
Zafer tadi langsung masuk ke dalam ruangan setelah mendengarkan semua percakapan mengenai mantan suami Tsamara. Berpikir jika akan mengikutsertakan dirinya untuk menyelesaikan masalah mengenai pria bernama Rey Bagaskara yang seperti tengah berusaha untuk mendekati keluarga mereka.
Namun, semuanya teralihkan dengan keinginan orang tua yang berencana untuk menikahkan menantu dengan pria lain dan bercerai dengan putra sendiri. Tentu saja situasi konyol itu seperti terasa sangat mengenaskan karena hanya dianggap boneka tak bernyawa.
Seolah bisa digerakkan sesuka hati oleh sang pemilik dan ia merasakan saat ini seperti itu.
"Tidak usah terlalu berlebihan dalam menanggapi hal ini, Zafer. Bukankah kamu merasa senang karena impianmu telah tercapai? Menikah dengan Rayya dan bercerai dengan Tsamara adalah tujuan utama dalam hidupmu. Mama benar, kan?" sarkas Erina yang tidak ingin kalah dari putranya.
Usahanya berhasil karena pria itu langsung merasa tertampar dan tidak bisa lagi berkomentar apapun dengan mengunci rapat bibir.
Sementara Adam Dirgantara saat ini ingin menertawakan ulah dari putranya yang terkena imbas dari perbuatan sendiri dan menyudutkan pada posisi paling mengenaskan seperti saat ini.
"Jika kamu bisa menjadi seorang putra yang membanggakan dan tidak mempermalukan nama baik keluarga, Pasti kami juga akan bersikap sama seperti ketika mempermalukan menantu."
Malas untuk membahas masalah yang dianggap tidak penting, Zafer memilih untuk mengalihkan pembicaraan mengenai pria yang harus segera ditangani dan mengancam ketenangan keluarga mereka.
"Lebih baik kembali kepada topik utama yang tadi dibahas. Apa rencana Papa pada pria bernama Rey Bagaskara tersebut?" Zafer ingin ikut andil dalam membasmi pria yang merupakan mantan suami dari Tsamara.
Namun, merasa sangat kesal begitu mendengar tanggapan sinis dari sang ayah yang seolah ingin sekali menampar berkali-kali dengan kenyataan pahit.
"Kamu tidak perlu tahu karena ini bukan urusanmu, Zafer. Kamu urus saja Rayya dan juga kandungannya agar bisa lahir ke dunia dengan tanpa kekurangan suatu apapun. Mengenai urusan Tsamara, biar Papa yang urus. Lagipula kalian adalah pengantin baru yang harusnya bersenang-senang."
Erina membenarkan apa yang disampaikan oleh sang suami dengan menyahut, "Jangan sampai Rayya merasa cemburu pada Tsamara yang sama sekali tidak ada hubungannya denganmu karena hanya berstatus di atas kertas saja."
"Jika sampai kecemburuan Rayya menyakiti sedikit saja kulit Tsamara, Mama akan menghukummu karena tidak mungkin membalas dendam pada wanita yang telah hamil."
Nada penuh ketegasan dan tatapan sinis, kini diarahkan oleh seorang ibu pada putranya sendiri karena selama ini sudah menahan sangat lama mengenai perbuatan buruk Zafer.
Seolah situasi dan kondisi saat ini sangat pas untuk membalas dendam, demi bisa menyadarkan putranya agar kembali menjadi pria yang baik setelah berhasil menikahi wanita yang selama ini dipuja-puja.
Meskipun dalam hati kecil seorang ibu sangat tidak yakin bahwa Zafer akan terbebas dari masalah setelah menikah dengan wanita yang dicintai. Apalagi sangat mengetahui seperti apa watak dari menantu yang pastinya tidak akan bisa membuat perasaan putranya damai.
