Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Memberikan hukuman


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit dari apartemen menuju ke rumah, Zafer kini sudah memasuki area kompleks perumahan elit yang menjadi tempat tinggalnya.


Begitu tiba di depan rumah dan melihat ada mobil orang tuanya, kini membuatnya mengerti maksud perintah dari sang ayah yang beberapa saat lalu menghubungi.


"Jadi, papa menyuruhku pulang ke sini? Apa wanita cacat itu masih belum keluar dari rumah ini? Jika benar, rasanya aku ingin memberikan pelajaran padanya."


Ia mengurangi kecepatan mobil ketika semakin mendekati rumah dan sengaja memarkirkan di belakang kendaraan roda empat milik sang ayah. Kemudian ia berjalan keluar karena ingin segera mengetahui apa yang terjadi di dalam rumah.


Tentu saja saat ini berbagai macam pertanyaan tengah menari di otaknya saat Zafer tidak sabar ingin mengetahui apakah wanita yang sangat dibenci telah pergi dari rumah.


Namun, ia seketika mengempaskan tangan begitu mendengar suara canda tawa dari dalam rumah. Ya, Zafer sangat hafal dengan suara orang tua dan juga wanita yang tadi diusir olehnya.


'Wanita itu masih ada di sini? Si cacat tidak berguna itu belum pergi setelah aku menunjukkan bukti-bukti mengenai masa lalunya yang kelam? Astaga! Aku bisa gila memikirkan ini.'


'Wanita itu tidak tahu malu sama sekali karena menjilat ludah sendiri. Bukankah tadi ia dengan percaya diri mengatakan padaku akan menyetujui perceraian dan segera pergi dari rumah ini? Namun, kenapa sekarang malah asyik bercanda tawa dengan orang tuaku?'


Tidak ingin semakin dibakar api angkara murka yang seolah membuat tubuhnya memanas ketika indra pendengarannya menangkap suara tawa dari wanita bernama Tsamara yang dianggapnya mengincar hartanya saja.


Zafer seketika berjalan menuju pintu utama dan tentu saja disambut oleh orang tua, serta ibu dan anak yang sangat ia benci. Tatapan tajam seketika diarahkan pada Tsamara karena berbicara tidak sesuai dengan kenyataan.


Dengan mengarahkan jari telunjuk pada Tsamara sambil mengumpat kasar, Zafer sudah tidak bisa lagi menahan segala perasaan membuncah yang dipenuhi amarah.


"Dasar wanita murahan tidak tahu diri! Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau tadi memutuskan untuk pergi dari sini? Apakah kau merasa tidak rela kehilangan harta keluargaku?" Zafer bahkan tidak memperdulikan orang tuanya ketika menghina dengan suara yang penuh dengan luapan amarah.


Refleks Tsamara yang tadinya membahas tentang masa kecil putranya yang menggemaskan karena mertuanya ingin tahu seperti apa foto bayi Keanu.

__ADS_1


Jadi, saat ia menunjukkan foto Keanu berusia enam bulan bersama kucing kesayangan, mertuanya tertawa karena mendengar cerita saat putranya memukul kucing.


Sementara kucing itu hanya saja dan tidak membalas karena sangat menyukai putranya. Hingga suara teriakan dari pria dengan tatapan tajam yang menghunus tepat di jantungnya, seketika membuat senyuman Tsamara pudar.


Rasa sakit bertubi-tubi kini dirasakan ketika kalimat penghinaan diterima saat ia memilih untuk menerima permintaan dari mertuanya, sehingga saat ini hanya diam saja dan tidak bisa menjawab.


'Tuhan, apa yang harus kulakukan saat suami tidak menginginkanku? Namun, mertuaku memohon agar aku tinggal untuk merubah pria yang saat ini terlihat sangat jijik padaku.'


Tsamara hanya bisa mengungkapkan semua keluh kesah di dalam hati karena tidak ingin mertuanya merasa bersalah.


Sontak saja Adam Dirgantara langsung mengepalkan kedua tangan. Bahkan rahangnya mulai mengeras dan kilatan api tampak di wajah begitu melihat sikap kasar dari putranya.


