Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Tuduhan dari Zafer


__ADS_3

Sementara itu, Zafer yang berada di dalam kamar, merasa sangat frustasi dan memilih melempar ponsel di tangan ke lantai hingga benda pipih tidak bersalah itu sudah retak.


Pastinya sudah tidak terselamatkan lagi seperti ponsel milik Tsamara yang tadi dibanting karena emosi. "Berengsek!"


"Kenapa masalah jadi serumit ini?" Zafer yang merasa kesal karena sikap Rayya sangat kekanak-kanakan dan berlebihan. Padahal tadi sudah dijelaskan tentang hal sebenarnya, tetapi tidak mau mengerti.


"Kenapa kamu membuatku bertambah semakin stres, Rayya. Padahal aku sudah membuktikan cintaku dengan menikahimu besok. Apalagi yang kurang? Rasa cemburu berlebihan akan membuatku muak."


Zafer merasa sangat kesal sekaligus murka karena permintaan Rayya sangat tidak masuk akal. Sudah benar jika dua wanita itu tinggal di tempat berbeda karena jika dalam satu rumah akan membuat Zafer bertambah pusing.


Terlihat beberapa kali memijat pelipis, Zafer memejamkan mata sambil berbaring di atas ranjang. Namun, mengingat sesuatu yang tadi terjadi ketika menggendong Tsamara dan membaringkan di atas ranjang.


Sangat terlihat jelas dua gundukan sintal nan padat membusung di depan mata. Seolah melambai untuk memanggil Zafer segera melabuhkan bibir di sana. Tidak hanya itu saja, ia kini seketika membuka mata begitu mengingat segitiga emas milik wanita yang selama ini sangat dibenci.


Bahkan hanya dengan membayangkan itu saja, senjata Zafer seketika menegang dan menepuk jidat berkali-kali dengan apa yang dibayangkan saat ini.


Sebagai pria yang memiliki kekuatan dan libido tinggi, Zafer tidak pernah puas bercinta hanya satu kali. Meskipun durasi panjang, tetapi tenaga seperti tidak pernah habis dan selalu berhasil membuat Rayya lemas di atas ranjang.


Sampai otak kotor Zafer membayangkan merasakan tubuh Tsamara dan menyesap habis di setiap bagian yang membangkitkan rangsangan.


Menyadari kebodohan yang dirasakan karena sudah membayangkan tubuh Tsamara tidak memakai selembar benang pun, kini ia memilih untuk bangkit berdiri dari posisi yang awalnya berbaring telentang.


"Aku ingin memberikan pelajaran pada wanita itu karena telah membuatku seperti ini. Ini adalah salah Tsamara karena di dalam kamar hanya memakai gaun malam tipis tanpa bra dan ****** *****."

__ADS_1


Meskipun menyadari jika apa yang dikatakan sangat konyol karena bahkan biasa telanjang di dalam kamar saat berpakaian, tetapi Zafer tetap tidak mau menyalahkan diri sendiri saat harga diri terlalu tinggi.


Begitu melangkahkan kaki keluar dari ruangan kamar menuju kamar Tsamara yang memang tidak bisa ditutup setelah dirusak tadi, Zafer menghentikan langkah kaki di sebelah karena mendengar suara dari dalam.


Begitu mendengar jika Tsamara memanggil mama dan sudah dipastikan sedang berbicara dengan wanita yang melahirkannya. Berpikir jika Tsamara tengah mengadu dan melaporkan semua kejadian hari ini, ia memilih untuk mendekatkan daun telinga.


Berharap bisa mendengar pembicaraan antara menantu kesayangan dan juga mertua yang tak lain adalah sang ibu.


'Awas saja jika sampai melaporkan pada mama dan terdengar kabar ini di telinga papaku, pasti akan murka dengan mengusirku dari rumah. Jika itu terjadi, Tsamara akan menanggung akibat dan aku tidak akan pernah membiarkannya hidup tenang.'


Puas mengumpat sendiri di dalam hati, Zafer berkosentrasi untuk mendengarkan pembicaraan tersebut.


"Aku sedang menepuk-nepuk bahu Keanu yang tiba-tiba terbangun di tengah malam, Ma. Kenapa jam segini Mama belum tidur?" tanya Tsamara yang saat ini masih dalam posisi telentang karena merasa keadaan tidak baik.


