Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Hadiah


__ADS_3

Setelah Zafer mengucapkan selamat hari pernikahan, giliran Rayya yang melakukan hal sama dan memberikan hadiah. "Selamat ulang tahun pernikahan, Ma, Pa. Semoga kalian akan selalu berbahagia dan tak terpisahkan."


"Ini adalah hadiah dariku," ucap Rayya yang saat ini langsung memberikan kotak berwarna merah yang berisi satu set perhiasan lengkap.


Sengaja Rayya mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk memberikan hadiah terakhir sebagai salam perpisahan dan juga sekaligus menunjukkan pada Tsamara.


Jika Rayya tidak keberatan mengeluarkan banyak uang untuk membelikan hadiah pada mertua. Padahal selama ini tidak dianggap dan dibenci.


Bahkan berpikir bahwa Tsamara tidak akan bisa menyainginya dalam memberikan hadiah mahal.


'Kamu harus sadar tidak bisa bersaing denganku dalam hal apapun, Tsamara. Akan kupastikan setelah hari ini, kamu yang akan menyusul mereka ke neraka. Lalu, Zafer dan semua aset keluarga akan menjadi milikku selamanya.'


Rayya melirik sekilas ke arah Tsamara yang hanya diam saja. Apalagi sama sekali tidak melihat jika wanita cacat itu sepertinya datang dengan tangan kosong.


'Sepertinya dia tidak membawa hadiah untuk mertua. Jadi, ini menantu perempuan kesayangan mereka? Bahkan tidak mau mengeluarkan uang untuk membelikan hadiah pada selama ini dianggap sebagai putri sendiri.'


Erina yang baru saja membuka kotak perhiasan tersebut, seketika membulatkan mata karena menganggap bahwa hadiah dari Rayya terlalu berlebihan. Apalagi mengetahui bahwa itu terlalu mewah dan pastinya mengeluarkan banyak uang.


Namun, tidak ingin berkomentar apapun dan memilih untuk mengucapkan terima kasih. "Ini sangat cantik. Kamu sudah mengeluarkan banyak uang hanya untuk membelikan mama hadiah. Sekali lagi terima kasih."


Kemudian Erina kembali memeluk erat tubuh menantunya untuk mengungkapkan rasa terima kasih. Kemudian beralih menatap ke arah Tsamara setelah melepaskan pelukan.


Namun, belum berbicara, sudah mendengar suara Tsamara.


"Selamat hari pernikahan, Ma, Pa. Semoga kalian selalu berbahagia selamanya." Tsamara tidak ingin berbicara panjang lebar untuk mengucapkan selamat karena khawatir jika Rayya tidak suka.


"Terima kasih," ucap Erina dan Adam secara bersamaan.


Tsamara sengaja tidak mengatakan hadiah karena berpikir bahwa sesuatu yang tadi terlupakan olehnya, hanyalah hal kecil.


Tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan hadiah dari Rayya. 'Aku berikan saja hadiahnya saat mereka pulang ke rumah setelah dari Villa,' gumam Tsamara yang saat ini mendengar suara bariton dari Zafer.


Zafer yang dari tadi hanya diam saja saat melihat interaksi antara Tsamara dan orang tua, berpikir jika wanita itu akan mengatakan jika hadiah tertinggal di rumah dan ia melarangnya untuk mengambil.

__ADS_1


Namun, karena tidak melihat hal itu dari istri pertama tersebut, sehingga mengungkapkan apa yang tadi dibicarakan.


"Kenapa tidak mengatakan bahwa hadiahmu tertinggal di rumah? Lalu, aku menyuruh untuk tidak mengambil karena bisa memberikan setelah papa dan mama pulang dari Villa."


Tsamara hanya menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa. Lebih baik membahas hadiah setelah barangnya ada. Karena sekarang tertinggal di rumah, jadi aku rasa tidak perlu membahas."


Kemudian Tsamara beralih menatap ke arah mertua. "Maaf, Pa, Ma, karena melupakan hadiah untuk kalian. Hadiahku tidak seberapa jika dibandingkan dengan Rayya."


Karena merasa semakin penasaran dengan apa hadiah dari Tsamara, kini Adam Dirgantara bertanya, "Memangnya apa hadiahnya? Kami sama sekali tidak menilai sesuatu dari harganya karena yang terpenting adalah ketulusan."


Zafer saat ini masih ingat apa yang tadi dikatakan oleh Tsamara beberapa saat lalu. "Tsamara sengaja memesan tasbih dari emas untuk kalian berdua. Mungkin ingin mengingatkan agar lebih mendekatkan diri kepada Tuhan karena umur sudah tua."


"Bukankah begitu?" tanya Zafer yang ingin membalas dendam karena kesal pada Tsamara.


Zafer berpikir orang tuanya akan kesal pada Tsamara karena diingatkan masalah umur, tetapi semua tidak seperti yang diharapkan.


Begitu melihat wajah berbinar dari sang ibu dan juga ayah, Zafer menyadari bahwa usahanya untuk membuat Tsamara dibenci sudah sia-sia. Tadi sengaja melarang Tsamara untuk menyuruh sopir mengambil karena ingin wanita itu tidak percaya diri saat melupakan hadiah.


