
Begitu putra dan menantunya pergi, Erina memeriksa suhu tubuh Tsamara untuk memastikan apakah demam sudah turun atau bertambah.
Dengan menggunakan alat pengukur suhu tubuh, kini menatap bahwa demam Tsamara perlahan turun setelah dikompres air hangat.
"Syukurlah jika sudah turun. Sebentar lagi, makanan datang. Kamu harus makan dan minum obat. Pasti akan segera sembuh. Kamu pasti tadi merasa sangat kesal karena melihat Rayya yang tidak sopan masuk ke sini dan berbicara kasar padamu."
"Iya, Ma." Tsamara berbicara singkat untuk mengiyakan karena sebenarnya sakit hari ini.
Karena pikiran yang terlalu diforsir setelah kekhawatiran atas kedatangan Rey dan juga mengenai niat mantan suaminya tersebut untuk memastikan apakah Keanu merupakan darah daging sendiri atau benih dari mantan suami pertama.
Saat harga diri terhina karena diragukan oleh Rey. Meskipun pantas mendapatkan itu karena memang Keanu merupakan hasil perselingkuhan dan merasa sangat menyesal karena sekarang menjadi korban dari keegoisan para orang tua.
Apalagi Tsamara tahu bahwa Rey hanya beralasan dengan mengatakan jika pengadilan membutuhkan hasil dari tes DNA. Karena terlalu memikirkan hal itu, menjadikan kepalanya pusing dan berakhir demam.
Namun, sangat bersyukur karena Zafer tidak jadi melaksanakan rencana untuk meminta hak.
Ia tidak mungkin bisa menolak karena berpikir itu adalah dosa seseorang istri dan dilaknat oleh Tuhan. Apalagi sudah berjanji untuk menjadi manusia yang baik dan tidak selalu menambah dosa.
Saat Tsamara sibuk bergumam dengan pikiran sendiri yang sudah sedikit lega karena tidak memikirkan lagi masalah mengenai Zafer dan Rey karena memilih ikhlas menjalani semua yang terjadi.
Mau ke mana takdir membawa, ia akan mengikuti karena percaya bahwa Tuhan lebih mengetahui mana yang terbaik daripada diri sendiri.
Tsamara mengalihkan perhatian dari sang ibu mertua dengan membahas masalah lain.
__ADS_1
"Aku sudah terbiasa dengan sikap Rayya. Jadi, tidak mengambil hati atas apapun yang dilakukan oleh Rayya. Mama tidak perlu mengkhawatirkan aku karena menantumu ini sudah kebal dengan berbagai hantaman masalah yang melanda."
Tentu saja Erina tahu bahwa saat ini menantunya tersebut sedang berpura-pura kuat di hadapannya.
Meskipun mengetahui bahwa Tsamara memang sudah banyak mendapatkan cobaan dalam hidup, tetapi hanyalah merupakan seorang wanita dengan hati sensitif. Itulah sejatinya seorang wanita diciptakan dari tulang rusuk pria dan selayaknya dilindungi, bukan untuk disakiti.
Hanya saja, ia kali ini memilih untuk mengiyakan apapun yang dikatakan oleh Tsamara. "Kamu memang wanita yang sangat kuat. Mama percaya bahwa akan ada kebahagiaan menantimu suatu saat nanti."
"Entah itu akan berakhir menjadi menantu di keluarga ini selamanya atau menikah dengan pria lain yang lebih bisa mencintaimu dan juga menjadikan satu-satunya ratu di hati seorang suami."
Erina saat ini merasa malu pada Tsamara karena melihat sikap putranya yang plin-plan dan gampang dirayu hanya dengan kalimat manis Rayya. Padahal mengetahui bahwa wanita itu sebenarnya hanya menipu saja dengan bersikap munafik, tetapi menuduh Tsamara yang demikian.
Namun, tidak ingin membicarakan mengenai masalah Rayya karena akan membuat Tsamara kembali tertekan dan pastinya merasa terganggu.
"Syukurlah kalau begitu. Jadi, kami sebagai orang tuamu tidak akan tersiksa saat melihatmu bersedih. Apalagi sudah menganggapmu seperti putri kandungku sendiri. Aku tidak bisa melakukan hal seperti ini pada Rayya karena kamu tahu seperti apa wanita itu, bukan?"
