
Zafer merasa sangat marah karena berpikir jika Tsamara hanya sedang menghibur karena merasa iba padanya.
Apalagi merasa jika sikap wanita di hadapannya tersebut berubah baik begitu melihat keadaannya yang sangat mengenaskan. Zafer paling tidak suka hidup atas belas kasih orang lain.
"Selama ini kau selalu membantah perkataanku dan juga tidak menuruti perintah atau hal yang kuinginkan. Bahkan sikapmu selalu dingin dan datar, tapi kenapa sekarang kau berubah menjadi baik seperti ini? Apakah saat ini kau kasihan padaku?"
"Aku tidak butuh belas kasihanmu. Jadi, pergi dari sini dan jangan pernah menampakan wajahmu di depanku lagi!" sarkas Zafer yang masih mengepalkan tangan karena sedang mencoba untuk tidak meninju ranjang perawatan.
Jika tubuhnya tidak lemah, mungkin sudah menghancurkan apapun yang ada di hadapan. Namun, saat ini tengah menahan rasa nyeri luar biasa pada kepala dan juga seluruh tubuh.
Zafer benar-benar merasa miris dengan apa yang saat ini tengah dialami dan sekaligus marah karena melihat Tsamara yang merasa iba padanya.
Jika sikap Tsamara dari dulu baik dan tidak berubah-ubah, mungkin tidak akan semarah itu pada wanita dengan gaun syar'i serba hitam tersebut.
Namun, saat ini merasa dikasihani oleh Tsamara ketika berada pada fase terendah dan paling buruk dalam sepanjang sejarah hidupnya, sehingga Zafer merasa seperti tidak punya harga diri sebagai seorang pria.
"Pergi dari hadapanku karena aku muak melihatmu!" sarkas Zafer yang saat ini tengah mengarahkan tatapan tajam penuh kemurkaan.
Sementara itu, Tsamara yang tidak tahu harus berbuat apa, khawatir jika tetap berada di hadapan pria tersebut, akan berdampak buruk pada keadaan fisik Zafer, sehingga memilih untuk membiarkan pria itu tenang dengan pergi terlebih dahulu.
***
Satu minggu sudah Zafer dirawat di rumah sakit dan selama itu, sikap Zafer selalu saja emosi dan melampiaskan amarah pada siapapun yang dilihat. Mulai dari dokter, perawat, pelayan dan tak terkecuali Tsamara.
Bahkan ketika asisten pribadi datang untuk meminta tanda tangan, juga tak luput dari kemurkaan Zafer.
Apalagi semenjak mendapat kecelakaan, tidak pernah melihat Rayya datang menjenguk. Seolah tidak berani untuk berhadapan dengannya karena ketahuan berselingkuh.
__ADS_1
Zafer bahkan menyuruh asisten pribadi untuk mengurus perceraian tanpa memperdulikan jika masih mengandung calon keturunan kembar.
Hingga mendapatkan jawaban jika baru bisa bercerai setelah Rayya melahirkan karena istri yang sedang hamil tidak bisa diceraikan.
Bahkan juga mendapatkan nasihat dari Tsamara agar tidak mengambil keputusan ketika sedang dikuasai oleh amarah.
Hal yang membuat Zafer murka adalah Tsamara tetap saja datang setiap hari meskipun sudah dilarang muncul di hadapannya. Seperti hari ini, Zafer melihat wanita yang berada di atas kursi roda tersebut baru saja tiba bersama pelayan.
Memang selama seminggu ini, Tsamara selalu datang setiap pagi dan pulang malam karena mengetahui jika Zafer semakin marah jika tidur di rumah sakit, sehingga tidak ingin pria itu terganggu dan agar bisa beristirahat dengan tenang.
Meskipun Tsamara menyuruh satu pelayan pria untuk menjaga sang suami agar ketika membutuhkan sesuatu, bisa langsung ada yang membantu. Tsamara kini menaruh kotak makanan ke atas laci dan itu adalah masakan pelayan di rumah.
