
Beberapa saat lalu, Rayya yang saat ini baru saja menelpon Zafer, terlihat mengepalkan tangan karena merasa sangat marah. Saat ini, wajahnya bahkan terlihat memerah dan berkali-kali mengempaskan tangan kanan ke atas ranjang untuk berkali-kali.
Tadi ia memang berbicara tanpa marah atau pun kesal karena memang sedang berakting, agar Zafer tidak marah padanya.
Ia tidak ingin hubungannya dengan Zafer berakhir buruk karena marah atas sikap pria itu yang seperti perduli pada Tsamara—wanita cacat yang sangat ingin disingkirkan.
"Berengsek! Aku harus berpura-pura bersikap baik seperti ini pada wanita cacat sialan itu di depan Zafer. Kenapa tiba-tiba sikap Zafer pada Tsamara berubah? Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Dulu, Zafer sama sekali tidak pernah mau menatap atau memperhatikan wanita cacat itu, tapi kenapa sekarang bisa perhatian dengan mengatakan akan menjenguk di rumah sakit? Apa aku salah jika berasumsi bahwa ada sesuatu yang terjadi semalam di antara mereka."
"Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Tsamara semalam, hingga membuat Zafer berubah drastis seperti ini." Rayya yang merasa sangat emosi, kini melemparkan semua bantal yang ada di atas ranjang.
Bahkan bantal dan guling tidak bersalah itu sudah teronggok di atas lantai dingin mengkilap tersebut.
Selama beberapa saat, deru napas memburu terdengar jelas dari embusan napas Rayya. Seolah menunjukkan bahwa tidak pernah berpikir jika yang terjadi saat ini adalah ingin sekali menyingkirkan wanita itu secepat mungkin.
Berkali-kali ia mencoba untuk menenangkan diri, agar tidak makin emosi karena tiba-tiba berpikir ingin melakukan sesuatu.
"Sepertinya aku harus bergabung dengan mereka semua untuk melihat. Apakah mereka sedang membicarakan sesuatu di belakangku?"
Tidak ingin membuang waktu, kini Rayya sudah melepaskan semua atribut pada tubuh dan berjalan hanya menggunakan pakaian dalam menuju kamar mandi.
Setelah beberapa saat kemudian, ia terlihat segar setelah mencuci make up tebal yang menempel di wajah. Tidak ingin terlambat untuk pergi ke rumah sakit, agar bisa bertemu dengan Zafer, Rayya buru-buru berpakaian dan mengaplikasikan bedak, serta lipstik.
Kemudian buru-buru mengambil tas dan langsung berjalan menuju ke arah pintu keluar, lalu menuruni anak tangga yang menghubungkan dengan lantai satu.
Begitu melihat satu orang pelayan, ia mengungkapkan pertanyaan. "Siapa yang biasa memegang kunci mobil? Aku ingin membawa satu mobil untuk pergi ke rumah sakit."
Kemudian wanita paruh baya yang terlihat memegang sapu tersebut menatap majikan baru yang sangat tidak disukai. Namun, berakting tersenyum dan membungkuk hormat.
"Ada supir yang akan mengantarkan Anda, Nyonya. Kunci beberapa mobil biasa dibawa oleh supir."
__ADS_1
"Bilang padanya untuk menyiapkan mobil untukku. Aku ingin mengemudi sendiri hari ini." Rayya kemudian melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah pintu keluar.
Kemudian diikuti oleh pelayan wanita yang tidak bisa membantah, sehingga berjalan mengekor di belakang sang majikan.
Kemudian langsung mengatakan pada supir untuk menyiapkan mobil dan kemudian berlalu pergi karena malas untuk berinteraksi dengan wanita yang dianggap sangat sombong dan tidak sopan tersebut.
Semua itu karena biasanya di rumah megah itu diterapkan saling menghormati dan menghargai. Meskipun hanya seorang pelayan di rumah itu, tetapi selalu mendapatkan sikap baik dari majikan utama.
Bahkan seperti dianggap keluarga sendiri dan majikan selalu menunjukkan sikap penuh kehangatan.
Kemudian Rayya masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan kendaraan roda empat berwarna merah tersebut meninggalkan area rumah utama keluarga Dirgantara. Setelah tadi memastikan pada supir mengenai mobil tersebut tidak akan bermasalah.
Selama mengemudikan mobil, ia berkali-kali mengempaskan tangan pada kemudi sambil mengumpat.
"Aku ingin melihat sendiri ekspresi wajah Zafer ketika bersama wanita itu. Lihat saja nanti, aku tidak akan pernah memaafkan wanita itu jika berani menginginkan suamiku!"
