Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Mood baik berubah jadi buruk


__ADS_3

Sementara itu, Zafer kini tersenyum simpul melihat Rayya serius menatap ponsel dan berpikir jika wanita yang dicintai sedang berusaha untuk menjadi seorang istri disukai mertua.


"Terima kasih, Sayang karena mau berubah demi aku dan menunjukkan bahwa sangat mencintaiku dengan melakukan ini. I love you."


Rayya yang dari tadi asyik mengumpat di dalam hati dengan tatapan pada ponsel karena berharap Zafer percaya. Hingga usaha yang dilakukan berhasil karena pria itu baru saja tersenyum simpul dengan mengungkapkan kalimat cinta.


Kini, ia pun tersenyum bahagia dengan menunjukkan raut wajah yang memancarkan aura berbinar. "Aku juga sangat mencintaimu. Jadi, apapun akan kulakukan demi hubungan kita."


"Ya, aku ingin menjadi istri yang baik dan menantu disayangi oleh mertua. Jadi, jangan ganggu aku untuk belajar. Kamu fokus saja mengemudi dan jangan sampai mengalami kecelakaan. Jika terus menatapku, nanti tidak tahu ada mobil di depan dan akan kamu tabrak nanti. Jangan sampai kita mati konyol karena perbuatanmu."


Zafer yang masih sesekali menatap wajah cantik Rayya dan terkekeh. "Tenang saja, Sayang. Percayakan hidupmu padaku karena aku selamanya akan membahagiakanmu."


Setelah berbicara dan melihat Rayya menyunggingkan senyuman, kini ia kembali fokus menatap jalanan yang dikelilingi lampu kerlap-kerlip di kanan kiri.


Sementara Rayya kembali menunduk menatap ke arah ponsel. Seolah sangat serius mempelajari tentang bagaimana cara berbicara yang sopan pada orang tua Zafer nanti. Padahal yang sebenarnya asyik mengumpat karena muak hanya dengan membayangkan saja.


'Melihat orang tua Zafer yang sama sekali tidak menyukai saja membuat aku sangat kesal dan merusak mood. Bagaimana mungkin bisa belajar dari sini. Kenyataan malah ingin membanting ponsel ini sekarang. Sabar, Rayya. Ini semua demi kebahagiaan dan juga harta yang akan menjadi milik Zafer dan dua anak inilah yang mewarisi kelak.'


'Sekarang aku tinggal memikirkan cara untuk memikirkan pasangan suami istri yang sangat memuakkan itu. Apakah dengan cara dicekik, digantung, kecelakaan atau menyuruh orang membunuh mereka saat di jalan?'


Rayya kini tengah mempertimbangkan cara yang akan dipilih dan pastinya tidak menimbulkan kecurigaan dari polisi dan juga melibatkan nama sendiri karena harus dengan sangat matang melakukan itu.


'Tidak boleh ada jejak yang akan melibatkan nama baikku. Jadi, tidak boleh terburu-buru dan mencari orang kepercayaan yang bisa membantu menyingkirkan mereka.'


Lamunan Rayya yang asyik memikirkan cara untuk menyingkirkan orang tua yang akan menjadi mertua, kini seketika musnah begitu merasakan tangan dengan buku-buku kuat mendarat di pundak dan refleks langsung mengangkat pandangan dari ponsel ke wajah dengan pahatan sempurna tersebut.

__ADS_1


"Serius sekali saat belajar, Sayang. Sampai tidak menyadari jika aku sudah mematikan mesin mobil dan kita sekarang tiba di rumah." Zafer semakin cinta dengan wanita yang terlihat tengah berusaha keras untuk merebut hati orang tua yang akan menjadi mertua.


"Jadi, kita sudah sampai?" tanya Rayya yang seketika memutar mata dan melihat bahwa saat ini sudah tiba di halaman rumah dan mobil terparkir rapi di belakang kendaraan roda empat yang sudah berwarna hitam dan merah.


"Aku gugup dan khawatir. Orang tuamu tidak akan memarahiku karena hamil benihmu, kan?" Rayya yang kini masih menatap Zafer karena menunggu jawaban dari pria dengan jarak beberapa centi tersebut.


Refleks Rayya sangat terkejut dengan ulah sang kekasih yang tiba-tiba membungkam bibir. Hanya sekilas dan terlihat pria itu tertawa.


"Astaga! Apa yang kamu lakukan?" Mengarahkan pukulan pada lengan kekar Zafer.


"Aku sangat gemas melihat wajah yang diliputi kekhawatiran ini," seru Zafer yang kini merangkum kedua sisi pipi putih Rayya.


