
Beberapa saat lalu, Zafer yang memilih untuk menghilangkan amarah dan stres yang dirasakan akibat perkataan dari Tsamara, sudah mengeluarkan peluh ketika berada di ruangan gym pribadi.
Bahkan beberapa kali mengumpat untuk meluapkan kekesalan yang dirasakan, sehingga menghiasi ruangan berukuran cukup luas dengan alat-alat olahraga yang selama ini digunakan untuk melatih otot-otot tubuhnya.
Namun, baru beberapa menit berlalu, melihat sang ayah sudah masuk ke dalam ruangan gym. Tentu saja mengetahui bahwa pria paruh baya tersebut akan kembali memarahi seperti anak kecil hanya gara-gara bersikap kasar pada Tsamara.
"Apakah Papa akan kembali memarahiku? Memangnya tidak lelah melakukan itu?" tanya Zafer yang masih sibuk dengan alat untuk melatih kekuatan otot tangan.
Bahkan suara embusan napas kasar Zafer terdengar sangat jelas ketika mulai kelelahan. Namun, masih terus menggerakkan kedua tangan.
Sementara itu, Adam Dirgantara masih menampilkan wajah datar saat berjalan mendekati Zafer yang masih sibuk dengan alat Chest Press untuk melatih dada bagian tengah.
Zafer masih fokus latihan menggunakan alat bench press dengan arah dorong ke depan yang bentuk pegangannya untuk gaya dorong secara vertical atau horizontal yang memberikan efek tekanan yang berbeda pada otot dada.
"Jika sekali lagi kamu berbicara kasar pada Tsamara, kupastikan akan langsung mengusirmu dan Rayya dari rumah ini. Persetan kalian mau hidup seperti apa, Papa tidak akan pernah perduli! Kamu bisa bebas berbuat apapun sesuka hati tanpa ada aturan dari keluarga. Bukankah itu yang kamu inginkan?"
Adam masih mengarahkan tatapan tajam dan kini berpikir jika saat ini tidak akan mentolerir sikap putranya yang sangat kasar pada Tsamara. "Bahkan sekarang, kamu boleh keluar dari rumah ini jika tidak terima dengan apa yang Papa katakan!"
Kemudian berbalik badan untuk berjalan keluar dari ruangan gym pribadi keluarga tanpa memperdulikan Zafer lagi. Sebenarnya merasa lelah jika setiap hari harus selalu memarahi Zafer seperti anak kecil.
Namun, faktanya tidak bisa membiarkan Zafer semakin merajalela menyakiti perasaan Tsamara. Pada akhirnya kembali mengeluarkan ancaman dan berharap ini adalah terakhir kali melakukan itu.
__ADS_1
'Semoga anak nakal itu kali ini mau mendengarkan dan tidak akan bersikap kasar pada Tsamara lagi,' gumamnya yang sudah menaiki anak tangga dan berjalan masuk ke dalam ruangan kamar.
Sementara itu, Zafer yang kini langsung menghentikan kegiatan, mengembuskan napas kasar begitu mengingat ancaman sang ayah.
"Sebenarnya apa yang istimewa dari wanita itu, sehingga papa tidak berpihak pada putra kandung sendiri," lirih Zafer yang kini bangkit berdiri dari posisi dan meraih handuk kecil untuk membersihkan bulir peluh membasahi wajah dan tubuh.
Kemudian meraih botol minuman yang ada di atas lemari kecil pada sudut ruangan. "Rasanya aku ingin mendinginkan kepala dengan beristirahat di dalam kamar, tapi ada Tsamara dan tidak mungkin bisa melakukan itu."
"Lebih baik ke kamar Rayya," ujar Zafer yang saat ini berpikir untuk berjalan menuju ke arah pintu keluar dan beberapa saat kemudian sudah masuk ke dalam kamar.
Namun, melihat tatapan tajam wanita yang sangat disayangi sama persis seperti sang ayah dan mengungkapkan ingin berbicara empat mata tanpa Rayya, semakin merasa mendapatkan banyak tekanan hari ini.
