
Beberapa saat lalu, Zafer memilih untuk meredakan rasa panas di kepala karena pusing memikirkan kejadian beberapa hari ini yang selalu membangkitkan amarah. Hingga terlihat berdiri di bawah guyuran air shower yang dingin.
Namun, baru beberapa menit membasahi kepala dan seluruh tubuh yang sudah basah, mendengar suara ketukan pintu dan berpikir bahwa Rayya ingin ke kamar mandi untuk kencing.
Tanpa membuang waktu, ia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Namun, mengerjapkan mata begitu melihat pemandangan di hadapan, yaitu tubuh telanjang wanita yang memiliki tubuh seksi.
Seolah melambai untuk segera dinikmati. Hingga belum sempat berkomentar apapun, Rayya sudah menghambur menciumnya.
Tentu saja sebagai seorang pria yang normal, tidak mungkin bisa menahan diri ketika ada santapan di depan mata. Zafer yang awalnya membiarkan Rayya berbuat sesuka hati, lama-kelamaan membalas dan mereka memadu kasih di dalam kamar mandi dengan suara ******* dan lenguhan setelah mencapai puncak kenikmatan.
Keduanya sama-sama merindukan kegiatan percintaan mereka yang selalu liar. Rasa pusing yang tadi dirasakan oleh Zafer seolah seketika berkurang setelah mengeluarkan cairan kenikmatan di belahan milik wanita yang dari tadi sibuk menghiasi ruangan dengan suara ******* yang seksi.
Hingga beberapa menit kemudian, mereka keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri.
Zafer yang saat ini memakai jubah handuk, terlihat menggendong Rayya ala bridal style dan menurunkan di atas ranjang. Kemudian berjalan ke ruangan ganti untuk berpakaian.
Sementara itu, Rayya tersenyum puas hari ini karena bisa membuat Zafer kembali memuja tubuhnya. 'Kau lihat ini, wanita cacat? Zafer akan selalu bersamaku dan hanya memanfaatkanmu sebagai pelampiasan semata.'
'Harusnya setelah ini, wanita itu sadar diri dan tidak berpikir untuk bisa merebut Zafer dariku.'
Rayya yang masih duduk di tepi ranjang dengan memakai kimono, mengingat tentang perkataan dari Zafer mengenai ayah dan juga teman masa kecil.
'Sebenarnya apa yang ayah lakukan bersama Raymond? Mereka tidak merencanakan sesuatu, kan? Ataukah bertemu dengan Raymond karena ingin mengatakan bahwa aku tidak menerima lamaran dan sudah menikah dengan Zafer karena hamil?'
Berbagai macam pertanyaan saat ini masih menari di pikiran Rayya mengenai mantan teman kecil yang tadi dipuji oleh Zafer.
'Aku mungkin tidak akan mengenali Raymond saat bertemu di jalan karena sudah lama berpisah. Bagaimana dan seperti apa Raymond sekarang, aku sama sekali tidak tahu. Hanya saja, aku merasa penasaran dan ingin sekali bertemu. Pastinya tanpa sepengetahuan Zafer.'
__ADS_1
Rayya masih mencari ide untuk bisa bertemu Raymond tanpa melibatkan sang suami karena mengetahui bahwa itu hanya akan membuat masalah besar dan tidak ingin hal itu terjadi.
'Sepertinya aku harus mencari waktu yang tepat dan berbicara pada ayah untuk meminta nomor ponsel Raymond,' gumam Rayya beralih duduk di meja rias dan menyisir rambut basah yang tadi terlilit handuk kecil.
Kemudian mengeringkan rambut dengan hair dryer karena akan segera merebahkan diri di atas ranjang setelah merasakan tubuhnya cukup lelah begitu selesai bercinta dengan Zafer.
Sementara itu, Zafer yang saat ini berada di ruang ganti, tengah menatap pakaian santai yang dilipat rapi di lemari kaca berukuran raksasa tak jauh dari tempat berdiri saat ini.
'Aku tadi sangat bersemangat ketika pulang karena berpikir akan menghabiskan waktu bersama Tsamara, tapi ternyata berada di sini.' Zafer mengambil piyama dan langsung memakainya.
Jika biasanya ia suka tidur dengan bertelanjang dada dan bawahan celana pendek, tapi kali ini sengaja ingin memakai piyama saat tidur.
