Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Mengganggu pikiran


__ADS_3

Kemudian menoleh ke arah sosok wanita yang masih bersandar di punggung ranjang dengan menatapnya intens. Seolah sedang menunggu jawaban apa yang akan dikatakan.


"Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika kamu masih membawa laporan kesehatan yang sudah tujuh tahun lalu. Apakah kamu menjadikannya sebagai kenang-kenangan ataukah memang sengaja ingin menunjukkan padaku agar merasa takut padamu?"


Tsamara merasa bahwa pembicaraan di antara dirinya dan Zafer tidak akan pernah menemukan titik temu karena pria itu bertele-tele ketika menjawab. Hingga memilih untuk mengiyakan apapun perkataan dari pria yang seolah tidak mau mengakui jika saat ini tengah dilanda kekhawatiran sekaligus ketakutan.


"Anggap saja seperti yang kamu pikirkan karena aku tidak tahu kenapa masih menyimpan kenang-kenangan menyakitkan, serta mengerikan sepanjang sejarah hidupku. Rayya pasti sedang menunggumu di kamar. Ataukah kamu ingin bercinta denganku sekarang?"


Tanpa merasa malu, Tsamara memilih untuk berbicara seperti layaknya wanita murahan karena sebenarnya menganggap itu adalah cara yang ampuh untuk mengusir Zafer dari kamar. Apalagi mengetahui bahwa pria itu sebenarnya sangat takut padanya.


'Aku sangat yakin bahwa sebentar lagi pasti akan beralasan macam-macam dan keluar dari kamar karena takut tertular virus penyakit kelamin dariku jika bercinta,' gumam Tsamara yang saat ini mengarahkan tatapan intens pada sosok pria yang masih berdiri mematung.


Pria itu bahkan seperti tidak kuasa untuk melangkahkan kaki keluar dari ruangan karena kebingungan dan merasa malu.


Hari ini, semua harapan yang melambung tinggi seketika terhempas ke bawah setelah mendengar kenyataan buruk dari Tsamara dan benar-benar membuat Zafer sangat syok.


Bahkan semakin bertambah begitu melihat sikap Tsamara yang berubah menjadi seperti wanita liar karena bisa berbicara mengenai hal-hal intim tanpa merasa malu.


Bahkan perubahan sikap wanita yang sangat drastis tersebut seperti pisau yang berada di leher Zafer saat ini karena bagaikan ancaman yang bisa membahayakan nyawa.


'Sial! Kenapa situasinya berubah menjadi seburuk ini? Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika akan mendengar kenyataan seperti ini.'

__ADS_1


Setelah puas berargumen sendiri di dalam hati untuk meluapkan kekesalan pada Tsamara, Zafer saat ini menatap ke arah sosok wanita yang seperti tengah mengajak untuk bergulat.


Tatapan Tsamara sudah tidak seteduh dulu ketika awal-awal bertemu dengan wanita lemah itu karena saat ini terlihat sangat berbeda dan seperti berubah menjadi orang lain.


"Sepertinya aku harus berkonsultasi dulu pada dokter untuk mengetahui hal yang baik mengenai penyakitmu. Aku harus memastikan semuanya aman sebelum aku meminta hakku. Jadi, untuk malam ini, kamu bebas karena sepertinya Rayya lebih membutuhkanku."


Saat menyebut nama Rayya, Zafer baru mengingat bahwa wanita yang sudah dinikahinya tersebut dulu juga sering melakukan hal sama sepertinya, yaitu berganti-ganti pasangan di atas ranjang.


Sekarang pikiran buruk memenuhi kepalanya karena khawatir akan mengalami hal yang sama seperti Tsamara saat mengidap penyakit kelamin.


'Sial! Gara-gara mengetahui riwayat kesehatan Tsamara, aku jadi tidak tenang dan takut jika sampai mengalami hal sama. Sepertinya aku perlu mengajak Rayya untuk memeriksakan kesehatan organ intim.'


