Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Tamu Sementara


__ADS_3

"Ini kamar yang akan menjadi tempatmu beristirahat. Jika perlu apa-apa, kamu bisa datang ke kamar yang ada di paling ujung lantai atas ini. Itu adalah ruangan kami," ujar Erina yang saat ini tengah menyipitkan mata melihat kegelisahan dari raut wajah Rayya.


"Ada apa? Apakah kamu sedang memikirkan sesuatu?" Menunggu hingga calon menantu kedua tersebut menjelaskan penyebab raut wajah penuh kekhawatiran yang tampak jelas tersebut.


Rayya yang baru saja melihat siluet pria paruh baya yang sama sekali tidak disukai sudah masuk ke dalam kamar, kini berjalan semakin mendekati mertua tersebut.


"Itu, Ma. Ponselku mati karena kehabisan baterai. Apakah aku bisa meminjam alat pengisi daya?"


"Tentu saja! Biar aku ambilkan dulu karena ada di kamar. Kamu masuk saja dulu. Nanti aku akan mengantar alat itu." Kemudian berbalik badan dan melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah ruangan kamar.


Sementara itu, Rayya hanya menatap siluet belakang sosok wanita paruh baya yang selalu mencoba bersikap baik meskipun mengetahui itu dilakukan karena terpaksa.


'Meskipun wanita tua itu bersikap baik padaku, tidak bisa menutupi jika sebenarnya sangat membenciku. Sayang sekali, kebaikan mertuaku ini tidak akan pernah membuatku bisa memaafkan mereka. Aku tidak akan berbelas kasih pada kalian karena sebentar lagi akan mengirim ke neraka.'


Rayya tidak berniat untuk masuk ke dalam kamar karena kini tengah memanjakan mata untuk mengamati setiap sudut rumah megah lantai dua tersebut.


'Rumah, perusahaan dan semua aset kekayaan keluarga Dirgantara akan jatuh ke tanganku karena Zafer bersedia melakukan apapun untukku.' Rayya tersenyum smirk saat sibuk dengan rencana untuk segera membuat mimpi menjadi kenyataan.


Sementara itu di dalam kamar, Erina mengambil charger dan berniat untuk keluar, tapi ponsel yang ada di saku gaun selutut berdering dan mulai mengangkat panggilan dari nomor yang merupakan pelayan di rumah Zafer.


Merasa ada sesuatu yang tidak beres karena mengetahui jika pelayan itu akan menghubungi jika terjadi masalah di rumah. Sengaja mengatakan pada Sumi, agar mengabarkan hal buruk yang terjadi. Bukan pada sang suami karena hanya akan menambah masalah.


Jadi, ia berniat untuk menyelesaikan masalah dengan lebih sabar dan berbicara baik-baik pada Zafer. Berharap kasih sayang seorang ibu bisa merubah sifat keras kepala sang putra mahkota yang sangat disayangi dan dibanggakan.


Meskipun sering melakukan kesalahan, tetap saja Erina tidak bisa marah secara berlebihan seperti sang suami.


"Halo. Apa ada yang terjadi?" Erina berjalan menuju ke ruangan kerja pribadi di sebelah kiri kamar.

__ADS_1


Tentu saja tidak ingin jika sang suami yang masih berada di kamar mandi mendengar percakapan dengan pelayan di rumah putranya.


"Halo, Nyonya Erina. Sebenarnya saya takut mengabarkan ini karena tuan Zafer akan menghabisi." Sumi berbicara dari seberang telpon dengan penuh ketakutan sekaligus keraguan.


Sementara itu, Erina yang mengerti, kini berusaha untuk bersikap tenang, meskipun di dalam hati dipenuhi oleh kekhawatiran.


"Katakan saja dan aku akan menjamin keselamatan kalian. Putraku memang bukanlah pria yang baik, tapi tidak akan pernah membunuh orang. Sebenarnya hanya mengancam kalian karena takut pada sang ayah."


"Iya, Nyonya. Jadi, setelah Anda pergi, terjadi pertengkaran hebat antara tuan Zafer dan nyonya Tsamara. Kami ingin melerai, tapi diusir dan diancam. Sekarang, mereka masuk ke dalam kamar dan saya tidak tahu apa yang terjadi "


Erina yang kini merasa sangat geram pada Zafer karena tidak pernah ada habisnya membuat masalah, kini mengembuskan napas kasar. "Baiklah. Aku akan menghubungi putraku dulu. Tenanglah, tidak akan ada yang terjadi pada kalian."


"Baik, Nyonya."


