Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Alat untuk pelampiasan


__ADS_3

Erina saat ini baru saja turun dari lantai atas dan memeriksa pekerjaan pelayan yang sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan. Tadi saat melewati ruangan kamar Zafer yang masih sangat sepi karena tidak ada suara, memilih untuk menyuruh salah satu pelayan menyiapkan sarapan pagi untuk Tsamara.


Rencananya adalah akan mengantarkan sendiri sarapan untuk menantu kesayangan karena memang masih belum sembuh. Sebenarnya ingin melakukan hal yang sama pada Rayya, agar tidak dituduh pilih kasih pada dua menantu.


Namun, setelah perkataan Rayya semalam, merasa sangat kesal dan tidak ingin kembali berusaha merebut hati wanita itu yang dianggap sangat arogan dan juga tidak bisa berbicara sopan pada orang yang lebih tua.


Jadi, memutuskan untuk bersikap apa adanya karena juga menginginkan hal itu dengan cara menyindir melalui perkataan.


Erina saat ini menatap ke arah sosok wanita paruh baya yang merupakan orang kepercayaan di rumah dan selama ini mengatur semua hal yang terjadi.


"Pagi ini ada menu apa untuk sarapan?" Menatap beberapa pelayan wanita yang sibuk di dapur.


Sementara kepala pelayan yang mengatur semua menu hari ini, menoleh ke arah majikan perempuan ketika baru saja datang. Bahkan sebelumnya sudah menunjukkan kepala sambil membungkuk hormat.


"Selamat pagi, Nyonya. Hari ini ada menu nasi goreng kambing kesukaan tuan Zafer dan juga sayur tidak pedas untuk nyonya Rayya yang sedang hamil, sedangkan untuk nyonya Tsamara ada bubur ayam yang saat ini hampir siap dihidangkan."


Erina menganggukkan kepala karena selalu merasa puas dengan kerja wanita tersebut. Merasa penasaran menu apa yang akan dihidangkan untuk suami, kembali bertanya.


"Lalu untuk kami?"


"Ada bubur Bandung utuh kesukaan tuan dan Nyonya," jawab wanita paruh baya tersebut yang sudah sangat hafal dengan menu sarapan pagi untuk menjaga kesehatan yang selalu diminta oleh nyonya rumah tersebut dan sang suami.


Erina saat ini tertawa karena memang pertanyaan yang baru diajukan sangat konyol. Padahal jelas sekali bahwa setiap pagi hanya menu itu yang selalu menjadi andalan.


"Aku hanya bercanda dan kamu menanggapi dengan serius. Sebenarnya kami sangat bosan setiap pagi makan itu, tapi karena ingin menjaga kesehatan, harus menikmati. Apalagi terdapat beberapa manfaat quaker oats bagi kesehatan yang dapat meningkatkan insulin."


"Bahkan mengurangi kadar gula darah kami, hingga melancarkan sistem pencernaan dan menjadikan salah satu makanan sehat yang baik untuk menjaga kesehatan tubuhku dan suami. Semoga kami akan selalu sehat dan bisa melihat cucu-cucu kami lahir ke dunia."

__ADS_1


Wanita paruh baya tersebut merasa terharu dengan kalimat terakhir dari majikan perempuan tersebut dan berusaha untuk mengatakan hal-hal positif.


"Pasti, Nyonya. Anda dan tuan akan diberikan umur panjang untuk bisa merawat cucu-cucu yang akan meramaikan rumah ini. Saya yang akan menjadi saksi dari kebahagiaan keluarga Dirgantara."


Erina saat ini tersenyum dan menepuk lembut bahu pelayan wanita yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri karena telah lama bekerja untuknya.


"Terima kasih atas doanya. Aku tidak sabar untuk bisa segera menimang cucu. Meskipun yang melahirkan adalah wanita arogan dan kasar itu. Aku akan mengantarkan sarapan untuk Tsamara. Nanti Tsamara memaksakan diri untuk ikut sarapan bersama kami di meja makan. Aku tidak ingin Tsamara semakin sakit."


Pelayan wanita yang saat ini melihat jika bubur untuk menu sarapan istri pertama telah siap dan ditaruh dalam mangkuk, kini mengambil nampan. Kemudian menyerahkan pada majikan yang masih setia menunggu.


"Sebenarnya saya yang ingin mengantarkan sarapan untuk nyonya Tsamara hari ini, tapi sepertinya Anda ingin mengecek kondisi kesehatan menantu." Menyerahkan nampan berisi mangkuk yang mengumpulkan asap karena bubur baru saja siap dihidangkan, serta ada susu coklat dan roti dengan selai strawberry kesukaan Keanu.


