Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Indah pada waktunya


__ADS_3

Zafer dari tadi masih tidak mengalihkan pandangan dari pintu kamar mandi dan sibuk bergumam sendiri di dalam hati.


'Ia sengaja menghindariku setelah papa dan mama menemui anak kecil itu. Dasar wanita munafik! Kira-kira cara apa, ya untuk membuatnya diusir oleh orang tuaku? Cara pertama tidak berhasil karena ternyata papa sudah mengetahui masa lalu Tsamara.'


'Mungkin hanya dengan cara menjebaknya bersama pria lain, baru aku bisa menghancurkannya. Sepertinya aku harus mencari seseorang yang kira-kira bisa menggoda wanita sepertinya.'


Saat Zafer sibuk dengan pikirannya, bunyi pintu kamar mandi yang dibuka, mulai terdengar. Sekilas, ia melirik sinis sosok wanita yang sangat dibencinya dan merupakan istri sah yang sudah dinikahinya tersebut.


Dilihatnya Tsamara keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian panjang seperti biasanya.


Hal itulah yang membuatnya merasa sangat bosan karena tidak memiliki ketertarikan baik secara fisik ataupun hasrat pada sosok wanita yang merupakan istri sahnya tersebut.


"Apakah kau akan selamanya berpakaian norak seperti itu, wanita munafik? Astaga, aku bisa semakin stres setelah seharian berkutat dengan pekerjaan di kantor dan begitu pulang ke rumah, malah melihat wanita membosankan sepertimu."


Awalnya, Tsamara berniat untuk mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil yang melilit di atas kepala. Namun, begitu mendengar kalimat bernada penghinaan yang lagi-lagi menyayat hati dari sosok suaminya tersebut, membuat ia tidak lagi berkutik di tempatnya.


Namun, ia ingin menjadi seorang istri yang baik, sehingga membuang rasa malu dan menanyakan tentang apa yang diinginkan oleh sosok pria yang baru sehari menikahinya.


"Apakah Tuan muda ingin aku melakukan sesuatu? Maksudku adalah apakah Anda ingin aku berbuat sesuatu karena sangat ingin menjadi istri yang baik. Jadi, tolong katakan apa yang harus kuakukan?"


Zafer yang tadinya sudah memalingkan wajah dan hendak kembali tidur, tersenyum smirk dan mempunyai sebuah rencana di otaknya, sehingga ia kini bangkit dari posisi yang awalnya berbaring, duduk bersila di atas ranjang.


"Apa kamu benar ingin menjadi seorang istri yang baik? Aku sangat ragu dengan kata-kata dari wanita munafik sepertimu."


Tsamara hanya bisa berkaca-kaca saat kalimat menyakitkan itu berkali-kali didengarnya. Bahkan ia sama sekali tidak pernah membayangkan akan selalu disebut sebagai wanita munafik. Apalagi itu dari suaminya sendiri yang sama sekali tidak pernah terbayangkan olehnya.


"Iya, Tuan muda. Aku benar-benar ingin menjadi sosok istri yang baik untuk Anda," ucap Tsamara dengan memantapkan hati, meskipun sedang menahan rasa sakit yang dirasakan.

__ADS_1


Lagi dan lagi, sebuah rencana jahat datang dari kepalanya. Zafer tersenyum menyeringai, "Buka semua pakaian kuno itu dan berjalanlah seperti seorang model di depanku!"


"Ya Tuhan," seru Tsamara yang langsung memegangi dadanya. Bahkan kini ia serasa mual saat membayangkan berbuat hal seperti yang diperintahkan oleh Zafer.


Apalagi saat ini ia bisa melihat tatapan penuh seringai jahat dari sosok pria yang masih duduk bersila di atas ranjang.


Ia kini merasa sangat kebingungan begitu pria itu menyuruhnya untuk bersikap seperti layaknya seorang wanita murahan.


"Aku sudah menduga bahwa kamu akan berkata demikian. Sudahlah, aku sama sekali tidak tertarik untuk berbicara denganmu." Zafer kini sudah mengibaskan tangan dan kembali memalingkan wajah.


'Lama-lama, aku semakin ilfil padanya,' lirih Zafer di dalam hati.


"Maafkan aku, Tuan muda."


Tsamara sudah meninggalkan pria yang terlihat memunggunginya.


