Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Tamat riwayatku


__ADS_3

Kemudian Tsamara merasakan tangan dengan buku-buku kuat itu membalikkan tubuh dan tentu saja langsung bisa melihat sesuatu di balik gaun malam yang melekat di tubuh Tsamara.


Apalagi saat ini Tsamara bisa melihat jika Zafer tengah menatap ke arah dua gundukan sintal tanpa pelindung satu pun. 'Kenapa melihatku seperti itu? Seperti tidak pernah melihat saja. Bukankah sering melihat milik Rayya?'


'Aku harus segera menghentikannya yang curi-curi pandang padaku,' gumam Tsamara saat membuka suara untuk menguraikan suasana.


"Terima kasih sudah datang menolongku. Setelah selesai, kembalilah ke ruanganmu." Akhirnya Tsamara meloloskan kalimat yang berhasil menyadarkan Zafer saat menggendong tubuh dan membaringkan ke atas ranjang.


Selama beberapa saat tadi Zafer tidak berkedip melihat Tsamara tidak memakai dalaman dan tentu saja jelas sekali dua gundukan padat tercetak jelas.


Bahkan tidak berkedip karena pertama kali ini melihat penampakan seksi wanita yang ternyata terlihat sangat cantik. Selama ini, Tsamara menutupi dengan memakai pakaian besar panjang yang tidak pernah menampilkan lekukan tubuh dan juga rambut hitam berkilat panjang.


'Apa benar ini adalah Tsamara? Kenapa bisa berubah seperti ini? Bahkan sekarang aku bagaikan melihat orang lain,' gumam Zafer yang langsung tersadar dengan suara wanita itu.


Begitu membaringkan tubuh Tsamara ke atas ranjang, Zafer menggendong Keanu dan menurunkan di sebelah sang ibu. Bahkan saat ini, kembali indra penglihatan dimanjakan dengan pemandangan indah dari tubuh wanita yang hanya mengenakan gaun malam tipis itu.


Mendapatkan tatapan lapar dari Zafer, Tsamara merasa sangat kesal dan marah. Refleks berbicara untuk menyadarkan dari pikiran buruk yang mungkin saat ini tercipta.


"Tolong selimut itu!"


Zafer kini menelan ludah dan ingin sekali memukul kepala karena berubah seperti seorang pria bodoh hanya dengan melihat tubuh seorang wanita.


"Iya."


Zafer kini membuka selimut untuk menutupi tubuh yang dianggap sangat seksi tersebut dan merasa kecewa karena sudah tidak lagi bisa memanjakan indra penglihatan.


Menyingkirkan rasa canggung, Zafer menunjuk ke arah Keanu. "Langsung berhenti menangis setelah aku membaringkanmu di atas ranjang. Pasti tadi sangat mengkhawatirkanmu."


Tsamara kini mendekap erat tubuh mungil Keanu dan beberapa kali mencium kening malaikat kecil yang dianggap adalah harta berharga. "Terima kasih, Sayang karena sudah mengkhawatirkan Mama."

__ADS_1


"Inilah ikatan antara ibu dan anak. Nanti kau juga akan melihat dari istrimu—Rayya." Tsamara merasa aneh ketika pertama kali berbicara secara normal dan sama sekali tidak ada amarah di antara mereka.


Semua itu karena selama ini terbiasa dengan sikap kasar dan tatapan tajam penuh kebencian dari pria itu


Sementara itu, Zafer merasa tertampar dengan kalimat Tsamara yang menyadarkan akan posisi mereka. Bahwa ada jarak membentang yang seketika tercipta dan berbeda dengan beberapa saat lalu saat kulit saling menempel.


"Kamu benar. Aku sebentar lagi akan memiliki anak kembar dan Rayya pasti lebih menyayangi daripada kamu. Lain kali, hati-hati jika melakukan sesuatu. Sebenarnya apa yang tadi kamu lakukan, hingga bisa terjatuh?'


Zafer melihat dua ponsel di lantai dan juga alat berupa jarum yang diketahui untuk mengambil SIM card.


Kemudian membungkuk dan mengambil semua itu. "Sepertinya aku tahu."


Tsamara sama sekali tidak berkomentar karena merasa tubuh sakit semua, tapi tidak ingin mengatakan pada Zafer.


'Aku harus menghubungi ayah untuk menyuruh dokter yang menanganiku datang besok. Rasanya sakit sekali. Apa sesuatu yang buruk terjadi pada kakiku?' gumam Tsamara yang kini menoleh ke arah pria di bawah ranjang sedang berjongkok untuk memindahkan SIM card ke ponsel yang tidak hancur.