Tanpa menanggapi, Erina kini mematikan sambungan telpon dan mencari kontak dari sang putra satu-satunya yang sangat disayangi dan menjadi harapan tersebut.


'Kau akan menyadari kesalahan dan mungkin kembali ke jalan yang benar ketika melihat orang tuamu sudah pergi jauh dan tak kembali.' Entah mengapa Erina selalu membicarakan tentang hal yang berhubungan dengan kematian, seolah merasa jika ajal semakin mendekat ketika usia bertambah.


Satu-satunya hal yang dipikirkan hanyalah Zafer karena belum bisa menjadi pria baik dan pasti tidak akan pernah mendoakan saat mereka sudah tidak ada lagi di dunia karena berada pada alam berbeda.


Erina menyipitkan mata dan menatap ke arah ponsel karena panggilan tersambung, tetapi tidak diangkat oleh Zafer.


"Apa Zafer tidak mendengar ponsel berdering? Atau hanya mengaktifkan mode getar?"


Selama beberapa menit menghubungi, sama sekali tidak ada harapan dan membuatnya merasa semakin khawatir. Namun, tidak bisa berbuat apapun karena berpikir jika Rayya juga sedang menunggu charger di tangan, akhirnya memilih untuk menemui calon menantu tersebut.


Setelah keluar dari ruangan kerja sang suami, kini berjalan ke kamar Rayya dan mengerutkan kening karena ternyata tidak masuk ke dalam kamar seperti yang diperintahkan.

__ADS_1


"Kenapa tidak masuk? Apa kamu tidak lelah berdiri seperti itu dari tadi? Kamu harus menjaga kesehatan dengan banyak beristirahat pada saat kandungan berada di trimester pertama."


"Apalagi trimester pertama sangat rawan dan perlu perhatian ekstra. Jadi, jangan sampai terlalu lelah." Erina memberikan charger setelah memberikan petuah pada sang menantu kedua, agar mengerti dan tidak membantah.


"Aku cerewet seperti ini karena mengkhawatirkan keadaanmu dan dua janin di rahim itu. Jadi, semoga kamu mau mengerti." Baru saja menutup mulut, mendengar suara teriakan dari sang suami.


"Sayang!" teriak Adam Dirgantara depan pintu kamar yang merasa geram karena sang istri dari tadi tidak kembali juga.


Erina menoleh dan bisa melihat jika sang suami melambaikan tangan. Akhirnya mengalihkan pandangan pada Rayya yang dari tadi hanya mengangguk perlahan ketika dinasihati.


"Masuk dan beristirahatlah." Erina tersenyum simpul sambil menepuk lembut pundak Rayya, lalu pergi menuju ke arah kamar untuk menemui sang suami.


Sementara itu, Rayya yang sedang menahan amarah karena sangat tidak suka dengan omelan dari wanita paruh baya tersebut, kini memilih untuk berjalan menuju ke ruangan kamar.


Kaki jenjangnya kini sudah memasuki ruangan kamar dan mulai berjalan semakin ke dalam. Ruangan kamar dengan desain interior mewah dan didominasi warna biru muda tersebut berhasil membuat kedua tangan mengepal.


Masih mencoba untuk menolak, ia mengedarkan pandangan di setiap sudut dan tidak menemukan sesuatu yang dicari.


"Sial! Ternyata wanita tua itu tidak menyuruhku tidur di kamarnya Zafer. Aku akan menjadi istrinya, kenapa harus tidur di sini? Sebenarnya apa yang wanita itu pikirkan mengenai aku? Apa aku adalah orang asing dan tidak berhak tidur di kamar calon suamiku sendiri?"


Rayya mengacak frustasi rambut dengan wajah memerah dan pikiran buruk sudah menghantui saat ini. Namun, berusaha untuk menggelengkan kepala karena berpikir jika itu tidak benar.


"Tidak mungkin kamarnya akan dikuasai oleh wanita cacat itu. Jika sampai itu terjadi, aku tidak akan pernah membiarkan itu. Tunggu pembalasanku. Kalian semua akan menghilang dari pandangan dan tidak akan pernah bisa menghalangiku lagi."


Embusan napas kasar mewakili perasaan kacau dari Rayya saat ini. Dengan penuh emosi, ingin segera melaporkan pada Zafer untuk mengungkapkan nada protes karena tidak tinggal di kamar pria itu.


"Apa mereka berpikir aku adalah tamu sementara yang menginap di sini? Itu akan terjadi pada wanita cacat itu karena sebentar lagi pergi dari rumah."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2