Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Waktu yang akan menyembuhkan


__ADS_3

Begitu Rayya memarkirkan mobil di tempat parkir yang tersedia, Zafer seketika berlari begitu keluar dari kendaraan karena sudah tidak sabar untuk segera melihat bagaimana keadaan orang tuanya setelah mengalami kecelakaan.


Ia sama sekali tidak memperdulikan Tsamara karena tidak membantu untuk keluar dari mobil. Apalagi sangat marah pada wanita itu yang dianggap menjadi wanita pembawa sial yang mengakibatkan orang tuanya berakhir kecelakaan di hari ulang tahun pernikahan.


Ia bahkan sudah berlari menuju ke arah unit gawat darurat karena saat ini hanya itu yang terpikirkan olehnya dan berharap orang tuanya sedang ditangani oleh para dokter ataupun telah dioperasi untuk menyelamatkan nyawa.


Sementara itu, Rayya baru saja keluar dari mobil dan berniat untuk mengejar Zafer, tapi tidak berlari karena mengetahui bahwa akan berbahaya bagi dua janin yang ada di rahim.


Namun, mendengar suara Tsamara yang masih belum beranjak dari kursi mobil karena memang tidak bisa melakukan tanpa bantuan orang lain.


"Rayya, tolong bantu aku untuk keluar dari mobil dengan mengeluarkan kursi roda. Aku ingin melihat keadaan papa dan mama." Tsamara sama sekali tidak menyalahkan Zafer yang melupakan untuk menolong keluar dari mobil, sehingga menebalkan muka dengan cara meminta tolong pada Rayya.


Meskipun mengetahui bahwa wanita itu sangat membencinya tidak akan pernah mau menolong, tetapi berpikir harus mencoba jika belum mengetahui jawaban penolakan.


Sementara itu, Rayya tertawa sinis dan sama sekali tidak berniat untuk membantu Tsamara. "Apa kau pikir aku adalah berhati malaikat yang mau membantu wanita saingan untuk mendapatkan Zafer?"


Kemudian Rayya tertawa terbahak-bahak karena berpikir bahwa saat ini Tsamara tengah mengigau karena bermimpi ia mau menolong.


"Aku bahkan saat ini sedang mengandung anak kembar dan tidak boleh kelelahan. Jika aku membantumu untuk keluar dari mobil menuju kursi roda, pasti akan banyak mengeluarkan tenaga ekstra. Jika sampai terjadi sesuatu pada janin yang aku kandung, apakah kau mau bertanggung jawab?"


Rayya bahkan tertawa sinis dengan tatapan penuh kebencian karena saat ini merasa sangat senang saat Zafer sudah membenci Tsamara sepenuhnya. Jadi, tidak perlu bersusah payah untuk mencari simpati Zafer dan merayu sang suami agar menyingkirkan wanita cacat itu setelah mertua meninggal.


Rayya saat ini masih mengarahkan jari telunjuk ke arah Tsamara yang duduk di dalam mobil dengan pintu terbuka. "Kau adalah wanita pembawa sial, jadi jangan berpikir bahwa aku akan mau dekat-dekat denganmu, apalagi menolong."

__ADS_1


"Nanti aku akan mengalami nasib buruk seperti papa dan mama. Bahkan tanganku ini terlalu bersih untuk menyentuh wanita pembawa sial sepertimu. Apalagi kau telah membuat hubungan orang tua dan anak mengalami masalah karena kehadiranmu. Sekarang malah membuat mertua kecelakaan."


Tsamara ingin sekali menampar ataupun menarik rambut Rayya karena tidak terima selalu disebut sebagai wanita pembawa sial.


Padahal semua hal sudah tertuliskan semenjak belum dilahirkan. Bahwa jodoh, rezeki dan maut sudah diatur oleh Tuhan.


Sementara manusia hanya bisa menjalankan semua yang ditetapkan oleh Tuhan. Namun, ia tidak ingin melawan Rayya dengan berdebat karena merasa percuma dan sia-sia. Rayya tidak akan menyadari kesalahan ataupun berbicara salah.


Merasa percuma meminta tolong pada wanita itu, sehingga Tsamara berpikir untuk mencari bantuan orang lain.


