
Sebenarnya Rayya bisa saja menggugurkan kandungan hanya demi bisa bersama dengan Raymond
Akan tetapi, berpikir bahwa anak-anaknya akan mewarisi harta keluarga Dirgantara, sehingga memilih untuk mempertahankan dan menghancurkan Zafer dengan merebut semua aset yang dimiliki dengan menggunakan anak kembar yang sedang dikandung saat ini.
Rayya tidak ingin rugi dengan mengorbankan perasaan ketika memilih untuk mencintai Zafer tanpa memperdulikan status pria itu yang sudah menikah dengan wanita lain karena paksaan dari orang tua.
Apapun akan dilakukannya demi bisa mendapatkan harta yang dimiliki oleh Zafer karena berpikir jika anak-anaknya berhak mendapatkan semuanya.
'Aku tidak akan membagi harta keluarga Dirgantara dengan wanita cacat itu karena jika sampai Zafer pernah bercinta dengan Tsamara, akan ada kemungkinan hamil.'
'Selama aku masih hidup, tidak akan membiarkan itu terjadi karena sebelum Tsamara hamil, pergi dari dunia ini menyusul mertua yang bodoh itu.'
Saat Rayya sibuk bergumam sendiri di dalam hati sambil menunggu jawaban dari Raymond, kini seketika mengerjapkan mata karena merasa sangat tidak percaya dengan apa yang didengar.
"Aku ingin memiliki empat anak, laki-laki dan perempuan. Jadi, tidak akan ada yang iri." Raymond tersenyum begitu melihat respon terkejut dari Rayya. "Kenapa? Apa terlalu sedikit?"
Refleks Rayya menggeleng perlahan karena saat ini dipusingkan oleh permintaan Raymond. "Kamu tahu, aku saat ini sedang mengandung anak kembar. Jika melahirkan empat anakmu, jadi total enam."
"Apa tidak pusing membesarkan enam anak?" Rayya yang tidak ingin dipusingkan dengan permintaan dari Raymond, memilih untuk bangkit berdiri karena ingin mandi.
Raymond yang saat ini sekilas melirik ke arah ponsel Rayya di atas meja, mencoba untuk beralasan agar bisa mengetahui sandi dari benda pipih tersebut.
"Aku ingin pinjam ponselmu untuk menghubungi salah satu rekan bisnisku. Ponselku tadi lupa kehabisan daya dan sedang di charge." Meraih ponsel Rayya di atas meja dan berpura-pura terkejut karena tidak bisa membuka.
Rayya yang saat ini terkekeh geli melihat sikap Raymond, berjalan mendekat dan merebut ponsel miliknya, lalu mengarahkan pada wajah dan beberapa saat kemudian sandi terbuka.
"Hanya aku yang bisa membukanya agar tidak ada orang jahat yang bisa memeriksa ponselku." Kemudian memberikan pada Raymond yang seperti terkejut dengan sandi yang digunakan.
Raymond saat ini berpura-pura sangat terkejut dan langsung menerima benda pipih tersebut. "Sepertinya ada banyak rahasia di ponselmu, sehingga membuatmu memakai sandi wajah agar tidak dibuka oleh orang lain."
__ADS_1
"Aku tidak ingin wanita yang menjadi istri pertama Zafer memeriksa ponselku saat aku lengah. Hanya itu saja." Kemudian ia berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri karena merasa tubuhnya sangat lengket setelah dua ronde bercinta dengan Raymond.
Sementara itu, Raymond yang saat ini langsung bergerak untuk mencari kontak pria yang ingin membuatnya balas dendam, seketika tersenyum simpul begitu menemukan dan saat ini langsung menyimpan di ponselnya.
Kemudian kembali menaruh ponsel milik Rayya dan melaksanakan rencana untuk mengirimkan foto-foto yang tadi diambil pada Zafer. Bahkan mengetik pesan yang bertujuan untuk membuat pria itu murka.
Jika tidak bisa menjaga seorang istri, lebih baik jangan menikah. Rayya bahkan lebih menikmati bercinta denganku daripada denganmu.
Puas membuat kata-kata yang akan menjadikan Zafer marah karena ia telah berhasil mendapatkan Rayya tanpa bersusah payah, kini langsung mengirimkan pesan itu pada nomor pria yang telah menghancurkan impiannya untuk menikahi Rayya.
Begitu selesai, tepian selama beberapa saat karena mengingat dengan perkataan dari Rayya yang tadi bertanya mengenai anak.
