
Saat ini, Zafer berada di dalam ruang kerja dan hari ini sangat sibuk karena sang ayah mengabarkan tidak akan pergi bekerja dengan alasan tidak enak badan.
Meskipun hal seperti itu jarang terjadi karena sang ayah adalah orang yang sangat rajin dan menjadi contoh yang baik untuk para tetap perusahaan.
Sebenarnya Zafer merasa sangat heran kenapa tiba-tiba sang ayah yang tadi pagi terlihat sangat sehat, mengabarkan sakit dan tidak bisa berangkat bekerja, sehingga menyerahkan seluruh pekerjaan hari ini padanya.
Setelah tadi bertemu mertua ketika hendak meeting dengan klien bisnis, ia kembali ke kantor dan disibukkan oleh rutinitas memeriksa banyaknya dokumen yang dibawa oleh asisten pribadi sang ayah.
Bahkan sudah sore, tetapi pekerjaan belum selesai juga dan otomatis lembur karena beberapa dokumen penting harus segera diperiksa dan ditandatangani.
Zafer yang dari tadi sangat frustasi semakin bertambah besar karena hari ini harus pulang terlambat. Padahal tadi berpikir akan pulang awal untuk memberikan ponsel pada Tsamara dan juga membahas mengenai kegiatan intim dari sepasang suami istri untuk pembuktian diri.
Terlihat Zafer yang mengacak frustasi rambut ketika berada di kursi kerja dengan tumpukan dokumen.
"Sial! Kenapa nasibku hari ini sangat buruk dan sial? Dimulai dari Tsamara yang marah saat kusuruh untuk memilih ponsel, lalu bertemu mertua dan juga pria bernama Raymond yang merupakan menantu laki-laki idaman itu, ditambah lagi papa tiba-tiba mengatakan tidak bisa berangkat ke kantor dan menyerahkan semua pekerjaan padaku seperti ini."
Rasanya ia ingin sekali mengempaskan banyaknya dokumen di atas meja tersebut karena sangat lelah sekaligus bosan. Namun, menyadari bahwa jika melakukan itu malah akan menambah masalah.
Jika sang ayah mengetahui, pasti akan mendapat kemurkaan dan bukan hal itu yang diinginkan oleh Zafer. Akhirnya, mau tidak mau memilih fokus untuk menyelesaikan pekerjaan.
Meskipun saat ini tengah dikuasai oleh banyak masalah, tetapi tak menyurutkan semangat kerja demi membuat sang ayah bangga dan tidak selalu menyalahkan ataupun mengatakan putra tidak berguna.
Apalagi selama ini selalu bersembunyi dibalik kekuasaan sang ayah, jadi harus mengikuti perintah.
Tadi sempat memikirkan sikap ayah mertua yang membuatnya merasa ilfil dan semakin menambah kekesalan, sehingga tidak berniat untuk berbaikan dengan Rayya.
Jadi, berencana untuk memberikan hukuman pada Rayya demi melampiaskan amarah karena ulah dari ayah wanita itu.
"Ada baiknya aku pulang terlambat dan pasti ia sudah tidur. Jadi, aku tidak akan bertemu dengan Rayya. Sepertinya introspeksi diri selama beberapa hari akan membuat Rayya sadar tentang sikapnya yang berlebihan karena menuduhku bercinta dengan Tsamara."
"Saat aku sama sekali tidak melakukan hal itu, tetapi mendapatkan tuduhan. Bukankah akan lebih baik jika membenarkan tuduhan itu? Sangat rugi jika hanya dituduh saja tanpa melakukan apapun, bukan?"
__ADS_1
Seolah ia saat ini sedang mencari pembenaran diri dengan melakukan hal yang dituduhkan oleh Rayya. Hal itulah yang membuatnya merasa seperti sangat bersemangat ketika ingin merasakan bercinta dengan sensasi berbeda bersama dengan istri pertama yang belum pernah terjamah.
"Tsamara adalah istri sahku dan tidak salah jika aku menuntut hak darinya, bukan? Lagipula, buat apa menikah jika tidak disentuh. Aku sangat merasa penasaran dengan wanita itu. Apa yang akan dilakukannya ketika aku menuntut hakku sebagai seorang suami."
Rasa penasaran membuat Zafer terpacu untuk segera menyelesaikan semua pekerjaan yang menumpuk hari itu. Seolah memotivasi diri saat bekerja, agar bisa segera pulang menemui Tsamara setelah menyelesaikan semua dokumen di atas.
Zafer saat ini melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Begitu melihat hari sudah petang, kembali melanjutkan memeriksa file-file di hadapannya tersebut.
Kini, ruangan kerja berukuran luas dan dipenuhi oleh furniture mahal yang menghiasi tempat itu terasa hening dan mencekam ketika malam tiba.
Senja yang menghiasi gelapnya malam ini bertabur bintang karena suasana hari ini tidak seperti biasa yang seringnya mendung dan hujan. Namun, untuk malam ini, bintang-bintang bertaburan menghiasi pekatnya malam.