'Dasar anak tidak tahu diri. Ini benar-benar tidak bisa ditolerir lagi,' umpat Adam di dalam hati saat masih duduk di sofa bersama istri, menantu dan cucu yang sedang dipangkunya.


"Bocah tidak tahu sopan santun ini harus diberi pelajaran agar berhenti berbuat gila."


Sementara itu, Erina bisa merasakan aura kemurkaan dari sang suami dan menyadari akan ada pertengkaran hebat di antara ayah dan anak itu, sehingga memilih untuk memanggil pelayan, agar membawa Keanu bermain di kamar.


Tsamara membekap mulutnya begitu melihat perbuatan seorang ayah pada putranya.


Adam Dirgantara langsung mengarahkan kakinya untuk menendang putranya. Bahkan ia pun langsung berteriak dengan suaranya yang sangat keras, "Dasar pria bodoh!"


Sebenarnya Zafer tahu jika momen kemurkaan dari sang ayah akan terjadi cepat atau lambat, sehingga begitu suara lengkingan itu memenuhi ruangan utama, ia hanya bersikap santai dan sama sekali tidak takut.


Meskipun sang ayah saat ini baru saja membuatnya meringis menahan rasa nyeri. Melihat pria paruh baya itu tengah menatapnya dengan sangat tajam dan menjelaskan tentang kemurkaan

__ADS_1


"Apa Papa masih membela wanita murahan ini? Kenapa tidak mengusirnya setelah mengetahui kebusukannya? Apa yang sebenarnya dilakukan si cacat tidak berguna yang hanya bisa menyusahkan ini?"


Zafer bahkan sempat berpikir sesuatu hal yang buruk, tetapi tidak bisa mengungkapkan karena ada sang ibu. Jika ia mengungkapkan tuduhannya, mungkin akan menyakiti hati wanita yang telah melahirkannya tersebut.


'Apa wanita murahan ini telah merayu papa? Jadi, sekarang akal sehat papa telah dibutakan oleh Tsamara.' Zafer yang masih merasa aneh sekaligus bingung mengenai hal yang akan ada di otak ayahnya.


"Papa sudah gila dan tidak bisa berpikir rasional semenjak mengenal si cacat tidak berguna ini." Zafer beralih ke arah Tsamara dan kembali mengumpat, "Dasar wanita murahan."


"Apa kamu bilang, Papa gila? Justru di sini, yang kesurupan adalah kamu, bodoh! Bisa-bisanya kamu mengusir wanita yang baru kamu nikahi. Cepat minta maaf pada istrimu dan minta Tsamara untuk tetap di sini!"


Adam Dirgantara sudah mengarahkan tangannya untuk memukul punggung putranya. "Atau kamu mau Papa habisi?" Mengarahkan pukulan pada lengan putranya.


Sementara itu, Zafer terlihat meringis saat sang ayah terus menerus memukulnya. "Astaga, aku bukan anak kecil. Kenapa Papa memukulku hanya demi wanita tidak penting itu? Sebenarnya anak kandungmu siapa?"


"Jangan menyalahkan putramu, sebelum mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Aku sama sekali tidak bersalah. Jika dia memilih pergi, berarti memang tidak ingin berada di sini."


Zafer kini bertekad untuk mengatakan semuanya hari ini jika gagal membuat sang ayah membenci Tsamara setelah menunjukkan bukti-bukti tentang wanita yang sama sekali tidak dicintai.


"Biarkan saja dia pergi, Pa! Wanita murahan tidak berguna sepertinya tidak pantas tinggal di rumah ini."


Mendengar perkataan putranya, membuat Adam Dirgantara berniat semakin menguatkan pukulannya pada bagian belakang putranya. Hingga suara dari seorang wanita terdengar di indra pendengarannya dan seketika ia berhenti.


"Sayang, jangan pukuli putra kita. Kasihan. Bahkan ia bukan anak kecil. Bicaralah baik-baik. Jangan selalu memakai kekerasan," ucap Erina yang tidak tega melihat dua pria yang disayangi terluka.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2