Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Sikap menyebalkan


__ADS_3

Rayya yang saat ini masih memegang ponsel di dekat daun telinga dan melihat respon Tsamara yang dianggap terlalu berlebihan saat menolak untuk berbicara dengan Rey. Kini, Rayya menatap Tsamara begitu berada cukup dekat.


"Memangnya kamu tidak ingin berbicara dengan siapa? Bahkan aku belum mengatakan siapa yang yang sedang menelponku."


"Bukankah seharusnya aku bertanya dengan sopan siapa yang ingin berbicara denganmu?" Rayya masih belum mematikan sambungan telpon karena ingin pria di seberang sana mendengar suara Tsamara yang murka karena berharap Rey merasa marah pada wanita yang sangat dibenci tersebut.


Rayya tidak ingin ada satu pria pun menyukai wanita cacat itu, termasuk Rey karena berpikir akan mengirimkan Tsamara ke neraka. Meskipun ada kemungkinan jika Rey berhasil memiliki Tsamara, sudah dipastikan tidak akan mengganggu Zafer lagi.


Namun, tetap tidak ingin melihat Tsamara digilai oleh pria manapun. Berharap wanita itu tidak menikah dengan siapapun setelah bercerai dengan Zafer.


Saat ini, Tsamara yang sama sekali tidak merasa takut pada Rayya jika sampai berbuat buruk, memilih untuk menanggapi dengan singkat.


"Aku bukan wanita bodoh yang tidak tahu apa-apa, Rayya. Aku memang selama ini diam dan tidak pernah mempermasalahkan kamu bersama dengan Zafer. Namun, tidak akan pernah tinggal diam saat kamu mencampuri urusan masa laluku bersama bajingan itu!"


Tsamara sebenarnya beberapa saat yang lalu, berpikir bahwa yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu adalah ibu mertua, tetapi begitu melihat Rayya yang berbicara di telpon dengan seseorang dan menyebut namanya, seolah langsung bisa menangkap apa yang hendak dilakukan oleh wanita itu.


Suara tepuk tangan ringan yang hanya digunakan Rayya untuk memberikan applause pada Tsamara karena tebakannya memang benar adanya. Hingga kembali lagi berbicara pada Rey di telpon.


"Ternyata, Tsamara sudah benar-benar membuangmu dan menegaskan bahwa kamu sama sekali tidak berharga di mata mantan istrimu. Jadi, dari pada sakit hati, lebih baik kamu mengurungkan niat untuk mengincar mantan istri agar kembali padamu."


Sengaja Rayya ingin membuat Rey marah dan membenci Tsamara, sehingga melakukan hal nekat seperti menyakiti karena seorang pria akan murka ketika dihina ataupun diremehkan.


Saat tidak mendengar suara Rey, Rayya memilih untuk mengaktifkan loudspeaker agar Tsamara mengetahui jawaban.


"Rey, apa kamu masih di sana? Atau sudah kabur karena takut pada kemurkaan mantan istrimu?"

__ADS_1


"Aku hanya sedang mencoba untuk mendengarkan suara merdu mantan istriku, sehingga memilih menikmati dan diam karena sangat merindukannya." Rey di seberang telpon sudah berusaha untuk tidak terpancing amarah karena mengetahui bahwa Tsamara sudah tidak ingin berhubungan dalam hal apapun.


Tidak tidak ingin mendengar maupun berbicara dengan Rey, tetapi tidak bisa melakukan apapun saat ini karena kondisi kaki.


"Kamu benar-benar tidak tahu malu karena masih terus berada di sini saat aku menyuruhmu pergi. Lebih baik kalian lanjutkan saja berbicara di luar!"


Tsamara mengibaskan tangan dan berharap Rayya segera pergi karena benar-benar sangat tersiksa jika harus berbicara dengan Rey. Terlalu dalam luka yang dirasakan ketika mengingat mantan suaminya tersebut.


Sebenarnya ia ingin bertanya pada Rayya mengenai ibu mertua yang tidak kunjung kembali, tetapi mengurungkan niat karena ingin wanita itu segera meninggalkan ruangan kamar, agar tidak lagi mendengar suara Rey di telpon.


Merasa sangat suka melihat ekspresi wajah Tsamara yang kesal, Rayya sama sekali tidak ingin menuruti perintah wanita itu. Namun, sekarang memilih berbicara dengan Rey.