'Mungkin perasaan yang kamu rasakan pada Rayya hanyalah nafsu semata dan setelah kalian tinggal bersama nanti, baru menyadari jika Tsamara jauh lebih baik. Saat itu terjadi, semoga semuanya belum terlambat.'
'Kerena Mama masih memiliki harapan besar agar kamu bersatu dengan Tsamara. Hidupmu akan bahagia ketika memiliki seorang istri yang baik dan bertutur kata lembut, serta berbakti kepadamu. Semoga harapan yang kupupuk hari ini memberikan hasil yang baik,' gumam Erina yang masih tidak bisa mengalihkan tatapan tajam pada Zafer.
__ADS_1
Selalu berada dalam posisi disudutkan oleh orang tua dan berakhir kalah di depan Tsamara, membuat Zafer seperti tidak mempunyai muka. Bahkan untuk sekedar menatap wanita itu saja seperti merasa malu.
Apalagi tidak ada dukungan untuknya karena orang tua lebih memilih Tsamara. Hingga ancaman dari sang ibu kembali membuatnya menelan kasar saliva. Namun, berusaha setenang mungkin karena tidak ingin terlihat kalah.
"Mama salah jika mengira Rayya akan menyakiti Tsamara karena merasa cemburu. Bahkan tadi aku ke sini dengan persetujuan dari Rayya. Kalau tidak percaya, tanya saja saat kalian tiba di rumah nanti. Rayya mengatakan akan bersikap dewasa dan mengerti, serta tidak terbakar api cemburu."
"Bukankah sekarang Rayya telah menjadi seorang istri yang baik? Harusnya kalian merasa senang karena aku memilih wanita yang pantas untuk dijadikan istri dan ibu dari anak-anakku."
Jika Zafer merasa sangat percaya diri ketika membanggakan Rayya yang tadi menghubungi dengan mengatakan tidak akan bersikap berlebihan seperti sebelumnya.
Hal sangat berbeda dirasakan oleh Tsamara ketika menggigit bibir bawah bagian dalam saat merasa rendah diri di mata Zafer.
'Sementara aku adalah wanita yang tidak pantas untuk dijadikan istri dan mengandung keturunan dari tuan Zafer.'
Adam Dirgantara dan Erina seketika menoleh ke arah Tsamara yang terlihat seperti sedang melamun dengan tatapan kosong.
Tentu saja mereka mengerti bahwa perkataan dari Zafer sangat melukai perasaan Tsamara saat ini.
Refleks Erina menepuk lengan kekar Zafer untuk menyadarkan bahwa perkataan itu menyinggung perasaan Tsamara. "Lebih baik kamu pulang dan bersenang-senang dengan Rayya sana!"
"Buat apa kamu banggakan istrimu jika saat ini berada di sini? Konyol sekali! Sana pulang! Jangan sampai Rayya nanti menelpon Mama untuk memastikan kamu saat ini bersama kami dan tidak hanya berduaan dengan Tsamara."
"Astaga! Mama dari tadi menyakiti anak sendiri dengan menjewer dan memukul. Aku bahkan bukan anak kecil lagi yang pantas diperlakukan seperti ini."
Tanpa mereka sadari, beberapa saat kemudian mendengar suara Tsamara yang terkekeh ketika melihat interaksi ibu dan anak tersebut.
Tsamara yang tadinya terluka karena merasa menjadi seorang wanita yang tidak pantas untuk pria manapun, mendengar suara keributan dari ibu dan anak di hadapan.
Seolah mendapat tontonan gratis dan sangat menghibur perasaan Tsamara kala melihat seorang ibu yang sedang memarahi anak kecil. Bahkan saat ini sudah membayangkan akan melakukan hal seperti itu pada Keanu ketika remaja nanti.
Sontak tiga orang yang saat ini berdiri tersebut, sama-sama menoleh dan menatap Tsamara yang sedang tertawa.
Melihat wanita yang jarang mengulas senyuman tersebut terdengar saat tertawa, seorang menjadi hiburan tersendiri bagi mereka.
