
Saat membuka pintu mobil dan hendak membungkuk untuk mengangkat tubuh Tsamara, kini Zafer mendengar suara dering ponsel miliknya yang ada di saku celana. Namun, berniat untuk membiarkan dan mengangkat Tsamara terlebih dahulu.
"Siapa yang menelpon? Lebih baik periksa dulu. Siapa tahu penting," ucap Tsamara yang saat ini tidak ingin dijadikan alasan jika nanti terlambat mengangkat telpon dari rekan bisnis.
Apalagi dari tadi melihat jika pria itu marah padanya dan seperti tidak mau lagi berbicara. Jadi, berpikir akan dijadikan pelampiasan dengan dicari-cari kesalahan.
"Hanya butuh satu menit untuk memindahkanmu ke kursi roda. Jadi, jangan banyak beralasan. Atau kau ingin Rey yang mengangkatmu karena tidak suka kugendong?" Zafer masih pada posisi membungkuk di dekat pintu mobil sambil mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi.
Sementara Tsamara menggelengkan kepala karena mengetahui Zafer selalu saja salah paham. "Bukan seperti itu. Baiklah, terserah padamu!"
Kemudian Tsamara membiarkan Zafer melakukan apapun sesuka hati tanpa berniat untuk menolak. Namun, setelah ia mengiyakan, malah melihat pria itu menegakkan tubuh dan meraih ponsel di saku celana dan tidak jadi mengangkat tubuhnya.
'Apa mau Zafer sebenarnya? Kenapa selalu melakukan hal yang berlawanan denganku? Apa masih kesal dan marah padaku dengan apa yang kukatakan di depan restoran?' gumam Tsamara yang saat ini berjenggit kaget begitu mendengar suara teriakan Zafer.
"Apa yang terjadi?" tanya Tsamara dengan sedikit menggeser posisi tubuh sedikit ke arah pintu mobil untuk bisa melihat dengan jelas sosok pria di hadapannya tersebut.
Sementara itu, Zafer yang tadi semakin bertambah kesal pada Tsamara, langsung melampiaskan kekesalan dengan cara membiarkan wanita itu tetap berada di dalam mobil.
Kemudian mengangkat telpon yang ditebak adalah dari sang asisten di perusahaan. Begitu menggeser tombol hijau ke atas, mendengar suara dari seberang telpon dan tidak tahu dari siapa karena nomor tidak tersimpan.
Menandakan bahwa saat ini ada orang asing yang menghubungi dengan nomor baru dan berbicara.
"Halo, dengan keluarga dari Adam Dirgantara dan Erina? Saya ingin mengabarkan bahwa dua orang itu telah mengalami kecelakaan dengan truk besar."
"Apa? Tidak mungkin! Aku baru saja berbicara dengan orang tuaku beberapa saat lalu! Itu bukan mereka. Kau berbohong!" teriak Zafer yang saat ini tengah merasa sangat syok dan tubuhnya seperti kehilangan seluruh tenaga begitu mendengar berita dari telpon itu."
__ADS_1
Zafer masih berusaha untuk berpikir positif dan tidak langsung percaya karena sering mendengar jika ada banyak orang yang merupakan penipu dengan mengatakan kecelakaan.
Saat ini ia berpikir jika orang yang menghubungi adalah penjahat dan mengincar keluarga Dirgantara. Hingga mendengar kembali suara bariton dari pria di seberang telpon.
"Jika Anda tidak percaya, lebih baik saya kirimkan gambar kecelakaan dan bisa memastikan sendiri." Kemudian mematikan sambungan telpon dan merekam kejadian serta mengambil foto-foto dari korban kecelakaan.
Apalagi sudah menemukan identitas diri di dalam tas yang ada di dalam mobil bagian belakang.
Sementara itu, Zafer yang saat ini menelan saliva dengan kasar, berniat untuk membuka pesan dengan tangan gemetar. Tidak ingin melihat, tapi masih ingin mengetahui kebenaran dari pria di seberang telpon, sehingga berpikir jika saat ini tidak bisa lagi bersabar untuk memeriksa.
Namun, tidak jadi melakukan begitu mendengar suara Rayya.
