Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Panggilan telpon yang mengganggu


__ADS_3

Zafer baru saja tiba di apartemen sang kekasih dan sudut bibirnya melengkung ke atas dari tadi saat sepanjang perjalanan menuju ke tempat tinggal Rayya. Ia merasa sangat senang karena akhirnya bisa kembali bersama wanita yang diketahui tengah mengandung benihnya.


Ia memencet passcode apartemen sang kekasih karena memang sudah sangat hafal. Tentu saja tidak ada rahasia di antara mereka semenjak menjalin hubungan. Jadi, ia bisa dengan mudah datang ke apartemen Rayya saat menginginkannya.


Saat pintu terbuka, Zafer melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah dalam apartemen dan mencari keberadaan sang kekasih karena keadaan sangat sepi. Seolah tidak ada aura kehidupan di sana.


Ia tadi memang sengaja tidak memberi kabar pada Rayya bahwa akan datang berkunjung karena ingin memberi kabar baik.


"Sayang!"


Zafer langsung menuju ke arah kamar yang selama ini menjadi tempat mereka berbagi kenikmatan bersama. Ia berpikir sang kekasih tengah beristirahat, tetapi tidak melihat ada wanita itu di atas ranjang.


Hingga ia pun meraih ponsel miliknya untuk mencari tahu, di mana sang kekasih berada saat tidak ada di apartemen. Namun, ia mengurungkan niat karena saat ini mendengar ada yang sedang memencet passcode.


"Sepertinya Rayya baru saja keluar. Pergi ke mana ia?" tanya Zafer yang kini memilih untuk keluar dari ruangan pribadi luas dengan segala perabotan mewah yang dibelikan dulu ketika menjalin hubungan.


"Sayang?" Zafer mengerutkan kening begitu melihat Rayya membawa beberapa botol minuman beralkohol. "Dari mana?"


Rayya merasa terkejut dengan kehadiran Zafer di apartemen, sekaligus senang karena ia tidak lagi kesepian lagi.


"Ternyata kamu datang." Menunjukkan botol minuman beralkohol yang akan ia konsumsi untuk menghilangkan rasa bosan yang dirasakan. "Aku keluar sebentar untuk membeli ini."


"Ini adalah teman terbaik untuk mengusir rasa sepi dan bosan yang kurasakan saat kau tidak bersamaku."


Refleks Zafer langsung merebut botol minuman keras yang diketahui sangat membahayakan janin di rahim sang kekasih. "Kamu tidak boleh minum ini, Sayang."

__ADS_1


"Kenapa tidak boleh?" Rayya semakin bertambah kesal dan mulutnya berubah mengerucut begitu sang kekasih melarang menikmati minuman yang bisa membuatnya menghilangkan rasa kesepian dan juga frustasi ketika mengingat keadaannya saat ini.


"Kamu sedang hamil anakku. Jika sampai terjadi sesuatu pada anak kita, bagaimana?" tanya Zafer yang saat ini berpikir akan membawa minuman keras itu ke rumah dan mengkonsumsi sendiri.


Sementara Rayya hanya tersenyum miris saat mendengar kalimat anak kita dari bibir pria yang sangat dicintai, tetapi tidak bisa bertanggung jawab untuk menikahinya setelah mengetahui bahwa ia hamil.


"Bagaimana kamu bisa menyebut anak kita jika aku bukan istrimu? Bisa saja orang tuamu atau orang lain berpikir bahwa janin yang aku kandung ini bukan anakmu karena kamu adalah suami dari wanita bernama Tsamara itu."


Suara Rayya bahkan terdengar bergetar dan ada nada kekecewaan dari perkataan yang diungkapkan pada pria saat hanya diam saja tersebut. Seolah tidak mempunyai jalan keluar untuk permasalahan yang mereka hadapi.


Akhirnya Rayya memilih untuk mengempaskan tubuhnya di atas sofa di ruang tengah. "Aku sangat tidak suka dengan diammu itu, Zafer. Aku ingin kamu menikahiku meskipun hanya sebagai istri."


"Aku tidak akan mempermasalahkan itu karena satu-satunya yang kuinginkan adalah sebuah pertanggungjawaban dari seorang pria yang telah menghamiliku." Rayya yang saat ini merasa kepalanya sangat pusing, perlahan memijat dan merasakan jika Zafer mendaratkan tubuh di sebelahnya dan mengambil alih apa yang ia lakukan.