Momen sangat langka tersebut dimanfaatkan oleh Adam Dirgantara dengan meraih ponsel miliknya di saku celana dan langsung membidikkan kamera untuk mengabadikan menantunya yang sedang tertawa.
__ADS_1
"Cantik sekali." Adam melihat hasil kamera yang baru saja menyimpan foto Tsamara ketika tertawa.
Tsamara merasa sangat terkejut dan berniat untuk menghentikan ulah pria paruh baya yang tiba-tiba mengambil foto. Namun, sudah terlambat.
"Apa yang Papa lakukan?"
"Memotret putriku yang sangat cantik saat tertawa. Sepertinya aku harus menyuruh istriku untuk sering memukul Zafer agar melihatmu seperti ini."
Erina seketika menghentikan pukulan karena ingin melihat hasil dari foto sang suami. Seketika wajah berminat ketika melihat sesuatu yang jarang terjadi.
"Wah ... ternyata kamu sangat pintar mengambil momen penting, Sayang. Putriku sangat cantik ketika tertawa. Selama ini yang kita lihat hanyalah wajah murung dari Tsamara, tapi sekarang ada sedikit cahaya yang terpancar dari wajah natural tanpa make up dan sama sekali tidak meninggalkan kecantikan alami yang dimiliki."
Kemudian menoleh ke arah Zafer dan tersenyum menyeringai. "Bersiaplah untuk menerima pukulan Mama setiap hari."
"Astaga! Benar-benar sangat konyol. Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika orang tuaku berubah seperti ini karena mengorbankan anak kandung demi menantu." Zafer refleks menatap sosok wanita yang kembali tertawa dan memang diakui memiliki pesona tersendiri.
Saat Tsamara tertawa, Zafer baru menyadari bahwa wanita itu sangat cantik. Namun, tidak mungkin mengungkapkan secara langsung seperti yang dikatakan oleh sang ayah dan memilih untuk menyimpan dalam hati sambil bergumam.
'Papa dan Mama benar. Selama ini, aku tidak pernah melihat Tsamara tertawa seperti ini. Hanya wajah murung yang selalu ditunjukkan dan menghiasi rumah. Namun, hanya dengan hal kecil saja yang dilihat, bisa tertawa seperti beban yang dipikul langsung lenyap.'
Tsamara yang saat ini tersenyum, mengungkapkan apa yang dirasakan. "Aku saat ini sedang membayangkan memberikan hukuman pada Keanu saat remaja nanti. Mungkin akan sama persis seperti yang Mama lakukan saat ini."
"Apakah aku akan diberikan umur panjang dan bisa melihat perkembangan putraku sampai suatu saat nanti memiliki pasangan?"
"Entah sampai di mana takdir akan membawaku, aku akan menjalani semuanya dengan ikhlas. Mencurahkan seluruh kasih sayang pada putraku yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah."
"Semoga saat dewasa nanti, Keanu tidak marah dan menghakimiku karena telah membuatnya tumbuh tanpa figur seorang ayah."
Tsamara berbicara sambil menatap ke arah putranya dan berharap jika kasih sayang yang dicurahkan sudah cukup dan tidak menuntut figur seorang ayah.
Sementara itu, Zafer tiba-tiba merasakan ada sesuatu bagaikan menancap tepat di jantung saat ini ketika memikirkan kalimat menyakitkan dari Tsamara.
Bahkan sudah mengalihkan perhatian pada bocah laki-laki yang sedang tertidur pulas di sofa.
'Ya, benar. Anak itu tidak pernah merasakan figur seorang ayah. Apakah pantas seorang anak mendapatkan akibat dari perbuatan salah orang tua,' lirih Zafer yang kini mendengar suara ketukan pintu.
__ADS_1
Di saat bersamaan, pintu ruangan kamar perawatan terbaik itu terbuka dan terlihat seseorang berjalan masuk dan seketika membuat semua orang membulatkan mata.
To be continued...