"Memangnya ada apa, Ma? Apa tadi bertengkar dengan Rayya?" Zafer berpikir bahwa dua wanita yang tak lain adalah ibu dan Rayya bertingkah seperti anak kecil, berpikir untuk mengakhiri semua ini, agar bisa hidup damai tanpa perdebatan, kemurkaan yang memforsir otak.
Sementara itu, Erina yang merasa sangat dongkol karena perhatian untuk Rayya, malah ditanggapi dengan kalimat sinis, kini melampiaskan pada Zafer.
Tentu saja bukan sebuah tamparan seperti yang dilakukan oleh sang suami, tapi kini memilih untuk memukul lengan Zafer berkali-kali.
"Rasakan ini!" teriak Erina dengan wajah memerah karena dikuasai oleh amarah. "Seharusnya kamu menjadi putra yang membanggakan orang tua, bukan malah selalu memantik amarah seperti ini. Bisa-bisanya kamu memilih wanita yang bahkan tidak pernah bisa menghormati orang tua sebagai istri."
Masih tidak berhenti untuk mengarahkan pukulan pada lengan kekar putra satu-satunya, Erina ingin melampiaskan kekesalan karena perkataan Rayya beberapa saat lalu pada Zafer.
__ADS_1
Saat Zafer memilih diam saja karena tidak bisa marah pada sang ibu yang terus memukul, menunggu hingga perasaan wanita yang dianggap sangat penting dan disayangi tersebut tenang setelah melampiaskan amarah dengan cara seperti itu.
Tentu saja pukulan dari sang ibu sama sekali tidak terasa sakit baginya, tetapi tetap saja terasa panas karena cukup lama melakukan itu. Hingga beberapa saat kemudian sang ibu mulai berhenti dan berpikir mungkin karena kelelahan.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Ma? Apa yang kalian ributkan, sampai merasa marah seperti ini? Apa yang dikatakan Rayya?" Zafer memilih untuk merangkul sang ibu dan mengajak berjalan menuju ke arah sofa.
Bahkan mengarahkan wanita yang masih terlihat kesal itu agar duduk di sofa. "Sekarang Mama ceritakan semua, agar aku tahu harus berbuat apa."
Hening selama beberapa saat karena Erina masih mencoba menormalkan perasaan yang dikuasai oleh amarah. Tidak ingin menahan diri dengan memendam rasa kesal dan berharap putranya bisa menasihati Rayya agar berubah menjadi seorang istri sekaligus menantu perempuan yang baik, ia pun menceritakan semua.
Mulai dari niat baik untuk menjadi mertua perempuan yang baik dan berusaha menerima Rayya dengan tidak ingin membeda-bedakan dengan Tsamara, tetapi saat memberikan nasihat untuk kehamilan malah mendapatkan sindiran.
"Jika kamu menuruti orang tua dengan sepenuhnya menerima Tsamara sebagai istrimu, kami tidak akan selalu darah tinggi seperti ini. Namun, semua sudah terjadi dan tidak bisa merubah semua. Satu hal yang kupinta, nasihati istrimu agar bisa bersikap baik dan menghormati orang yang lebih tua."
Tidak ingin semakin dibuat emosi ketika mengingat Rayya, kali ini Erina bangkit dari tempat duduk dan memilih untuk berjalan pergi tanpa menunggu tanggapan dari Zafer.
Tentu saja langsung melangkahkan kaki menuju ke kamar tanpa menatap ke belakang lagi. Tidak ingin melihat ekspresi wajah putranya karena hanya akan menyulut api amarah untuk kesekian kali, ia sudah menghilang di balik pintu kamar dan melihat sang suami baru keluar dari kamar mandi.
Ingin lebih fresh dan mendinginkan kepala, akhirnya ia pun memilih mandi di bawah guyuran air shower yang dingin. Berharap setelah membersihkan diri, perasaan jauh lebih damai dan tidak lagi dikuasai oleh kemurkaan yang membara.
To be continued...
__ADS_1