sebenarnya ingin sekali marah pada Rayya karena perbuatan wanita itu, tetapi merasa tidak berhak melakukan dan hanya menjawab dengan singkat.


"Kita tunggu saja. Siapa tahu sebentar lagi para dokter akan keluar karena operasi sudah berjalan selama satu jam lebih." Tsamara berbicara sambil menatap ke arah Rayya yang dianggap seperti merasa tidak bersalah sama sekali karena bersikap biasa.

__ADS_1


Sementara itu, wanita paruh baya yang saat ini terlihat menampilkan wajah masam dan seperti tengah menahan diri untuk tidak mengumpat, hanya bisa melakukan di dalam hati.


'Dasar wanita tidak tahu malu dan tidak punya hati. Bagaimana masih bisa terlihat seperti orang yang sama sekali tidak melakukan kesalahan? Tuan dan nyonya yang sudah meninggal pasti akan menangis dari atas sana melihat putranya tengah berjuang melawan maut di ruang operasi gara-gara wanita jahat ini.'


Rayya yang saat ini memilih untuk mendaratkan tubuh di atas kursi tunggu karena tidak kuat berdiri terlalu lama, merupakan efek pengaruh kehamilan.


Apalagi hari ini tenaganya terkuras habis setelah Raymond tidak merasa puas dengan tubuhnya dan menghajarnya beberapa kali di atas ranjang.


Padahal hari ini berencana untuk menginap di apartemen Raymond untuk memberikan pelajaran pada Zafer agar merasa kehilangan, tapi yang terjadi malah lebih parah karena pria itu mengalami kecelakaan.


Kin, ia bertanya pada pelayan wanita yang tadi menghubungi karena memang belum sempat ketika ditelpon tadi.


"Sebenarnya bagaimana bisa terjadi kecelakaan? Memangnya ia pergi ke mana? Bukankah selama satu minggu lebih, selalu berdiam diri di rumah?"


Saat wanita paruh baya yang ditanya tersebut ingin mengungkapkan hal yang sebenarnya agar Rayya menyadari kesalahan dan tidak lagi berbicara hal yang tidak masuk akal, tidak jadi membuka mulut begitu ruangan operasi terbuka dan seorang dokter pria berjalan keluar.


"Dengan keluarga tuan Zafer Dirgantara?" Sang dokter saat ini ingin mengatakan mengenai hasil operasi pada pihak keluarga terdekat yang merupakan istri putra dari pemilik Rumah Sakit.


Apalagi Rumah Sakit benar-benar tengah berduka setelah kehilangan pasangan suami istri yang merupakan pemilik, tetapi sekarang harus mengalami hal yang sama.


Bahwa putra pemilik perusahaan yang baru meninggal juga mengalami kecelakaan.


"Iya, Dokter. Tolong jelaskan pada kami," ucap Rayya yang secepat kilat bangkit berdiri dan ingin mengetahui hasil dari operasi untuk menyelamatkan sang suami yang baru saja mengalami kecelakaan.


Sementara Tsamara yang baru saja menggerakkan kursi roda bersama pelayan wanita yang menggendong Keanu, memilih untuk menunggu penjelasan dari sang dokter.


Ia memang merupakan istri sah dari Zafer, tapi selalu merasa kecil ketika berada di sebelah Rayya yang selama ini dibanggakan oleh sang suami.


Bahkan meskipun sudah mengetahui bahwa wanita itu tidaklah sebaik yang dibanggakan oleh Zafer, tidak membuat Tsamara besar kepala atau membanggakan diri menjadi seorang istri yang lebih baik.


Saat ini, tiga wanita tersebut menunggu penjelasan dari dokter dengan perasaan cemas dan begitu pria berseragam operasi tersebut membuka suara, memasang telinga lebar-lebar untuk fokus mendengarkan.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2