
Rayya seketika membulatkan mata dan juga membekap mulut begitu melihat apa yang dilakukan oleh Zafer pada sang ayah. Bahkan tidak hanya itu saja karena bukan satu kali sang kekasih mengarahkan pukulan.
Namun, sebanyak dua kali dan membuat tubuh pria paruh baya tersebut terhubung ke belakang beberapa langkah.
"Zafer! Hentikan!" teriak Rayya yang saat ini merasa khawatir terjadi sesuatu pada dua pria yang sangat berarti itu.
Apalagi ia saat ini melihat sang ayah mengusap bibir yang robek karena mengeluarkan darah akibat pukulan dari Zafer. Bahkan suara teriakan terdengar menggema di luar apartemen, tepatnya di depan pintu.
"Kau hanyalah seorang ayah yang sama sekali tidak bisa menjadi panutan baik untuk putrimu. Jadi, jangan berlagak seolah merupakan pria paling hebat dan sempurna di depanku. Aku dari tadi sudah menahan diri meskipun kau menghina harga diri."
"Namun, saat menyangkut masalah nyawa dari keturunanku, tidak akan pernah membiarkanmu memutuskan dengan seenak jidat untuk mengakhiri nyawa keturunanku yang ada di dalam rahim Rayya!"
"Ingat itu baik-baik di otakmu, Pria tua!" sarkas Zafer dengan wajah memerah dan penuh kilatan amarah tanpa merasa menyesal telah menyakiti calon mertua.
"Aku bahkan belum merasakan menjadi ayah, tapi bisa bijak dengan tidak menyuruh Rayya menggugurkan kandungan. Namun, kau yang merupakan seorang pria dengan pengalaman lebih banyak mengenai seorang anak, malah dengan entengnya menyuruh putrimu mengakhiri nyawa keturunanku."
"Bukankah itu juga cucumu? Di mana hati nuranimu sebagai seorang manusia? Ataukah kau hanyalah binatang tanpa memiliki akal?" Zafer masih menatap tatapan tajam karena berpikir bahwa saat ini harus mempertahankan keturunan.
Apalagi rencana besar sudah ada di otak ketika keturunan lahir ke dunia. Ia akan memanfaatkan kelahiran dari anak untuk mencari perhatian orang tua, agar tidak bersikap baik pada Tsamara dan juga Keanu.
Jadi, kemungkinan besar, ibu dan anak tersebut akan keluar dari rumah jika orang tua menyadari bahwa mereka sama sekali tidak berguna. Kemudian hanya Rayya yang akan menjadi nyonya rumah di keluarga Dirgantara.
Zafer saat ini memilih untuk melanjutkan mengumpat di dalam hati tanpa memperdulikan teriakan dari Rayya beberapa saat lalu.
'Bahkan rencanaku sudah sangat matang dan sangat menguntungkan bagi Rayya, tapi pria sialan ini akan menghancurkan impianku seenak jidat. Aku tidak akan pernah membiarkan pria itu menyakiti keturunanku yang sedang berkembang di rahim Rayya.'
__ADS_1
Zafer hanya melihat pergerakan dari pria paruh baya yang berdiri tak jauh dari hadapan. Sampai Rayya menghampiri dan merentangkan tangan untuk menghentikan sang ayah hendak mengarahkan pukulan untuk membalas dendam.
Leon Pratama yang saat ini merasakan nyeri pada bagian bibir, seketika melayangkan kepalan tangan pada wajah Zafer sebagai bentuk balas dendam. Namun, malah putrinya tiba-tiba menghalangi.
"Hentikan, Ayah! Aku tidak ingin kalian berkelahi untuk menunjukkan kekuatan!" Rayya merasa bingung dan tidak bisa marah pada dua pria yang sangat berarti di hati.
Jadi, ia merasa tidak ada pilihan lain dan masih mencoba untuk mengingatkan sang ayah, agar tidak meninju wajah Zafer.
"Aku sangat mencintainya, Ayah. Aku harap Ayah bisa mengerti dan sebenarnya ini adalah sebuah bentuk dari rasa cinta calon menantumu. Zafer akan melakukan apapun demi tetap menikahiku untuk bertanggung jawab atas bayi yang sedang kukandung ini."
