Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Dunia tak selebar daun kelor


__ADS_3

"Terima kasih, Rey." Rayya kini tersenyum pada pria yang sudah mau membantu setelah mengungkapkan dengan jujur rencana untuk membuat Zafer cemburu dan kembali bersikap seperti dulu.


"Tidak usah sungkan karena kita sekarang adalah teman. Jika nanti kamu butuh bantuanku, hubungi saja aku." Rey mengambil kartu nama di dalam dompet dan menyerahkan pada wanita yang masih berjalan di sebelah kiri tersebut memasuki area loby rumah sakit.


Rayya yang kini langsung menerima kartu nama dengan tulisan emas timbul tersebut, kini langsung memasukkan ke dalam tas.


"Baiklah, aku pasti akan menghubungimu lagi karena kau adalah pria yang asyik untuk diajak mengobrol."


"Semoga nanti suamiku cemburu begitu melihat pria muda dan tampan sepertimu. Jadi, tidak akan lagi bersikap buruk padaku. Aku tanya pada salah satu staf rumah sakit dulu untuk menanyakan di mana suamiku berada."


Rayya kemudian berjalan menuju ke arah bagian informasi dan ada seorang wanita duduk di depan komputer.


Tentu saja tidak sulit baginya untuk mencari tahu ruangan perawatan Tsamara karena menyebut nama keluarga mertua, yaitu pemilik rumah sakit tersebut.


Meskipun harus menanggung malu jika ada yang mengetahui bahwa statusnya hanyalah seorang istri siri untuk Zafer. Namun, tidak memperdulikan hal itu.


Satu-satunya yang diinginkan hanyalah ingin melihat respon dari sang suami saat merasa cemburu ketika bersama dengan Rey.


"Aku sudah mengetahui ruangan yang menjadi tempat suamiku berada. Ayo, kita ke sana! Kamu tidak terburu-buru, kan?" tanya Rayya yang saat ini kembali melangkahkan kaki jenjang menuju ke arah lift sambil menatap pria yang langsung menggelengkan kepala dan membuatnya tersenyum lega.


"Tidak, tenang saja karena ada saudara ibuku yang saat ini sedang menunggu dan menemani. Lagipula aku tidak mungkin berlama-lama bersamamu karena nanti bisa babak belur saat diajar oleh suamimu yang cemburu."


Rey sudah melangkah masuk ke dalam lift dan terkekeh melihat ekspresi wajah Rayya yang terlihat sangat lucu saat tertawa.


"Rasanya aku sudah tidak sabar melihat ekspresi wajah suamiku, Rey. Kamu tenang saja, karena aku akan melindungi jika pria arogan itu berbuat macam-macam padamu." Rayya berbicara sambil menekan tombol lift untuk menuju ke lantai paling atas karena ruangan terbaik berada di sana.

__ADS_1


Sementara Rey sudah tidak berbicara lagi karena sangat mempercayai semua yang dikatakan oleh wanita di sebelah kiri tersebut.


Beberapa detik kemudian, pintu kotak besi tersebut terbuka dan tentu saja tanpa membuang waktu, keduanya sudah berjalan keluar dan mencari ruangan.


Rayya mengedarkan pandangan untuk mencari ruangan perawatan wanita yang menjadi saingan dan ingin segera disingkirkan. Begitu menemukan yang dicari, mengarahkan jari telunjuk pada ruangan tersebut.


"Itu ruangannya."


Sementara Rey menyipitkan mata karena ternyata ruangan tersebut bersebelahan dengan tempat sang ibu dirawat. "Kenapa bisa kebetulan sekali karena ruangan ibuku ada di sebelah kiri."


Rey bahkan sudah melakukan hal yang sama seperti Rayya dengan mengarahkan jari telunjuk pada ruangan sang ibu yang sudah dua hari ini dirawat di rumah sakit tersebut.


Rayya yang merasa terkejut karena sama sekali tidak pernah menyangka jika ruangan Tsamara dan ibu dari Rey bersebelahan. "Wah ... sebuah kebetulan yang sangat luar biasa, Rey. Apakah ini yang dinamakan jodoh?"


