
"Ternyata kau ada di sini, Rayya?" Erina hanya mencoba untuk berbasa-basi karena sebenarnya sangat malas berbicara dengan menantu nomor dua tersebut.
Sementara itu, Rayya hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun karena saat ini sedang dikuasai oleh amarah begitu memikirkan bahwa wanita itu seperti sengaja mendekatkan Zafer dengan Tsamara agar hubungan mereka berkembang lebih baik.
Padahal yang diinginkan saat ini adalah Zafer tidak berdekatan dengan Tsamara. Apalagi berpikir bahwa malam ini ingin tidur bersama sang suami karena semalam sudah sendirian di atas ranjang dan sangat tersiksa karena terlelap di pagi buta.
Zafer yang bersitatap dengan Tsamara, menelan saliva dengan kasar karena tidak tahu harus menanggapi perintah dari sang ibu saat ada Rayya yang memiliki emosi lebih tinggi.
Jadi, memilih untuk mencari aman dengan tidak bersuara untuk menjawab perintah dari wanita paruh baya yang sudah menaruh nampan di atas nakas di sebelah ranjang.
"Tadi Mama berniat untuk menyuapi Tsamara, tapi dipanggil karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Sepertinya ini tentang pesta kejutan yang tadi dibahas dengan teman lamanya di restoran."
Kemudian Erina mengarahkan punggung tangan untuk mengecek dahi Tsamara karena berpikir bahwa menantunya tersebut masih belum turun suhu tubuh karena dari tadi tidak makan dan juga belum minum obat.
Benar saja, seketika menarik tangan dari dahi Tsamara Karena suhu tubuh masih tinggi. "Kamu masih demam tinggi, Tsamara. Kenapa tidak berbaring saja?"
Tsamara yang merasa tubuhnya dingin, sehingga tidak terlalu memperdulikan suhu tubuh yang tinggi. "Aku sangat lelah karena dari tadi berbaring, Ma."
"Berikan padaku nampannya karena akan makan sendiri dan bukan anak kecil yang butuh disuapi." Tsamara mengulurkan tangan untuk meminta makanan yang dibawakan oleh mertuanya tersebut yang masih tidak bergerak untuk memenuhi keinginannya.
"Papa memerintahkan Zafer untuk menyuapimu dan jika tidak menuruti perintah, kamu akan tahu seperti apa kemurkaannya. Kemungkinan terburuk adalah yang bisa diusir dari rumah ini tanpa membawa apapun."
Erina tidak ingin membuat masalah dan memilih untuk mengingatkan anak dan menantu tersebut agar patuh. Apalagi mengetahui jika sampai sang suami marah, benar-benar akan mengusir putra sendiri demi bisa merubah Zafer menjadi pria yang baik.
Kemudian menoleh pada Rayya yang berdiri di dekat dinding sambil mengamati interaksi mereka. "Zafer harus berbuat adil pada dua istri dan itu sudah menjadi kewajiban suami."
"Jadi, tidak boleh ada rasa iri yang kamu rasakan pada Tsamara karena jika dihitung, sudah mendapatkan lebih banyak dari wanita yang tidak bisa berjalan ini. Apakah hanya karena diperintahkan untuk menyuapi istri sendiri, kamu akan marah?"
"Padahal biasanya kamu selalu bersama Zafer dan Tsamara sama sekali tidak marah ataupun iri padamu, padahal juga berstatus sebagai istri sah dan berhak mendapatkan apapun."
__ADS_1
Akhirnya Erina mengeluarkan jurus ampuh untuk memberikan petuah pada Rayya agar bisa memposisikan diri sebagai orang lain.
"Bagaimana perasaanmu jika kamulah yang menjadi Tsamara? Mungkin sudah bunuh diri karena tidak kuat dengan cobaan yang diberikan tuhan atas rumah tangga yang baru saja dibina muncul wanita kedua."
Kemudian beralih menatap ke arah putranya. "Jangan sampai papamu marah hanya karena hal sepele seperti ini. Bahkan tidak menyuruhmu untuk melaksanakan kewajiban dengan memberikan nafkah lahir pada Tsamara. Jadi, jangan menanggapi secara berlebihan."
Tentu saja tiga orang yang ada di ruangan kamar tersebut hanya diam dan tidak membantah perkataan dari wanita paruh baya tersebut.
Mereka memiliki pemikiran yang berbeda-beda dan hanya bisa mengungkapkan di dalam hati karena tidak berani membantah wanita itu yang mulai berjalan pergi meninggalkan ruangan kamar setelah memberikan sebuah ultimatum untuk mengancam.
Tsamara yang sebenarnya ingin menyuruh Zafer agar segera pergi tanpa menuruti perintah dari sang ayah yang diwakilkan oleh wanita paruh baya tersebut.
Akan tetapi, khawatir akan menjadi kesalahpahaman, yaitu dianggap menginginkan Zafer diusir dari rumah.
Jadi, tidak ingin berkomentar apapun dan memilih untuk menyerahkan keputusan pada Zafer, serta Rayya harus melakukan apa.
