Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Membantu teman


__ADS_3

Rayya dan Rey kini sudah berada di dalam mobil yang menuju ke arah rumah sakit keluarga Dirgantara. Selama dalam perjalanan, mereka berbincang dan saling menjawab pertanyaan yang diajukan.


Seperti saat ini, Rayya tengah menanyakan sesuatu hal yang bersifat privasi karena merasa sangat penasaran dengan sosok pria tampan di balik kemudi tersebut.


"Apa kamu sudah menikah, Rey? Pria setampan dirimu pasti menjadi incaran para wanita lajang. Jadi, aku hari ini merasa aneh saat melihatmu pergi sendirian ke rumah sakit untuk menjenguk ibumu."


Sementara itu, Rey yang kini masih fokus mengemudi dengan menatap ke arah depan, sekilas melirik ke arah kiri sambil terkekeh.


"Rasanya dipuji wanita secantik dirimu membuatku melayang. Sebelum aku menjawab, sepertinya juga ingin tahu hal sama seperti pertanyaanmu."


"Di mana suamimu? Aku melihat kamu memakai cincin kawin, tapi pergi sendirian. Apakah suamimu bekerja? Sampai kamu pergi sendirian seperti ini?" Rey memang tadi sempat melihat jari manis lentik itu disematkan sebuah cincin dan sudah diketahui bahwa itu adalah tanda wanita yang telah menikah.


Sementara itu, Rayya kini menunduk dan menatap ke arah cincin yang tadi baru disematkan Zafer di jari manisnya. Bahkan sangat mengingat ekspresi pria yang sudah menjadi suami sahnya tersebut.


Bahwa saat itu, Zafer masih marah dan kesal padanya dan juga sang ayah. "Kamu benar. Aku baru menikah hari ini, tapi sudah mendapatkan masalah."


Rey menyipitkan mata mendengar apa yang dikatakan oleh Rayya dan melirik sekilas untuk melihat wanita yang masih menundukkan kepala untuk melihat jemari yang dihiasi cincin tersebut.


"Sepertinya kamu sedang merasa stres karena ulah suami yang baru menikahimu." Rey kini mengingat tentang sesuatu dan raut wajah pun berubah muram.


Sama seperti apa yang ditampilkan oleh Rayya saat ini. "Sepertinya suamimu akan menyesal jika sudah merasakan bagaimana kehilangan."


Refleks Rayya menoleh pada Rey karena merasa tertarik pada tanggapan tersebut. Berharap mendapatkan jalan keluar dari masalah yang dialami.


"Sepertinya aku harus berguru padamu untuk mengetahui bagaimana cara membuat suamiku hanya fokus padaku. Tidak mungkin aku pergi meninggalkan pria yang sangat kucintai dan bahkan merupakan ayah dari janin kembar yang sedang kukandung."

__ADS_1


Kini, Rey mulai mengerti dengan apa yang terjadi pada wanita tersebut. Bahwa hubungan yang terjalin dan pernikahan dilakukan karena sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kehamilan.


Saat ini, mengingat tentang masa lalu yang membuat Rey merasa bersalah sekaligus menyesal sampai sekarang.


"Aku tidak punya tips atau pun saran untukmu. Hanya saja, dulu aku seperti suamimu karena tidak terlalu memperhatikan istri yang sedang hamil. Dari dulu aku yang merasa menjadi pria tampan dan hebat, bisa mendapatkan para wanita yang kuinginkan."


"Sementara ada seseorang yang harusnya mendapatkan perhatian dariku karena telah mengandung benihku." Rey kini mengembuskan napas kasar kala mengingat tentang perbuatan jahat pada seseorang.


Ya, setelah menceraikan Tsamara, Rey tetap seperti biasa, banyak berhubungan dengan para wanita. Bahkan sampai beberapa kali menikah karena memang usia pun sudah tidak muda lagi karena sang ibu ingin segera menimang cucu.


Namun, semesta seolah tak mengizinkan itu karena meskipun sudah menikah beberapa kali dan berakhir bercerai karena sang ibu merasa curiga pada para wanita yang dinikahi tak kunjung hamil.


Jadi, disuruh untuk menceraikan istri dan kembali menikah lagi dengan wanita lain demi bisa mendapatkan keturunan. Namun, Rey sama sekali tidak pernah menyangka jika hal yang sama terjadi karena meskipun sudah menikah sampai lima kali, tidak ada istri yang hamil benihnya.


