
Namun, sama sekali tidak melihat wanita paruh baya tersebut. "Sepertinya wanita tua itu masih berada di kamar bersama suamiku. Lama-lama aku bisa gila jika setiap hari mengalami kejadian seperti ini."
Tidak ingin semakin bertambah stres hanya gara-gara memikirkan sang suami yang tidak tidur bersamanya, ia segera naik ke atas ranjang dan berharap bisa beristirahat.
"Paling tidak, Zafer sekarang tidak tidur bersama dengan wanita cacat itu. Jadi, untuk sementara aman dan aku berharap besok suamiku mau tidur di sini pagi bersamaku setelah pikiran tenang. Besok pagi saja aku bertanya pada mama."
Rayya saat ini berusaha untuk memejamkan mata dan berharap bisa segera larut dalam alam bawah sadar dan melupakan semua masalah yang terjadi hari ini.
Berharap esok hari akan lebih baik dan juga tidak terulang hal buruk seperti ini karena sangat tersiksa tidur tanpa pria yang dicintai saat sedang hamil.
"Sebenarnya aku ingin sekali setiap hari bisa bermanja-manja dengan Zafer, tapi tidak bisa melakukan itu karena wanita sialan tidak berguna itu."
Puas mengumpat di dalam hati, ia kini memejamkan mata dan beberapa kali terlihat bergerak ke kiri dan ke kanan. Entah sudah berapa menit berlalu hingga suara napas teratur terdengar memenuhi ruangan kamar penuh keheningan itu.
Suasana malam yang penuh keheningan mulai mencekam dan tidak lagi ada suara berisik dari para penghuni rumah megah keluarga Dirgantara tersebut.
Saat ini, terlihat Erina baru saja masuk ke dalam ruangan kamar dan di saat bersamaan mendengar suara bariton dari sang suami yang terbangun.
"Apa aku membangunkanmu saat membuka pintu? Padahal tadi sudah sangat berhati-hati." Erina yang baru saja menutup pintu, menghampiri suami yang melambaikan tangan.
"Aku baru saja merubah posisi dan tanganku tidak menemukanmu. Jadi, meraba ranjang tadi. Saat ingin memastikan, membuka mata dan tiba-tiba pintu terbuka. Sebenarnya kamu dari mana?" Adam Dirgantara membuka selimut agar sang istri segera masuk ke dalam.
Hingga pasangan suami istri paruh baya tersebut berada di satu selimut.
__ADS_1
Karena tidak ingin menanggung sendiri hal yang dari tadi mengganggu pikiran, ia saat ini menceritakan semua yang terjadi hari ini. Hingga berakhir mengobrol dengan Zafer.
"Kalau menurutmu bagaimana? Apakah benar jika Tsamara seperti yang kupikirkan. Bahwa ia sama sekali tidak ingin menjadi istri putra kita setelah kehadiran Rayya di rumah ini. Sepertinya Tsamara sudah berencana untuk membiarkan Zafer selamanya bersama Rayya."
Jika Erina merasa sangat kecewa saat memikirkan menantu kesayangan tidak akan selamanya berada di sini karena sudah mengatakan akan pergi suatu saat nanti.
Sementara itu, Adam Dirgantara yang dari tadi serius mendengarkan cerita panjang lebar dari istri, seketika rasa kantuk menghilang.
"Saat ini, Tsamara berpikir menjadi orang lain di keluarga Dirgantara setelah Zafer membawa Rayya dan menikahinya. Mana mungkin mau melayani putra kita sebagai seorang istri jika tidak ada cinta di antara mereka."
"Awalnya aku berpikir jika cinta akan tumbuh di antara mereka seiring berjalannya waktu, tapi semua harapan yang kurajut seketika sirna begitu Rayya hamil. Bukan karena tidak bahagia akan mendapatkan cucu, tapi merasa kecewa saat harapanku tidak sesuai dengan harapan."
Erina yang sudah berada dalam dekapan sang suami, memang merasakan hal sama. Namun, tidak mau menambah rasa kecewa ketika mengungkapkan hal itu.