Sudah tiga jam berlalu dan Zafer sesekali menggerakkan otot-otot yang kaku dengan cara menekuk leher ke kiri dan ke kanan dan juga meregangkan kaki serta tangan. Bahkan sesekali memijat pundak yang terasa kaku karena berjam-jam duduk di depan tumpukan berkas.
Ketika melihat dokumen sudah tinggal sedikit dan sebentar lagi akan selesai, ia memilih untuk mengambil air minum untuk meredakan tenggorokan yang terasa sangat kering. Di saat bersamaan, mendengar suara ponsel berada di dalam jas yang digantung.
Refleks ia bangkit berdiri dan memeriksa Siapa yang menelpon. Begitu melihat bahwa yang menghubungi adalah Rayya, ia membiarkan dan tidak berniat untuk mengangkat telpon karena benar-benar sangat kesal hari ini.
"Sepertinya mertua laknat itu sengaja mengibarkan bendera perang denganku. Apakah perlu kubuktikan di antara kami, siapa yang akan menang?"
Saat panggilan telepon sudah mati, Zafer yang saat ini masih memegang benda dengan layar datar tersebut, mendaratkan tubuhnya pada kursi dan berpikir sesuatu.
"Aku malah penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Tsamara saat ini. Apakah berbincang dengan orang tuaku di kamar? Ataukah bersama Keanu di atas ranjang?"
Saat mengingat hal itu, Zafer berpikir bahwa tidak mungkin bercinta di atas ranjang karena ada Keanu. Kini, menepuk jidat setelah mengingat hal yang terlupakan.
"Dasar bodoh! Aku bahkan melupakan poin penting. Jika malam ini aku benar-benar bercinta dengan Tsamara, di mana akan melakukannya?"
Zafer masih memutar otak untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang berhubungan dengan hal intim antara sepasang suami istri. Bahkan mengingat setiap sudut ruangan kamar yang bisa dimanfaatkan untuk bercinta.
Namun, ketika mengingat bahwa kondisi Tsamara yang tidak memungkinkan untuk bisa berada di tempat selain ranjang, Zafer merasa frustasi karena pastinya hanya akan dirinya yang aktif.
__ADS_1
"Aku baru pertama kali merasa seperti ini. Kebingungan hanya karena masalah ingin bercinta dengan seorang wanita. Apakah hari ini Tsamara akan mengizinkanku untuk meminta hakku? Ataukah akan menolak dan marah-marah seperti biasa?"
Kini, ia menatap ke arah ponsel yang masih digenggam. Kemudian memeriksa daftar panggilan. Begitu melihat kontak Tsamara, entah mengapa langsung memencet tombol panggil karena ingin mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh wanita itu hari ini.
Namun, Zafer memicingkan mata begitu mendengar suara operator telpon yang menjawab bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
"Kenapa tidak aktif? Mungkin sedang gangguan sinyal." Kemudian Zafer mematikan sambungan telpon, lalu kembali memencet tombol panggil.
Namun, raut wajah kembali terlihat sangat kecewa karena melihat bahwa saat ini nomor Tsamara benar-benar tidak aktif.
"Kenapa tidak aktif? Apakah sengaja menonaktifkan ponsel agar tidak kuhubungi seperti siang tadi? Wah ... rasanya wanita ini benar-benar menguji kesabaranku. Awas saja nanti saat aku sudah pulang."
Zafer makin ingin segera menyelesaikan pekerjaan dan pulang untuk menemui Tsamara karena berpikir bahwa wanita itu tidak ingin dihubungi olehnya lagi.
Saat kembali bekerja, sambil bersungut-sungut untuk mengungkapkan emosi.
"Tsamara menonaktifkan ponsel karena tidak ingin kutelpon."
"Apakah juga tidak mau bertemu denganku saat berada di rumah?" Bahkan terbahak ketika membayangkan hal itu.
Merasa perbuatan Tsamara sangat konyol sekaligus memancing emosi. Jika tadi hanya keheningan yang tercipta di ruangan kerja tersebut, tetapi sekarang berganti dengan suara napas kasar serta umpatan dari sosok pria di atas kursi kerja tersebut.
Sangat berbanding terbalik setelah mengetahui bahwa Tsamara menonaktifkan ponsel.
Zafer merasa yakin bahwa penyebab Tsamara melakukan itu adalah karena menghindar darinya. Apalagi tadi wanita itu marah-marah ketika membahas hal intim.
Tekad Zafer saat ini makin bulat untuk menaklukkan Tsamara di atas ranjang karena mengetahui bahwa kelemahan semua wanita adalah hal itu.
Ingin mengubah kemarahan Tsamara dengan suara ******* yang menghiasi ruangan kamar, ia saat ini buru-buru menyelesaikan pekerjaan.
To be continued...
__ADS_1