
Sementara itu di dalam ruang jenazah, Zafer saat ini tidak bisa menahan kesedihan melihat orang tuanya yang sudah tidak bernapas lagi dan mereka berada di alam berbeda.
Tadi saat bertanya pada para petugas medis mengenai korban kecelakaan, mengatakan jika tidak ada yang selamat dan sudah dibersihkan di ruang jenazah.
Ia berteriak meluapkan semua kesedihan tanpa memperdulikan tatapan dari orang-orang. Bahkan berjalan dengan sempoyongan, seolah tidak bisa menahan beban berat tubuh.
Zafer bahkan masih berharap tengah mengalami mimpi buruk dan segera terbangun dari tidur. Berharap sang ibu menjewer telinganya dan ia sama sekali tidak keberatan.
Bahkan berharap sang ayah berteriak padanya seperti biasa dan juga menamparnya. Zafer tidak akan marah ataupun melawan dan memilih untuk menerima semuanya.
Namun, semua itu hanya angan semata begitu memasuki ruangan jenazah yang ditunjukkan oleh perawat. Di sana ada dua jenazah yang tak lain adalah ibu dan ayah bersanding, seolah tidak terpisahkan.
Bahkan orang tuanya yang saling mencintai, tidak terpisahkan sampai ajal menjemput dan membuat Zafer benar-benar merasa hancur karena kehilangan dua orang yang paling disayangi.
Dengan langkah tertatih dan bola mata yang mengeluarkan bulir kesedihan tanpa henti, ia berjalan mendekati dua orang yang tertutup kain kafan.
Bahkan ruangan yang dianggap paling mengerikan di rumah sakit tersebut, seolah menjadi tempat ternyaman dari pasangan suami istri tersebut.
Suasana penuh keheningan seolah tidak sebanding dengan kesedihan Zafer yang saat ini tengah menatap ke arah jenazah orang tuanya.
Bahkan ia saat ini merasa sesak, seperti sangat kesulitan untuk bernapas ketika merasa sangat hancur dan bersedih karena orang tuanya telah meninggalkan ia sendiri di dunia ini.
Zafer perlahan membuka kain kafan dan melihat wajah sang ayah yang mengalami beberapa luka mengenaskan pada bagian tubuh dan paling parah adalah kepala.
Seketika tangis Zafer pecah seperti seorang wanita dan menghambur memeluk tubuh tidak berdaya dengan wajah pucat tersebut.
"Tidak!"
"Papa tidak boleh pergi meninggalkanku. Aku benar-benar sangat menyayangimu, Pa. Aku bahkan belum bisa membahagiakanmu ataupun menjadi putra kebanggaanmu. Kenapa pergi secepat ini saat aku belum bisa membuktikan apapun padamu."
"Papa harus bangun dan kembali berteriak serta menamparku. Aku tidak akan keberatan menerimanya dan berjanji akan berubah menjadi seorang pria bertanggung jawab seperti harapanmu, tapi kauy harus bangun, Pa!"
Zafer saat ini masih menangisi kepergian sang ayah yang sebenarnya sangat disayangi dan menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh pria itu semuanya demi kebaikan.
__ADS_1
Apalagi merupakan anak tunggal yang akan bertanggungjawab pada semuanya, membuatnya benar-benar hancur hari ini.
Zafer saat ini meluapkan semua kesedihan ketika menatap wajah pucat sang ayah yang sudah tidak bernyawa dan terlihat sangat mengenaskan.
Entah berapa menit Zafer menangis dan menyesal karena mengecewakan orang tuanya. Kemudian beralih pada sang ibu dan mendengar suara dari salah satu perawat pria yang tadi mengantarnya.
Tadi memang sengaja menunggu dalam diam hingga pria itu merasa tenang, baru mengatakan sesuatu yang ingin disampaikan.
"Ibu Anda tadi menggenggam kuat sebuah tasbih di tangan." Kemudian berjalan mendekat dan memberikan beberapa perhiasan yang disimpan dalam sebuah kantong plastik khusus.
"Ini merupakan barang dari ibu Anda, sedangkan tasbih itu cukup kuat digenggam dan membuat kami sedikit kesusahan tadi. Anda harus bersabar menerima semua cobaan ini karena Tuhan tahu apa yang terbaik bagi umat-Nya."
Kemudian perawat pria tersebut menepuk lembut bahu kokoh pria di hadapannya dan berlalu pergi untuk memberikan waktu bagi seorang anak yang menangisi kepergian orang tua.
Zafer saat ini menunduk menatap ke arah tasbih yang ada dalam genggaman dan merupakan hadiah Tsamara itu masih utuh. Sama sekali tidak rusak ataupun putus meskipun sudah dihantam oleh truk besar.
Zafer yang masih berkaca-kaca, kini beralih menatap ke arah sang ibu. "Mama lihat ini? Gara-gara benda yang diberikan oleh menantu kesayangan, kalian jadi berakhir seperti ini. Bahkan mama masih menggenggam erat pemberian wanita pembawa sialan itu saat ajal menjemput."