Tubuh sakit semua dan merasa kedinginan, tapi saat menyentuh dahi terasa panas. Jadi, tadi begitu Zafer keluar dari ruangan kamar, langsung memakai semua pakaian tertutup dan kini tidur dengan berpakaian lengkap dan tertutup.


Saat berniat untuk mengistirahatkan tubuh, Tsamara mendengar ponsel di atas nakas berdering, sehingga mengerutkan kening begitu mertua yang menghubungi.


"Tsamara, tadi Sumi mengatakan jika kalian bertengkar hebat dan Zafer membawamu masuk ke kamar. Apa yang dilakukan putraku padamu? Apa anak nakal itu menyakitimu?" tanya Erina dari seberang telpon karena saat ini tengah berbicara lirih di ruangan walk in closet setelah sang suami tertidur pulas.


"Tidak, Ma. Mana mungkin itu terjadi. Hanya sedikit berdebat dan sudah menemukan jalan keluar." Tsamara menjawab sambil menahan kenyerian luar biasa pada bagian dahi karena tadi terbentur sangat kuat dan menyebabkan benjolan di sana.


"Benarkah? Memangnya apa yang kalian perdebatkan? Lalu, jalan keluar apa yang ditemukan?"

__ADS_1


Erina masih tidak bisa mempercayai sepenuhnya apa yang dikatakan oleh Tsamara karena mengetahui jika sang menantu selalu saja menyembunyikan keburukan Zafer dan memilih menanggung beban dan luka sendiri.


Dengan alasan bahwa ingin menjalani karma dari perbuatan di masa lalu yang banyak berbuat dosa karena telah berselingkuh dari sang suami dan berakhir hidup seperti ini.


"Apa boleh besok saja aku ceritakan di rumah utama, Ma. Aku sangat mengantuk dan besok berniat pagi-pagi sekali datang ke sana untuk menyaksikan pernikahan." Tsamara menunda dan beralasan karena saat ini tidak bisa berpikir jernih saat kepala dan kaki sama-sama terasa nyeri.


"Baiklah, Sayang. Besok saja kalau begitu. Syukurlah kamu baik-baik saja. Jadi, aku bisa beristirahat dengan tenang karena tadi sempat khawatir jika Zafer berbuat jahat padamu. Istirahatlah sekarang."


"Iya, Ma." Tsamara mengucapkan kalimat terakhir dan menaruh ponsel di atas nakas setelah sambungan telpon terputus.


"Kenapa rasanya sangat sakit?" Saat Tsamara hendak memeriksa dahi yang tadi terbentur lantai, di saat bersamaan, melihat sosok pria yang dari tadi sangat percaya diri bertelanjang dada.


Bahkan Tsamara bisa merasakan ketika kulit mereka saling menyatu ketika tadi diangkat oleh Zafer dari lantai.


'Apa lagi yang diinginkan pria tidak tahu malu ini sebenarnya. Dari tadi berada di depan mata dengan mengumbar tubuh seolah ingin menunjukkan memiliki otot-otot kencang di perut,' lirih Tsamara yang saat ini mengalihkan pandangan dengan cara menatap ke dinding.


Merasa malu pada diri sendiri karena otak kini membayangkan hal-hal intim tentang pria yang kini membuat suasana hening di dalam kamar berubah berisik.


"Apa kau sedang mengadu pada mama tentang apa yang kulakukan padamu? Dasar wanita tidak tahu balas budi! Aku menyesal karena tadi sempat khawatir dan berusaha mendobrak pintu, lalu menolong dari lantai ke atas ranjang?" sarkas Zafer yang pertama kali masuk ke dalam kamar dan melihat jika penampilan Tsamara sudah tidak seksi seperti terakhir dilihat.


Ada kekecewaan di dalam hati karena ternyata Tsamara saat ini sudah memakai pakaian lengkap seperti biasa dan tentu saja tidak memperlihatkan apapun karena ciri khas adalah pakaian terlalu longgar dan panjang.


Jenis pakaian yang tidak menampilkan lekukan tubuh sama sekali karena bisa dibilang seperti pakaian yang besarnya empat kali lipat dari tubuh wanita itu.

__ADS_1


Zafer masih mengarahkan tatapan tajam, sedangkan Tsamara tengah menahan rasa sakit, tetapi harus berpura-pura kuat di depan pria itu.


To be continued...


__ADS_2