
'Lebih baik aku tidak mau memikirkan apapun selain kesembuhan kakiku dan juga Keanu,' gumam Tsamara yang saat ini berbalik badan dari posisi miring ke kanan dan berubah menjadi telentang.
Tentu saja karena ingin melihat apakah Zafer sudah tidur atau belum. Tsamara awalnya masih memejamkan mata dan menunggu sampai beberapa menit karena khawatir jika pria yang tadi meledakkan bukti kenikmatan di dalam mulutnya terbangun.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit dengan posisi mata terpejam, ia perlahan membuka mata dan ingin melihat, apakah pria yang berada di atas sofa tersebut sudah tertidur.
Benar saja, apa yang ditebak olehnya, kini bisa melihat sosok pria dengan kaki menggantung di sofa itu telah tertidur pulas.
Rasa tidak tega saat melihat pria yang merupakan pemilik kamar tersebut malah tidur di sofa dan pastinya akan membuat tubuh pegal saat bangun di pagi hari.
'Kasihan sekali tuan Zafer.' Tsamara saat ini melirik ke arah keranjang di sebelah kanan tepatnya samping Keanu. 'Di sana masih ada tempat yang cukup. Apa aku bangunkan saja, tapi nanti jika salah paham dan membuat masalah, bagaimana?'
Selama beberapa menit ia terdiam dan tidak bisa memutuskan. Akhirnya memilih untuk membiarkan semuanya seperti itu. Berpikir jika pria tersebut hanya satu hari tidur di sofa, karena besok pasti akan kembali ke ruangan kamar Rayya.
Akhirnya Tsamara memilih untuk kembali memejamkan mata karena merasa kepala pusing dan juga mata terasa perih. Semua itu karena masih demam. Berharap setelah beristirahat yang cukup, akan segera sembuh.
Suasana malam yang bertabur bintang seolah mengiringi perjalanan tidur semua orang di malam hari. Hanya hembusan napas teratur yang terdengar di ruangan kamar Zafer dan Tsamara.
Sementara itu di ruangan yang berbeda, sosok wanita yang saat ini masih berada di atas ranjang dengan posisi memeluk guling dan wajah memerah karena dikuasai oleh amarah, tak lain adalah Rayya.
Setelah kepergian sang suami yang seolah tidak peduli karena sama sekali tidak mau merayu, kini menatap ke arah langit-langit kamar sambil meremas sprei.
"Zafer! Kenapa kamu pergi dari kamar ini dan tidak tidur di sofa? Apakah aku perlu untuk mengajarimu satu persatu cara membuat hati istri senang? Bahkan kamu bukan anak sekolah dasar yang tidak tahu apapun dan perlu dijelaskan."
"Jika aku tadi tidak merasa gengsi, akan menyuruh Zafer tetap berada di ruangan ini.
"Namun, aku tidak bisa melakukan itu saat sedang marah padanya. Baru satu hari berada di rumah ini, sudah membuatku stres seperti ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hari-hari menjalani kehidupan penuh masalah di keluarga ini."
__ADS_1
"Aku tidak tahan lagi!" Rayya kini memilih untuk bangkit berdiri dari ranjang dan keluar dari ruangan kamar menuju ke arah anak tangga.
Begitu kaki telanjang Rayya menuruni anak tangga, tempat yang pertama kali dituju adalah dapur. Jika saat ini tidak sedang mengandung, pasti akan mencari minuman beralkohol untuk melampiaskan amarah yang dirasakan.
Namun, tidak mungkin melakukan itu karena menyadari bahwa di rumah mertuanya tersebut tidak ada minuman yang dicari. Akhirnya memilih untuk mencari makanan karena hanya itu yang terpikirkan.
Berharap dengan makan banyak, bisa segera kenyang dan tertidur, lalu melupakan semua kejadian hari ini.
Saat ia membuka kulkas, berjengkit kaget saat mendengar suara seorang wanita paruh baya.
"Anda mencari apa, Nyonya? Biar saya yang menyiapkan kebutuhan Anda." Kepala pelayan yang baru saja selesai memeriksa semua pekerjaan dari semua pekerja yang ada di rumah itu, berniat untuk mengecek kompor sebelum tidur.