Sesaat terdiam di depan tumpukan baju yang sangat rapi tersebut dan mengingat tentang Tsamara yang saat ini masih sakit.
'Sepertinya fisik Tsamara sangat lemah karena masih demam saat malam.'
'Apakah papa nanti akan menyuruhku menjaga Tsamara saat pulang? Kenapa belum pulang juga dari membeli makanan?' Zafer sudah berpakaian lengkap dan masih memikirkan keadaan Tsamara.
'Gagal!' gumam Zafer yang berjalan menuju ke arah pintu keluar dan melihat wanita di depan cermin sedang sibuk dengan alat untuk mengeringkan rambut.
Karena juga ingin segera merebahkan tubuh yang terasa lelah setelah seharian bekerja dan juga menyalurkan hasrat pada Rayya, Zafer duduk di sebelah wanita itu.
"Sekalian keringkan rambutku!" Membuat gerakan menyisir rambut yang basah dengan jemari.
Rayya yang kebetulan hampir selesai, ini beralih ke arah sang suami yang duduk di sebelah kiri dan memilih untuk bangkit berdiri karena posisi pria itu lebih tinggi dan kesusahan jika melakukan dengan duduk.
Kemudian mulai sibuk dengan alat pengering rambut tersebut sambil bertanya-tanya di dalam hati.
__ADS_1
'Aku sangat penasaran dengan apa yang terjadi tadi pada Zafer dan ayah, serta Raymond. Apakah jika bertanya mengenai hal itu akan membuat Zafer marah? Apakah aku harus diam dan menutup masalah yang berhubungan dengan teman masa kecilku itu?'
Zafer saat ini bisa melihat pantulan wajah wanita yang terlihat sibuk dengan rambut, tetapi seperti pandangan kosong, sehingga merasa penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh Rayya yang terlihat melamun.
"Apa yang saat ini kamu pikirkan?" Zafer kemudian memberikan kode pada Rayya untuk berhenti karena merasa rambutnya sudah tidak basah lagi.
Rayya seketika mengangkat pandangan yang dari tadi menunduk menatap ke arah rambut Zafer sambil bertanya-tanya tentang apa yang tadi diungkapkan oleh pria itu.
Namun, Rayya memilih menggelengkan kepala untuk membantah hal itu. Berpura-pura tidak memikirkan apapun adalah cara yang tepat untuk mengalihkan perhatian pria yang saat ini menatap melalui cermin.
"Tidak. Aku sedang mengeringkan rambutmu. Memangnya apa lagi?"
"Aku tahu kamu sedang berbohong padaku. Apalagi sangat terlihat jelas saat ini. Sekarang lebih baik katakan apa yang saat ini mengganggu pikiranmu?" Zafer yang tadi masih duduk, kini bergerak memutar tubuh dan saat ini berhadapan dengan wanita yang berdiri di hadapan.
Rayya kini meletakkan alat pengering rambut di atas meja rias.
Ingin menguraikan aura ketegangan, Rayya memilih untuk mendaratkan tubuh di pangkuan pria dengan tatapan mengintimidasi tersebut.
"Apakah kamu tidak marah jika aku berbicara jujur?"
"Tergantung apa yang akan kamu katakan." Zafer kali ini menahan tubuh Rayya agar tidak jatuh.
Tentu saja Rayya saat ini langsung menggeleng perlahan dan mengerucutkan bibir karena tidak puas dengan jawaban sang suami. "Aku tidak ingin hubungan kita yang sudah baik-baik saja kembali menghadapi prahara seperti beberapa hari ini."
"Aku benar-benar sangat tersiksa karena tidak tidur bersamamu setelah kita resmi menjadi suami istri. Lalu, apa gunanya menikah jika seperti itu yang terjadi?"
Tidak ingin Rayya kesal, Zafer saat ini memilih untuk menghentikan pembicaraan mereka karena akan berakhir panjang lebar dan kembali menyebut nama Tsamara. Merasa sangat tidak tega karena saat ini sedang sakit.
__ADS_1
'Biarkan Tsamara beristirahat karena masih sakit,' gumam Zafer yang saat ini menggendong Rayya dan menurunkan di atas ranjang.
To be continued...