Namun, bukan itu yang menjadi impiannya semenjak bertaubat atas segala dosanya karena setiap hari, ia selalu berdoa pada yang Kuasa, agar memberinya seorang imam terbaik, yaitu pria yang menguasai ilmu agama dan membimbingnya ke Surga Firdaus yang diciptakan dari emas.


Saat ini, Tsamara sedang duduk di sofa yang berada di sudut ruangan ganti. Pikirannya kini tengah berkutat dengan perbuatannya yang tadi menolak keinginan dari pria yang saat ini tengah berbaring memunggunginya di atas ranjang king size tersebut.


'Ya Tuhan, aku sangat berdosa hari ini karena menolak perintah dari suami. Aku tahu, jika semua yang ada pada diriku adalah milik suamiku, tapi tidak bisa melakukannya.'


'Seandainya suamiku meminta haknya, aku akan iklhas untuk melayaninya. Namun, permintaan suamiku yang membuatku bersikap seperti seorang wanita murahan, tidak bisa aku lakukan.'


'Aku akan menghadapi semua cobaan ini dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Semoga Engkau menaikkan derajatku dan memuliakanku kelak dengan memberikan aku Surga Firdaus. Aamiin ya rabbal alamin.'


Tsamara mengusap telapak tangan ke wajah.

__ADS_1


Kemudian ia yang sudah rapi, memakai hijabnya dan berjalan keluar kamar.


Rencananya adalah ingin melihat putranya. Saat ini, bisa dilihatnya sosok pria yang masih berada di atas ranjang dan terlihat menelpon seseorang.


'Mungkin aku bisa mengambil hati suamiku dengan memasak makanan kesukaannya. Suamiku? Bahkan aku sama sekali tidak mempunyai hak untuk memanggilnya seperti itu. Sabarlah, Tsamara.'


'Mungkin semuanya akan indah pada waktunya. Percayalah pada rencana-Nya karena Tuhan Maha baik. Sebaiknya nanti aku bertanya pada mama mengenai apa saja yang disukai oleh tuan muda Zafer,' gumam Tsamara yang saat ini tengah menggerakkan kursi roda keluar dari ruangan kamar.


Hingga ia mendengar suara bariton dari Zafer ketika sampai di depan pintu. "Ke mana kekasihku? Apa terjadi sesuatu padanya setelah aku pergi?"


Tsamara tahu jika pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut saat ini tengah menyebut tentang wanita bernama Vera. Ia memilih untuk menutup mata dan hati agar tidak merasa tersakiti atas perbuatan dari pria yang harusnya menjadi imam yang baik untuknya.


Namun, malah asyik dengan wanita yang merupakan kekasih gelap. 'Jadi, ini yang dirasakan oleh mantan suamiku dulu ketika aku menyakitinya saat berselingkuh secara terang-terangan.'


Tsamara saat ini merasa seperti berada di posisi suami pertamanya. Ya, ia memang pernah menikah sebanyak tiga kali dan terakhir bersama Zafer atas dasar terpaksa.


Sementara dua pernikahannya dulu berdasarkan cinta, tapi juga tidak membuatnya bahagia.


Sebenarnya setelah kegagalan pernikahan kedua, Tsamara tidak ingin menikah lagi. Namun, karena kecelakaan yang diakibatkan oleh Zafer, membuatnya berakhir menjalani pernikahan atas dasar terpaksa dan tidak tahu harus sampai kapan bertahan dalam ikatan suci yang tidak didasari oleh cinta tersebut.


Tsamara memilih pasrah dan mengikuti takdir yang sudah ditetapkan untuknya dengan menerima semua yang dilakukan oleh Zafer dan berusaha untuk menjalani dengan ikhlas.


'Ini adalah harga yang harus kau bayar atas apa yang kau tanam di masa lalu, Tsamara. Jadi, jangan banyak mengeluh dan jalani semuanya,' gumam Tsamara yang kini mengembuskan napas kasar dan terasa sesak saat mengarahkan kursi roda menjauh dari ruangan kamar yang menjadi tempat pria itu menghabiskan waktu di malam hari.


Tentu saja saat ada mertuanya, Tsamara berpura-pura tidur satu kamar dan tidak menempati ruangan sebelah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya bersama Keanu.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2