
"Kenapa lama sekali?" tanya sosok pria yang tengah bersembunyi di bawah selimut tebal berwarna merah yang saat ini mulai bergerak untuk mencari kehangatan saat dari tadi kedinginan.
Jadi, menyuruh sang istri membuatkan jahe hangat untuk menghangatkan tubuh. Namun, karena sangat lama tidak kunjung kembali, sehingga berpikir jika ada sesuatu yang dilakukan wanita itu.
Erina sudah menyerahkan minuman jenis herbal yang selalu menjadi kesukaan sang suami. "Minum ini dulu biar tubuhmu hangat. Tadi aku ditanya oleh Rayya saat hendak naik ke atas."
Adam Dirgantara kini mematuhi perintah dari sang istri dengan perlahan meminum minuman buatan sang istri untuk menghangatkan tubuh sambil mendengar penjelasan.
"Tadi saat hendak naik tangga, ia bertanya padaku mengenai penyebab Zafer tidak mau tidur di kamar istri, tapi aku tidak menceritakan apapun karena terpaksa membohongi."
Saat berpikir sang suami akan kesal karena menyebut Rayya, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Erina kini menutup telinga begitu mendapatkan ceramah panjang lebar dari sang suami.
Adam merasa sangat khawatir pada sang istri dan seperti biasa, menasihati dengan panjang lebar. "Bukankah aku sudah bilang jangan turun tangga saat baru bangun? Bagaimana jika sampai terjadi sesuatu padamu? Ada lift yang memudahkanmu untuk turun ke lantai bawah."
"Kenapa tidak digunakan?" Adam saat ini masih tidak mengalihkan perhatian dari wanita yang malah menanggapi dengan wajah meringis seperti menganggap suara barusan menyakiti gendang telinga, sehingga geleng-geleng kepala melihat itu.
Merasa sangat kesal, kini mengarahkan cubitan ringan pada pipi putih sang istri yang masih belum membuka suara. "Aku berbicara seperti ini demi kebaikanmu, jadi jangan tutup telinga seperti itu!"
Tentu saja Erina tahu jika itu merupakan sebuah bentuk rasa cinta dari sang suami dan merasa sangat bahagia karena sudah puluhan tahun bersama, tapi tidak pernah sampai berteriak-teriak seperti rumah tangga putranya.
Mereka sesekali berdebat saat berbeda pendapat karena kehidupan rumah tangga itu tidak mungkin selalu aman tanpa perselisihan.
Kehidupan rumah tangga itu bagaikan berlayar di lautan, kadang arus tenang, ombak tinggi, badai dan cerah. Apalagi menyatukan dua hati yang mempunyai sifat berbeda, pasti akan sering mengalami banyak masalah.
Semua itu tergantung cara untuk menyikapi semua yang terjadi dan tentunya harus dengan kepala dingin, bukan memakai emosi. Salah satu pasangan juga harus ada yang mau mengalah karena jika sama-sama egois, yang terjadi adalah akan terjadi sebuah perdebatan tanpa ujung.
Seperti kehidupan rumah tangga Zafer dengan Rayya saat tidak ada yang mau mengalah dan jika dibiarkan berlarut-larut, akan menjadi bola api yang akan semakin besar dan menghancurkan kehidupan mereka.
Erina menatap sang suami dengan penuh cinta dan merasa sangat berterima kasih karena pria itu selalu membuatnya bagaikan ratu.
__ADS_1
"Aku selalu berhati-hati saat turun, Sayang. Lagipula, akan jauh lebih sehat jika melatih otot-otot tubuh agar tidak kaku. Apalagi usia kita sudah tua dan rawan terkena penyakit. Jadi, harus bisa menjaga kesehatan. Selain menjaga asupan makanan, juga berolahraga."
"Aku menganggap naik turun tangga adalah olahraga, tapi terima kasih karena sudah mengkhawatirkan aku. Bagaimana, apakah sekarang tubuhmu sudah lebih hangat dan tidak kedinginan lagi?" Mengarahkan tangan pada kening sang suami untuk mengecek suhu tubuh.
"Aku tidak demam, tapi dari tadi hanya menggigil kedinginan. Makanya tadi aku menyuruhmu mematikan AC dan membuatkan minuman hangat." Adam kini tengah berpikir sesuatu yang ingin diketahui dari sang istri dan kembali membuka suara.
"Oh ya, apakah kamu ingin kado pernikahan kupilihkan atau memilih sendiri? Nanti aku transfer uangnya untuk membeli jika pilihan jatuh pada poin kedua. Kamu bisa mengajak Tsamara dan Keanu nanti. Sekalian saja suruh mereka membeli."
Awalnya, Erina merasa kesal karena tidak tidak akan mendapatkan hadiah spesial sebagai surprise karena memang sudah mengetahui hal itu semalam. Namun, seketika bersemangat begitu sang suami menyuruh untuk mengajak Tsamara dan Keanu.
