Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Perubahan Zafer


__ADS_3

Polisi yang tadinya menatap ke arah kemurkaan sosok pria yang terpukul mendengar kenyataan pahit mengenai dalang dibalik meninggalnya orang tua, kini hanya diam karena merasa iba.


Mereka bisa melihat kesedihan dari sosok pria yang masih terus mengumpat untuk meledakkan amarahnya.


"Aku akan membunuhmu, Rayya! Nyawa orang tuaku harus dibayar dengan nyawamu!" teriak Zafer yang saat ini tengah meraih ponsel dari saku celana untuk menghubungi Rayya.


Namun, di saat bersamaan, mendengar suara dari sang polisi yang baru menerima telpon.


Salah satu polisi yang mendapat telpon, kini terlihat langsung mengangkat panggilan dan mendengar kabar buruk hingga membulatkan mata dan langsung menatap ke arah sosok pria yang tengah terlihat menelpon.


"Halo, aku mendapatkan kabar mengenai tersangka bahwa hari ini mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat. Ia berencana untuk ke luar negeri dan saat menuju ke bandara mengalami kecelakaan ketika mobil yang dikendarai ditabrak oleh sebuah truk besar."


Pria berseragam tersebut kini seketika menatap ke arah pemilik perusahaan dan bangkit berdiri. "Tuan Zafer, ada kabar duka."


Zafer yang dari tadi masih mencoba untuk menghubungi Rayya demi meluapkan emosi, kini memicingkan mata dan mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh pria berseragam tersebut.

__ADS_1


"Tersangka yang akan kami tangkap, kini meninggal dalam kecelakaan saat hendak pergi ke bandara. Sepertinya nyonya Rayya Eliza hendak kabur ke luar negeri," ucap polisi yang saat ini sudah berdiri dari sofa.


"Kami harus segera ke rumah sakit karena mayat tersangka dibawa ke sana untuk dilakukan otopsi."


Zafer yang tadinya merasa bersalah dan menyesali semua perbuatan buruk yang dilakukan pada orang tuanya, kini seperti mendapatkan sebuah keajaiban atas semua kehancuran begitu mengetahui bahwa Rayya telah mengalami kecelakaan hingga meninggal.


'Tuhan, tanpa menunggu lama, Engkau menunjukkan kuasa-Mu padaku. Aku yang tadi serasa ingin mengakhiri hidup, kini seketika tersadar bahwa semua manusia di dunia ini hanya bisa berencana dan hanya Engkau yang bisa menentukan segalanya.'


'Engkau tunjukkan padaku bahwa para iblis akan berakhir di neraka. Rayya, membusuklah selamanya di neraka.'


Tsamara mengetahui bahwa pria yang sangat dicintai sangat bersedih dengan kenyataan pahit bahwa Rayya ternyata adalah dalang dibalik kejadian kecelakaan maut mertuanya. Setiap hari ia selalu menghibur perasaan sang suami agar tidak terpuruk karena masalah itu.


Meskipun sudah satu bulan lamanya semenjak kejadian kecelakaan maut yang menimpa Rayya serta pria selingkuhan sudah ditangkap polisi dengan tuduhan percobaan pembunuhan dan akan dilakukan sidang satu bulan lagi, tetap tidak membuatnya bisa memaafkan perbuatan Rayya dan Raymond.


Seperti hari ini, Tsamara sudah memeluk erat tubuh sang suami saat berada di atas ranjang. Semenjak mengetahui kenyataan itu, sang suami selalu susah tidur dan mimpi buruk.

__ADS_1


Tsamara yang setiap hari menenangkan Zafer jika mengalami mimpi buruk yang sama, yaitu melihat orang tua dibunuh oleh Rayya.


"Sayang, lupakan semua. Meskipun aku tahu itu berat, tapi papa dan mama sudah tenang di surga sana. Rayya sudah mendapatkan balasan setimpal tanpa kamu mengotori tangan untuk membalas dendam. Apalagi dalam agama kita, hal itu dilarang."


"Hukum alam bekerja dan tidak pernah salah sasaran," seru Tsamara yang masih sibuk mengusap lembut dada bidang sang suami agar lebih tenang perasannya.


Sementara Zafer yang sebenarnya merasa sangat susah untuk melakukan itu, kini menatap ke arah wanita yang dianggap adalah bidadarinya. "Aku ingin, tapi kenapa sangat sulit. Semoga waktu bisa mengobati lukaku ini."


"Aku benar-benar telah berdosa pada orang tuaku, Sayang. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diri sendiri karena telah menjadi pembunuh orang tuaku sendiri." Zafer tidak pernah bisa menahan gejolak perasaan yang berkecamuk penuh rasa bersalah.


Ia benar-benar merasa sangat bersalah karena pernah melawan orang tua hanya demi wanita seperti iblis dan membuatnya tidak pernah bisa hidup tenang.


"Aku sangat berdosa pada orang tuaku karena membunuh mereka," lirih Zafer dengan suara serak dan mata berkaca-kaca.


Seorang Zafer yang dulunya sangat arogan, kini berubah menjadi seorang pria lemah yang sekarang lebih suka merenung dan berurai air mata layaknya seorang wanita.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2