Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Nyawa dibayar nyawa


__ADS_3

Tidak ingin ada kesalahpahaman dari Zafer, Rayya seketika mengungkapkan apa yang saat ini dirasakan dan berharap sang suami mau mengerti.


"Sayang, aku saat ini sedang hamil dan mana mungkin bisa menemani orang tuamu di dalam mobil."


"Aku takut jika nanti muntah-muntah di dalam mobil. Jadi, bukan aku tidak mau. Kamu mengerti, kan?" tanya Rayya yang saat ini masih mengarahkan tatapan intens pada sosok pria di hadapannya.


Karena tidak ingin berdebat ataupun membahas hal yang dianggap tidak penting, Zafer hanya mengangguk perlahan karena seolah suara terdekat di tenggorokan akibat kesedihan luar biasa yang dirasakan hari ini.


Ia bisa mengetahui jika Rayya saat ini memang sedang beralasan untuk membenarkan diri sendiri, jadi tidak mempercayai apa yang baru saja diungkapkan oleh sang istri.


'Apakah Rayya saat ini merasa lega dan senang karena orang tuaku sudah meninggal? Jadi, tidak akan ada yang melarangnya berbuat apapun sesuka hati di rumah,' gumam Zafer yang saat ini selalu dikuasai oleh berbagai macam pertanyaan mengenai sosok wanita di hadapannya tersebut.


Seolah setelah kematian orang tuanya, bisa melihat semua hal yang selama ini tidak dipahami. Mengenai apa alasan orang tuanya sangat membenci Rayya, seperti sudah bisa mengerti.


Bahwa ada alasan yang menyebabkan orang tuanya tidak menyukai wanita itu, sehingga tidak setuju ketika mengungkapkan niat untuk menikahi wanita yang bahkan sudah mengandung benihnya.


Namun, hari ini ia tidak ingin mengambil pusing karena berpikir harus fokus mengurus pemakaman untuk orang tuanya dengan cara memberikan semua hal terbaik.


Bahkan tadi sudah dihubungi oleh asisten pribadi sang ayah yang mengabarkan jika pihak media sudah mendengar dan sekarang gencar memberitakan mengenai kecelakaan yang menimpa orang tuanya.


Mungkin media sosial dan juga saluran televisi sudah menyiarkan mengenai kecelakaan yang menimpa orang tuanya dan berakhir meninggal dan banyak ucapan turut berdukacita berdatangan.


Saat Zafer hendak menuju ke mobil jenazah, menghentikan langkah begitu mendengar suara serak Tsamara.


"Tuan Zafer, biar aku saja yang berada di mobil. Rayya sedang hamil dan aku tidak bisa menolong jika terjadi sesuatu padanya. Jadi, lebih baik Anda yang menemani istri. Biar aku dan Keanu berada di mobil jenazah. Tolong bantu aku untuk naik."

__ADS_1


"Lagipula Anda harus mengurus administrasi terlebih dahulu, bukan?" Tsamara tidak tega melihat Zafer dengan raut wajah penuh kemuraman dan kesedihan.


Bahkan iris tajam berkilat tersebut sudah memerah karena dari tadi tidak berhenti mengeluarkan air mata kesedihan yang mewakili perasaan kehilangan orang tua yang sangat.


Zafer awalnya terdiam karena tengah mempertimbangkan apa yang baru saja diungkapkan oleh Tsamara, hingga mengambil keputusan untuk menyetujui karena jujur saja saat ini perasaan sedang hancur dan mungkin tidak akan berhenti menangis di dalam mobil jenazah orang tua.


"Baiklah."


Akhirnya Zafer yang sudah terlalu lelah untuk marah dan menyalahkan Tsamara atas kematian orang tuanya, kini mendorong kursi roda menuju ke arah mobil jenazah orang tuanya yang menunggu di sudut sebelah kiri.


Sementara Rayya memilih untuk menunggu Zafer di tempat yang sama karena tidak ingin melihat mayat pasangan suami istri yang sudah berhasil disingkirkan.


'Tsamara pasti berpikir ingin memanfaatkan ini untuk mengambil hati Zafer. Aku tidak akan membiarkan suamiku luluh pada wanita cacat itu. Apalagi sebentar lagi akan menyingkirkan Tsamara dari dunia ini untuk menyusu orang tua Zafer," lirih Rayya yang saat ini mendengar suara perawat yang memanggil untuk segera mengurus administrasi sebelum keluar dari rumah sakit.


