Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Kelemahan


__ADS_3

"Aku pun akan memberikan jalan bagi perusahaanmu untuk bisa bekerja sama dengan Dirgantara Grup. Setelah nanti kursi kepemimpinan jatuh pada suamiku begitu mertuaku mati, semua akan berada dalam kendaliku."


"Apa kamu tidak ingin perusahaanmu semakin maju dan berkembang jika bekerja sama dengan Dirgantara Grup yang sangat terkenal di kota ini?" Rayya sebelumnya mengetahui jika Harry sedang mengembangkan bisnis baru yang juga bergerak di bidang properti.


Jadi, menganggap tawaran yang baru saja dikatakan pada sang mantan kekasih akan sangat menguntungkan.


Apalagi saat ini, perusahaan Harry belum berkembang dengan baik karena berpikir jika masih membutuhkan tender besar dan investor. Jadi, memanfaatkan kelemahan itu.


Semua informasi tersebut didapatkan oleh Rayya dari salah satu teman yang tanpa sengaja ditemui ketika membeli minuman beralkohol dan tiba-tiba membahas mengenai Harry. Hal itulah yang tadi membuatnya langsung mengingat tentang mantan kekasih tersebut untuk meminta bantuan.


Dulu sebenarnya Harry dan Rayya adalah teman baik dan saling mengerti dengan keadaan masing-masing. Bahkan telah lama mereka berteman tanpa ada ikatan hubungan melebihi sahabat.


Namun, takdir seolah tidak berpihak pada mereka untuk hanya sekedar berteman karena saat mabuk, keduanya hilang kendali dan bercinta. Tentu saja semenjak saat itu, mereka tidak bisa menghentikan dan memilih untuk menikmati dan menjalin hubungan lebih dari sekedar sahabat.


Hingga saat Rayya setia, malah dikhianati oleh Harry yang memang diketahui adalah casanova dan tidak bisa menghentikan kebiasaan buruk menjalin hubungan dengan hanya satu wanita.


Meskipun sangat marah, tetapi Rayya tidak mengungkapkan karena memilih untuk kembali melanjutkan petualangan mencari sosok pria yang bisa memberikan kasih sayang.


Apalagi tidak ingin patah hati seperti seorang remaja yang selalu menangis tersedu-sedu dan tidak bisa menerima kenyataan ditinggalkan pasangan yang masih dicintai.


Sampai akhirnya ia bertemu dengan Zafer dan menjalin hubungan. Meskipun pada awalnya hanya ingin bersenang-senang, tetapi lama-kelamaan rasa nyaman dirasakan sampai menyadari jika ingin memiliki Zafer selamanya.


Sementara itu, Harry yang saat ini merasa sangat tertarik dengan tawaran menguntungkan dari sang mantan kekasih sekaligus sahabat, memilih untuk mengangguk perlahan dan tersenyum simpul.


Menyadari bahwa Rayya tidak akan bisa melihat tanggapan itu, sehingga memilih untuk membuka suara.

__ADS_1


"Baiklah. Aku setuju dan akan mencarikan orang untuk melaksanakan perintahmu."


Seketika sudut bibir Rayya melengkung ke atas karena merasa senang dan berpikir jika satu masalah yang mengganggu telah mendapatkan jalan keluar.


"Pilihan yang tepat, Harry. Baiklah, kamu bisa menghubungiku setelah menemukan orang yang terbiasa melenyapkan nyawa dengan sangat bersih tanpa kecurigaan dari polisi."


Saat menutup mulut, indra pendengaran menangkap suara-suara bising dari luar dan merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi.


"Baiklah kalau begitu, aku sedang sibuk. Kabari aku nanti!"


"Oke," sahut Harry di seberang telpon.


Kemudian Rayya mematikan panggilan dan beranjak dari posisi untuk berjalan menuju ke arah pintu. Begitu membuka pintu dan keluar, melihat siluet belakang pasangan suami istri paruh baya bersama wanita yang sangat dibenci, yaitu Tsamara.


'Wanita sialan itu sudah pulang? Bagaimana mungkin?' gumam Rayya yang saat ini mengepalkan tangan melihat wanita saingan telah pulang ke rumah.