"Apa yang terjadi, Sayang? Sepertinya ada kabar tidak menyenangkan yang kamu terima." Rayya saat ini tengah menatap ke arah Zafer yang sudah terlihat pucat.
Sebenarnya tadi sudah mengetahui mengenai kabar dari Harry saat melaporkan jika orang suruhan telah berhasil membuat kecelakaan dengan alasan supir truk panjang itu mengantuk.
Zafer tidak menjawab pertanyaan Tidak maupun Rayya yang sama-sama ingin tahu. Namun, hanya fokus pada ponsel dan langsung membuka video yang dikirimkan.
Dengan perasaan berkecamuk, Zafer saat ini langsung memencet tombol play dan melihat jika saat ini di sana terlihat jalanan yang macet dan mobil sang ayah ringsek di bagian depan.
Bahkan masih sangat hafal dengan mobil mewah keluarga dengan warna hitam tersebut. Kemudian melihat beberapa perawat baru saja datang dan mengangkat tubuh korban kecelakaan.
Hingga Zafer yang dari tadi ketakutan, kini seketika berteriak ketika melihat dua korban kecelakaan benar-benar ayah dan ibunya.
"Tidak!" teriak Zafer yang saat ini tidak kuasa untuk menopang beban berat tubuhnya.
__ADS_1
Bahkan sampai terhuyung ke belakang beberapa langkah hingga berjongkok sambil menatap kosong dan mengingat jika sikap sang ibu hari ini sangat aneh karena selalu saja menyebut orang kematian.
Seolah mengerti bahwa sudah tidak akan lama hidup di dunia, sehingga tadi membuatnya sangat marah dan hal seperti ini yang paling dikhawatirkan.
Benar-benar mendengar kenyataan pahit dari seseorang yang sangat disayangi telah mengalami kecelakaan dan bahkan belum mengetahui apakah orang tuanya masih hidup atau sudah meninggal karena tadi tidak mau mengakui kabar buruk tersebut.
"Papa dan mama pasti masih hidup! Aku harus segera ke rumah sakit," ucap Zafer yang kini kembali ke mobil.
Sekilas menatap ke arah Rayya. "Kita ke rumah sakit sekarang karena orang tuaku mengalami kecelakaan." Zafer tidak menunggu tanggapan dari Rayya maupun Tsamara yang bisa mendengar perkataannya.
Sementara itu, Rayya kembali berakting sangat terkejut dan sedih atas kemalangan mertua yang merupakan sebuah kemenangan untuknya. Kemudian langsung masuk ke dalam mobil lagi.
Sementara itu, Tsamara yang saat ini bisa memahami semuanya setelah Zafer berbicara pada Rayya, sehingga langsung bergerak cepat menutup pintu karena ingin ikut.
'Papa dan mama mengalami kecelakaan? Kenapa mengalami kecelakaan tepat di hari ulang tahun pernikahan? Takdir buruk apa yang menimpa orang tua kami, Tuhan? Lindungi mereka agar selamat dari kecelakaan dan tetap hidup,' gumam Tsamara sambil berurai air mata.
Tentu saja ia kini tidak bisa menahan bulir air mata yang sudah menganak sungai di pipi karena merasa sangat shock sekaligus sedih.
Berharap mertuanya masih selamat dan tidak mendapatkan takdir buruk, ia berharap jika mereka masih hidup. Meskipun hati kecil seolah seperti sudah memberikan sebuah filing bahwa semua perbuatan dari mertuanya tadi ketika di restoran seperti tengah memberikan sebuah pertanda.
Apalagi semua manusia yang mendekati kematian seperti merasakan jika sudah tidak lama berada di dunia, sehingga mengatakan hal-hal yang menjurus ke sana.
Namun, terkadang manusia mencoba untuk tidak menerima hal itu dengan tetap berpikir positif. Kini, Tsamara mengingat sesuatu yang tadi dilakukan oleh mertuanya ketika menginginkan ia tetap bersama Zafer.
'Apakah itu adalah pesan terakhir dari mama?' gumam Tsamara yang kembali berlinang air mata dengan tubuh bergetar ketika mencoba untuk menenangkan perasaan yang hancur kala membayangkan jika mertuanya meninggalkan dunia ini.
__ADS_1
To be continued...