Apalagi itu adalah menu kesukaan suami dan berharap pria itu menikmati makanan yang sudah lama tidak merasakannya. "Selamat pagi, Tuan Zafer. Saya membawakan makanan untuk Anda."
Zafer yang benar-benar sangat heran melihat Tsamara selalu datang meskipun sudah dilarang dan mendapatkan kemurkaannya. Refleks langsung mengempaskan kotak makan di atas laci tersebut hingga berserakan di lantai.
Setelah puas mengungkapkan kemurkaan, Zafer memalingkan wajah dan tidak ingin melihat Tsamara yang dari tadi hanya terus diam di tempat.
Zafer berharap Tsamara yang saat ini mengasihaninya tidak lagi datang karena selalu mengingatkannya pada kesalahan di masa lalu.
Saat mengingat itu, hanya kemurkaan yang dirasakan oleh Zafer. Berharap setelah tidak melihat Tsamara yang mengasihaninya, bisa bangkit dan tidak terus menyalahkan diri sendiri.
Hingga beberapa saat kemudian, mendengar suara lirih Tsamara yang sama sekali tidak ingin mematuhi perintah darinya.
Tsamara sama sekali tidak kesal atau marah ketika melihat sikap Zafer yang tidak mau menerima kebaikannya. Berpikir bahwa pria itu seperti seorang anak kecil yang kekurangan kasih sayang dan ingin lebih mendapatkan perhatian.
Bahkan menganggap jika kemurkaan Zafer sama seperti anak kecil yang ingin mencari perhatian dari orang tua.
__ADS_1
Jadi, meskipun dilarang datang dan mendapatkan kemurkaan, tetap tidak akan menyerah untuk mengambil hati Zafer serta merawat dengan baik.
Tsamara memberi kode pada pelayan untuk membersikan makanan yang berantakan di lantai tersebut. Kemudian menelpon kepala pelayan.
"Tolong suruh orang untuk mengantarkan makanan favorit suamiku ke rumah sakit karena aku tadi tidak sengaja menjatuhkannya."
Setelah mendapatkan jawaban, Tsamara langsung mematikan sambungan telpon begitu menyampaikan terima kasih.
Zafer yang masih belum mengalihkan pandangan, benar-benar sangat kesal pada Tsamara karena menyadari jika wanita itu terlalu sopan pada siapapun.
Tak terkecuali pada pelayan karena selalu berbicara dengan meminta tolong serta mengucapkan terima kasih.
Hal yang jarang dilakukan majikan seperti dirinya dan selalu dilihat dari wanita itu. Sejujurnya ia merasa sangat bersalah pada wanita itu dan berharap tidak makin menyakiti Tsamara.
Berharap setelah bersikap kasar pada Tsamara dengan kasar, wanita itu mau pergi karena tidak tahan dengannya. Namun, usahanya gagal karena Tsamara tetap datang setiap hari dan sama sekali tidak takut atau pun marah atas kekasaran yang dilakukan.
'Sebenarnya terbuat dari apa hati wanita ini? Kenapa bisa tetap bertahan setelah aku selalu membuatnya hidup menderita?' gumam Zafer yang saat ini kembali mendengar suara Tsamara.
Tsamara yang baru saja memasukkan ponsel ke dalam saku gaun yang dikenakan, kini menatap Zafer dan ingin pria itu mendengar jawaban darinya.
"Aku tetap akan datang ke sini karena adalah istrimu dan memiliki kewajiban untuk merawat suami yang sedang sakit. Seorang istri tidak diperkenankan menuruti perintah suami jika itu dianggap salah."
"Jadi, saat aku yakin jika menuruti perintahmu itu salah, memilih mengikuti kata hati yang meyakinkanku melakukan sebuah hal benar. Jadi, lebih baik jangan sia-siakan tenagamu untuk mengusirku karena itu percuma. Aku tidak akan pernah pergi dari sini."
Tsamara kini hanya diam mengamati respon dari sang suami dan berharap pria itu kembali murka seperti biasanya dan sama sekali tidak takut.
To be continued...
__ADS_1