Zafer menundukkan kepala sejenak dan melihat perut datar yang saat ini sedang tumbuh janin. "Aku ingin melahirkan bayiku dan merawatnya dengan sangat baik, serta penuh kasih sayang."
"Aku tidak akan pernah meninggalkan anak demi karir. Jangan samakan dengan wanita yang memilih untuk fokus pada pekerjaan tanpa memikirkan nasib buruk keturunan ketika tumbuh kembang membutuhkan figur seorang ibu." Sengaja Rayya menyadarkan bahwa apa yang dipikirkan sangat jauh berbeda dengan sang ayah.
Leon Pratama masih tidak beranjak dari posisi yang berada di hadapan, sekaligus pria yang akan menikahi putrinya. Masih tidak terima atas perbuatan kasar dari calon menantu tersebut.
"Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak memberikan restu padamu? Apakah tetap akan menerjang larangan dari Ayah?"
Rayya saat ini tanpa berpikir panjang karena merasa yakin dengan pilihan hidupnya, langsung menganggukkan kepala pada sang ayah.
"Aku tidak akan pernah menuruti perintah Ayah untuk menggugurkan kandungan dan meninggalkan pria yang kucintai. Apalagi kamu sangat bahagia dan saling mencintai."
Putra saat ini memilih untuk menyerah karena sudah tidak bisa lagi merayu putri semata wayangnya. "Bahkan hanya bermodalkan cinta saja, tidak akan membuatmu kenyang, Rayya. Zafer tetap akan menjadikanmu istri simpanan karena tidak ingin kehilangan harta."
"Jadi, kau hanya akan berada di belakang layar, tanpa ada yang mengetahui. Apa kau bisa?"
__ADS_1
Rayya refleks menggeleng perlahan karena kalimat terakhir sang ayah tidak akan pernah bisa dilalui. "Itu tidak akan terjadi karena aku sendiri yang akan menyingkirkan wanita itu, agar segera pergi dari kami."
"Aku sangat mencintai Zafer dan tidak akan pernah rela melepaskan pria ini untuk wanita lain. Aku akan bahagia selamanya, Ayah. Jadi, jangan ikut campur pada kehidupan percintaan kami."
Rayya berbicara masih pada posisi merentangkan kedua tangan karena khawatir jika sang ayah akan menuntut balas pada pria yang berada di belakang.
Bahkan bisa dibilang bahwa ia lebih suka sang ayah yang terluka dari pada Zafer karena jika kehilangan pria yang merupakan ayah dari janin di rahim, bisa dipastikan akan hancur.
Sementara sang ayah tetap akan selalu menjadi pria yang arogan tanpa kasih sayang. Jadi, menganggap jika dua pukulan Zafer sangat pantas diterima oleh sang pria paruh baya tersebut.
'Bisa dibilang jika Zafer sangat berani karena berhasil membuat wajah ayah lebam dan bibir robek. Rasanya sangat bahagia karena sikap kekasihku adalah sebuah bentuk kasih sayang pada seorang anak.'
Rayya yang saat ini merasa yakin jika Zafer akan menjaga dengan baik pernikahan mereka dan tidak akan pernah bercerai seperti orang tuanya.
Besar dalam kehidupan broken home dan menciptakan sebuah jarak cukup jauh dengan sang ayah. Ia kini memilih untuk menurunkan tangan ketika melihat wajah pria paruh baya di hadapannya tidak lagi memerah seperti beberapa saat lalu.
Seolah aliran darah yang tadi terkumpul di wajah telah turun dan mengalir ke setiap sudut bagian tubuh.
Sementara itu, Leon Pratama kini merasa telah gagal untuk membuat Rayya patuh karena berpikir jika sesuatu hal yang terjadi selama ini bisa menjadikan semua hal yang diinginkan terjadi.
Apalagi selama ini putrinya selalu mengatakan iya jika diperintah. Namun, pertama kali menolak adalah karena seorang pria yang telah menghamili.
'Dasar bodoh! Apa kau pikir aku tidak mencintai ibumu dulu? Sampai akhirnya bercerai setelah melahirkanmu, Rayya. Kau adalah anak dari wanita itu, pasti akan memiliki watak sama karena buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,' gumam Leon Pratama yang kini memilih untuk menurunkan tangan yang dari tadi menggantung di udara.
To be continued...
__ADS_1