Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Kesedihan Zafer


__ADS_3

Zafer saat ini sudah kembali ke dalam mobil dan menyalakan mesin, saat hendak mengemudikan kendaraan, kedua tangan yang memegang kemudi terlihat bergetar. Ia benar-benar merasa sangat shock, sehingga tidak bisa tenang.


Apalagi membayangkan jika orang tuanya bersimbah darah dan meninggal. Bahkan tadi sang ibu selalu menyebut tentang kematian. Hingga membuatnya mendadak tidak bisa mengemudi.


'Tenanglah. Papa dan mama akan baik-baik saja. Mereka pasti akan selamat dan tetap hidup. Apalagi mereka mengatakan ingin menimang cucu dan mengajak bermain anak-anakku.'


Saat Zafer bergumam sendiri di dalam hati, di saat bersamaan mendengar suara isakan dari belakang dan menoleh untuk memastikan jika Tsamara tengah menangis.


Benar saja, begitu menoleh ke arah belakang, terlihat Tsamara sudah berurai air mata sambil memeluk erat tubuh putranya. Zafer tidak bisa berkomentar apapun karena diri sendiri juga sedang hancur.


Hingga suara Rayya kini membuatnya mengalihkan perhatian.


"Aku tahu kamu pasti merasa shock mendengar kabar kecelakaan orang tuamu, Sayang. Jadi, biar aku yang menyetir mobil. Daripada nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."


Rayya yang dari tadi mengamati sang suami terlihat sangat terpukul, kini langsung bergerak keluar untuk pindah posisi tanpa memperdulikan Tsamara yang dianggap sangat lemah karena menangis tersedu-sedu di dalam mobil.


Zafer yang sebenarnya merasa ragu saat Rayya menawarkan diri untuk mengemudi, tapi karena berpikir saat ini tangannya bahkan masih gemetar karena mendengar kabar buruk dari orang tua, sehingga bergerak keluar dan berjalan memutar untuk duduk di kursi sebelah.


Begitu melihat Rayya sudah duduk di balik kemudi, begitupun dengan Zafer saat mencoba untuk menormalkan perasaan yang tidak karuan.


"Terima kasih, Sayang. Aku saat ini benar-benar belum bisa mengendalikan diri begitu mendengar kabar buruk yang menimpa orang tuaku."


"Tidak apa-apa. Aku sebenarnya juga sangat shock, tapi karena kedekatan kami tidak terlalu, sehingga aku jauh lebih kuat daripada kamu."


Rayya kemudian langsung mengemudikan kendaraan menuju ke arah pintu gerbang dan membelah kemacetan di jalanan ibukota menuju rumah sakit yang tadi sudah disebutkan oleh pemberi kabar.


Zafer sudah tidak mampu lagi berbicara karena dari tadi beberapa kali mengepal untuk menenangkan diri, agar tangan tidak terlalu lemas.

__ADS_1


Sebenarnya bisa saja Zafer menyuruh supir, tapi karena gugup dan juga khawatir pada keadaan sang ayah dan ibu, sehingga melupakan hal itu. Hal yang diinginkan adalah segera tiba di rumah sakit untuk melihat orang tuanya.


Meskipun selama ini ia selalu saja menjadi putra yang tidak patuh pada orang tua, tapi jauh dilubuk hati sangat menyayangi mereka, sehingga begitu mendengar kabar buruk ini, seketika membuatnya benar-benar dalam fase down. Bahkan hancur sehancur-hancurnya.


Zafer bahkan saat ini tidak siap untuk menghadapi kabar buruk yang menimpa orang tuanya. 'Ternyata seperti ini rasanya ketika ketakutan kehilangan seseorang yang berarti.'


'Papa, mama, jangan tinggalkan aku. Meskipun aku belum menjadi putra yang membanggakan kalian dan selalu membantah perintah, tapi sangat menyayangi dan tidak ingin kehilangan.'


'Aku benar-benar belum siap kehilangan kalian,' lirih Zafer yang makin merasa sangat terpukul begitu mendengar suara rintihan Tsamara ketika menangis.


Bahkan ditambah lagi suara tangisan dari anak kecil laki-laki di belakang yang ikut menangis karena melihat sang ibu.


Zafer bisa memahami perasaan Tsamara karena melihat jika wanita yang berstatus sebagai istri pertama tersebut sangat menyayangi orang tuanya, sedangkan yang saat ini dilihat di sebelahnya adalah Rayya terlihat seperti sama sekali tidak bersedih begitu mendapatkan kabar buruk mengenai mertua.