"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu untuk menolongku keluar dari mobil, tapi tolong berikan kunci karena ada putraku dan akan merasa pengap jika tidak bisa keluar."


Tidak ingin mengambil pusing tentang masalah Tsamara, Rayya yang saat ini langsung membuka tas dan mengambil kunci mobil, lalu langsung memberikan pada wanita di dalam mobil tersebut dengan cara melempar.


"Jangan sampai membuat para penjahat membawa kabur mobil itu karena kau memegang kuncinya." Setelah mengucapkan kalimat ancaman, Rayya langsung berjalan meninggalkan Tsamara menuju ke arah unit gawat darurat menyusul Zafer.


"Aku akan memberikan bayaran yang pantas untuk hari ini karena berhasil mencari orang menyingkirkan orang tua tidak berguna itu yang memang sudah pantas pergi ke neraka."


"Inilah hukuman bagi orang yang berniat untuk melawanku," gumam Rayya yang saat ini sudah bertanya pada salah satu staf rumah sakit untuk memberitahu di mana tempat yang dicari.


Kemudian semakin mempercepat langkah kaki karena tidak ingin Zafer berpikiran buruk padanya. Ia yang sudah masuk ke dalam ruangan unit gawat, segera mengedarkan mata untuk mencari pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut.


Namun, mengerutkan kening karena sama sekali tidak menemukan dan kembali bertanya pada petugas medis.

__ADS_1


"Apakah korban kecelakaan sudah dibawa ke ruang operasi?"


Sosok wanita berseragam putih kini berhenti saat ditanya oleh salah satu keluarga pasien yang mengalami kecelakaan hebat dan baru saja datang.


"Maaf, Nona. Saat ini, pasangan suami istri yang menjadi korban kecelakaan sudah berada di ruang jenazah karena tiba di rumah sakit dalam keadaan tidak bernyawa. Jadi, memang tidak dilakukan penyelamatan karena sudah tidak ada denyut nadi."


Rayya saat ini berakting terkejut dan bersedih dengan membekap mulut. Bahkan merasa jika saat ini ia seperti merasa terpukul ketika kehilangan orang yang berarti.


Padahal jauh dilubuk hati merasa sangat bahagia karena rencana pertama telah berhasil untuk melenyapkan orang-orang yang tidak menyukainya.


"Benarkah mertuaku sudah meninggal?" Ia bahkan sudah berkaca-kaca dan menganggap aktingnya seperti artis terkenal yang mendapatkan penghargaan.


"Iya, Nyonya. Tadi keluarga pasien juga sudah datang dan sudah menuju ke sana untuk memastikan jika itu adalah orang tuanya," ucap perawat wanita yang saat ini tengah merasa tidak tega menjelaskan.


Akhirnya Rayya mengucapkan terima kasih dan meminta ditunjukkan arah menuju ruang jenazah karena berpikir bahwa Zafer tengah menangis di sana.


"Zafer pasti merasa bersedih dan menangisi orang tuanya, tapi aku yakin jika sebentar lagi kesedihan itu akan hilang seiring berjalannya waktu. Kemudian merasa senang karena tidak ada lagi yang menghalangi jalannya menjadi pemimpin utama perusahaan dan semua bisnis Dirgantara Grup."


Rayya berjalan sambil mengedarkan pandangan untuk mencari arah yang tadi ditunjukkan oleh perawat. Hingga beberapa kali berbelok, kini sudah menemukan ruangan yang dicari, tapi Rayya tidak ingin masuk ke dalam.


Apalagi merasa sangat jijik sekaligus takut berada di ruang jenazah. Meskipun ada Zafer di sana, tetap saja tidak berniat untuk masuk dan memilih duduk di kursi yang berada di depan ruangan paling mengerikan tersebut.


Rayya bahkan bisa mendengar semua yang diteriakkan oleh Zafer saat menangisi kepergian orang tua. 'Zafer, kamu akan baik-baik saja setelah waktu berlalu.'

__ADS_1


'Waktu yang akan menyembuhkan kesedihanmu. Jadi, jangan berpikir bahwa ini adalah akhir dari hidupmu.'


To be continued...


__ADS_2