
Meski sebenarnya mengetahui bahwa ada yang ingin dilakukan oleh Rayya ketika masuk tanpa permisi ke dalam kamar. Tentu saja berpikir bahwa menantunya tersebut ingin membuat perhitungan dengan Tsamara.
Tidak ingin masalah semakin bertambah besar dan diketahui oleh sang suami yang pastinya akan langsung murka dan mengusir mereka, ia masih berusaha menyadarkan agar berhenti dan tidak melanjutkan membuat masalah.
Namun, suara serak dari Tsamara, berhasil membuat Erina merasa bersalah.
"Sepertinya Rayya ingin menyampaikan sesuatu padaku, Ma. Jadi, masuk tanpa mengetuk pintu." Tsamara dari tadi memang memejamkan mata karena kepala sangat berat dan mata terus berair.
Meski tidak bisa tidur pulas seperti ketika saat mengantuk, jadi hanya mengistirahatkan kelopak mata dan pikiran masih sadar. Hingga mendengar suara gaduh dari luar.
Saat mengetahui siapa yang bising malam-malam, Tsamara masih tidak memperdulikan hal itu. Namun, karena Rayya sudah masuk ke dalam kamar dan hendak dihentikan oleh Zafer, mengetahui bahwa wanita itu ingin menemuinya.
Tentu saja bukan untuk say halo karena mengerti seperti apa Rayya. Hingga berpikir bahwa wanita itu hendak berbuat jahat padanya. Kini, Tsamara membuka mata setelah berkomentar dan menatap ke arah wanita dengan raut wajah memerah yang menjelaskan dikuasai oleh amarah.
"Apakah kamu ingin menamparku sekarang?" tanya Tsamara yang masih pada posisi berbaring di atas ranjang.
Sebenarnya jika tidak merasa kepalanya berat, mungkin akan bangkit duduk dan bersandar di punggung ranjang, lalu memberikan kesempatan pada Rayya untuk menyampaikan apa yang ingin dilakukan padanya.
Namun, karena tidak kuat, tetap berada pada posisi yang sama dan membiarkan wanita itu mengatakan apa yang ingin disampaikan padanya.
Rayya yang tadi merasa sangat kesal ketika tangannya ditahan oleh Zafer dan ada mertuanya sedang duduk di sebelah Tsamara yang ingin diberikan pelajaran.
Ketika melihat ada kompres di dahi wanita itu, Rayya berpikir bahwa Tsamara hanya sedang berakting sakit hanya untuk mencari simpati dari semua orang yang ada di rumah.
__ADS_1
Berpikir bahwa wanita itu tak lebih dari orang munafik saat bersandiwara di depan semua orang agar merasa iba dan simpati, Rayya sama sekali tidak merasakan hal itu.
"Ya, aku memang ingin berbicara denganmu, wanita munafik!" Rayya tidak memperdulikan tanggapan wanita paruh baya yang pastinya akan membenci dan semakin tidak menyukainya.
"Astaga! Apa kamu tidak punya sopan santun saat berbicara dengan orang lain?" Erina kali ini seolah tidak bisa bersabar menghadapi Rayya yang sangat kasar pada Tsamara, apalagi saat ini sedang sakit.
Kemudian mengarahkan tatapan tajam untuk memberikan sebuah kode pada putranya, agar segera membawa Rayya keluar dari ruangan kamar.
Ia tidak ingin terjadi perdebatan diantara dua wanita yang sama-sama berstatus sebagai istri dari putranya tersebut. Meskipun mengetahui bahwa salah satu hanyalah sebuah status semata karena hubungan di antara putranya dan juga Tsamara tidak sama dengan yang dijalani oleh Rayya.
"Cepat bawa istrimu keluar dari sini sebelum terjadi pertengkaran hebat antara dua istrimu!" seru Erina pada Zafer. Namun, lagi-lagi merasa sangat heran pada Tsamara yang memilih untuk meladeni wanita yang sedang dikuasai oleh amarah.
"Biarkan saja, Ma. Mungkin dengan mengungkapkan semua padaku, perasaan Rayya akan jauh lebih baik. Aku tidak ingin disalahkan jika sampai terjadi sesuatu yang buruk. Apalagi wanita hamil tidak boleh stres karena akan berdampak pada janin yang sedang dikandung."