"Biar aku saja karena sengaja ingin melihat Tsamara dan Keanu." Erina kini mengambil nampan tersebut dan berjalan menuju ke arah anak tangga.


Beberapa saat kemudian, mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan kamar. Saat melihat hanya ada anak kecil yang masih tertidur di atas ranjang, ia menaruh nampan berisi menu sarapan tersebut ke atas meja.


"Apa Tsamara berada di kamar mandi?" Erina saat ini berjalan menuju ke arah ruangan di sudut sebelah kanan.


Namun, di saat bersamaan, terlihat pintu terbuka dan mengerjapkan mata saat pemandangan yang menurutnya sangat mengagumkan berhasil membuat sudut bibir melengkung ke atas karena senang.


"Apakah aku sedang bermimpi hari ini?" tanya Erina yang masih merasa tidak percaya ketika melihat putranya menggendong Tsamara keluar dari kamar mandi.


Sementara itu, Zafer yang baru saja selesai mandi saat Tsamara tadi membersihkan diri, hanya bersikap datar atas respon dari sang ibu yang dianggap sangat berlebihan.


Setelah menurunkan tubuh Tsamara di atas kursi roda, Zafer kali ini menanggapi perkataan wanita paruh baya yang dianggap sangat konyol. "Mama tidak perlu berlebihan seperti itu hanya karena melihat aku membantu Tsamara."


"Bukankah Mama tahu bahwa semalam papa kembali mengancamku? Aku hanya tidak ingin diusir dari rumah ini, jadi bersikap baik pada menantu kesayangan Mama ini."

__ADS_1


Bahkan saat ini Erina tidak berhenti tersenyum melihat penampilan seksi putranya yang hanya memakai handuk sebatas pinggang ketika menggendong Tsamara dengan bertelanjang dada.


"Sepertinya ini pantas dirayakan. Sayangnya Mama tidak membawa ponsel untuk mengabadikan momen langka hari ini. Apa yang akan dipikirkan oleh papamu saat aku menceritakan bahwa kamu sekarang telah berubah menjadi putra kami yang baik hati."


Senyuman mengembang dengan menampilkan gigi putih yang rapi, seolah menegaskan bahwa wanita paruh baya tersebut disambut dengan kebahagiaan di pagi hari dan tentu saja merasa sangat senang.


Bahkan berharap putranya akan selalu melakukan itu dan hubungan mereka semakin berkembang menjadi lebih baik.


'Semoga lama-kelamaan Zafer akan menyukai Tsamara dan begitupun sebaliknya.'


'Jujur saja, aku masih merasa cocok pada Tsamara daripada wanita bernama Rayya itu. Entah apapun yang akan terjadi nanti, tetap berharap bahwa Tsamara selamanya menjadi menantu di keluarga ini,' gumam Erina yang saat ini masih menatap ke arah Zafer yang dianggap tidak tahu malu karena mengumbar tubuh di depan wanita.


Meskipun Tsamara merupakan istri sah, tetapi mengetahui bahwa hubungan mereka tidak lebih dari sebatas tanda tangan di atas buku nikah saja. Apalagi tidak memiliki rasa cinta diantara keduanya.


Namun, Erina merasa sangat yakin jika tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini karena sekali Tuhan berkehendak, maka apapun bisa saja terjadi.


Berharap Tuhan telah menakdirkan Tsamara untuk Tsamara, agar menjadi seorang pria yang lebih baik. Jika harapan menjadi kenyataan, ia berjanji, akan mengungkapkan rasa syukur dengan cara memberikan santunan uang pada orang miskin dan juga anak yatim.


Zafer yang saat ini masih merasa bahwa sikap dari sang ibu sangat berlebihan, memilih untuk tidak menanggapi dan berjalan ke arah ruangan ganti karena ingin memakai pakaian kerja yang tersimpan rapi di sana.


'Mama sangat berlebihan hanya karena melihatku keluar dari ruangan kamar mandi dengan posisi menggendong Tsamara. Tanggapan ini sangat jauh berbeda dengan apa yang semalam ditunjukkan pada Rayya.'


'Mungkin hidupku akan damai jika Rayya tidak bersikap berlebihan saat aku bersama dengan Tsamara karena memang tidak ada apapun yang terjadi di antara kami,' gumam Zafer yang saat ini seketika menepuk jidat ketika mengingat bahwa semalam memaksa wanita itu dan menganggap hanyalah sebuah alat untuk pelampiasan.


'Aku tidak akan pernah melakukan itu lagi, kan? Semalam aku memaksa Tsamara untuk menelan bukti kenikmatan. Bahkan sama sekali tidak memperdulikan saat muntah-muntah.'


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2