Akhirnya Rayya berjalan di belakang perawat yang memintanya untuk menuju ke administrasi dan menyelesaikan tagihan.


"Apakah tidak apa-apa jika Keanu berada di mobil ini?"


Tsamara menganggukkan kepala untuk membenarkan. "Selama ada aku, Keanu akan tenang." Kemudian Tsamara menyuruh putranya duduk di sebelah kiri, agar tidak terlalu jelas menatap mayat pasangan suami istri dihadapan.


Sementara itu, Zafer saat ini masih belum beranjak dari tempat berdiri. "Sebenarnya aku ingin selalu bersama orang tuaku pada detik-detik terakhir sebelum pemakaman."


"Anda bisa melakukannya setelah tiba di rumah keluarga Dirgantara dan mendoakan di sebelah jenazah mereka. Papa dan mama pernah mengatakan padaku bahwa jika mereka sudah tidak ada di dunia, ingin Anda selalu mengingat dan mendoakan mereka."


Tsamara sebenarnya tidak ingin mengingatkan atau terkesan menasehati, tetapi mulai sekarang bertekad untuk merubah pria itu menjadi seorang putra yang bertanggung jawab dan juga bisa dibanggakan orang tua yang bahkan sudah tidak bisa melihat lagi karena berada di alam berbeda.

__ADS_1


Zafer yang seolah berat untuk melangkah meninggalkan mobil dengan dua mayat orang tuanya tersebut, seolah ingin bersama Tsamara di dalam mobil jenazah.


Jujur saja saat ini membutuhkan dukungan dari orang-orang yang tulus untuk menghibur, agar kuat menghadapi cobaan terberat dalam hidup.


Namun, menyadari tidak mungkin melakukan itu karena ada Rayya yang pernah hamil dan tidak mungkin membiarkan wanita itu sendiri.


"Baiklah, sekarang temani orang tuaku sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Nanti aku akan selalu bersama mereka."


"Aku akan menjadi putra yang pantas dibanggakan dan akan selalu mendoakan kepergian mereka," lirih Zafer yang saat ini menentukan kepala untuk memberikan kode pada petugas Rumah Sakit agar menutup pintu mobil dan menuju ke rumah keluarga Dirgantara.


Zafer melihat sang sopir sudah masuk ke dalam mobil dan mulai mengemudikan perlahan meninggalkan area rumah sakit, lalu melangkahkan kaki panjangnya untuk menghampiri Rayya yang ternyata tidak ada di tempat tadi.


"Ke mana Rayya?" Saat baru saja menutup mulut, Zafer mendapatkan pesan dari asisten pribadi sang ayah.


Kecelakaan yang menimpa orang tua Anda sudah ditangani oleh para polisi dan menegaskan bahwa itu terjadi karena sopir yang mengantuk. Anda harus bersabar menerima semua cobaan ini karena sudah menjadi takdir dari tuan Adam dan nyonya Erina.


Zafer seketika berpegangan pada dinding di sebelah kiri agar tidak jatuh terhubung begitu membaca pesan dari asisten orang tua dan membuatnya merasa sangat marah sekaligus hancur.


"Hanya karena kelalaian seorang sopir yang mengantuk, orang tuaku kehilangan nyawa. Aku benar-benar akan membunuh bajingan itu setelah mengurus pemakaman. Tidak akan kubiarkan pria yang menjadi penyebab orang tuaku meninggal itu masih bernapas."


"Nyawa harus dibayar nyawa!" sarkas Zafer yang saat ini terlihat memerah wajah karena dikuasai oleh amarah sekaligus kesedihan luar biasa ketika mengingat jika saat ini sudah kehilangan orang tua yang sangat disayangi.


Sementara itu, Rayya yang baru saja selesai mengurus administrasi, kembali menghampiri Zafer dan mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh pria itu dan membuat tubuhnya meremang seketika.


'Nyawa dibayar nyawa? Apakah Zafer akan membunuhku jika mengetahui bahwa yang menyingkirkan orang tuanya adalah aku?' gumam Rayya yang saat ini menelan saliva dengan kasar begitu mendekati sosok pria yang terlihat sangat murka tersebut.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2