"Baiklah. Aku akan membeli sendiri nanti bersama mereka. Kasihan Tsamara jika harus selalu tertekan dengan semua yang terjadi beberapa hari ini. Jadi, sekalian memberikan hiburan." Kemudian Erina bangkit berdiri dari posisi.
"Apakah kamu ingin beristirahat lagi? Aku akan pergi menemui Tsamara karena biasanya jam segini sudah bangun."
Hal yang sama dilakukan oleh Adam Dirgantara ketika bangkit berdiri dari ranjang. "Aku juga ingin menemui Zafer untuk membicarakan sesuatu. Ayo, kita keluar bersama." Merangkul pinggang sang istri yang cukup berisi tersebut.
Sementara itu, Erina yang kini melangkahkan kaki jenjang mengikuti sang suami, kini berpikir ada sesuatu hal penting yang akan disampaikan pada putranya.
"Ada pekerjaan yang perlu dilakukannya nanti dan aku tidak bisa menghandel karena berada di luar kota. Jadi, sepertinya Zafer harus tinggal di sana selama satu bulan." Adam Dirgantara yang baru saja membuka gagang pintu, kini merasakan sang istri melepaskan kuasa dan menarik diri.
Bahkan saat ini Rayya sedang hamil, apa Kenzo mau pergi ke luar kota selama sebulan? Kita juga belum menceritakan mengenai ulah Rey."
Adam yang sama sekali tidak berbuat untuk menceritakan masalah itu pada putranya, kini terlihat menghentikan langkah sebelum meninggalkan sang istri.
"Tidak perlu menceritakan jika Zafer tidak bertanya. Aku berpikir jika Rayya ikut tinggal di sana tidak masalah. Jadi, Tsamara bisa menenangkan diri tanpa mereka. Setelah mendengarkan ceritamu semalam, sepertinya Tsamara memang sama sekali tidak akan pernah bisa menerima Zafer."
"Jadi, ini adalah jalan terbaik menurut versiku. Temui Tsamara sana. Aku akan membangunkan putra kita." Kemudian berjalan menjauh setelah sang istri mengangguk perlahan.
Pasangan suami istri itu seolah mempunyai tugas masing-masing dan berbicara pada anak dan juga menantu pertama di keluarga mereka.
__ADS_1
Sementara itu, Tsamara yang sudah bangun dari tadi, memilih untuk menghabiskan waktu beribadah di atas ranjang dan kebetulan begitu selesai melaksanakan kewajiban, melihat ibu mertua dan langsung disambut dengan senyuman.
"Mama?"
"Nasib baik kamu sudah selesai, Sayang. Hari ini, kita sarapan bersama di ruang makan, ya. Kamu sudah baikan atau masih merasa pusing?" Erina melakukan hal sama seperti yang dilakukan pada sang suami.
Hingga merasa lega karena kini suhu tubuh menantunya tidak lagi tinggi dan terlihat wajah seperti fresh.
"Aku sudah sehat, Ma. Iya, nanti kita sarapan bersama." Tsamara kini tidak tahu harus berbicara apa saat mendengar kalimat selanjutnya.
"Nanti siang, temani Mama untuk membeli hadiah."
Saat kalimat ambigu membuat Tsamara merasa sangat penasaran, saat ini tidak bisa hanya diam saja. "Hadiah untuk siapa, Ma?"
"Untuk diri sendiri." Kemudian Erina menceritakan tentang pembicaraan dengan sang suami dan juga mengenai putranya.
"Jadi, menurutmu bagaimana? Apakah kamu tidak masalah jika Zafer keluar kota satu bulan?"
Saat pikiran masih sangat lelah karena diforsir oleh berbagai macam hal yang terjadi, Tsamara merasa sangat lega karena berpikir jika tidak akan diganggu oleh Zafer dan Rayya.
"Tidak masalah, Ma. Biarkan tuan Zafer semakin mengembangkan perusahaan di luar kota. Bila perlu, ajak Rayya untuk tinggal di sana. Lagipula, Rayya sangat kuat karena sama sekali terlihat lemah dan lemas pada saat hamil."
Erina kali ini berpikir jika Tsamara merasa sangat senang dan lega saat Zafer tinggal di luar kota. Bahkan tanpa merasa kehilangan atau pun bersedih, sehingga membenarkan perkataan dari sang suami.
"Kamu bisa tenang dan lega sekarang. Nanti Zafer tidak akan pernah mengganggumu selama satu bulan."
Sementara itu, Tsamara seketika merasa tertampar dengan apa yang baru saja diungkapkan oleh wanita paruh baya tersebut dan merasa seperti mendapat sebuah penghakiman.
'Kenapa aku merasa sikap mama berubah terhadapku?' gumam Tsamara yang saat ini hanya bisa memendam apa yang dirasakan ketika rasa bersalah menyeruak di dalam hati.
__ADS_1
To be continued...