
Refleks Erina langsung memeluk tubuh Tsamara dan berurai air mata dengan suara tangisan yang menghiasi keheningan malam di ruangan kamar tersebut.
"Terima kasih, Tsamara karena berkatmu, bisa melihat perubahan putraku sedikit demi sedikit dan berharap Zafer berubah menjadi pria bertanggung jawab dan bisa memikirkan perasaan orang lain."
Saat ini, Tsamara sama sekali tidak menangis karena ingin terlihat kuat dan juga berharap tangis wanita paruh baya tersebut tidak berlarut-larut.
Mengetahui bahwa jika ikut bersedih dan menangis, pasti akan sulit untuk menenangkan diri. Tidak ingin itu terjadi, akhirnya ia mengusap lembut punggung mertuanya tersebut agar bisa menyalurkan hawa positif dan menghibur, serta menenangkan hati yang saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Mama dan Papa akan berumur panjang dan kalian bisa menimang cucu, serta melihat perkembangan mereka dengan penuh kebahagiaan. Jika suatu saat aku tidak bisa melihat itu terjadi di rumah ini, berharap kalian tidak melupakanku."
Tsamara berniat untuk menghibur wanita yang sudah dianggap sebagai ibu kandung sendiri tersebut, seketika gagal begitu suara tangisan bertambah kencang.
Erina tidak bisa membayangkan jika sampai apa yang dikatakan oleh Tsamara benar-benar terjadi. Merasa bahwa menantunya tersebut seperti sedang mengucapkan salam perpisahan padanya dan berpikir jika Tsamara akan kembali pada mantan suami.
"Jangan berkata seperti kamu akan pergi dari sini sebentar lagi. Mama tidak suka kamu berbicara seperti itu karena seperti yang kami katakan bahwa sangat menginginkanmu selamanya menjadi istri Zafer."
Jika biasanya Tsamara selalu mengiyakan apapun yang dikatakan oleh wanita tersebut, tetapi kali ini tidak melakukannya karena berpikir bahwa hal itu tidak mungkin terjadi.
"Lebih baik kita bersiap untuk hal yang paling buruk, Ma. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku dan seperti yang tadi aku bilang bahwa akan mengikuti kemanapun alur membawaku. Apalagi setelah Rey hadir mengusik kehidupan kami. Seperti akan mengalami misteri yang lebih buruk dari kakiku yang cacat ini."
Kini, Tsamara menatap ke arah kedua kaki yang tidak bisa digerakkan. "Ma, aku ingin segera berjalan lagi, agar memiliki kekuatan untuk melawan ataupun pergi jauh dari orang-orang jahat."
"Aku ingin melindungi putraku dari ulah para orang-orang tidak bertanggung jawab dan memanfaatkan kondisiku yang seperti ini. Ini adalah sebuah kelemahan yang tidak bisa kusingkirkan. Tadi gagal melakukan terapi karena keadaanku yang tidak baik-baik saja, tapi besok aku bisa."
"Kalau bisa, aku mau setiap hari melakukan terapi, agar bisa cepat berjalan." Tsamara benar-benar berharap segera bisa kembali beraktivitas seperti dulu lagi karena keterbatasan saat ini sangat menyiksa.
Apalagi tidak kuasa melakukan apapun ketika Rey menganggap itu adalah sebuah kelemahan.
__ADS_1
Meski sangat ngerti mengerti apa yang saat ini dirasakan oleh menantunya tersebut, tetapi Erina tidak bisa memberikan sebuah harapan palsu dan memilih untuk berbicara yang sebenarnya.
Berharap Tsamara akan mengerti dan tidak salah paham. Karena bukan hanya Tsamara yang menderita, tetapi mereka juga merasa seperti mendapatkan tekanan batin ketika melihat wanita itu tidak berdaya di atas kursi roda selama berbulan-bulan.
"Kita tidak bisa memutuskan sendiri mengenai masalah itu, Tsamara. Lagipula sudah ada jadwal dari dokter dan jika kamu memaksa untuk melakukan terapi setiap hari, bagaimana dengan kondisi fisik."
"Apakah akan berpengaruh atau tidak, kita akan meminta saran dari dokter mengenai bagaimana cara yang terbaik untuk keinginanmu itu. Oh ya, Kenapa papamu belum juga tiba dari tadi."
Tsamara yang saat ini menatap ke arah pintu, membenarkan pertanyaan dari mertua.