"Bagaimana? Apa kamu masih ingin berbicara dengan wanita yang sama sekali tidak mau menerimamu?"


"Sepertinya mantan suamimu masih belum bisa move on dari mantan istri. Baiklah, aku akan memperlihatkan wanita yang kamu rindukan." Rayya yang sudah mengangkat panggilan video tersebut memencet kamera belakang dan tentu saja terlihat dengan jelas Tsamara yang hanya bisa tidur di atas ranjang.


"Apakah sekarang sudah jelas?" Tersenyum smirk menatap Tsamara yang terlihat sangat marah.


Rey saat ini bisa melihat sosok wanita dengan pakaian serba hitam dan tertutup tersebut. Namun, sama sekali tidak berbicara apapun karena fokus pada sosok wanita yang terlihat jelas di hadapan, meskipun hanya melalui ponsel.


Tsamara sebenarnya ingin sekali turun dari ranjang dan merebut ponsel dari tangan Rayya, lalu membanting ke lantai agar hancur dan tidak bisa lagi mengganggu ketenangannya. Namun, harus sadar diri karena tidak bisa seperti orang normal yang bisa melakukan apapun sendirian.


Jika biasanya Tsamara perlahan bangun dari tidur dengan cara menggerakkan kaki dengan bantuan tangan yang menurunkan ke lantai. Kemudian menopang berat badan dengan kekuatan tangan.


Namun, harus benar-benar sehat, jadi bisa kuat mengangkat tubuh untuk pindah ke kursi roda. Namun, beberapa hari ini karena sakit, jadi tidak berdaya dan membutuhkan seseorang untuk membantu.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan, Rayya? Cepat keluar dari sini!" Tsamara semakin bertambah kesal karena Rayya malah memanfaatkan kesempatan dengan memperlihatkan dirinya yang berada di atas ranjang.


"Aku berhak melakukan apapun sesuka hati." Rayya yang saat ini masih tersenyum menyaringai karena sangat senang ketika melihat ekspresi wajah penuh kekesalan dari Tsamara.


"Kamu harus menjawab pertanyaan Rey terlebih dahulu, baru aku akan langsung pergi. Bagaimana?" Sengaja Rayya menawarkan sesuatu yang diinginkan Tsamara dan berpikir bahwa wanita itu akan setuju.


Sejujurnya pertanyaan dari Rey sangat mewakili hati Rayya saat ini. Kemudian berjalan semakin mendekat agar jelas. "Jika tetap pada pendirianmu, aku juga akan berada di sini sampai Rey puas menatap wajahmu yang membuat seorang pria gagal move on."


Hingga saat Rayya baru selesai berbicara, Rey kembali bersuara setelah dari tadi asik mengamati sosok wanita di atas ranjang tersebut.


"Aku saat ini ingin mengetahui mengenai hubungan rumah tangga kalian bertiga. Jika kamu setuju suamimu menikah lagi, apakah jatah bercinta kalian dalam satu minggu dibagi dua? Ataukah Zafer bisa mendatangi kalian sepuas hati?"


Rey mengajukan pertanyaan dan tentu saja tidak sama dengan yang diajukan oleh pada Rayya. Berharap bisa menemukan jawaban dari dua pilihan wanita dengan versi berbeda tersebut.


Sementara itu, Tsamara sama sekali tidak tertarik untuk menjawab apapun, sehingga memilih untuk mengunci rapat bibir dan membiarkan Rayya berbuat sesuka hati.


Tsamara berpikir bahwa Rayya tidak akan terus berada di kamar dengan menunjukkan pada Rey karena mungkin bisa saja mertua pulang dan pastinya akan marah melihat ulah wanita itu yang sangat kekanak-kanakan.


"Lakukan apapun sesukamu, Rayya!" Kemudian beralih menatap ke arah kamera ponsel dan mengetahui bahwa saat ini Rey masih terus memperhatikannya.


"Untuk kau, Rey, ingat baik-baik di kepalamu agar tidak memperlihatkan kebodohan yang mempermalukan diri sendiri. Aku bukanlah orang yang mengumbar masalah pribadi pada orang asing. Jadi, tebak saja sendiri sesuai dengan pikiranmu."


Rey dan Rayya berpikir bahwa saat ini sikap Tsamara sangat menyebalkan karena keras hati dan tidak mau menjawab pertanyaan yang sama-sama ingin diketahui.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2