Bahkan saat melihat sikap santai Rayya yang sama sekali tidak bersedih, membuat Zafer merasa bahwa semua alasan dari orang tua yang tidak mau menerima wanita itu menjadi istrinya adalah karena tidak ada rasa sayang dan peduli.


Sementara itu, Rayya yang saat ini terlihat sangat tenang ketika mengemudi dengan kecepatan tinggi karena ingin segera tiba di rumah sakit agar Zafer bisa bertemu dengan orang tua yang mungkin sudah sekarat.


Berpikir bahwa ia masih berbaik hati agar Zafer bisa bertemu untuk terakhir kali dengan orang tua yang sedang diambang maut.


Bahkan berpikir jika tidak ada lagi yang lebih membahagiakan selain hari ini saat berhasil menyingkirkan dua orang penghalang untuk menguasai harta keluarga Dirgantara. Apalagi Zafer merupakan anak tunggal dan tidak akan ada yang bersaing dengannya.


Bahkan ketika tadi Harry mengirimkan pesan bahwa sopir yang mengemudikan truk sudah menabrak mobil orang tua Zafer, merasa sangat senang dan menunggu reaksi dari suami.


Namun, sama sekali tidak menyangka jika suaminya tersebut bahkan terlihat bergetar dan tidak bisa mengemudi karena merasa sangat syok mendengar kabar buruk tersebut.


Saat sedang fokus mengemudi, merasa sangat terganggu dengan suara tangisan dari ibu dan anak yang duduk di belakang.

__ADS_1


'Aku yakin jika Tsamara hanya sedang berakting menangis karena merasa kehilangan. Ataukah memang benar-benar menangis saat takut ketika tidak ada lagi yang membantu dan melindungi.'


'Sepertinya memang begitu karena setelah hari ini, tidak akan ada yang melindungi wanita cacat sepertimu karena Zafer akan takluk pada semua perintahku.'


Rayya yang saat ini hanya bisa mengungkapkan kekesalan pada Tsamara dengan mengumpat di dalam hati. Padahal sebenarnya ingin berteriak agar wanita itu diam, tapi tidak ingin membuat Zafer yang sedang tertekan dan sedih, semakin bertambah kehancuran yang dirasakan.


Jadi, memilih untuk diam dan tidak lagi berbicara apapun karena saat ini hanya fokus mengemudi agar segera tiba di rumah sakit. Hingga suara napas Zafer yang menyayat hati, terdengar memenuhi mobil.


Ditambah suara tangisan dari Tsamara dan juga putranya, semakin melengkapi kisah tangis penuh kesedihan di dalam mobil. Sementara ia yang masih fokus mengemudi, beberapa kali mengusap lengan kekar sang suami.


"Papa, mama, kalian harus tetap baik-baik saja karena aku tidak rela kehilangan. Maafkan aku yang selama ini tidak patuh pada kalian. Aku berjanji akan menjadi seorang putra yang membanggakan orang tua."


"Jadi, kalian harus tetap selamat," lirih Zafer yang sudah tidak kuasa menahan bulir kesedihan dari bola mata yang mewakili bahwa saat ini benar-benar dikuasai oleh ketakutan teramat sangat.


Zafer bukanlah tipe pria yang akan mengeluarkan air mata dengan mudah saat bersedih atas hal apapun, tetapi kali ini berubah menjadi lemah saat membayangkan kecelakaan yang menimpa orang tuanya.


Apalagi mengetahui bahwa mobil yang ditumpangi oleh orang tuanya tertabrak sebuah truk besar dan langsung membayangkan bagaimana hantaman keras dirasakan oleh ayah dan ibu yang sangat disayangi.


"Kalian pasti merasakan sakit yang luar biasa ketika truk menghantam tadi. Kalian bahkan sudah tua dan harusnya pensiun serta bersantai dengan keluarga di rumah, tapi kenapa harus merasakan rasa sakit teramat sangat saat kecelakaan?"


"Tuhan, kenapa semua ini terjadi pada orang tuaku? Kenapa mereka yang sudah tua harus merasakan rasa sakit ketika dihantam kendaraan besar? Apakah aku tidak boleh marah pada-Mu atas semua hal yang terjadi hari ini?"


Zafer benar-benar hancur dan saat ini berada pada titik terendah karena berpikir bahwa takdir yang menimpa orang tuanya sungguh tidak adil.


Apalagi mengetahui bahwa orang tuanya merupakan orang-orang yang baik, sehingga membuatnya bertanya kenapa nasib mereka berakhir buruk seperti ini.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2