Zafer yang baru saja mengumpat di dalam hati, kini memilih untuk melambaikan tangan pada Tsamara. "Kamu tunggu saja giliran untuk memeriksakan kesehatanmu. Aku akan mempercayai perkataan dokter jika dilarang untuk melakukan hubungan intim denganmu, pasti tidak akan menyentuhmu sedikit pun karena harus menjaga kesehatan, bukan?"


"Nasib baik aku tidak langsung menyerangnya. Ternyata aku masih selamat dan tidak akan tertular penyakit kelamin. Meskipun tidak mematikan, tapi rasanya sangat mengerikan jika sampai mengalami seperti yang tadi diceritakan oleh Tsamara dengan sensasi terbakar pada sekitar area kelamin."


Zafer menelan ludah berkali-kali dan memilih untuk segera meninggalkan area kamar Tsamara karena ini segera melarikan diri. Saat berdiri di depan ruangan kamar Rayya, terdiam beberapa saat dan merasa ragu untuk membuka pintu.


Perkataan Tsamara benar-benar membuat Zafer saat ini selalu berpikir negatif mengenai kemungkinan jika Rayya juga bisa mengalami penyakit kelamin karena sering berganti-ganti pasangan di atas ranjang sebelum bersamanya.


Refleks Zafer berbalik badan dan memilih untuk berjalan meninggalkan kamar Rayya karena ingin tidur di lantai satu. Di mana di sana ada kamar tamu dan tidak ingin hari ini dipusingkan dengan dua wanita yang merupakan istrinya tersebut.

__ADS_1


Dengan melangkah menuruni anak tangga menuju ke kamar tamu tanpa memperdulikan beberapa pelayan yang menatap aneh setelah membungkuk hormat menyapa.


Apalagi malam telah larut dan mayoritas sudah masuk ke dalam alam mimpi. Namun, beberapa pelayan masih ada yang menyelesaikan pekerjaan.


Begitu berada di dalam kamar, Zafer segera mengunci pintu dan membaringkan tubuh di atas ranjang. Kini, ia menatap ke arah langit-langit kamar berwarna putih dengan lampu gantung yang indah menghiasi ruangan tersebut.


"Tsamara selalu berhasil membuatku tidak berkutik dan kalah. Apakah sengaja melakukan itu agar tidak menyentuhnya? Ataukah apa yang dikatakan tadi memang benar. Bahwa tidak ingin aku tertular penyakit jika sampai bercinta dengannya."


"Jika memang benar seperti itu, bukankah ia sangat perhatian karena mengkhawatirkan aku?" Zafer masih terdiam untuk mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan barusan dan tiba-tiba mengingat sesuatu yang sempat dilupakan gara-gara Rayya tadi yang marah-marah saat pulang kerja.


'Sial! Aku lupa memberikan ponsel yang tadi kubelikan untuk Tsamara,' gumam Zafer yang saat ini mengingat bahwa paper bag ada di mobil.


Namun, tidak berniat untuk mengambil karena sangat malas dan juga saat ini ingin menghindari Tsamara serta Rayya.


"Bahkan saat ini aku juga tidak membawa ponselku karena ada di dalam tas kerja. Pasti Rayya yang akan mengangkat panggilan jika ada yang menghubungi. Lebih baik aku beristirahat dan menenangkan pikiran yang saat ini sudah terlalu banyak diforsir."


"Mulai dari pekerjaan hingga masalah rumah tangga dan terakhir kekhawatiran mama pada papa."


Puas berbicara sendiri di dalam kamar seperti orang gila, ia pun memilih untuk memejamkan mata dan berusaha untuk melupakan semua hal buruk yang dikatakan oleh Tsamara mengenai penyakit kelamin yang pastinya sangat mengganggu di pikiran.


Hingga beberapa saat kemudian, suara napas teratur terdengar memenuhi ruangan kamar tersebut. Seolah menegaskan bahwa pria yang sudah larut dalam alam bawah sadar tersebut sangat kelelahan, baik secara fisik maupun pikiran.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2