
Sang supir tadi segera memberitahu majikannya mengenai istri dari tuan mudanya yang memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah.
Ia bisa melihat siluet wanita yang menurutnya secantik bidadari itu keluar dari pintu dengan memangku koper. Kemudian mengungkapkan bahwa majikan utama yang merupakan orang mertua wanita itu menyuruh ia untuk menahan kepergian.
Hingga sampai sang majikan utama tiba karena sedang dalam perjalanan menuju ke sana.
Jadi, pria paruh baya tersebut ingin mematuhi perintah dari Adam Dirgantara yang sangat berjasa untuk hidupnya dengan melakukan apapun, agar majikan perempuan yang masih berada di kursi roda tersebut mengungkapkan penolakan.
Tsamara buru-buru meraih koper yang tadi ia taruh di lantai karena ingin segera pergi dari rumah itu.
Baginya, itu bukanlah rumah, melainkan penjara untuk membuatnya menebus kesalahan, serta dosa di masa lalu. Mungkin ia bisa bertahan selamanya di sana jika pria yang sudah menikahinya tidak mengusir.
Namun, ia tidak bisa bertahan setelah pria yang menikahinya ingin bercerai dan sama sekali tidak mau melihatnya.
"Aku harus pergi karena tuan Zafer tidak membutuhkan wanita cacat sepertiku. Jadi, jangan menyuruhku untuk bertahan saat suami sendiri lebih senang aku pergi."
Tsamara tidak ingin meminta bantuan dari pasangan suami istri yang bekerja sebagai pelayan tersebut, jadi berniat untuk membawanya sendiri.
Meskipun harus menahan beban berat pada paha karena meletakkan koper di sana. Namun, itu tidak berlangsung lama karena pria yang berdiri di hadapan telah mengambil. Tentu saja ia tahu jika pria itu tidak tega dan memilih untuk membantunya.
"Nyonya, jangan melakukan ini. Paling tidak, tunggu tuan Adam dulu tiba." Pelayan wanita itu berbicara sambil membantu menggendong bocah laki-laki bernama Keanu tersebut.
Refleks Tsamara menggelengkan kepala karena tidak ingin lemah di depan mertuanya jika sampai bertemu mereka. Apalagi ia sudah menganggap pasangan suami istri itu seperti orang tua sendiri.
__ADS_1
Ia sangat menyayangi mereka karena sudah tidak mempunyai orang tua lagi setelah meninggal ketika berusia 18 tahun dan masih sekolah.
Banyak kenangan dari orang tuanya yang tidak mungkin bisa dilupakan. Hingga begitu mendapatkan mertua baik, ia menyayangi mereka, tetapi harus meninggalkan pasangan suami istri paruh baya tersebut setelah mendapatkan hinaan dari sang suami.
Ia kini menatap pelayan pria dan wanita di hadapannya. "Kalian mempunyai anak perempuan atau tidak?"
Refleks pasangan suami istri tersebut menganggukkan kepala dan tentu saja mengerti ke mana arah pembicaraan dari sang majikan.
"Maafkan kami, Nyonya karena selama ini berusaha menutup mata dan telinga dengan berpura-pura tidak tahu mengenai rumah tangga Anda dengan tuan Zafer." Pelayan wanita itu kini menatap penuh penyesalan.
Karena sejujurnya tidak tega melihat majikan perempuan selalu tidak mendapatkan sikap manis dari seorang suami.
"Meskipun kami adalah orang yang bodoh, tetapi bisa melihat sikap tuan Zafer pada Anda tidaklah seperti seorang suami. Namun, kami hanyalah seorang pelayan dan tidak bisa melakukan apa-apa."
"Maafkan kami karena hanyalah orang miskin yang menggantungkan hidup dari pekerjaan ini. Jadi, tidak bisa menasihati tuan Kenzo agar bersikap baik seperti layaknya suami bertanggungjawab pada istri."
"Apalagi saat melihat Anda, selalu mengingat putri kami yang saat ini ikut suami di luar kota." Pria yang membawa koper di tangan kanan tersebut terdiam karena sang istri malah membahas putrinya.
