
Tentu saja saat ini Zafer mengetahui apa yang disukai dan tidak oleh Tsamara, sehingga selalu memanfaatkan itu untuk membuat sang istri terlihat menggemaskan.
"Jika sudah mengetahui aku seperti apa, tidak perlu protes. Apalagi aku selalu memposisikan diri dengan menerapkan seperti lawan bicara. Jadi, semua sesuai dan tidak berat sebelah. Seperti saat aku berbicara dengan orang lain yang tidak berpenampilan tertutup sepertimu, mana mungkin akan membahas masalah yang berhubungan dengan agama."
"Bukankah itu namanya tengah menunjukkan kebodohan dan mempermalukan diri sendiri? Sementara saat bersamamu, seolah aku ingin tahu seperti apa semua hal yang berhubungan dengan agama."
Zafer sebenarnya merasa tertarik dengan semua hal mengenai Tsamara dan hari ini ingin banyak berbicara dengan wanita yang terlihat tengah mengunyah makanan tersebut.
"Aku sangat yakin saat kamu memutuskan berhijrah seperti ini dari seorang wanita yang suka berpenampilan terbuka, pasti banyak mempelajari mengenai agama yang mengajarkan hal-hal baik."
Seolah merasa tertampar dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Zafer, sehingga saat ini Tsamara hanya diam saja dan tidak ingin berkomentar lagi karena berpikir hanya akan kalah.
Apalagi mengetahui bahwa Zafer sangat pandai bersilat lidah untuk mengalahkannya, sehingga berpikir lebih baik diam. Namun, tidak bisa melakukannya saat mendengar suara bariton Zafer yang meminta sesuatu padanya.
"Bukankah tidak ada larangan untuk berpenampilan seksi di depan suami sendiri? Kamu boleh berpenampilan tertutup seperti ini saat berada di luar agar tidak ada pria manapun yang bisa melihat tubuhmu yang seksi, tapi sekarang aku ingin kamu membuka penutup tubuhmu."
Zafer ingin menikmati makanan sambil menatap wajah cantik Tsamara yang memiliki rambut panjang hitam berkilat tanpa ada penutup kepala yang selalu dipakai setiap hari.
Saat Tsamara baru saja menelan makanan, seketika tersedak dan beberapa kali menepuk dada untuk menormalkan tenggorokan yang terasa panas.
Refleks Zafer mengambil air minum dan memberikan pada Tsamara. "Minumlah!"
Zafer saat ini hanya tertawa melihat ekspresi wajah memerah Tsamara. Tentu saja mengetahui apa penyebab yang menjadi wanita itu tersedak makanan. "Sepertinya kamu salah paham dengan perkataanku karena aku salah berbicara. Aku belum menyuruhmu telanjang karena pelan-pelan saja melakukan itu."
"Aku hanya ingin kamu membuka penutup kepalamu karena sebenarnya terlihat sangat cantik ketika rambutmu tergerai tanpa mengikatnya. Atau kamu ingin aku yang melepaskannya?"
Tsamara yang saat ini baru saja meneguk minuman untuk menormalkan rasa panas di tenggorokan karena tersedak atas perkataan Zafer yang tadi dikira menyuruhnya telanjang saat makan, sehingga merasa seperti seorang wanita murahan saja.
Namun, rasa lega kini dirasakan di tenggorokan setelah air putih membasahi. Apalagi merasa sangat lega begitu mendengar perkataan Zafer ketika membenarkan apa yang dimaksud.
__ADS_1
'Apakah sekarang otakku yang sangat kotor karena perkataan pria ini? Kenapa aku bisa mengira jika Zafer menyuruh telanjang di depannya saat makan? Ternyata hanya ingin aku membuka penutup kepala saja. Sepertinya aku perlu mencuci otakku,' gumam Tsamara yang saat ini tengah mencoba untuk menaruh gelas di atas meja karena tidak mungkin terus memegang.
Ia merasa sangat tidak nyaman dengan tatapan dari Zafer saat ini yang seperti pria belum pernah melihat seorang wanita. Sebenarnya ingin sekali berbicara mengenai apa maksud Zafer dari tadi tidak berkedip melihatnya.
Namun, mengurungkan niat karena tidak ingin dikalahkan lagi oleh Zafer. Apalagi jika diejek terlalu percaya diri, itu hanya akan mempermalukan diri sendiri.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Mana janji manismu yang mengatakan akan menyerahkan diri padaku begitu membantumu? Padahal aku tadi sudah mulai mencari kelemahan Rey untuk bisa mengalahkannya, agar tidak berani mengganggumu dan Keanu."
Zafer sengaja menyebut putra Tsamara karena mengetahui jika itu merupakan kelemahan wanita di sebelahnya tersebut. Hingga sudah bibirnya melengkung ke atas begitu melihat apa yang dilakukan oleh Tsamara saat ini.