"Maksudku, jodoh berteman. Jangan salah paham dan berpikir macam-macam atas perkataanku."


"Baiklah, sekarang kita masuk saja ke dalam dan aku akan memperkenalkanmu pada suamiku." Rayya berjalan mendekati pintu dan mengetuk.


Setelah beberapa detik kemudian, langsung berjalan masuk bersama Rey dan melihat ekspresi dari wajah semua orang yang menurutnya sangat aneh.


'Kenapa semua orang menatap Rey dengan sangat aneh? Apakah mereka langsung berpikir bahwa pria ini adalah selingkuhanku? Bisa gawat nanti jika berpikir seperti itu. Sepertinya aku harus segera menjelaskan siapa sebenarnya pria ini,' gumam Rayya yang langsung berdehem untuk menguraikan suasana penuh keheningan di ruangan tersebut.


"Sayang, aku tadi ke sini naik mobil sendiri dan tiba-tiba ban meletus, lalu ada pria baik yang menolongku untuk mengantarku ke sini. Kebetulan pria ini juga ingin menjenguk sang ibu yang berada di ruangan sebelah."


Rayya berjalan mendekati Kenzo yang terlihat memerah seolah tengah menahan luapan amarah di dalam hati. Kemudian berkelanjutan pada lengan kekar sang suami, karena merasa ingin menguraikan kesalahpahaman yang terjadi.

__ADS_1


"Pria ini bernama Rey Bagaskara dan merupakan Seorang pebisnis. Mungkin kalian berdua bisa berteman dan menjalin kerja sama." Rayya merasakan bulu kuduk meremang karena tidak ada suara di ruangan perawatan tersebut.


'Sebenarnya apa yang terjadi di sini? Zafer dan semua orang seperti mengenal Rey.'


Rayya yang hanya bisa bertanya di dalam hati, kini beralih menatap semua orang satu persatu. Mulai dari mertua dan juga wanita yang dianggap saingan tersebut seperti sangat pucat dan ketakutan.


"Ada apa ini?" Rayya beralih menatap ke arah Rey yang juga sangat terkejut karena membulatkan mata dan tidak berkedip menatap ke arah Tsamara.


Bahkan berbalik badan untuk menatap ke arah sofa, di mana anak laki-laki yang sedang tertidur pulas di pangkuan pelayan. Hingga suasana penuh keheningan tersebut langsung menguap begitu suara bariton dari Zafer.


"Dasar pria berengsek! Jadi, ini rencanamu?" sarkas Zafer dan berjalan cepat untuk meraih kerah kemeja dari pria yang ingin sekali dihabisi karena telah masuk untuk mengganggu ketenangan keluarga Dirgantara.


Sementara itu, Rey yang tadi baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut, merasa sangat shock ketika melihat sosok wanita di atas ranjang pembaringan dengan wajah pucat.


Tadi sekilas menatap ke arah pelayan dan juga anak kecil yang sempat bertemu di supermarket waralaba. Bahkan karena merasa gemas melihat anak kecil laki-laki tersebut yang merengek untuk membeli makanan ringan, akhirnya membayar semua yang diinginkan tersebut.


"Anak itu adalah ...." Rey tidak bisa melanjutkan perkataan karena tubuh terhuyung ke belakang akibat perbuatan dari pria yang menatap dengan sangat tajam.


Bahkan sama sekali tidak pernah menyangka jika suami dari wanita yang ditolong adalah pria yang tidak sengaja dijumpai di toko buah.


Namun, Rey sama sekali tidak memperdulikan hal itu karena ingin berbicara dengan Tsamara—wanita yang dulu disakiti dan disia-siakan.


Bahkan pasti sangat membenci dan tidak ingin melihat wajahnya lagi, tapi semesta seolah tidak mengizinkan mereka berpisah selamanya. Karena hari ini takdir mempertemukan mereka lagi dalam suasana yang sangat tidak terduga.


"Dunia tak selebar daun kelor, sehingga aku bisa bertemu denganmu lagi, Tsamara," ucap Rey tanpa memperdulikan apa yang dilakukan oleh pria dengan wajah memerah tersebut dan sama sekali tidak dimengerti kenapa bisa semarah itu.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2