Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Wanita sempurna


__ADS_3

Karena tidak ingin berdebat dengan Zafer yang selalu saja menang sendiri, Tsamara memilih untuk meninggalkan pria itu dan mendinginkan kepala dengan menonton berita di televisi.


'Sebenarnya tuan Zafer tak lebih dari seorang anak kecil yang sangat bandel dan sangat susah dinasehati.'


'Bahkan aku sudah mengerahkan seluruh tenaga untuk membuat pria itu segera sadar, tapi sepertinya tidak akan pernah bisa,' gumam Tsamara yang saat ini baru saja menyalakan remote dan mengarahkan pandangan pada televisi.


Namun, kembali merasa diuji kesabaran begitu mendengar suara bariton dari pria yang berbaring di atas ranjang perawatan tersebut.


"Pijat kepalaku karena rasanya sangat pusing." Zafer ingin Tsamara hanya sibuk dengannya, sehingga tadi memutar otak untuk membuat wanita itu kembali memperhatikannya.


Hingga menemukan ide di kepala dan berakting seperti tengah menahan rasa nyeri di kepala. Namun, merasa kesal dengan jawaban Tsamara.


"Aku akan memanggilkan dokter untuk memeriksa. Mungkin terjadi sesuatu dan perlu di lakukan pemeriksaan secara intensif." Tsamara saat ini mengarahkan kursi roda ke arah pintu keluar karena ingin memanggil perawat.


Zafer yang tidak ingin Tsamara pergi, seketika berteriak agar wanita itu mengerti yang diinginkan olehnya. "Aku hanya ingin kamu memijat kepalaku dan tidak ingin diperiksa oleh dokter maupun perawat!"


Tsamara yang saat ini menoleh ke arah ranjang, menghembuskan napas kasar dan kini mengerti apa maksud dari pria itu. Akhirnya kembali menghampiri Zafer dan seketika membulatkan mata setelah mendengar suara bariton pria itu.


"Aku ingin membuatmu jatuh cinta padaku dengan setiap detik dan menit hanya memandangku," lirih Zafer yang saat ini memilih untuk mengungkapkan apa yang diinginkan agar Tsamara mengerti.


Tsamara yang tadinya menggerakkan kursi roda mendekat, seketika terdiam dan tidak melanjutkan karena merasa kebingungan dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Zafer. Hingga kembali mendengar suara bariton pria itu.


"Aku ingin kita menjadi pasangan suami istri sesungguhnya seperti harapan papa dan mama. Apakah kamu bersedia, Tsamara?" tanya Zafer yang saat ini ingin wanita itu segera mendekat dan menjawab pertanyaan darinya.


"Tuan Zafer, Anda mengatakan itu karena sedang terluka. Apakah aku harus menerima keinginan Anda yang hanya menganggapku sebuah alat untuk pelampiasan?" tanya Tsamara yang sebenarnya saat ini merasa syok dengan perkataan dari pria itu.

__ADS_1


Tsamara bahkan mengetahui jika hati Zafer sedang tidak baik-baik saja. Bahkan saat ini berpikir bahwa Zafer hanya sedang mencari sebuah pelampiasan diri karena telah dikhianati oleh wanita yang teramat sangat dicintai.


Meskipun sebenarnya ia memang berencana untuk selalu bersama sang suami, tetapi mendengar secara langsung permintaan pria itu, terasa sangat aneh dan bingung harus menanggapi seperti apa.


Hal itulah yang membuat Tsamara berpikir bahwa Zafer berbicara seperti itu bukan tulus dari dalam hati karena melihat kebaikannya selama ini, tapi karena sedang terluka akibat ulah Rayya yang berselingkuh.


Tsamara bahkan sangat khawatir jika Zafer akan berubah lemah jika Rayya merayu suatu saat nanti ketika ia menyerahkan diri sepenuhnya.


Berbeda dengan tanggapan Zafer saat ini yang merasa sangat kesal karena ketulusannya dianggap seperti sebuah permainan oleh Tsamara.


"Kamu sama sekali tidak mengenalku, Tsamara. Sebenarnya, aku marah pada Rayya ketika berselingkuh dengan Raymond bukan karena merasa cemburu dan sekarang ingin mencari pelampiasan diri padamu."