Merasa jika apa yang dilakukan percuma, akhirnya Rey frustasi dan kini tidak ingin menikah lagi setelah bercerai dengan istri terakhir. Bahkan saat memeriksakan diri, dokter mengatakan bahwa masih merupakan pria sehat dan normal.


Rey memilih untuk tinggal di apartemen karena tidak ingin mendengar sang ibu kembali menyuruh untuk menikah lagi. Jadi, tidak tahu jika wanita itu kembali masuk rumah sakit.


Baru hari ini dikabari oleh pelayan dan langsung pergi ke rumah sakit setelah tadi membeli buah kesukaan sang ibu. Bahkan hari ini tidak bisa berkosentrasi bekerja karena memikirkan keadaan wanita yang telah melahirkannya.


Rayya kini menyipitkan mata kala menatap pada Rey. Sangat tertarik dan ingin tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu. Hanya saja, tidak ingin terkesan ikut campur jika bertanya lebih detail.


Namun, ada satu hal yang saat ini sangat ingin diketahui dah sudah tidak bisa menahan lagi, sehingga memilih untuk bertanya. "Sepertinya kamu sangat menyesal pada wanita itu."


"Lalu, sekarang ada di mana wanita itu? Apakah dulu istrimu pergi atas kemauan sendiri atau kau yang mengusirnya?"

__ADS_1


"Aku sudah menceraikan wanita yang baru saja melahirkan anakku dan memilih bersenang-senang dengan wanita lain. Sementara sekarang, hukum alam tengah bekerja dan aku mendapatkan karma dari apa yang kulakukan di masa lalu." Rey mengembuskan napas kasar kala mengingat tentang wanita yang disakiti.


Rasa sesal dan bersalah saat ini terasa percuma. Rey berharap bisa membawa anak kandungnya pada sang ibu.


Berpikir bahwa mungkin sang ibu sudah tidak menyuruh untuk menikah lagi. Bahkan berharap mantan istri bisa memaafkan dan mereka kembali menikah lagi. Hanya itulah harapan Rey saat ini.


"Aku sedang mencari mantan istriku untuk memohon pengampunan dan berharap bisa kembali bersama. Namun, sepertinya keinginan itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan."


"Maaf, karena aku malah berbicara tentang hal yang tidak penting. Bahkan tidak seharusnya kamu mendengar tentang masa lalu kelamku. Lebih baik lupakan itu karena aku hanya merasa seperti seorang pecundang jika mengingat itu."


Rey mengemudikan mobil dengan berbelok ke area rumah sakit dan langsung memarkirkan di tempat kosong. "Kita sudah sampai."


Rayya tidak menyadari jika perjalanan hari ini terasa sangat cepat berlalu begitu mendengar cerita dari Rey mengenai masa lalu.


'Padahal tadi aku berniat untuk memanfaatkan Rey demi bisa membuat Zafer cemburu. Namun, melihat jika pria ini saja tidak bisa move on dari mantan istri, mana mungkin bisa melaksanakan ideku,' gumam Rayya yang saat ini melepaskan sabuk pengaman.


Sebelum keluar, Rayya menoleh ke arah Rey yang baru saja mematikan sambungan telpon. "Apakah kau ingin bertemu dengan keluarga suamiku? Mereka pasti akan berterima kasih padamu karena menolongku."


Rey menyipitkan mata dan melirik sekilas ke arah Rayya setelah menelpon sang ibu. "Jika itu tidak akan menjadi masalah buatmu, baiklah."


Rayya kini tersenyum simpul dan menggeleng perlahan. "Sebenarnya aku ingin membuat suamiku cemburu. Siapa tahu dengan melihat pria tampan dan muda sepertimu, suamiku takut kehilangan dan bersikap baik seperti dulu yang sangat mencintaiku."


"Maaf karena aku hari ini dua kali meminta pertolonganmu." Rayya menampilkan wajah memelas dengan menyatukan kedua tangan.


Berharap mendapatkan simpati dari pria yang baru saja dikenal. Sudut bibir Rayya seketika melengkung ke atas begitu mendengar suara bariton dari pria dengan paras rupawan tersebut.

__ADS_1


"Tidak masalah. Aku akan membantumu karena sekarang kita berteman," ucap Rey yang kini mengulas senyuman tipis dan beranjak turun dari mobil.


__ADS_2