
"Ini, kan perintah dari nyonya besar," bantah Sumi dengan wajah masam karena sang suami tidak mengerti tentang hal-hal yang harus dilakukan.
"Hal ini tidak akan mengubah kenyataan bahwa tuan Zafer besok akan menikahi wanita lain. Jadi, jangan berlebihan menanggapi ini dari pada kecewa. Termasuk nyonya Merry nanti akan dijatuhkan oleh harapan semu."
Paijo bisa mengerti karena sama-sama lelaki karena biasanya akan lupa jika berada di atas ranjang, tapi setelah itu, kembali seperti biasa. Jadi, saat ini berpikir jika hari ini tidak akan membuat acara besok dibatalkan.
Apalagi mengetahui jika wanita yang akan dinikahi telah hamil dan pastinya memiliki posisi sangat kuat, meskipun hanyalah menjadi istri kedua.
Memang kebanyakan istri pertama selalu kalah dibandingkan yang kedua. Seolah sudah menjadi hukum alam dan tidak bisa dihindari fakta seperti itu.
Akhirnya Sumi memilih berjalan menuju ke arah dapur karena merasa sangat kesal dengan perkataan sang suami yang tidak mau mendukung harapan. Bahwa lebih menyukai istri pertama yang sangat baik hati.
Selain ingin membuatkan minuman untuk sang dokter, Sumi melampiaskan kekesalan dengan cara mengumpat di dapur. "Dasar para pria yang tidak pernah bisa mau mengerti perasaan wanita."
Sementara itu di ruangan berbeda, yaitu kamar pasangan suami istri yang diketahui sang dokter tidak saling mencintai, tapi harus menikah karena keadaan.
Pria paruh baya itu sudah menjadi dokter pribadi keluarga Dirgantara sejak muda karena merupakan sahabat kuliah Adam. Tentu saja mengerti semua hal mengenai pasangan suami istri itu.
Apalagi Adam Dirgantara selalu menceritakan semua hal mengenai keluarga. Jadi, tidak ada yang terlewat.
Pria itu dengan sangat hati-hati memeriksa keadaan dari wanita yang tidur dengan dipeluk erat oleh tangan kekar Zafer.
'Untungnya tangan Zafer berada di perut. Jadi, aku mudah untuk memeriksa wanita cantik malang ini,' gumam pria yang saat ini tengah mengarahkan stetoskop ke arah dada dan juga memeriksa suhu tubuh.
Mengetahui apa yang terjadi, dokter tersebut kini masih tidak mengalihkan pandangan dari ulah Zafer yang bahkan sudah dianggap seperti putra sendiri.
'Dasar anak nakal. Kau bisa berbuat sesuka hati dengan menyia-nyiakan wanita ini, tapi aku yakin suatu saat akan menyesal karena semua orang akan menuai hasil dari yang ditanam. Seperti wanita ini yang tengah menjalani karma, tapi saat benar-benar ikhlas menjalani ini semua, akan dinaikkan derajat oleh Tuhan.'
'Suatu saat nanti, hidup wanita ini akan bahagia, aku yakin itu,' gumam pria paruh baya itu yang kini mengambil ponsel di saku celana dan langsung mengabadikan momen langka yang tidak pernah terjadi.
Mulai dari merekam dan memotret beberapa kali, lalu mengirimkan pada sahabat yang tak lain adalah Adam Dirgantara dengan sudut bibir melengkung ke atas.
__ADS_1
'Pembantu wanita itu berbohong dan berpikir aku tidak tahu dengan hal yang sebenarnya terjadi. Jadi, beralasan bahwa majikan arogan ini akan pusing karena terbangun. Bahkan aku tahu kalau anak nakal ini menikah dengan wanita yang telah dihamili.'
'Hal gila apa yang sebenarnya terjadi karena mempelai pengantin pria yang besok akan menikah untuk kedua kali, kini tidur nyenyak dan nyaman dengan memeluk istri pertama yang sangat tidak diinginkan dan dibenci. Ingin sekali menepuk kepalanya, tapi tidak mungkin membangunkan. Aku akan berbalik hari membiarkanmu merasa nyaman.'
Sang dokter yang kini telah selesai memeriksa, berjalan keluar dengan mengendap-endap seperti seorang pencuri yang takut tertangkap.
Memang sangat konyol, tetapi inilah yang terjadi. Menjadi pengalaman berharga dan mungkin tak terlupakan di sepanjang sejarah hidup sang dokter.
Begitu tiba di ruang tamu, melihat sudah ada kopi dan teh di sana. Kemudian mendaratkan tubuh di atas sofa.
"Aku akan menuliskan resep dan bisa ditebus besok di apotik terdekat. Atau hari ini juga bisa karena ada apotik 24 jam yang buka di sekitar kompleks ini."
"Baik, Dokter. Bagaimana keadaan nyonya sekarang?" tanya Sumi yang saat ini merasa khawatir dengan keadaan wanita baik hati bagai peri itu. "Minum dulu, Dokter. Anda suka kopi atau teh?"
