
Beberapa saat lalu, Rayya yang merasa sangat dongkol karena tidak diizinkan menginap di rumah Zafer dan harus patuh untuk ikut calon mertua pulang ke rumah utama. Dari tadi ia hanya diam duduk di belakang bersama wanita paruh baya, tak lain adalah mamanya Zafer.
Sementara pria paruh baya yang selalu memantik amarah dan ingin sekali mencekiknya hingga kehabisan napas, duduk di depan bersama sang supir.
Bahkan dari tadi hanya keheningan yang tercipta di antara mereka. Seolah semua orang yang berada di dalam mobil tersebut sibuk dengan pikiran masing-masing
'Apa mereka tidak mengizinkan aku bersama Zafer dengan cara mendiamkan seperti ini? Jadi, aku akan tidak betah tinggal di rumah utama bersama mereka dan membatalkan keinginan untuk menikah?'
'Jangan pernah bermimpi jika harapan kalian untuk menjadikan wanita cacat itu sebagai menantu satu-satunya akan menjadi kenyataan. Aku tidak akan pernah membiarkan Zafer bersama wanita cacat itu karena selamanya hanya akan menjadi milikku."
"Putra dan semua harta kalian akan berada dalam genggamanku. Zafer akan patuh dan melaksanakan apapun yang kukatakan setelah kalian dimusnahkan dari muka bumi ini,' gumam Rayya yang seketika berjenggit kaget ketika lamunan musnah begitu tangan hangat mendarat di pundak.
"Rayya, sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?" Erina mencoba untuk mencairkan suasana penuh ketegangan di antara mereka dengan cara menyapa Rayya Namun, satu dua kali memanggil, sama sekali tidak mendapatkan jawaban.
Jadi, memegang pundak wanita yang sebenarnya tidak disukai tersebut untuk menyadarkan dari lamunan. "Sepertinya kamu sedang melamun memikirkan putraku."
Mendapatkan perhatian sekaligus pertanyaan dari sosok wanita paruh baya yang dirasakan seperti sangat aneh karena pertama kali mendengar kalimat lembut dari seorang ibu. Entah mengapa perasaan tidak nyaman tercipta.
Namun, menampik semua yang dirasakan karena berpikir jika hal yang harus dilakukan hanyalah segera menyingkirkan wanita itu beserta suami yang menghalangi rencana untuk menguasai keturunan Dirgantara sekaligus semua hartanya.
"Maaf, Ma. Aku tengah memikirkan acara pernikahan besok yang diadakan tiba-tiba dan tidak pernah kusangka akan secepat ini." Rayya mencoba untuk meredam emosi yang dari tadi menyeruak di dalam hati dengan cara mengulas senyuman.
__ADS_1
Sementara Erina yang berusaha untuk bersikap baik pada calon menantu kedua karena merasa sama-sama wanita. Jadi, bisa memahami perasaan Rayya saat ini karena tidak mendapatkan dukungan penuh dari hubungan gelap bersama Zafer.
Berusaha untuk menjadi mertua yang baik pada calon ibu dari cucu, sehingga menyingkirkan semua keegoisan yang tidak menyukai wanita itu.
"Kamu tidak usah memikirkan itu karena semua akan diatur oleh papanya Zafer. Malam ini, istirahat yang nyenyak, agar besok pagi hari bisa lebih fresh saat acara. Apalagi kau sedang hamil trimester pertama yang pastinya akan sangat berdampak pada fisik."
"Apakah kau sering muntah-muntah? Atau lemas dan pusing, sehingga tidak berselera makan?" tanya Erina yang ingin mengetahui perihal kandungan calon menantu.
Tentu saja ingin memberikan perhatian, agar tidak ada masalah atas kehamilan dari dua cucu yang sekitar delapan bulan lagi akan dilahirkan dan melihat indahnya dunia.
Sementara itu, Rayya hanya mengangguk perlahan, seolah menunjukkan bahwa semua yang dikatakan oleh ibu dari sang kekasih tersebut memang benar adanya.
"Mama sudah sangat berpengalaman, jadi mengetahui apa yang saat ini kurasakan. Aku bahkan sampai pingsan di kamar mandi karena sangat pusing tadi. Nasib baik Zafer datang karena sangat mengkhawatirkanku."
