Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Kabar buruk


__ADS_3

Setelah berstatus sebagai istri Zafer, Rayya berpikir akan berhak atas apapun yang dimiliki pria itu. 'Aku tidak akan pernah membiarkan wanita itu merebutmu dariku, Zafer karena hanya aku yang menjadi nyonya rumah di rumah ini. Setelah aku mengirim orang tuamu ke neraka, hak sepenuhnya rumah ini adalah milikku.'


Rayya saat ini menampilkan senyuman termanis untuk pria yang duduk di sebelahnya. Meskipun tidak mendapatkan balasan senyuman sama, tetap saja tidak marah karena berharap pernikahan segera dilangsungkan.


Sementara itu, Zafer masih diam dan tidak menanggapi sikap manja Rayya karena masih sangat kesal. Jadi, memilih untuk memalingkan wajah karena mendengar suara bariton dari pria yang akan bertugas menikahkan.


"Apakah Anda sudah siap, Tuan Zafer? Sebelum saya memulai pernikahan, ingin menanyakan pada tuan dan nona. Bahwa pernikahan ini terjadi tidak ada unsur paksaan, bukan? Karena memilih untuk melakukan pernikahan dengan tujuan pada kebaikan."


Tanpa ragu karena memang sudah sangat malas berlama-lama di sana, memilih untuk menganggukkan kepala.


"Anda sudah melihat sendiri semuanya dan saya bukanlah jenis orang yang bisa dipaksa. Hanya saja, sering luluh dengan ucapan manis dan lembut seorang ibu. Ya, saya berada di sini karena mama baru saja mengingatkan mengenai emosi akan menghancurkan diri sendiri dan orang lain."


Semua orang hanya diam karena acara pernikahan diawali dengan sesuatu yang menegangkan.


"Ya, Anda benar, Tuan Zafer. Syukurlah semuanya kembali dengan dipenuhi cinta kasih yang bisa mendamaikan hati."


Kemudian pria paruh baya tersebut tersebut menjelaskan sedikit tentang pernikahan sebelum menikahkan keduanya.


Memang pria itu bukanlah orang yang menikahkan Zafer dengan Tsamara dulu karena tinggal di dekat daerah itu.


Sementara saat menikahi Tsamara, orang yang menikahkan adalah tetangga wanita yang ditabrak tersebut.


Begitu selesai menjelaskan, acara pernikahan pun dimulai dengan disaksikan oleh beberapa orang terpercaya dari keluarga konglomerat tersebut.


Setelah pernikahan dinyatakan sah, langsung disambung dengan pembacaan doa, agar mempelai pengantin dikaruniai kebahagiaan dan bisa membina hubungan rumah tangga yang baik dan hanya maut yang memisahkan.


Semua orang mengaminkan doa yang dibacakan dengan penuh ketulusan tersebut.

__ADS_1


Sementara Zafer yang sebenarnya saat ini pikiran tidak ada di sana karena tidak bisa melupakan mengenai pria bernama Rey Bagaskara.


Pria yang diketahui lebih muda dan mempunyai paras rupawan. Bahkan merasa ada sedikit kekhawatiran jika nanti mengacaukan kehidupan mereka.


'Rey Bagaskara, apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan pada Tsamara? Bukankah kau sudah meninggalkan istrimu, lalu kenapa datang kembali?'


Doa yang dibacakan telah usai dan semua mengusapkan telapak tangan pada wajah. Namun, hal berbeda masih dilakukan oleh Zafer karena dari tadi tetap menengadah, seolah pembacaan doa belum selesai.


Sampai semua orang menatap heran dengan tingkah mempelai pria yang seperti sedang melamunkan sesuatu.


Rayya yang melirik ke arah Zafer, seketika menyadarkan agar tidak menjadi pusat perhatian semua orang. "Suamiku. Doanya sudah selesai."


Pertama kali memanggil pria yang terlihat melamun tersebut seperti mendapatkan kebahagiaan karena akhirnya sah menjadi istri Zafer. Namun, dalam hati merasa sangat geram sekaligus kesal pada sikap Zafer yang lebih seperti tengah memikirkan sesuatu.