Rayya yang masih bergumam sendiri di dalam hati dengan perasaan meluap karena dikuasai amarah, kini semakin bertambah murka begitu melihat mertua dan wanita yang sangat dibenci tersebut masuk ke dalam kamar Zafer.


'Jadi, ini yang membuat Zafer melarangku berada di kamar itu? Apa dari tadi memang sudah tahu jika wanita cacat itu akan pulang?' Ia menggelengkan kepala untuk tidak membenarkan tuduhan pada sang suami.


'Tidak! Zafer dari tadi bersamaku dan aku yakin tidak mengetahui ini. Pasti mertuaku yang barusan mengajak wanita itu pulang. Ataukah karena Tsamara merasa takut pada Rey, sehingga memilih untuk tidak mau dirawat di rumah sakit?'


Merasa jika hal yang akan membuat posisinya terancam, kini memilih untuk kembali masuk ke dalam ruangan kamar dan langsung meraih ponsel yang masih berada di atas ranjang.


Kemudian mencari kontak pria yang tadi tanpa sengaja ditemui. Rayya memang sudah menyimpan nomor Rey tadi dan kini memencet tombol hijau.

__ADS_1


Begitu sambungan telpon tersambung, kini mendengar suara bariton dari seberang.


"Halo."


"Rey, ini aku Rayya." Tanpa basa-basi, ia langsung menceritakan apa yang baru saja dilihat. "Jadi, apa kamu sudah mengetahui jika mantan istrimu sudah pulang dari rumah sakit?"


"Aku tidak tahu. Sepertinya Tsamara takut padaku, sehingga memilih untuk menghindar dariku." Rey yang baru saja pergi ke kantin untuk membeli makanan, kini memilih untuk berhenti di salah satu lorong rumah sakit.


"Jadi, apa rencanamu? Tenang saja karena aku berada di pihakmu dan ingin kamu bisa kembali pada Tsamara. Pasti kamu sudah tahu jika aku tidak ingin berbagi suami. Aku harap kamu segera bertindak untuk memisahkan Tsamara dari suamiku."


Rayya yang pada awalnya ingin melenyapkan nyawa Tsamara, kini tiba-tiba berubah pikiran karena menganggap jika kematian akan lebih mudah untuk wanita yang dianggap saingan tersebut. Jadi, lebih tertarik jika melihat Tsamara hidup tersiksa bersama pria yang ditakuti, yaitu mantan suami.


Jadi, akan mendukung apapun yang dilakukan oleh Rey. "Bahkan bila perlu, aku akan membantumu jika kamu membutuhkan bantuan."


"Tidak perlu!" jawab Rey tanpa berpikir karena memang tidak ingin ada orang lain yang mencampuri urusan pribadi bersama mantan istri. "Aku sudah mempunyai rencana karena mengetahui kelemahan Tsamara."


Rey tersenyum smirk sambil bersandar di dinding salah satu lorong rumah sakit karena merasa yakin jika Tsamara sebentar lagi akan kembali jatuh ke pelukan.


Sementara itu, Rayya yang merasa sangat penasaran, memilih untuk mengungkapkan dan berusaha mencari tahu. "Sepertinya kamu tidak percaya padaku. Padahal jika ada yang membantu, semua akan terasa lebih mudah. Aku benar-benar sangat penasaran dengan apa rencanamu."


"Nanti kamu akan mengetahui sendiri dan jadilah penonton saja. Lagipula kamu pun sedang hamil dan sepertinya akan lebih baik banyak beristirahat karena wajahmu saja terlihat sangat pucat." Rey yang tidak ingin semakin dicerca pertanyaan, memilih untuk berbohong.


"Dokter memanggilku, aku harus pergi!"


Kemudian Rey langsung menutup telpon dan masih menatap ke arah ponsel. Kini, membuka galeri foto dan tersenyum sambil mengusap layar.

__ADS_1


"Kelemahanmu berada di genggamanku, Sayang. Kamu akan kembali padaku bersama Keanu," ucap Rey yang saat ini tengah tersenyum smirk sambil menatap ke arah layar ponsel.


To be continued...


__ADS_2