Mobil yang dikemudikan melaju dengan kecepatan sedang dan Rayya berpikir akan tiba di rumah sakit keluarga milik Dirgantara Grup beberapa menit lagi. Namun, tiba-tiba mobil sedikit oleng ke kiri dan seketika Rayya menepikan untuk memeriksa.
"Sial!" Rayya mengempaskan tangan pada body mobil untuk meluapkan emosi.
"Kenapa harus kempes segala di saat-saat darurat seperti ini? Aku sedang buru-buru, tapi ada saja halangan."
Terlihat wajah Rayya semakin frustasi dan kini meraih ponsel untuk menghubungi seseorang yang merupakan tukang servis mobil.
Rayya memberikan lokasi yang menjadi tempat berakhir seperti orang hilang di pinggir jalan raya dengan banyak kendaraan yang melintas.
"Aku terpaksa harus naik taksi nanti karena jika menunggu orang mengganti ban, akan membuang banyak waktuku." Rayya kini memilih untuk masuk ke dalam mobil.
Namun, baru saja hendak masuk ke dalam mobil, ada mobil berwarna hitam yang tiba-tiba berhenti di depan.
Rayya tidak jadi masuk karena ingin melihat siapa yang datang. Begitu melihat sosok pria dengan setelan hitam putih keluar dari mobil itu memiliki wajah rupawan serta tubuh yang seksi, membuatnya tidak berkedip menatap.
__ADS_1
'Siapa pria tampan ini? Apakah merupakan dewa penolong yang dikirimkan untukku?' gumam Rayya yang masih tidak berkedip menatap pria dengan langkah kaki panjang itu semakin mendekat.
"Apa yang terjadi, Nona?" tanya pria yang tidak lain adalah Rey Bagaskara.
"Ban mobilku kempes," sahut Rayya yang langsung mengarahkan jari telunjuk pada bagian belakang sambil sibuk bergumam sendiri di dalam hati.
'Dilihat dari dekat seperti ini, pria muda ini semakin tampan. Mungkin jika aku tidak sedang hamil anak Zafer, akan menjadikan pria ini sebagai selingkuhan. Pasti tidak akan pernah menolakku.'
Sementara itu, Rey Bagaskara berjalan ke belakang dan melihat. "Sepertinya ini harus diganti ban, tapi sayangnya aku tidak bisa melakukannya. Apa kamu sudah menghubungi orang bengkel mobil?"
Refleks Rayya langsung menganggukkan kepala untuk membenarkan. "Mungkin sebentar lagi datang."
Rayya kini melirik ke arah mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri. "Mungkin sepuluh menit lagi."
"Syukurlah. Apakah kamu mau menunggu orang itu mengganti ban? Atau ikut di mobilku. Aku bisa mengantarmu. Memangnya kamu mau pergi ke mana?" Rey Bagaskara memilih untuk menawarkan bantuan karena melihat jika wanita itu seperti terburu-buru.
"Rumah sakit. Aku ingin menjenguk saudara yang sakit." Rayya merasa sangat senang karena saat ini ada ide brilian di kepala.
"Rumah sakit mana? Kebetulan sekali aku juga akan pergi ke rumah sakit Dirgantara untuk menjenguk mamaku yang sakit." Rey kini masih menunggu jawaban dari wanita yang terlihat sangat terkejut tersebut.
Sementara itu, Rayya beberapa kali mengerjapkan mata begitu melihat ada suatu kebetulan yang terjadi di antara mereka.
"Benarkah? Kebetulan sekali tujuan kita sama. Aku benar-benar sangat terkejut dan tidak percaya."
Rey hanya terkekeh geli melihat ekspresi dari wanita tersebut. "Mungkin kita jodoh. Maaf, aku hanya bercanda. Baiklah. Lebih baik sekalian saja pergi bersamaku. Katakan saja pada orang itu bahwa kamu pergi dan menyuruh untuk membawa ke bengkel."
Kemudian mengulurkan tangan sebagai salam perkenalan. "Rey Bagaskara."
Rayya kini mengulas senyuman ketika melihat pria dengan paras rupawan tersebut menggantung tangan di udara dan tidak ingin membuat Rey menunggu terlalu lama, langsung menyambut dengan menjabatnya.
"Aku Rayya Eliza. Baiklah, sekarang kita langsung pergi saja ke rumah sakit," ucapnya dengan tersenyum simpul dan merasa sangat senang ketika mendapatkan ide di kepala.
__ADS_1
To be continued...