"Sebaiknya kita tidur sekarang dan membiarkan takdir berjalan sesuai dengan yang digariskan. Oh ya, aku tadi lupa ingin bertanya karena kamu meminta memijat tadi gara-gara kelelahan setelah mengendong Keanu cukup lama."
"Itu, mengenai acara anniversary kita. Apa setelah acara makan di restoran mewah dengan semuanya, akan berlanjut ke villa keluarga di puncak?" tanya Erina yang sangat bersemangat karena sudah lama tidak menikmati pemandangan alam perbukitan
"Suasana yang dipenuhi pepohonan hijau sepanjang kiri kanan dan juga udara yang bersih, jauh polusi. Aku sangat menyukainya dan ingin menenangkan pikiran di sana."
Terlihat wajah yang tadinya murung dipenuhi kekecewaan itu berubah menjadi berbinar. "Kita ke Villa, kan?"
Tanpa berpikir panjang, Adam Dirgantara mengangguk perlahan sebagai tanda persetujuan. "Tentu saja seperti biasa karena itu adalah sebuah hal wajib untuk kita. Aku juga merasa sangat damai saat berada di sana."
__ADS_1
"Bahkan rasanya seperti pengantin baru saja karena hanya ada kita berdua di sana. Saat nanti Zafer mengambil alih perusahaan, aku ingin lebih sering tinggal di sana dan menghabiskan masa tua dengan damai."
Kali ini, Erina yang biasanya selalu setuju atas apapun yang dikatakan oleh sang suami, kini menggelengkan kepala. "Sepertinya itu tidak akan pernah bisa karena yang terjadi adalah kita akan disibukkan untuk merawat dua cucu kita."
"Mungkin kamu akan kewalahan mengejar cucu-cucu kita saat baru berjalan. Aku juga sudah tidak sabar melihat mereka lahir ke dunia ini. Semoga kita masih hidup dan bisa melihat perkembangan mereka."
Membahas mengenai masalah cucu, sebenarnya sangat menyenangkan dan menarik. Ingin sekali Adam berbicara panjang lebar, tapi karena berkali-kali sudah menguap, akhirnya tidak bisa.
"Kita lanjutkan saja besok. Aku akan mengatakan secara langsung saat besok sarapan bersama. Tidak ada lagi kejutan karena kamu sudah tahu hari ini. Salah sendiri berpikir negatif."
Refleks Erina mencubit pinggang kokoh sang suami karena merasa sangat geram ketika disalahkan. Bukan berterima kasih karena sudah perhatian.
"Sepertinya memang lebih baik kamu tidur karena aku sangat kesal. Semua penghuni rumah seperti menguji kesabaranku hari ini. Zafer, Rayya dan terakhir Tsamara yang berbohong, sekarang kamu. Astaga! kepalaku rasanya sangat pusing."
Tidak ingin membantah atau pun berdebat, kini Adam memilih untuk mengeratkan pelukan. "Baiklah. Aku akan tidur, tapi maafkan aku dulu karena kamu tidak boleh kesal."
"Aku ingin rumah tangga kita selalu seperti ini hingga maut memisahkan." Adam berbicara dengan posisi mata yang sudah terpejam.
Sementara Erina masih membuka mata dan merasa terharu dengan kalimat terakhir sang suami. "Kalau boleh meminta, aku ingin kita sehidup semati."
"Tidak boleh! Biar Tuhan mengambilku terlebih dahulu. Jadi, aku tidak akan pernah melihatmu menangis karena lebih baik mati duluan daripada harus melihatmu meninggalkan dunia ini." Adam bahkan tetap memejamkan mata ketika mengatakan hal menyayat hati.
Sementara itu, Erina yang merasa jika pembicaraan sudah melantur, akhirnya mengajak pria itu agar tidak lagi mengganggu.
__ADS_1
'Aku dan suamiku akan selalu bersama selamanya,' gumam Erina yang saat ini sangat berharap bisa sehidup semati dengan pria yang dicintai.
To be continued...