Sengaja Rayya menyindir dengan kalimat telak untuk menyadarkan pria paruh baya di kursi depan, agar menyadari kesalahan dan tidak lagi melarang Zafer untuk melakukan apapun yang berhubungan dengan kandungan.
'Semoga saja pria tua bangka itu menyadari kesalahan karena selalu menyalahkan Zafer yang lebih mencintaiku, serta memberikan perhatian lebih dan tidak pernah lagi melarangku bersama dengan putra mereka,' lirih Rayya yang kini masih menatap pada wanita paruh baya di sebelah kiri tersebut untuk melihat seperti apa respon dari sindiran barusan.
Namun, saat melihat wanita itu hendak membuka mulut, digagalkan oleh suara bariton dari pria paruh baya di kursi depan dan seolah berhasil menancapkan tombak tepat di jantung Rayya saat ini.
"Inilah yang membuatku tidak menyukaimu sampai sekarang, Nona. Kamu tidak pernah bisa menjaga perkataan dan selalu berbicara buruk. Di dunia ini, tidak pernah ada seorang calon ibu mengatakan hal buruk tentang janin yang dikandung."
__ADS_1
Adam Dirgantara yang kali ini tidak ingin tinggal diam atas ucapan buruk dari calon menantu dan merasa ingin menyadarkan wanita itu. Bahwa seorang wanita hamil harus berhati-hati dalam hal apapun, baik ucapan maupun perilaku karena akan berdampak buruk pada bayi yang dikandung.
"Bahkan orang tidak boleh sembarangan berbicara buruk karena kalimat yang lolos dari bibir merupakan doa. Jadi, harus mengucapkan semua yang baik, agar benar-benar terjadi kebaikan. Apa kamu tidak pernah mendengar kalimat 'ucapan adalah doa'?"
"Seharusnya kamu berdoa agar dua janin yang sedang tumbuh di rahimmu itu akan dilahirkan dengan selamat dan sehat tanpa kekurangan apapun. Bukan berkata mereka bisa saja meninggal dan tidak bisa melihat indahnya dunia. Bagaimana jika semua perkataanmu itu benar?"
Adam Dirgantara seolah meluapkan emosi yang dari tadi ditahan. Apalagi selama ini bukan merupakan tipe dari orang yang bisa bersikap munafik dengan berpura-pura baik pada orang yang dianggap salah di matanya.
Jadi, tanpa memperdulikan perasaan calon menantu yang memang tidak pernah disukai, akhirnya mengungkapkan apa yang dirasakan.
Merasa aura penuh ketegangan tercipta, Erina kini berusaha untuk mencairkan suasana begitu mobil sudah tiba di rumah dan memasuki pintu gerbang utama tinggi menjulang berwarna gelap itu.
"Sudah, Sayang. Hentikan kebiasaanmu yang selalu menasihati dengan kata-kata pedas. Kita sudah tiba di rumah sekarang. Ayo, kita turun." Erina beralih menatap ke sang menantu yang hanya mengunci rapat bibir. Seolah tidak bisa lagi berkata apapun untuk menanggapi omelan dari sang suami.
Sementara itu, Rayya yang ingin sekali menghancurkan kaca mobil dengan tongkat kayu untuk meluapkan amarah saat ini, masih berusaha untuk meredam emosi sekuat tenaga..
'Rasanya aku ingin segera mengunci diri di kamar dan tidak melihat orang tua menyebalkan ini. Zafer, seandainya kamu tahu apa yang dilakukan oleh orang tuamu padaku. Apakah kamu di sana tengah mengkhawatirkan aku?'
'Nanti aku akan menghubunginya begitu tiba di kamar,' gumam Rayya yang meraih ponsel di dalam saku gaun selutut yang dikenakan sambil beranjak keluar dari mobil..
Namun, suasana hati semakin buruk ketika melihat ponsel mati. 'Sial! Ponselku kehabisan baterai. Aku tidak membawa charger pula tadi karena dari rumah sakit langsung ke sini,' umpat Rayya dengan perasaan penuh emosi yang tengah ditahan sekuat tenaga.
__ADS_1
To be continued...