"Apakah kalian tidak menyadari jika menantu kesayangan adalah wanita pembawa sial dan membuat berakhir di tempat ini ketika baru saja merayakan hari pernikahan? Mama, aku rela kamu menampar dan memarahiku hingga ribuan kali, tapi bangunlah dan berikan sebuah keajaiban."
Zafer masih berdiri di dekat sang ibu dan membungkuk untuk mencium wajah pucat tersebut. Meskipun sudah tidak menangis seperti beberapa saat lalu, tetap saja rasa sesak dirasakan oleh Zafer dan seolah seperti kesusahan untuk bernapas.
Hingga saat ia berusaha untuk berdiri kuat karena sebentar lagi harus mengurus pemakaman orang tua, mendengar suara seorang wanita yang sangat dihafalnya.
Namun, Zafer sama sekali tidak menolehkan kepala untuk menatap ke arah belakang karena saat ini berpikir jika itu hanya akan membuatnya merasa murka.
Sosok wanita yang tak lain adalah Tsamara, saat ini mengarahkan kursi roda untuk masuk ke ruang jenazah.
Tadi ia minta tolong pada seorang security akan membantunya turun dari mobil. Kemudian langsung bertanya pada petugas medis mengenai korban kecelakaan dan mengetahui jika mertuanya benar-benar sudah meninggalkan dunia.
Tsamara bahkan tidak berhenti menangis ketika menuju ruang jenazah saat diantarkan oleh salah satu perawat yang iba padanya karena membawa seorang anak kecil.
Begitu tiba di depan ruang jenazah, melihat merah duduk di salah satu kursi dan sama sekali tidak berniat punya pak karena ingin segera melihat mertua yang sudah dianggap sebagai orang tua sendiri.
__ADS_1
Bahkan saat tadi Tsamara merenung di dalam mobil sambil menangis karena khawatir pada keadaan mertua, bukan karena dihina oleh Zafer sebagai wanita pembawa sial.
Tsamara mengingat pesan dari ibu mertua yang mengirimkan pesan dan sepertinya dikirim sebelum mengalami kecelakaan.
Ketika membaca ulang, seketika membuatnya mengambil keputusan untuk tetap bersama Zafer selamanya demi memenuhi keinginan terakhir dari wanita paruh baya yang sudah dianggap seperti ibu sendiri tersebut.
Tsamara berjanji untuk selamanya akan bersama Zafer meski apapun yang terjadi. Jadi, meskipun akan mendapatkan segala penghinaan karena dianggap sebagai penyebab kematian mertua, akan tetap menerima dengan lapang dada.
Meskipun semuanya akan terasa jauh lebih berat karena hanya kebencian yang dirasakan oleh suami, tapi ia sama sekali tidak keberatan melakukan itu.
Semua kebencian dari Zafer akan diterima dan tidak akan pernah mengeluh karena berusaha untuk mengubah pria itu agar bangkit dari keterpurukan saat orang tua meninggal.
Begitu berada di ruang jenazah dan melihat Zafer sedang mencium kening sang ibu, sehingga membuatnya merasa hancur.
"Mama," lirih Tsamara dengan suara bergetar dan menyayat hati memenuhi ruangan jenazah yang sangat hening karena hanya dihiasi isak tangisnya.
Ia mengarahkan kursi roda dan mengajak putranya untuk mendekati wanita paruh baya yang sudah tidak bernyawa tersebut dan mengungkapkan semua yang dirasakan saat ini.
"Mama, Papa, kenapa semua ini bisa terjadi? Kenapa Tuhan memanggil kalian di hari ulang tahun pernikahan yang baru saja dirayakan? Apa yang harus kulakukan tanpa kalian?"
"Ampuni aku jika selama ini sering membuat kalian merasa kesal karena tidak patuh. Aku akan selalu mendoakan agar jalan kalian menuju surga dilapangkan."
Saat Tsamara baru saja menutup mulut, mendengar suara teriakan dari pria yang dengan sangat kasar melemparkan sesuatu ke wajahnya.
"Dasar wanita pembawa sial yang tidak tahu diri! Gara-gara hadiah ini, orang tuaku meninggal. Jika kau tidak memberikan ini, mereka pasti masih hidup," teriak Zafer yang kini memerah wajahnya karena merasa sangat marah melihat wajah Tsamara karena dianggap sebagai penyebab orang tuanya meninggal.
Sementara itu, Tsamara merasakan nyeri saat wajahnya terkena tasbih dari emas itu akibat perbuatan Zafer, sehingga hanya menangkap dengan kedua tangannya begitu terjatuh.
"Tuan Zafer, ini bukan salah tasbih ini, tapi sudah merupakan takdir dari Tuhan."
"Omong kosong! Semuanya karena kehadiranmu. Jika kau tidak menyeberang jalan saat itu, tidak mungkin semua ini terjadi pada keluargaku."
"Kau hanyalah seorang wanita pembawa sial!" sarkas Zafer dengan penuh amarah yang kini mengarahkan cekikan pada leher Tsamara.
__ADS_1
To be continued...