Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Tidak tega


__ADS_3

Rayya yang merasa shock melihat perkelahian dua pria berbeda generasi yang bahkan bukan merupakan anak kecil lagi tersebut, refleks berlari untuk menghentikan dengan cara berdiri di hadapan Zafer.


"Ayah, hentikan!" Rayya bahkan sudah merentangkan tangan untuk menghalangi dua pria itu melakukan kesalahan lagi dengan berkelahi.


Bahkan ia melirik ke arah belakang, di mana sosok pria yang saat ini tengah memerah wajah karena dikuasai oleh kemurkaan hendak membalas dendam pada sang ayah.


"Zafer, tahan emosimu! Jangan mengacaukan pernikahan kita! Kenapa kamu datang terlambat saat orang yang menikahkan kita sudah datang dan harus menunggu kedatanganmu. Sebenarnya apa saja yang kamu lakukan di rumah itu, sampai bisa terlambat begini."


Amarah Rayya yang dari tadi ditahan, kini diluapkan begitu melihat Zafer. Berpikir jika pria di belakang tersebut akan bisa menyadari kesalahan dan menjelaskan semua yang terjadi.


Namun, yang terjadi justru sangat membuatnya membulatkan mata dengan jawaban pria yang berbicara seolah tanpa dosa tersebut.


Saat suasana hati Zafer tidak baik semenjak pagi ini karena sikap Tsamara dan baru menemukan fakta baru, yaitu mantan suami wanita itu ternyata diam-diam masih memperhatikan.


Entah Tsamara mengetahui hal itu atau tidak, Zafer ingin memastikan dengan kembali menyuruh detektif untuk menyelidiki. Namun, baru saja masuk ke dalam rumah malah mendapatkan sebuah pukulan yang membuat sudut bibir berdarah, tentu saja menambah kemurkaannya saat ini.


"Apakah hanya masalah kecil seperti ini kalian menanggapi dengan berlebihan seperti ini? Hanya beberapa menit aku terlambat, apakah harus mendapatkan sebuah pukulan hingga bibir robek?"


"Jika aku merobek mulut ayahmu untuk membalas perbuatan pria tua bangka ini, apakah kamu akan marah dengan membatalkan pernikahan ini? Jika kamu ingin melakukan itu, lakukan saja karena aku tidak akan ambil pusing dengan hal tidak penting ini!"


Tidak ingin semakin bertambah pusing dengan semua masalah yang seolah telah memenuhi kepala, Zafer kini memilih untuk berbalik badan dan berniat meninggalkan semua orang yang ada di ruangan tersebut.

__ADS_1


Seolah tidak memperdulikan apapun lagi mengenai tanggapan semua orang karena bersikap sesuka hati saat akan menikah. Bahkan ia saat ini sangat muak dengan hal yang terjadi.


Berharap bisa mendinginkan kepala di tempat yang lebih tenang, ia sudah melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu utama rumah mewah keluarga. Sampai indra pendengaran menangkap suara teriakan dari wanita yang dari dulu dicintai, tetapi tiba-tiba sangat muak.


Sikap over posesif dan selalu mencurigai dari Rayya seolah mencekik dan merantai kebebasan Zafer. Bukan hubungan yang seperti itu diharapkan olehnya karena merasa tidak ada ketenangan sama sekali jika hidup dalam bayang-bayang kecemburuan.


"Zafer! Berhenti!" teriak Rayya yang semakin marah sekaligus terluka karena pria yang sangat dicintai tiba-tiba berubah di hari pernikahan.


Berpikir jika yang menjadi penyebab adalah Tsamara, Rayya bersumpah akan membalas dendam pada wanita itu. Namun, yang dipikirkan sekarang adalah ingin merubah pikiran pria itu agar tidak membatalkan pernikahan.


Masa depannya akan hancur jika gagal menikah dengan Zafer dan Rayya akhirnya berusaha untuk membuang rasa egois dan meredam emosi yang yang menyeruak di dalam hati ketika melihat sikap pria yang selama ini dicintai.