"Terima kasih, Tsamara karena sudah mengingatkan kami untuk semakin mendekatkan diri pada Tuhan. Apalagi memang usia kami sudah seharusnya fokus pada akhirat, bukan duniawi lagi."


Kemudian menoleh ke arah sang suami untuk memberikan perintah. "Suruh sopir untuk mengambil hadiah Tsamara karena aku ingin membawanya ke Villa. Apalagi ada sepasang dan bisa kita bawa pergi kemana-mana sambil berdoa."


Adam Dirgantara sama sekali tidak keberatan dan langsung mengeluarkan ponsel untuk menghubungi salah satu sopir. "Di mana hadiahnya kamu simpan, Tsamara?"


"Ada di laci, Pa. Semalam aku baru membungkusnya dan ada dua kotak di sana." Tsamara sebenarnya merasa tidak enak pada Rayya karena tanggapan dari mertua terlihat sangat istimewa dan luar biasa.


Meski hadiah pemberiannya tidak semahal yang dibelikan oleh Rayya, tapi respon mertuanya sangat membuatnya terharu. "Semoga berguna untuk Papa dan Mama karena memang bisa dibawa saat berada di manapun."


Zafer sangat kesal karena tidak berhasil membuat Tsamara dibenci oleh orang tuanya, memilih untuk mengambil satu suap makanan dan mengarahkan pada Rayya.


"Bukankah kamu lapar, Sayang? Jangan membuat anak-anak kita kelaparan," ucap Zafer yang menunggu Rayya membuka mulut.


Sementara itu, Rayya yang tadinya ingin sekali marah, melihat respon dari mertua yang selalu saja membela Tsamara dan hari ini terlihat lebih menyukai hadiah dari wanita cacat itu.

__ADS_1


Tidak ingin melihat Tsamara merasa menang darinya, sehingga langsung membuka mulut setelah tersenyum pada Zafer. Padahal sebenarnya sangat kesal pada sang suami yang tadi entah berbicara apa dengan Tsamara di depan restoran.


Namun, saat ini berakting untuk membuat Tsamara kesal dengan cara meladeni sikap romantis dari Zafer.


'Sepertinya ia berpikir bahwa aku sedang kesal padanya sehingga saat ini merayu dan bersikap baik padaku,' gumam Rayya yang sudah mengunyah makanan di dalam mulut.


"Terima kasih, Sayang. Aku sangat bahagia memiliki suami yang romantis sepertimu dan berharap rumah tangga kita akan seperti kehidupan papa dan mama. Mereka sampai tua nanti."


Kemudian memeluk erat sang suami dan mulai dengan wajah berbinar.


"Semoga kalian hidup berbahagia selamanya," ucap Tsamara yang kali ini bisa melihat bahwa mertua hanya diam saja tanpa berkomentar karena tidak enak padanya.


Akhirnya Tsamara berinisiatif untuk mengucapkan hal positif pada pasangan suami istri di hadapannya tersebut. Kemudian merasa seperti orang bodoh karena semua orang yang ada di hadapan sama sekali tidak menanggapi doanya.


Seolah menganggap bahwa doanya tidak tulus dan hanya diam saja. Namun, beberapa saat kemudian, mendengar ibu mertua mengaminkan doanya dan disusul oleh tersebut meskipun terdengar seperti terpaksa.


Hingga disusul oleh Zafer yang menjawab dengan suara bariton penuh ketegasan, serta terakhir Rayya yang juga tengah mengaminkan doa darinya.


"Terima kasih atas doanya, Tsamara. Sepertinya kamu memang sangat berbakat ketika membuat suasana yang tadinya penuh keheningan, berubah seperti biasa. Lebih baik kita makan saja sekarang," seru Rayya yang mengerti bahwa apa yang baru saja dikatakan oleh Tsamara hanyalah sebuah omong kosong dan sifat kemunafikan.


Bahkan berpikir jika saat ini, wanita yang sangat dibencinya itu hanya sedang mencari muka di depan mertua dan hal itulah yang selalu membuatnya muak pada wanita cacat tersebut.


"Lebih baik kita nikmati makan siang hari ini. Aku juga sudah sangat lapar," ucap Erina yang mulai menikmati makanan di restoran mewah langganan keluarga ketika ada acara seperti ulang tahun pernikahan hari ini.


Bahkan selalu menjadikan tempat itu paling favorit jika merayakan sesuatu. Hingga beberapa saat kemudian mereka menikmati makanan dengan keheningan.


Zafer masih menyuapi Rayya karena sengaja melakukan di depan Tsamara. Tentu saja berharap jika istri pertamanya itu akan cemburu.


Rayya saat ini merasa sangat bahagia karena Zafer berusaha bersikap romantis hanya demi merayunya agar tidak marah. Bahkan hari ini sangat lahap dan menghabiskan banyak makanan karena sang suami terus menyuapinya hingga kenyang.


Sementara Tsamara sibuk menyuapi putranya sebelum makan dan pastinya akan menjadi orang yang paling terakhir selesai menikmati makanan lezat di hadapan.


Apalagi Keanu selalu makan cukup lama sambil main ponsel. Namun, hari ini karena tidak ingin semua orang menunggunya terlalu lama saat makan, sehingga hanya menikmati sedikit dan beralasan sudah kenyang.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2