'Aku benar-benar dalam keadaan serba salah saat ini,' gumam Tsamara yang saat ini masih mengunci rapat bibir dan sekilas melihat ke arah Zafer masih diam saja dari tadi.
"Apa yang harus kulakukan?" Zafer yang merasa sangat pusing karena tidak tahu harus melakukan apa saat dua istri berada di hadapan.
Tentu saja saat ini memilih aman dengan cara bertanya pada dua wanita yang berstatus sebagai istrinya tersebut. Sebenarnya tidak perlu bertanya pada Tsamara karena mengetahui apa yang diinginkan wanita itu saat sudah hafal dengan segala tingkah dan prinsip hidup istri pertamanya tersebut.
Namun, saat sang ibu mengatakan adil, sehingga berpikir untuk bertanya pada keduanya. Bahkan mengetahui bahwa Rayya akan menjawab tidak boleh menyuapi Tsamara karena merasa cemburu, tetapi ingin mendengar sendiri dari mulut wanita itu.
Zafer saat ini menatap secara bergantian, mulai dari Tsamara yang hanya diam membisu dan beralih pada Rayya saat menampilkan wajah memerah karena dikuasai oleh rasa amarah yang pastinya membuncah di dalam hati, tetapi berusaha untuk menahan diri agar tidak berteriak di depan ibunya.
Tsamara yang awalnya hanya ingin diam dan menerima apapun keputusan Zafer, kini akhirnya membuka mulut untuk berkomentar sesuai dengan apa yang dipikirkan.
"Sebenarnya ini adalah masalah sepele, tetapi harus diambil pusing seperti ini. Terserah apapun yang akan kamu lakukan, aku tidak akan melarang." Melirik sekilas ke arah Rayya yang masih diam membisu. "Keputusan ada di tangan nyonya rumah utama di rumah ini."
__ADS_1
"Aku hanyalah wanita yang menumpang sementara di sini, jadi tidak perlu bertanya padaku."
Rayya dari tadi sekuat tenaga menahan diri agar tidak meledakkan amarah dengan berteriak di dalam ruangan kamar tersebut dan berpikir bahwa saat ini tidak ingin Zafer menyuapi Tsamara.
Kini, Rayya hanya menatap sinis ke arah Tsamara dan tidak ingin menanggapi pujian yang dianggap hanya merupakan sebuah sindiran. Sekarang menatap intens wajah Zafer yang dari tadi menyerahkan keputusan padanya dan Tsamara.
"Apakah jika aku melarangmu, kamu akan menurutinya?"
Zafer tentu saja sudah menduga apa yang akan dikatakan oleh dua istrinya tersebut dan persis seperti yang ada di pikirannya. Kini, memilih untuk tidak mengambil pusing dan langsung mengungkapkan pertanyaan balik pada Rayya.
"Jika kamu siap hidup tanpa harta dari keluargaku, aku akan menuruti permintaanmu."
'Ini adalah jawaban paling aman atas pertanyaan Rayya saat ini,' gumam Zafer yang saat ini tengah menatap intens Rayya karena ingin melihat seperti apa respon dari wanita itu.
Merasa seperti tertampar dengan kalimat sendiri, Rayya hanya menelan ludah dengan kasar sambil mengumpat di dalam hati.
'Sial! Zafer seolah menyadari bahwa aku tidak akan berkutik dengan pernyataan barusan,' gumam Rayya yang saat ini terus sadar dari Lamunan begitu mendengar kalimat Zafer yang semakin memojokkan.
"Jika bersedia, sekarang kemasi semua barangmu. Kita pergi dari sini dan tinggal di apartemenmu. Mungkin untuk beberapa lama aku tidak bisa bekerja dan akan meminta kamu yang memenuhi semua kebutuhanku karena pastinya semua kartu kredit akan disita oleh papa."
"Kemudian wanita inilah yang akan mendapatkan semua harta keluarga Dirgantara. Sepertinya ini memang takdirku," ucap Zafer yang saat ini sudah berjalan mendekati Rayya dan memeluk pinggang ramping wanita itu untuk mengajak berjalan keluar dari ruangan kamar.
Namun, Rayya seketika melepaskan tangan Zafer yang melingkar di pinggang. "Kenapa kamu menjelaskan sedetail itu padaku? Seolah ingin menyalahkanku jika diusir dari sini."
Zafer yang mengatakan hal sebenarnya, tetapi kembali disalahkan, saat ini tidak berhenti memijat pelipis karena merasa pusing menghadapi Rayya.
"Memangnya poin mana yang menyebutkan aku menyalahkanmu? Lebih baik kamu sebutkan karena mungkin aku tidak sadar."
Rayya hanya menampilkan wajah masam karena laki-laki merasa kalah saat selalu mendapatkan pertanyaan balik dari Zafer.
__ADS_1
'Kenapa sekarang aku merasa seperti seorang penjahat di depan suami dan wanita cacat itu?' gumam Rayya yang saat ini masih bingung harus menanggapi.
To be continued...