"Jangan gugup atau takut selama ada aku, oke. Ayo, kita masuk dan tunjukkan pada wanita cacat itu siapa sebenarnya ratu di rumah ini."


Zafer melepaskan kuasa begitu melihat Rayya tersenyum dan aura kekhawatiran seketika pudar dari wajah cantik yang sangat dipuja. Kemudian melepaskan sabuk pengaman wanita itu.


Begitu membuka pintu utama yang tidak dikunci, Zafer melangkah masuk dan langsung disambut oleh sang ayah.


Pria paruh baya yang kini sedang berdiri di depan mata Zafer itu tengah mengarahkan tatapan tajam dan menatap ke arah tangan yang dari tadi tidak melepaskan kuasa dari sang kekasih.


"Aku pulang bersama ibu dari calon anakku, Pa." Dengan santai dan tanpa merasa takut pada sang ayah, kini Zafer memberikan kode pada Rayya untuk berjalan ke arah sofa.


"Duduklah, Sayang karena kamu tidak boleh kelelahan karena sedang hamil. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada janin di rahimmu."


Seperti yang disarankan oleh Zafer, Rayya sama sekali tidak mengeluarkan suara karena hanya mengangguk perlahan dan mendaratkan tubuh di atas sofa.

__ADS_1


'Rasanya aura menegangkan ini berhasil membuat bulu kuduk meremang seketika. Bahkan tatapan tajam pria tua itu ingin sekali membuatku mencongkel matanya dengan pisau,' sarkas Rayya di dalam hati dan memilih untuk menjadi penonton untuk melihat perdebatan antara ayah dan anak.


Adam Dirgantara masih belum berkomentar karena ingin melihat sejauh mana yang dilakukan oleh Zafer.


Begitu melihat kemesraan dan perhatian Zafer pada wanita itu, langsung mengingat Tsamara. 'Bagaimana menantuku menghadapi ini? Aku yang mendorongnya pada penderitaan seperti ini.'


'Sepertinya aku harus mengingatkan Zafer, agar tidak memperlihatkan kemesraan di depan Tsamara,' gumam Adam yang kini membuka suara untuk kembali meluapkan emosi.


"Jika kamu masih ingin merasakan fasilitas kemewahan, jangan pernah tunjukkan kemesraan di depan Tsamara karena dia adalah istri sah secara hukum dan agama!"


"Apa kau pikir hati Tsamara terbuat dari besi dan tidak akan merasa sedih melihat kegilaan yang kau tunjukkan ini? Satu hal lagi, jika sampai kejadian seperti ini terulang lagi, Papa tidak akan segan-segan mengusirmu. Atau kau mau mencoba? Silakan!"


Adam Dirgantara berpikir hanya bisa melakukan itu untuk sang menantu karena saat ini tidak bisa menolak fakta bahwa Zafer telah menghamili wanita yang dari tadi hanya diam.


Zafer ingin sekali mengungkapkan nada protes pada sang ayah karena selalu membela Tsamara, tetapi merasakan lengan ditahan oleh Rayya yang menggelengkan kepala.


"Aku tidak masalah dan lebih baik patuhi saja perintah papa." Rayya kini merasa seperti menjadi orang lain ketika bersikap bijak di depan pria paruh baya yang ingin segera disingkirkan.


'Tunggu saja kematianmu pria tua. Sebentar lagi, aku akan mengirimmu dan juga istrimu ke neraka,' gumam Rayya yang kini masih menatap wajah memerah yang dipenuhi oleh kemurkaan.


Akhirnya Zafer tidak jadi membuka mulut dan merasa seperti seorang pria lemah. Kemudian beralih menatap ke arah sang ayah. "Baiklah, Pa."


"Aku akan mematuhi semua perintahmu. Apalagi Rayya kini juga merasa jika itu adalah hal terbaik untuk kami. Mengenai alasanku membawa Rayya ke rumah sakit karena tadi pingsan di apartemen. Jadi, ingin memastikan keadaan ibu dan bayi tidak apa-apa."


Bahkan Zafer menjelaskan jika dokter pribadi tidak bisa datang karena ada masalah ketika dalam perjalanan. Sampai saat melihat sang ibu dan wanita yang sangat dibenci datang, akhirnya memilih untuk mengakhiri pembicaraan.

__ADS_1


'Rasanya melihat wanita tidak berguna itu membuat mood baik berubah buruk,' batin Zafer yang kini semakin bertambah kesal ketika melihat sikap manis sang ayah pada Tsamara dan sangat berbanding terbalik pada Rayya yang jelas-jelas tengah mengandung calon keturunan Dirgantara.


To be continued...


__ADS_2