'Mana mungkin aku akan menyayangi anak pria lain. Aku akan menyingkirkan anak kembar yang ada di perutmu agar ikut sang ayah ke neraka setelah disingkirkan oleh anak buahku.'
'Harusnya kamu tahu bahwa aku bukanlah malaikat yang bisa berbaik hati dengan menyayangi benih pria lain yang kamu lahirkan. Kenapa kamu sangat naif dengan masih menanyakan hal itu padaku?'
Hingga beberapa saat kemudian, tersenyum menyeringai begitu ponsel berdering. "Ternyata kamu langsung menelponku untuk memastikan apakah Rayya benar-benar bercinta denganku atau hanya sekedar kebohongan."
Tanpa membuang waktu, kini Raymond menggeser tombol hijau ke atas dan langsung mendengar suara teriakan dari seberang telpon.
"Bangsat! Apa yang sedang kau lakukan dengan istriku? Apa kau sudah gila?"
Raymond hanya terkekeh geli menanggapi kemurkaan dari Zafer. Bahkan merasa sangat bersemangat untuk semakin mengobarkan api agar pria di seberang telpon bertambah murka dan kehilangan harga diri sebagai seorang suami.
"Kenapa? Apa kau sangat terkejut ketika Rayya bersamaku setelah kau sakiti? Lebih baik kau sadar bahwa apapun yang terjadi, Rayya kini mencintai dan memilihku ."
Sementara itu, di seberang telpon, Zafer yang tidak bisa menahan amarah karena perbuatan dari istri yang ternyata berselingkuh darinya hanya karena pertengkaran kecil, sehingga membuatnya sangat menyesal telah memilih Rayya untuk melahirkan anak-anaknya.
"Kalian benar-benar sangat menjijikkan! Apa kau tidak tahu jika Rayya saat ini tengah mengandung? Bahkan sekarang anak-anakku ternodai dengan kebejatan kalian."
__ADS_1
Raymond hanya terbahak ketika menanggapi kemurkaan dari Zafer. "Hal inilah yang membuat Rayya membencimu karena kau berlagak sok suci, seolah tidak pernah bercinta selain dengan Rayya. Bukankah kau melakukannya dengan wanita yang cacat itu?"
"Sekarang Rayya membuat semuanya impas, tapi kau malah marah? Bukankah itu sangat tidak adil dan konyol?" ejek Raymond yang saat ini melihat Rayya baru saja keluar dari kamar mandi dengan memakai kimono handuk miliknya.
Jadi, hanya ingin mendengarkan suara dari seberang telpon tanpa menyebutkan bahwa saat ini tengah berbicara dengan Zafer.
"Posisiku sangat berbeda dengan kalian karena Tsamara sah istriku, sedangkan hubungan kalian tidak jelas karena hanyalah perselingkuhan. Berikan ponselnya pada Rayya karena aku ingin berbicara dengannya." Zafer ingin segera mengakhiri hubungan tanpa memperdulikan apapun lagi.
Namun, Raymond seketika mematikan sambungan telpon karena tidak ingin Rayya mendengar percakapan dengan Zafer. Namun, masih berakting seperti tengah menelpon rekan bisnis.
"Baiklah, aku tunggu kabar baiknya."
Kemudian memencet tombol merah dan sambungan telpon terputus. Raymond saat ini menatap ke arah Rayya yang terlihat sudah sangat segar dan tidak seperti beberapa saat lalu sangat pucat.
"Kau sangat cantik, tetapi hari ini sudah membuatku mandi dua kali dalam setengah jam." Raymond bangkit dari sofa berjalan mendekati Rayya, lalu memeluk erat tubuh seksi yang sudah sangat wangi dan segar itu.
"Apakah aku harus membalas dendam dengan membuatmu mandi dua kali?"
Refleks Rayya saat ini mencubit perut sixpack Raymond dan terkekeh geli. "Jangan mencoba melakukannya karena aku sudah sangat lelah. Cepat sana mandi."
Raymond saat ini melepaskan pelukan dan mengarahkan tangan untuk merangkum kedua sisi wajah menggemaskan Rayya.
"Hari ini, menginaplah di sini dan berikan pelajaran pada pria yang telah mengkhianatimu."
Rayya tanpa ragu langsung mengangguk perlahan dan tersenyum simpul. "Aku tahu jika kamu ingin terus bersamaku, jadi akan tinggal dan memenuhi keinginanmu."
"Kamu memang tidak pernah mengecewakanku, Sayang," sahut Raymond yang saat ini sudah mengecup bibir sensual Rayya dan beberapa saat kemudian pergi mandi.
To be continued...
__ADS_1