Rayya berlari untuk mengejar Zafer dan di saat bersamaan, mendengar suara bariton dari sang ayah.


Berniat untuk mengajak pulang dan berpikir lebih baik menikah dengan Raymond Abrisam Mengenai kehamilan Rayya, akan menyuruh untuk menggugurkan.


Namun, semua tidaklah seperti yang diharapkan karena putrinya mengempaskan tangannya dan memilih melawan. "Aku tidak mau, Ayah! Aku hanya mencintai Zafer dan menikah dengan pria yang sangat kucintai. Bukan dengan Raymond karena sama sekali tidak memiliki perasaan apapun."


"Dasar putri yang bodoh! Kamu hanya akan hidup menderita bersama pria itu. Ayah bisa menilai seperti apa pria yang jauh puja-puja itu. Ia tidak sebaik yang kamu pikirkan, Rayya! Sadarlah!" Leon masih berusaha untuk menyadarkan pilihan putrinya.


Bahwa hidup berumah tangga tidak hanya melulu masalah cinta karena ada banyak hal yang terjadi selain itu. Berbicara seperti itu berdasarkan pengalaman dan membuat putrinya menyadari bahwa pilihan menikah dengan pria egois dan arogan hanya akan menyiksa diri.

__ADS_1


Sementara itu, saat Zafer mendengar teriakan dari Rayya tadi, berpikir jika wanita itu akan memohon untuk jangan pergi, tetapi ketika sekali lagi dianggap remeh dan buruk oleh pria paruh baya itu, kini membuka suara tanpa menoleh ke arah belakang untuk menatap seseorang yang diajak bicara.


"Bawa saja putrimu keluar dari rumah ini jika kamu khawatir ia hidup menderita bersamaku. Aku juga tidak akan memaksa seorang wanita menikah denganku karena masih banyak yang lain bersedia menjadi istriku."


Kemudian Zafer kembali berjalan keluar dari rumah tanpa menoleh lagi ke belakang. Seolah sama sekali tidak memperdulikan Rayya lagi. Sebenarnya ia masih mencintai wanita yang telah hamil tersebut, tapi emosi yang meluap di dada, seolah seperti gunung berapi yang seolah ingin menyembur keluar.


Seperti ingin menghancurkan apapun yang dilalui. Bahkan suara tangisan dari Rayya yang memanggil nama dan menghentikan agar tidak pergi, sama sekali tidak diperdulikan.


Namun, ketika hampir sampai tiba di dekat mobil berwarna hitam yang merupakan kendaraan favorit, Zafer menghentikan niat untuk masuk ke dalam mobil ketika mendengar suara bariton dari sang ayah yang seperti biasa selalu mengancam mengunakan kekuasaan.


Bahkan melihat sang ibu pun ikut berlari mengejar dengan wajah memerah yang menjelaskan kekhawatiran.


"Zafer, berhenti!" Adam Dirgantara kini berjalan cepat menuju ke arah putra satu-satunya yang dimiliki.


Jika selama ini sudah terbiasa dengan perbuatan buruk Zafer, hari ini seolah sangat shock atas apa yang terjadi karena sama sekali tidak pernah menyangka kejadian seperti ini akan terjadi.


"Apa kamu sudah kehilangan akal dengan meninggalkan acara yang seharusnya sudah dimulai? Cepat kembali ke dalam! Jangan permalukan Papa seperti ini. Bukankah ini yang kamu inginkan dari dulu?"


"Kenapa setelah kami mengizinkanmu menikahi Rayya, kamu kembali membuat ulah?" Adam Dirgantara bahkan kini mengarahkan tangan ke atas untuk memukul kepala putranya, tetapi tidak jadi melakukan itu karena tadi melihat ayah Rayya sudah cukup memberikan hukuman, merasa tidak tega


Meskipun Adam Dirgantara sering marah dan terkadang memukul Zafer, tetapi tidak bisa dipungkiri saat melihat Leon Pratama melakukan itu, berhasil memantik amarah dan tidak tega, sehingga tidak jadi melakukannya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2