"Iya, Ma. Kenapa papa dan Keanu belum juga tiba? Lebih baik Mama menghubungi untuk menanyakan di mana mereka sekarang. Bukankah sudah lebih dari dua jam pergi. Bahkan aku sudah lapar dan membayangkan bisa menikmati sup yang masih mengepulkan asap."
Erina kini tidak membuang waktu karena langsung meraih ponsel di saku gaun yang dikenakan. Saat menunggu panggilan diangkat dari seberang telpon, sesekali menatap ke arah Tsamara yang juga sama sepertinya, yaitu sangat khawatir pada dua laki-laki yang berbeda usia tersebut.
Namun, wajah mereka bertambah murung karena tidak mendapatkan jawaban.
Tsamara saat ini hanya menganggukkan kepala begitu melihat ibu mertuanya tersebut buru-buru berjalan keluar dari ruangan kamar.
Bahkan perasaan Tsamara tidak enak karena takut terjadi sesuatu pada ayah mertua dan juga putranya.
"Tuhan, lindungilah mereka dari hal-hal buruk. Semoga tidak terjadi sesuatu pada papa dan Keanu," lirih Tsamara yang saat ini tidak mengalihkan pandangan dari pintu dan sangat berharap akan muncul dua laki-laki yang dikhawatirkan.
Sementara itu di sisi lain, Erina langsung menggedor pintu ruangan yang ditempati oleh Rayya dan Zafer tanpa memperdulikan jika suaranya memecahkan keheningan malam dan menimbulkan kebisingan.
"Zafer! Cepat keluar!" teriak Erina dengan tangan yang sudah berkali-kali menggedor pintu dengan sangat kuat.
Di dalam ruangan kamar, Zafer yang dari tadi tidur dengan dipeluk oleh Rayya, merasa sangat terkejut dengan suara sangat kencang dari luar pintu.
__ADS_1
Bahkan tadi sudah tidur selama beberapa menit. Hingga seketika terbangun dan menatap ke arah Rayya yang bergerak dan terlihat sama sepertinya.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa mama tiba-tiba menggedor pintu seperti itu? Bahkan ini sudah malam dan waktunya istirahat. Kenapa malah berisik seperti ini?" umpat Rayya yang saat ini merasa sangat kesal pada sikap mertuanya ketika selalu mengganggu kebersamaan dengan Zafer.
Seolah saat ini otaknya tengah berpikir bahwa mertuanya tersebut ingin merebut Zafer agar tidak tidur bersamanya.
Sementara itu, Zafer sama sekali tidak menjawab pertanyaan Rayya karena memang tidak tahu jawabannya, sehingga memilih untuk segera bangkit dari ranjang begitu menyingkap selimut yang menutupi tubuh mereka.
Begitu membuka pintu, melihat wajah wanita paruh baya tersebut yang jelas terlihat dipenuhi kekhawatiran.
"Mama? Ada apa sebenarnya? Kenapa malam-malam begini berteriak? Apa yang terjadi?"
"Cepat cari papamu karena saat ini belum pulang. Sudah dari tadi pergi ke restoran untuk membeli sup untuk Tsamara, tetapi kenapa belum pulang juga. Tadi, Mama sudah menelpon, tapi tidak diangkat dan semakin mengkhawatirkan keadaan mereka."
Erina tidak bisa menghilangkan rasa khawatir pada suami dan juga Keanu. Wajah pucat dan degup jantung tidak beraturan dirasakan saat ini karena takut terjadi sesuatu hal yang buruk.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu pada papamu?"
"Tenang, Ma. Jangan berpikir buruk dulu sebelum mendapatkan kepastian. Aku akan menghubungi seseorang untuk memastikan keberadaan papa." Kemudian Zafer berbalik badan dan melihat ke arah Rayya yang sudah berjalan mendekat.
Kemudian mengambil ponsel di atas nakas dan menghubungi ahli IT untuk mengecek GPS dari ponsel sang ayah.
Sementara itu, Rayya yang mengerti penyebab dari ibu mertua mengganggu kenyamanan tidurnya, kini hanya mengumpat di dalam hati tanpa berniat untuk menghibur perasaan wanita paruh baya tersebut.
'Ada-ada saja sikap wanita tua ini. Bahkan suami tidak pulang beberapa jam saja sudah kebingungan berlebihan. Rasanya aku ingin sekali menjawab bahwa sikapnya sangat lebay, tapi Zafer pasti akan marah padaku dan hubungan kami yang lebih baik akan berubah buruk.'
To be continued...
__ADS_1