Namun, begitu melihat wanita yang merupakan istri kedua dari sang majikan laki-laki, ingin mencari tahu apa yang dibutuhkan.
Rayya yang refleks memegangi dada karena sangat terkejut, kini menoleh ke arah wanita dengan pakaian berwarna hitam tersebut.
"Saya tadi ingin memeriksa dapur dan melihat Anda. Jadi, berpikir jika memerlukan sesuatu, sehingga ingin membantu Anda." Wanita paruh baya tersebut kini kembali menegakkan tubuh setelah mengungkapkan kalimat penyesalan.
Tidak ingin membuang waktu untuk semakin merasa marah, akhirnya Rayya memilih duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan dapur.
"Aku sangat lapar dan ingin makan sesuatu. Kau buatkan aku spaghetti." Rayya memilih untuk menghukum wanita yang telah membuatnya terkejut.
Sebenarnya tadi melihat ada sisa makanan di kulkas dan bisa dihangatkan untuk dimakan, tetapi sengaja ingin melampiaskan kekesalan dengan menghukum wanita tersebut yang menawarkan diri.
"Baiklah. Saya akan membuatkan Anda spaghetti bolognaise. Tunggu saja di kamar, Nanti akan saya antarkan setelah selesai memasak."
Refleks Rayya menggelengkan kepala karena tidak ingin kembali ke dalam kamar yang hanya membuatnya merasa marah karena mengingat perbuatan Zafer.
__ADS_1
"Aku ingin berada di sini dan melihatmu masak untukku, agar mengetahui bahwa kau tidak memberikan racun padaku."
Sosok wanita yang sudah bekerja selama 30 tahun lebih di rumah itu, kini hanya diam dan tidak ingin berdebat dengan menantu perempuan majikan. Jadi, memilih diam saat mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan untuk memasak spaghetti.
Padahal di dalam hati merasa sangat kesal, karena dicurigai oleh anggota baru di rumah itu.
'Tuan Adam dan sang istri bahkan sangat mempercayaiku, sehingga menyerahkan semua urusan rumah tangga tanpa mengatur. Namun, wanita yang baru berada di sini, curiga seolah aku sangat membenci dan ingin berbuat jahat. Apakah semua orang yang ada di rumah ini dicurigai oleh wanita ini?'
Saat menyalakan kompor untuk merebus air, pelayan tersebut kini menyiapkan bahan-bahan lain.
Sementara Rayya masih duduk di tempat yang tadi dan melihat siluet belakang wanita paruh baya di depan kompor tengah sibuk memasak.
'Aku bisa mencari tahu mengenai orang tua Zafer dari wanita ini karena sepertinya sudah lama bekerja di sini,' gumam Rayya yang memilih untuk menguraikan keheningan malam di ruangan dapur tersebut.
"Sudah berapa lama kau bekerja untuk keluarga ini?"
Tanpa berniat untuk berbalik badan, pelayan tersebut langsung menyahut, " Sekitar 32 tahun, Nyonya. Saya bekerja saat tuan Adam dan nyonya Erina baru menikah."
"Wah ... ternyata sudah sangat lama." Rayya yang merasa sangat terkejut dengan jawaban wanita itu, ini memikirkan sesuatu. "Jadi, kau sudah sangat hafal dengan kebiasaan para majikan di sini?"
"Iya, kira-kira seperti itu, Nyonya."
"Aku ingin menjadi istri dan menantu perempuan yang baik di rumah ini. Jadi, ingin mengetahui kebiasaan suami dan juga papa, serta mama. Apakah kau bisa menjelaskan atau menceritakan semuanya padaku?" Rayya ingin mencari celah dari cerita pelayan tersebut.
Jadi, saat melaksanakan rencana untuk menyingkirkan orang tua Zafer, disesuaikan dengan hal yang mungkin akan diceritakan oleh wanita paruh baya tersebut.
Sementara itu, wanita itu kini sudah meniriskan spaghetti setelah direbus, berbicara mengenai hal yang diketahui.
__ADS_1
To be continued...