Pria paruh baya tersebut baru saja selesai menuliskan resep obat dan menyerahkan pada pelayan pria. "Aku teh saja. Biar kopi itu untukmu."
"Iya, Dokter. Nanti saja." Tentu saja Paijo tidak ingin minum bersama pria tersebut karena merasa tidak pantas.
"Sepertinya Zafer tadi sudah melakukan cara pertama yang kuberitahu, sehingga sekarang sudah bekerja. Namun, tadi resep itu jauh lebih lengkap dan juga ada vitamin juga. Oh ya, pengalaman tadi sangat menegangkan karena harus sangat hati-hati seperti pencuri yang sedang merampok dan tidak ingin ketahuan."
Kemudian terkekeh karena menganggap yang baru saja dilakukan adalah pengalaman pertama dan meninggalkan sensasi berbeda ketika berprofesi sebagai seorang dokter.
"Iya, Dokter. Itu semua karena salah saya. Mohon dimaafkan." Sumi membungkuk hormat dan mengungkapkan penyesalan.
"Tidak masalah karena aku sangat menikmati ini. Aku pergi. Katakan saja pada Zafer besok, bahwa aku melarang kalian membangunkan ketika memeriksa." Melangkah pergi setelah melihat pasangan suami istri yang bekerja di rumah itu menganggukkan kepala.
Sementara itu, Sumi yang kini melihat sang suami mengantarkan dokter sampai pintu gerbang depan, masih merasa kesal. Tidak ingin berbicara, akhirnya memilih untuk masuk ke kamar yang menjadi tempat anak laki-laki yang tengah tertidur pulas di atas ranjang.
***
Suasana malam yang dipenuhi dengan gemerlap bintang yang semakin menghiasi indahnya cahaya rembulan, kini telah berganti dengan datangnya senyuman mentari pagi yang mulai menunjukkan pesona.
__ADS_1
Meskipun ibarat kata, masih malu-malu karena belum sepenuhnya tersenyum lebar dan menerangi bumi, tetapi lampu-lampu mulai perlahan dimatikan karena telah berganti dengan cahaya sang mentari.
Begitu pun dengan kediaman rumah yang menjadi saksi bisu pasangan suami istri di atas ranjang, tak lain adalah Zafer dan Tsamara masih belum beranjak dari posisi.
Seolah sangat nyaman dengan posisi mereka. Saat ini sudah pukul enam pagi dan sama sekali belum ada pergerakan dari keduanya.
Zafer masih memeluk erat tubuh Tsamara di bawah selimut dan dari semalam sama sekali tidak terjaga.
Begitupula dengan Tsamara yang memang sedang tidak baik kondisi tubuh. Apalagi obat yang masuk ke tubuh mengandung obat tidur dan bisa membuatnya tidak merasakan rasa nyeri teramat sangat dengan tubuh seperti sedang dipukuli.
Setengah jam kemudian, Tsamara terjaga dari tidur ketika merasakan tenggorokan sangat kering dan merasakan ada beban berat pada bagian kaki. Berpikir karena itu semua adalah pengaruh rasa sakit yang kemarin dirasakan.
Ya, kali tidak sepenuhnya mati rasa setelah divonis cacat. Karena masih bisa merasakan jika ada beban berat atau dipukul cukup kuat. Urat syaraf tidak putus, jadi masih ada kesempatan untuk berjalan jika melakukan terapi.
Namun, membutuhkan waktu lama karena semua perawatan membutuhkan kesabaran sekaligus membiasakan diri dan tidak menyerah. Karena tidak ada yang instan di dunia ini, jadi Tsamara berjanji pada diri sendiri untuk tidak putus asa. Meskipun hasilnya tidak secepat yang diharapkan.
Hal yang dijelaskan dokter mengenai butuh waktu lama untuk menyembuhkan kaki yang telah cukup lama tidak berfungsi, jadi menggarisbawahi poin itu saja berusaha untuk bersemangat demi kesembuhan.
Demi satu-satunya harapan, yaitu Keanu yang menjadi dunianya karena hanya satu yang diharapkan, tidak meninggalkan meski apapun yang terjadi.
Sebenarnya hari ini adalah jadwalnya untuk terapi pertama, tetapi harus dibatalkan karena ada acara mendadak yang sama sekali tidak direncanakan, yaitu pernikahan suami dengan wanita yang telah dihamili.
Mendadak mengingat hal itu, kini seketika membuka mata karena berniat untuk bersiap.
'Sudah jam berapa ini?' gumamnya yang langsung membuka mata.
Mencoba untuk membiasakan cahaya masuk iris mata, Tsamara yang kini menyadari ada sesuatu yang melingkar di pinggang seperti tangan, refleks menyadari jika ada seseorang yang tidur di sebelah kiri.
Degup jantung Tsamara berdetak kencang melebihi batas normal kala menoleh ke kiri untuk mengetahui siapa yang berada di atas ranjang.
Begitu menyadari jika pria yang tidur di sebelah kiri tengah memeluk erat adalah Zafer, ia terdiam seperti patung dan tidak bisa melakukan apapun.
__ADS_1
To be continued....