"Semoga suatu saat nanti Rayya berubah menjadi menantu sekaligus seorang putri untuk kalian. Kita berdoa saja agar Tuhan memberikan hidayah pada Rayya. Kalau tuan Zafer, sekarang mengalami perubahan cukup baik karena tidak lagi bersikap kasar padaku."
Erina saat ini merasa tertarik dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Tsamara karena sejujurnya juga merasa heran dengan sikap Zafer yang tiba-tiba berubah baik akhir-akhir ini. Kemudian mendaratkan tubuh di dekat Tsamara dan menatap intens.
"Kamu benar dan aku merasa penasaran dengan penyebab putraku bisa berubah menjadi seorang pria yang sedikit lebih baik dari sebelumnya. Memangnya apa yang kamu lakukan pada Zafer hingga bisa berubah?"
Sementara itu, Tsamara terdiam beberapa saat karena sedang mengingat apa yang menjadi penyebab Zafer sedikit lebih baik ketika bersikap padanya.
__ADS_1
"Sebenarnya aku tidak tahu pasti penyebab sikap tuan Zafer berubah. Hanya saja, saat itu aku marah-marah ketika diancam dan menyodorkan leher agar segera mencekikku."
Tentu saja Erina membulatkan mata karena merasa sangat terkejut sekaligus tidak percaya dengan keberanian Tsamara yang juga sangat beresiko untuk keselamatan.
Apalagi mengetahui bahwa jika sampai membuat Zafer benar-benar mencekik leher Tsamara, yang terjadi adalah masa depan putranya berakhir di balik jeruji besi dan wanita di hadapannya tersebut mungkin sudah tidak berada di dunia ini.
"Kenapa kamu melakukan itu, Tsamara? Itu sangat beresiko untuk keselamatanmu. Bagaimana jika terjadi sesuatu hal yang buruk padamu? Kami pasti akan merasa berdosa."
"Tidak, Ma. Seperti yang kukatakan tadi bahwa aku percaya jika Tuhan selalu melindungiku karena sampai sekarang masih bisa bernapas. Contohnya saat aku tertabrak mobil yang dikendarai oleh tuan Zafer, hanya berakhir cacat seperti ini dan tidak mati."
"Seolah Tuhan sangat menyayangiku karena memberikan cobaan sebagai pengingat bahwa dosa-dosaku sudah saatnya ditebus di dunia ini. Karma adalah buah dari hasil yang kita tanam dan tidak perlu menunggu di akhirat untuk merasakan. Di dunia sudah tertulis dengan jelas dan tidak akan pernah salah sasaran."
Ingin sekali Erina memeluk menantunya tersebut karena merasa sangat iba, tetapi tidak ingin mereka berdua sama-sama menangis dan menghiasi ruangan tersebut dengan suara menyayat hati.
"Lain kali, jangan pernah melakukan itu lagi. Berjanjilah pada Mama." Erina langsung mengarahkan jari kelingking dan berharap mendapatkan sambutan dari menantunya tersebut.
Tanpa menjawab, Tsamara langsung mengaitkan jari kelingking pada mertuanya tersebut dan tersenyum simpul. Kemudian mendengar lagi suara wanita paruh baya yang masih merasa penasaran dengan cerita mengenai apa penyebab keberaniannya.
"Jangan ada yang disembunyikan karena aku ingin mengetahui semuanya. Ceritakan padaku, apa yang membuatmu berakhir sangat berani dengan mempertaruhkan nyawa pada putraku yang gila itu?"
Kemudian Tsamara kembali teringat pada permohonan wanita itu saat membahas mengenai kematian.
"Mama ingat saat mengatakan ingin tuan Zafer berubah sebelum dipanggil oleh Tuhan. Jadi, aku seperti terpacu untuk bisa merubah putra Mama agar sadar dan tidak selalu berbuat hal sesuka hati tanpa memikirkan perasaan orang tua maupun orang-orang di sekitar."
__ADS_1
Meskipun ia tidak mengatakan hal yang sebenarnya mengenai kekhawatiran jika orang tua Zafer benar-benar dipanggil oleh Tuhan.
To be continued...