"Dari mana kau tahu nomorku? Aku bahkan tidak menyimpan kontak atas namamu." Zafer berbicara tanpa mengalihkan perhatian dari ponsel dan menunggu jawaban Tsamara.


"Papa sudah memberikanku semenjak mengutarakan niat untuk memaksamu menikahiku sebagai bentuk pertanggungjawaban." Tsamara menjawab sambil masih terus mengusap kening Keanu, agar kembali tidur karena saat ini sudah tengah malam.


Begitu melihat pria itu bangkit berdiri dan meletakkan ponsel di atas nakas, menandakan jika telah selesai. "Terima kasih. Aku akan tidur. Kamu kembali saja ke ruanganmu!"


Merasa seperti pepatah 'Habis manis sepah dibuang' Zafer menatap tajam wanita di atas ranjang tersebut. "Apa kamu sedang mengusirku?"


"Bukan seperti itu." Tsamara menjawab dengan gugup dan merasa bingung harus berkomentar apa atas pertanyaan dengan nada penuh kemurkaan tersebut.


"Dari tadi kamu bilang mau tidur. Mana buktinya?" Zafer kembali meluapkan kekesalan.


Tsamara kini terdiam dan membiarkan pria itu meledakkan semua yang dirasakan. Apalagi sangat malas menanggapi hal yang selalu menguras emosi.

__ADS_1


'Apapun yang kukatakan tetap salah di mata pria ini. Berbeda jika wanita itu yang melakukan kesalahan, pasti tanggapan sangat berbeda.'


'Tidak masalah, sayang. Ini hanya masalah kecil.' Tiba-tiba ia mengingat tentang mantan suami pertamanya yang dulu selalu mencurahkan cinta dan ekstra kesabaran dalam menghadapi semua sikap Tsamara.


'Aku tidak pernah mendengar kabar mereka setelah menikah dengan Rey sampai bercerai dan sekarang berakhir di sini. Akbar seperti menghilang ditelan bumi. Seolah tidak mengizinkan aku untuk sekedar mengetahui kabarnya. Semoga baik-baik saja dan hidup berbahagia dengan wanita yang bisa menyayangi putraku seperti anak kandung sendiri.'


Zafer yang dari tadi tidak ditanggapi oleh Tsamara karena terlihat melamun, kini menyadarkan dengan cara menjentikkan jari di depan wajah.


"Halo! Apa yang kau lamunankan sebenarnya?" Mendadak rasa ingin tahu menyeruak di dalam dirinya, sehingga memilih untuk bertanya.


Sementara itu, Tsamara hanya menggeleng perlahan karena tidak ingin pria itu melihat sisi lemah saat ini. "Bukan apa-apa. Apa kamu mau tetep di sini?"


Kembali mendapatkan pengusiran secara tidak langsung, Zafer memilih untuk segera meninggalkan kamar Tsamara dan kembali ke ruangan pribadi dengan berbagai macam perasaan bercampur aduk.


Antara, kesal, marah, ingin tahu, iba bercampur menjadi satu kesatuan yang menyiksa dan ingin sekali berteriak dengan kencang demi membuang pikiran yang mengganggu.


"Sialan wanita itu! Jika tahu begini, mana mungkin mau menolong tadi. Aku saja yang bodoh karena bersusah payah untuk mendobrak pintu dan menggendong wanita tanpa pakaian dalam. Rasanya kepalaku seperti hampir pecah saat ini."


Baru saja Tsamara membaringkan tubuh di atas ranjang, suara dering ponsel berbunyi dan tanpa melihat siapa yang menghubungi, langsung mengumpat, "Apa lagi? Apa kau Ingin meminta tolong untuk memakaikan bra dan ****** *****?"


Baru saja menutup mulut, suara dari seberang telpon membuat Zafer menarik kasar rambut.


"Apa katamu? Kamu memakaikan bra dan ****** ***** wanita cacat itu? Aku akan menghabisimu, Zafer!"


Zafer menjauhkan ponsel dari telinga dan memeriksa kontak yang menghubungi untuk memastikan bahwa saat ini tidak sedang mengigau. Begitu menyadari kecerobohannya, seketika mengumpat di dalam hati.


'Sial! Tamat riwayatku sekarang!'


To be continued ...

__ADS_1


__ADS_2