Seolah pikiran sedang tidak ada di sini dan itu semakin membuat Rayya penasaran dengan isi kepala pria yang telah sah menjadi suami tersebut.


"Memangnya kamu sedang memikirkan apa?" Rayya masih berusaha untuk mencari informasi, berharap Zafer mau mengatakan apa yang mengganggu pikiran wanita itu.


"Tidak ada. Hanya saja, kepalaku sangat pusing dan ingin segera beristirahat di kamar." Zafer menjawab lirih, agar tidak ada yang mendengar.


Begitu pria yang menikahkan berdiri dan berpamitan karena harus menikahkan lagi pasangan di rumah sakit, Zafer merasa sangat lega karena berpikir ingin segera beristirahat.


Bukan beristirahat sebagai pengantin baru karena ingin bersenang-senang, tapi ingin merehatkan tubuh dan otak untuk beberapa saat.


Begitu mendapatkan makanan dan Snack yang sudah disiapkan, pria paruh baya beserta orang-orang pergi.


Sementara itu, beberapa saksi dan sanak keluarga paling dekat dengan keluarga Dirgantara sudah dipersilakan untuk menikmati makanan yang tersaji.

__ADS_1


Tentu saja sebelum itu, ucapan selamat didapatkan Zafer dari orang-orang itu. Begitu sudah tidak ada lagi yang mengucapkan selamat, Zafer menoleh pada Rayya


"Kamu temani saja ayahmu di sini. Aku akan beristirahat di kamar." Tanpa menunggu jawaban dari Rayya, Zafer memilih untuk berjalan menuju ke arah anak tangga.


Sementara itu, Rayya saat ini semakin mencurigai ada sesuatu yang terjadi di antara Zafer dan Tsamara. 'Aku akan mencari tahu sendiri jika kau tidak mau mengatakan padaku, Zafer.'


'Semenjak semalam, sikap Zafer sangat aneh dan berubah. Aku yakin jika wanita cacat itu merayu Zafer dengan telanjang demi memamerkan tubuh. Awas saja jika sampai Zafer dan wanita itu bercinta di belakangku. Aku akan membuat Tsamara menangis darah karena kehilangan anak kecil itu.'


Rayya berencana menggunakan kelemahan untuk melawan musuh dan akan dihancurkan tanpa sisa. Saat menatap siluet tubuh Zafer yang lama-kelamaan menghilang di balik dinding, Rayya menoleh menatap ke arah kiri karena mendengar suara sang ayah.


"Bukankah tugas Ayah sini selesai? Jadi, sudah tidak dibutuhkan lagi. Ayah mau pulang sekarang." Leon kini tengah menatap ke arah Rayya yang diketahui seperti tengah memikirkan sesuatu.


Tentu saja tahu jika kebahagiaan Rayya sudah tidak seperti kemarin karena sikap Zafer. Namun, tidak lagi mau memusingkan itu karena ingin Rayya merasakan akibat dari pilihan sendiri.


"Lebih baik Ayah makan dulu karena sudah disiapkan banyak makanan di sini." Rayya sebenarnya ingin meminta bantuan sang ayah, tetapi ragu untuk mengatakan.


'Tidak mungkin aku meminta bantuan ayah, yang ada malah akan mendapatkan ejekan. Lebih baik aku membayar orang dan tidak akan ada yang tahu mengenai rencanaku.'


Saat Rayya baru saja bergumam sendiri di dalam hati, mendengar suara dari mertua yang baru saja menerima telpon dan seketika menoleh untuk memastikan apa yang terjadi.


'Apa yang terjadi sebenarnya?'


Rayya kini berjalan mendekati mertua yang terlihat pucat. "Ada apa, Ma?"


Erina yang baru saja mendapatkan telpon mendadak, merasa sangat terkejut sampai ponsel di tangan terjatuh ke lantai. "Itu, ada kabar buruk dan kami harus segera pergi sekarang. Kamu di rumah saja dengan Zafer dan menemani beberapa sanak saudara."


Erina dengan wajah pucat, berjalan ke depan untuk menemui sang suami yang tadi berbicara dengan beberapa orang yang hendak berpamitan.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2