"Kami takut jika nasib putri kami sama seperti Anda, diperlakukan tidak baik oleh suaminya," sahut wanita yang saat ini terlihat berkaca-kaca bola mata karena khawatir pada nasib rumah tangga anak yang dulu dirawat dengan baik dan penuh kasih sayang.
Tsamara sebenarnya ingin segera meninggalkan rumah mewah itu, tapi karena pelayan malah berbicara panjang lebar mengenai kekhawatiran yang dirasakan, membuatnya tidak tega.
Ia pun mengusap lengan wanita dengan sebagian rambut memutih itu untuk menyalurkan hawa positif. "Putri kalian pasti saat ini hidup berbahagia dengan suaminya karena menikah atas dasar mencintai."
__ADS_1
"Aku menikah dengan tuan Zafer atas dasar paksaan. Jadi, jangan menyamakan nasib kami dengan pernikahan putri kalian. Lebih baik berdoa saja pada Tuhan karena semua hal yang terjadi di dunia ini atas kuasa sang pencipta."
"Tugas kita hanyalah berusaha melakukan terbaik dan berdoa. Mengenai hasil, serahkan saja pada yang lebih berkuasa, yaitu Tuhan. Aku tidak bermaksud sok bijak karena bukanlah wanita baik yang pantas memberikan nasihat. Hanya saja, ingin memberikan sesuatu yang positif."
"Penuhi pikiran kita dengan sesuatu hal yang positif karena mindset itu sangat mempengaruhi apa yang terjadi pada hidup kita. Apalagi aku mengalami sendiri." Tsamara memang selama ini diliputi pikiran negatif semenjak ia bercerai dengan mantan suami sebelum Zafer.
Apalagi rasa sakit itu masih menimbulkan luka tak berdarah di dalam hati dan itu disadari bahwa dulu suami pertamanya juga merasakan hal serupa ketika ia memilih untuk pergi.
Mungkin hidupnya tidak akan sehancur ini jika masih setia pada suami pertamanya yang sangat mencintainya. Akhirnya, ia kini mendapatkan kesengsaraan dan harus menjalani semuanya dengan ikhlas.
'Aku berencana tidak akan pernah menikah lagi setelah bercerai dari Rey. Namun, Tuhan sudah berkehendak aku harus menikah dengan tuan Zafer yang membuatku cacat.'
'Sekarang, aku harus bercerai dan berharap setelah ini, tidak akan ada lagi masalah mengenai pernikahan. Aku akan fokus untuk mengurus putraku dan bekerja keras mencari uang.'
'Keanu adalah amanah dari Tuhan yang sudah sepatutnya kujaga dan diberi hak-haknya sesuai dengan ketentuan. Meskipun ia adalah hasil dari perselingkuhan dengan Rey, tapi Keanu adalah anak yang dilahirkan dalam keadaan suci. Aku ingin memberikan semua yang terbaik, agar selamat dunia akhirat.'
Tsamara tahu bahwa dalam melaksanakan kewajiban kepada anaknya, harus didasarkan pada motivasi, ikhlas dan memiliki sikap keteladanan. Selain sebagai seorang ibu yang melahirkan, ia akan merawat, menjaga, dan membimbing anak dalam kehidupan sehari-hari.
"Kalian pasti tahu bahwa kewajiban orang tua terhadap anak bukan hanya untuk menyiapkan kebutuhan materi saja, tetapi juga untuk menanamkan nilai-nilai spiritual dan ajaran keagamaan." Tsamara menghentikan perkataannya sejenak dan melihat respon pasangan suami istri yang mengangguk perlahan.
Seolah membenarkan perkataan darinya, sehingga Tsamara kembali berbicara. Aku yakin kalian telah memenuhi kewajiban saat merawat anak hingga bisa menikah. Bisa dibilang telah sukses dan aku pun berharap demikian."
"Aku ingin bisa menyediakan tempat tinggal yang baik bagi putraku, memberi makanan dan minuman bergizi, serta pakaian yang layak, melindungi dan memastikan keamanan, termasuk barang miliknya."
__ADS_1
To be continued...