Tidak ingin mendengar Zafer banyak protes dan juga merasa tertarik dengan perkataan pria itu yang membahas Rey, agar bisa menyingkirkan mantan suami, kini Tsamara bergerak mengangkat tangan untuk melepaskan penutup kepala dan membiarkan rambut yang awalnya digelung ke atas tersebut tergerai dan menghiasi punggungnya.
Kini, penampilan Tsamara sudah tidak memakai penutup kepala dan membiarkan rambutnya yang panjang tergerai bebas.
"Apakah seperti ini yang kamu inginkan dariku?"
Zafer yang dari tadi tersenyum simpul, merasa sangat senang begitu melihat istrinya semakin cantik tanpa penutup kepala. "Lain kali, tanpa aku memerintah, kamu harus berpenampilan seperti ini jika berada di hadapanku."
Tsamara hanya diam membiarkan apa yang dilakukan oleh Zafer. Seolah sangat memuja rambutnya yang selama ini tertutup di balik penutup kepala. Bahkan merasa bahwa sikap pria itu seperti sangat berlebihan.
Hingga beberapa saat kemudian kembali mendengar apa yang diucapkan oleh pria itu dan membuatnya merasa seperti terbakar karena tubuh memanas.
Zafer tidak puas hanya mengusap lembut rambut panjang yang tergerai di bawah bahu tersebut karena saat ini mendekatkan wajah dan berbisik di dekat daun telinga Tsamara setelah menggigitnya.
"Kamu adalah wanita pertama yang membuatku tidak rela pria lain melihat penampilanmu yang terbuka seperti ini."
Tsamara yang merasa bulu kuduk meremang saat ini, seketika bergerak mundur untuk memberikan jarak di antara mereka agar wajah tidak bersentuhan ketika menanggapi perkataan Zafer yang dianggap hanyalah sebuah rayuan semata.
"Apa kamu dulu juga mendapatkan Rayya dengan cara merayu seperti ini?"
__ADS_1
Zafer awalnya berpikir jika Tsamara akan malu-malu atau merasa berbunga-bunga seperti seorang remaja yang jatuh cinta begitu mendengar rayuannya. Namun, saat harapan tidak seindah ekspektasi karena perkataan sinis Tsanawiyah, sehingga membuatnya merasa sangat kesal.
Apalagi Tsamara terus saja menyebut nama Rayya saat mereka bersama dan hal itu seketika membangkitkan rasa emosi yang membuncah di dalam hati.
"Kamu tidak boleh menyebut nama Rayya saat kita bersama karena rasanya itu membuat telingaku panas. Hal itu benar-benar membuat mood berubah jadi buruk saja." Kemudian Zafer saat ini menyerahkan makanan yang tadi dipegang kepada Tsamara.
"Suapi aku! Kamu memang sangat pandai membuat emosiku naik." Kemudian Zafer membuka botol berisi minuman berwarna merah tersebut dan menuangkan ke dalam gelas.
Lalu menikmati minuman favoritnya yang tak lain adalah paling mahal wine paling mahal di hotel. Bahkan mencoba untuk menawarkan pada Tsamara. "Apa kamu mau?"
Refleks Tsamara yang sama sekali tidak ingin menikmati minuman beralkohol karena itu dilarang agama, sehingga langsung menggelengkan kepala.
"Aku minum air putih saja." Kemudian menyuapkan satu sendok makan ke dalam mulut karena tidak mungkin menyuapi Zafer ketika pria itu sedang menikmati minuman berwarna merah tersebut yang sering dilihat di film-film.
Zafer hanya terbahak begitu mendengar penolakan Tsamara karena sebenarnya sudah mengetahui jika wanita itu tidak akan mungkin mau minum minuman yang dilarang agama.
Ia memang mengetahui bahwa dalam agama yang dianut, minuman beralkohol memang dilarang untuk dikonsumsi. Namun, tidak bisa membuang kebiasaan yang dari dulu selalu dilakukannya.
"Padahal jika kamu minum wine ini sedikit saja, pasti akan ketagihan. Wine ini sebenarnya hampir mirip dengan tubuhmu."
Tsamara sebenarnya dulu pernah merasakan minuman berwarna merah tersebut ketika bersama dengan Rey, tapi tidak ingin menceritakan pada Zafer karena hanya akan mengejeknya berlagak sok suci.
Hingga merasa tidak terima jika tubuhnya disamakan dengan minuman memabukkan itu.
"Jangan samakan tubuhku dengan minuman beralkohol."
"Wine ini selalu membuatku ingin menikmatinya ketika pertama kali merasakan." Zafer menggerakkan gelas berisi minuman berwarna merah tersebut dan kembali meneguk sedikit.
Kemudian beralih menoleh ke arah Tsamara dan tersenyum menyeringai. "Begitu pun ketika pertama kali bercinta denganmu, aku ingin kembali melakukannya. Jadi, tidak salah jika menyamakan tubuhmu dengan wine ini karena sama-sama menjadi candu."
__ADS_1
To be continued...