Tsamara berpikir bahwa lebih baik berbicara secara langsung dan menghinanya daripada melakukan itu di belakang karena hanyalah seorang pengecut.
Sementara itu, Zafer dari tadi ingin sekali menarik Rayya dari kamar itu begitu mengetahui bahwa keadaan Tsamara saat ini tidak baik-baik saja.
Apalagi Tsamara menolak dirawat di rumah sakit karena tidak ingin bertemu dengan Rey, sehingga berakhir dirawat di rumah dengan peralatan ala kadarnya.
Namun, Rayya berkali-kali mengempaskan tangan karena tidak ingin keluar. Namun, sedikit merasa lega karena Tsamara tidak sendirian di dalam kamar.
Melihat sang ibu yang pastinya akan bisa melindungi Tsamara dari kemurkaan Rayya, sehingga kekhawatiran berkurang dan mengembuskan napas lega.
__ADS_1
"Aku sudah berusaha untuk menghentikan Rayya, Ma. Namun, tetap saja berakhir di sini. Aku pun akan menghentikannya jika berbuat macam-macam. Syukurlah papa sedang tidak ada di rumah. Jadi, kami masih selamat dari kemurkaan dan tidak diusir."
Zafer menegaskan kalimat terakhir, untuk menyadarkan Rayya dari sifat arogan dan egois. Kemudian kembali mengatakan hal yang sering diucapkan oleh sang ayah.
"Jika aku diusir dari rumah ini tanpa sepeserpun uang, apa kamu masih akan bersamaku? Atau berlari ke pelukan calon menantu kesayangan ayahmu itu?"
Rayya yang dari tadi menatap dengan penuh kebencian pada Tsamara dan berniat meluapkan amarah dengan cara yang seperti dikatakan oleh wanita itu. Memang benar bahwa saat ini sangat ingin sekali menampar wajah polos yang tak lebih dari wanita munafik tersebut.
Namun, sialnya tidak bisa melakukan hal itu ketika ada mertua yang diketahui pasti akan melindungi Tsamara Hingga pertanyaan dari Zafer seketika membuatnya menoleh karena tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh pria dengan tatapan mengintimidasi tersebut.
"Apa maksudmu? Kenapa tidak berbicara dengan jelas. Mengenai pertanyaanmu itu, tentu saja aku akan tetap bersamamu meskipun diusir dari rumah ini oleh orang tuamu karena sangat mencintaimu. Berbeda dengan wanita munafik yang bersembunyi di balik topeng polos."
"Padahal sebenarnya memiliki rencana jahat pada keluarga ini." Rayya sengaja berbicara tanpa menatap ke arah Tsamara karena ingin Zafer menjelaskan apa maksud dari perkataan menantu kesayangan.
Zafer yang merasa sangat malas untuk membahas pertemuan dengan ayah mertua dan juga pria bernama Raymond itu, hanya menjawab singkat. "Tanyakan sendiri pada ayahmu karena rasanya sekarang aku ingin meninju wajahnya."
"Aku sangat malas membahas tentang ayahmu yang sama sekali tidak menyukaiku. Alasanku tidak ingin menghabiskan waktu denganmu karena selalu mengingat akan tingkahmu yang berlebihan dengan menuduhku berbuat macam-macam."
"Lalu ditambah hari ini bertemu dengan ayahmu dan pria yang akan dijodohkan denganmu. Ternyata teman kecilmu itu masih sangat muda dan juga tampan. Pantas saja pria tua bangka itu selalu memuji jika lebih baik dariku."
Akhirnya ia menceritakan semua yang terjadi hari ini. Berharap Rayya tidak lagi membuat masalah dengan marah-marah pada Tsamara.
'Semoga Rayya menyadari kesalahan dan tidak melampiaskan pada Tsamara,' gumam Zafer yang saat ini melihat ekspresi wajah wanita di hadapannya tidak seperti beberapa saat lalu.
__ADS_1
Seolah wajah memerah itu perlahan hilang setelah apa yang baru saja diungkapkan.
To be continued...