
Sosok pria yang saat ini berada di atas ranjang perawatan, perlahan membuka mata dan mencoba untuk menerima cahaya lampu yang mulai masuk ke dalam retina dan beberapa saat kemudian mengamati ruangan.
Pria yang tak lain adalah Zafer, saat ini mengedarkan mata dan mencoba untuk mengingat sesuatu mengenai penyebab ia berada di ruangan dengan nuansa putih khas rumah sakit tersebut.
Hingga menyadari jika saat ini ada seseorang yang menggenggam erat telapak tangan. Zafer yang baru sadar, kini menatap ke arah wanita di kursi roda dengan posisi membungkuk ketika tertidur di sebelah tempat berbaring.
Tentu saja Zafer saat ini sudah bisa menebak jika wanita yang menyembunyikan wajah dengan menutupi memakai tangan tersebut adalah Tsamara.
Wanita yang berstatus sebagai istri dan pertama kali dinikahi karena terpaksa.
Bahkan Zafer sama sekali tidak menyukai wanita yang dulu dianggap berpenampilan sangat tidak menarik itu.
Zafer selalu mengatakan jika Tsamara tidak seksi seperti Rayya yang membuatnya tergila-gila. Hingga rela melakukan apapun demi wanita yang ternyata berselingkuh dengan pria lain ketika mengandung calon keturunannya.
Zafer masih tidak bergerak karena hanya menatap ke arah wanita yang terlihat tertidur pulas tersebut. Hingga rasa bersalah menyelimuti diri ketika menyadari bahwa selama ini menyia-nyiakan wanita yang seperti malaikat tersebut.
Merasa menjadi seorang pria yang jahat karena menyakiti hati Tsamara dan selalu mengutamakan Rayya, Zafer benar-benar merasa sangat menyesal.
Bahkan ketika mengingat kecelakaan yang dialami, Zafer berpikir bahwa akan menyusul orang tua yang telah meninggal. Namun, begitu mengetahui bahwa saat ini masih berada di dunia dan bisa melihat jika yang tidur di sampingnya tersebut adalah Tsamara
Wanita yang selama ini selalu dihina dan dipandang sebelah mata. Tentunya sangat berbeda dengan Rayya yang selalu diperlakukan dengan baik dan memuji wanita itu.
Bahkan saat ini wanita yang selama ini dicintai ternyata tidak ada di sampingnya ketika mengalami kecelakaan. Mengingat semua keburukan yang pernah dilakukan, Zafer benar-benar merasa sangat bersalah pada orang tua.
Apalagi selama ini tidak pernah mendengarkan nasehat dari orang tua yang menginginkannya hidup bahagia bersama dengan wanita pilihan yang tak lain adalah Tsamara.
__ADS_1
Bahwa Rayya adalah seorang wanita yang tidak baik karena orang tua seolah bisa membaca seperti apa sifat istri keduanya tersebut.
'Papa, mama, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi jika aku mematuhi perintah serta nasehat kalian. Aku tidak akan menyesal seperti ini karena melihat wanita yang selalu tersakiti ingin masih tetap berada di sampingku.'
'Sementara Rayya yang selalu kupuja dan kucintai, ternyata tak lebih dari seorang pengkhianat. Apakah sekarang aku terkena karma dari semua perbuatan buruk yang kulakukan pada Tsamara?'
Zafer saat ini tidak berkedip menatap ke arah wanita yang masih memejamkan mata tersebut karena terlihat sedikit bergerak dengan membuka taman yang tadi menutupi wajah.
Zafer benar-benar merasa iba sekaligus menyesal karena selalu saja memberikan penderitaan pada wanita di hadapannya tersebut.
'Kenapa kau berada di sini menungguku? Padahal selama ini aku selalu menyakitimu. Sementara Rayya yang selalu kubanggakan, pasti tidak datang dan tenang bersenang-senang dengan bajingan itu,' gumam Zafer yang saat ini dikuasai oleh kilatan amarah ketika memikirkan jika Rayya berani berselingkuh saat berstatus sebagai istri sekaligus calon ibu dari keturunannya.
Refleks Zafer mengempaskan tangan yang dari tadi digenggam erat oleh Tsamara karena tidak bisa menahan diri ketika mengingat perbuatan Rayya dan juga semua keburukan yang selama ini dilakukan.