"Namun, begitu pertama kali mengetahui hal itu, yang pertama kusesalkan adalah tidak memperdulikan nasihat dari orang tuaku ketika dulu sama sekali tidak memberikan Restu dengan niatku menikahi Rayya."


Zafer saat ini mengepalkan tangan ketika berbicara karena dada terasa sesak. Berharap dengan melakukan itu, suara yang serak, tidak pecah menjadi sebuah tangisan penuh kesedihan.


"Sial! Aku tidak boleh selemah ini!" sarkas Zafer yang sudah beberapa kali mengarahkan pukulan pada dada karena tidak ingin menangis ketika mengingat semua hal mengenai perbuatan buruknya pada orang tua.


Namun, meskipun sudah menahan sekuat tenaga, Zafer saat ini tetap tidak bisa melakukannya karena bola mata telah dipenuhi oleh bulir kesedihan untuk kesekian kali.


Sementara itu, Tsamara yang melihat perbuatan Zafer, benar-benar tidak tega dan buru-buru mengarahkan kursi roda untuk mendekati pria yang saat ini telentang di atas ranjang perawatan.


Refleks Tsamara menahan dengan sangat kuat tangan kanan Zafer yang dari tadi tidak berhenti mengarahkan pukulan pada bagian dada. Bahkan Tsamara memakai kedua tangan karena mengetahui bahwa tenaga tidak sebanding dengan kekuatan pria itu.


"Berhenti, Tuan Zafer! Anda tidak boleh menyakiti diri sendiri karena perbuatan buruk orang lain. Aku sekarang merasa yakin."

__ADS_1


Zafer yang tadinya masih tidak ingin berhenti memberikan hukuman pada diri sendiri karena perbuatan di masa lalu yang mengorbankan orang tua karena tidak pernah merasa bangga dan bahagia memiliki putra seperti dirinya.


Hingga begitu mendengar kalimat terakhir dari Tsamara, kini menatap indahnya wajah wanita di hadapannya tersebut. "Merasa yakin?"


Tsamara seketika menganggukkan kepala dan langsung mengungkapkan apa yang ada di dalam hati. "Iya, aku merasa yakin dengan keputusanku untuk selamanya bersama Anda."


"Saat mengetahui bahwa papa dan mama mengalami kecelakaan dan mengirimkan pesan sebelum itu terjadi, sudah memutuskan akan tetap bersama Anda selamanya."


"Jika dulu mengambil keputusan karena ingin membuat papa dan mama bahagia, tapi sekarang alasan yang tepat adalah ingin membuka lembaran baru untuk merasakan kebahagiaan."


"Aku ingin membina rumah tangga yang dirahmati Tuhan seperti keinginan orang tua Anda. Sekarang begitu melihat ketulusan Anda, merasa yakin bahwa kita bisa menjadi keluarga yang bahagia suatu saat nanti."


Tsamara yang dari tadi menahan telapak tangan Zafer, kini mengarahkan dengan mencium punggung tangan itu. "Jadilah pemimpin yang baik untukku dan menjadi ayah dari anak-anak kita."


Zafer yang saat ini hanya terdiam seperti patung karena merasa sangat terharu dengan apa yang baru saja dilakukan oleh wanita sebaik malaikat itu.


Hal yang tidak pernah didapatkan dari Rayya yang selama ini dipuja dan dicintai, sehingga kini merasa berubah menjadi seorang raja yang mendapatkan ratu paling sempurna di dunia.


"Tsamara," lirih Zafer yang masih tidak bisa menahan diri dari rasa haru atas perbuatan Tsamara yang sudah mencium punggung tangannya.


Tsamara saat ini mengangkat pandangan dan bersitatap dengan Zafer. Melihat iris tajam itu dipenuhi oleh bulir air mata, refleks Tsamara mengarahkan tangan untuk membersihkan.


Melihat sang suami sangat lemah, Tsamara benar-benar tidak tega dan ingin menghibur perasaan pria itu. "Apa kamu menangis karena mengetahui bahwa aku adalah seorang wanita yang sempurna untukmu?"


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2