Zafer langsung memijat pelipis dari sang kekasih untuk menenangkan perasaan wanita yang hamil benihnya. "Aku datang ke sini karena membawa kabar baik untukmu, Sayang."


Zafer langsung menganggukkan kepala tanpa ragu dan tersenyum simpul. "Tentu saja, Sayang karena hari ini wanita pengincar harta yang sangat kubenci itu sudah pergi dari rumah. Ia bersedia untuk bercerai dan mengatakan pada orang tuaku bahwa bukan aku yang menginginkan untuk berpisah."


"Jadi, aku tidak akan kehilangan semua harta yang memang seharusnya menjadi milikku. Kemudian kita menikah setelah aku mengurus surat perceraian." Zafer beralih mengusap lembut perut yang masih datar sosok wanita yang akan melahirkan keturunannya tersebut.


"Jadi, jaga janin ini agar tumbuh dengan sehat di rahimmu dan kita akan membesarkannya dengan penuh cinta. Aku akan menikahimu dan semua yang kamu inginkan menjadi kenyataan, yaitu menjadi istri Zafer Dirgantara."


Tubuh Zafer seketika terhuyung ke belakang karena merasakan sang kekasih menghambur memeluknya dengan penuh bahagia.


"Sayang, aku mencintaimu. Kenapa kamu tidak menghubungiku untuk mengatakan berita baik ini. Jadi, aku tidak akan membeli minuman beralkohol sebagai pengusir rasa kesepian saat kamu tidak ada bersamaku." Rayya kini masih memeluk erat tubuh kekar yang sangat dicintai.

__ADS_1


Hingga ia pun bisa menghirup aroma maskulin yang selalu menjadi candunya selama ini.


Zafer refleks langsung mengusap lembut rambut panjang yang tergerai di bawah bahu tersebut. "Jika aku mengatakannya dengan menghubungimu di telpon, itu namanya bukan kejutan, Sayang."


"Aku sudah memenuhi impianmu untuk menjadi istriku. Sekarang apa hadiahnya?" tanya Zafer yang kini meminta sesuatu karena saat ini sedang dikuasai gairah ketika wanita itu memeluknya.


Rayya seketika menarik diri dan mencubit perut sixpack dari pria yang saat ini tersenyum menyeringai padanya dan tentu saja ia mengerti apa yang diinginkan oleh sang kekasih saat ini.


"Dasar pria nakal dan mesum. Memangnya hari ini kamu mau berapa ronde? Aku akan siap melayanimu karena telah membuatku merasa bahagia."


Zafer kini langsung berakting seperti tengah memikirkan tawaran dari sosok wanita yang terlihat sangat seksi di matanya. "Berapa, ya? Empat, lima, enam, atau sepuluh ronde?"


"Astaga! Kamu sudah gila! Kita langsung praktek saja dan membuktikan siapa diantara kita yang paling hebat."


Rayya bangkit berdiri dari sofa dan menarik pergelangan tangan sang kekasih yang terlihat sudah menatapnya dengan tatapan parau dan membuktikan api gairah terpancar dari sana.


Zafer menggelengkan kepala dan menahan diri agar tidak mengikuti langkah kaki Rayya "Aku ingin suasana yang berbeda, Sayang."


Rayya mengerutkan kening karena tidak memahami kalimat ambigu dari sang kekasih. "Berbeda bagaimana?"


Zafer menunjuk ke arah sofa yang berada di belakangnya. "Di sini saja. Aku pernah melihat video bercinta di sofa dan sepertinya sangat menyenangkan."


Refleks Rayya mengangguk setuju dan langsung bergerak untuk meloloskan satu persatu kancing kemeja yang membalut tubuh kekar dan sixpack Zafer.


"Aku akan menuruti apapun yang kamu inginkan malam ini, Sayang."

__ADS_1


Saat Zafer menikmati perbuatan dari Rayya, dering ponselnya berbunyi dan membuatnya merasa sangat kesal. Wajah memerah terlihat jelas saat ini ketika meraih benda pipih di celana. Ia mengerjapkan kedua mata begitu melihat kontak yang menghubungi.


To be continued...


__ADS_2