Zafer merasa sangat bersalah pada orang tua yang telah meninggal, saat ini tidak bisa mengendalikan diri dan meluapkan dengan menghempaskan tangan beberapa kali ke atas ranjang.
"Berengsek! Kenapa aku tidak mati saat kecelakaan dan bisa menyusul orang tuaku? Aku hanyalah seorang pria tidak berguna."
"Aku tidak punya harga diri karena wanita itu berani berkhianat saat sedang mengandung calon keturunanku!" Zafer yang dikuasai oleh amarah. Seolah tidak memikirkan apapun lagi karena hanya ingin melampiaskan amarah ketika dikhianati oleh wanita yang selama ini dibela.
Wanita yang selama ini dipuji dan dicintai serta tidak memperdulikan larangan dari orang tua yang mengatakan bahwa Rayya bukanlah istri yang tepat untuknya.
Hal itulah yang membuatnya benar-benar terpuruk karena merasa sangat berdosa pada orang tua karena belum pernah sekalipun membuat mereka bangga.
"Aku hanya mengecewakan orang tuaku. Kenapa aku tidak mati saja dan bertemu dengan mereka agar bisa meminta maaf dan menebus semua kesalahanku pada papa dan mama?"
__ADS_1
Tsamara yang berjenggit kaget karena pergerakan kuat dari Zafer dan juga suara penuh kemurkaan dan seolah mewakili bagaimana perasaan pria tersebut.
Bahkan meskipun Zafer dikuasai oleh angkara murka, tapi suara pria itu tidak sekuat biasanya karena hanya bisa lirih meski terlihat seperti berteriak.
Refleks ia seketika menegakkan tubuh dan mencoba untuk menenangkan Zafer agar tidak terbawa emosi ketika mengingat semua hal yang berhubungan dengan Rayya serta kematian orang tua.
"Tuan Zafer, syukurlah Anda sudah sadar setelah mengalami masa kritis. Ini adalah sebuah keajaiban Tuhan." Tsamara saat ini sama sekali tidak takut dengan kemurkaan pria dengan wajah memerah itu karena mencoba untuk menahan tangan pria tersebut agar tidak melanjutkan mengempaskan pada ranjang.
"Anda tidak boleh berbicara buruk saat Tuhan sudah memberikan kesempatan untuk menjadi pria yang lebih baik dan memperbaiki keadaan. Jadi, tidak boleh putus asa seperti ini."
Zafer benar-benar tidak bisa berpikir jernih karena malah emosi mendengar perkataan Tsamara yang dianggap sangat konyol, sehingga memilih untuk mengempeskan tangan wanita itu.
"Apa kau bilang? Memperbaiki keadaan saat aku masih hidup, sedangkan orang tuaku sudah meninggal. Apa kau sudah gila karena berpikir aku bisa melakukan hal konyol itu?"
Bahkan Zafer yang merasa sangat miris dengan keadaan yang menimpa, seolah tidak bisa menerima kenyataan buruk yang dialami secara bersamaan.
Tsamara bahkan bisa merasakan kekuatan pria itu yang mencoba untuk melepaskan diri darinya, tapi tidak menyerah untuk meredam emosi dan mendinginkan kepala yang dipenuhi oleh amarah.
"Anda harus tenang dan mencoba untuk berpikir jernih mengenai apa yang baru saja kusampaikan. Papa dan mama memang sudah berada di dunia yang berbeda dengan Anda, tapi bisa membuat mereka tersenyum dari atas sana dengan memenuhi harapan orang tua."
"Anda harus bangkit dan jangan larut dalam keterpurukan karena ada banyak orang yang menyayangi Anda dan berharap kesembuhan. Jangan sibuk menyalahkan diri karena itu tidak akan mengubah kenyataan."
Saat Tsamara baru saja menutup mulut dan berpikir pria itu akan sadar, tapi yang terjadi malah sebaliknya, mendapatkan kemurkaan dari Zafer yang menatap tajam dan menghunus tepat di jantung.
"Kau hanya bisa mengatakan sebuah teori saja karena faktanya tidak akan pernah bisa seperti itu. Jangan coba-coba untuk menasehatiku dengan berceramah karena aku benar-benar sangat muak mendengar itu!" sarkas Zafer yang saat ini mengarahkan tatapan tajam pada Tsamara.
__ADS_1
To be continued...