Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Permohonan mertua


__ADS_3

"Aku pun akan mendisiplinkan putraku, memastikan kebutuhan finansial terpenuhi, memilihkan bentuk pendidikan terbaik, memastikan selalu sehat dan membawanya ke fasilitas kesehatan yang baik. Meskipun hanyalah seorang single parent, tapi tidak akan pernah menyurutkan semangatku.


"Keanu adalah tanggung jawabku, atas motivasi cinta kasih, secara sadar aku akan mengemban kewajiban untuk memelihara dan membina sampai ia mampu berdiri sendiri ketika dewasa nanti, baik secara fisik sosial maupun moral."


"Namun, aku tidak yakin bisa memenuhi tanggungjawab jika masih terus bersama tuan Zafer. Putraku akan selalu melihat sikap arogan ayah tirinya dan itu akan berdampak pada mental dan perkembangan. Jika Keanu tumbuh dalam keluarga broken home, aku takut ia akan terjerumus ke dalam hal-hal buruk di masa depan."


"Apalagi orang tua merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialami oleh anak." Tsamara ingin pasangan suami istri itu tidak menghalanginya pergi dari rumah itu, sehingga memilih untuk menjelaskan panjang lebar mengenai alasan ia melakukan ini.


"Orang tua merupakan lembaga pendidikan yang bersifat kodrati dan bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik."


Baru saja menutup mulut, ia kini melihat pasangan suami istri itu dengan kompak berbicara.


"Anda pergi saja dari sini. Biar saya yang bertanggungjawab nanti jika tuan besar datang." Pria paruh baya tersebut meraih dua koper yang tadi diletakkan kembali di lantai marmer berkilat itu. Kemudian berjalan menuju ke arah pintu gerbang besi di hadapannya.


Sementara itu, pelayan wanita mengikuti sang suami dengan masih menggendong Keanu. Ia adalah seorang ibu yang pastinya mengetahui bahwa apa yang diinginkan wanita itu adalah hal wajar.


Bagi seorang ibu, hanyalah ingin anak yang dilahirkan mendapatkan hal yang terbaik. Jadi, ia pun berpikiran sama dengan sang suami. Akan bertanggungjawab jika Adam Dirgantara dan sang istri murka pada mereka.


Tsamara saat ini menggerakkan kursi roda mengikuti pasangan suami istri tersebut dengan napas lega bisa terbebas dari penjara yang mencekiknya.


Meskipun ia tahu jika semua penjelasannya tadi sangat konyol karena dulu meninggalkan anak pertama yang pasti sekarang sangat membencinya.

__ADS_1


Ia tidak bisa meninggalkan Keanu karena sang ayah sama sekali tidak memperdulikan putranya. Sementara Ferdi memiliki ayah yang sangat menyayangi. Pertimbangan itulah yang membuatnya tetap bertahan hingga saat ini.


Namun, ia merasa harapannya sia-sia ketika melihat mertuanya ternyata baru saja tiba dan menyuruhnya untuk tetap tinggal.


'Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini? Aku tadi bersusah payah untuk membuat pelayan tidak menahan kepergianku. Namun, setelah mendapatkannya, masih ada penghalang lain yang tak lain adalah mertuaku.'


'Apakah aku salah jika mengeluh seperti ini, Tuhan?' gumam Tsamara yang kini masih belum bisa membuka mulut untuk menanggapi perkataan mertuanya.


'Kenapa aku bisa suudzon padamu Tuhan. Ampuni aku. Aku harus ikhlas dan tegar dalam menghadapi hukuman dari-Mu karena memang di masa lalu telah berbuat dosa besar.'


'Aku tidak boleh mengeluh menjalani ujian-Mu. Aku berharap, semoga suatu saat nanti hidup bahagia bersama putraku. Semoga semua kebaikan selalu bersamanya. Putraku, yang malang. Maafkan ibu karena telah membuatmu berada dalam kondisi buruk seperti ini.'


Lamunan Tsamara seketika buyar begitu mendapatkan sentuhan pada pundaknya. Ia kini bisa melihat sosok wanita paruh baya yang masih sangat cantik berdiri di hadapannya.


Tentu saja saat melihat mertua yang sangat baik tersebut, membuat Tsamara merasa bersalah. Seolah ia seperti orang tidak tahu balas budi pada mereka karena telah berbuat baik padanya.


Namun, ia belum seketika membekap mulut begitu melihat sosok pria paruh baya yang disapanya berbuat hal diluar nalar.


"Tuan Adam, apa yang Anda lakukan?"


Begitu juga dengan suami istri yang bekerja di rumah itu. Mereka berekspresi sama seperti sang majikan yang terkejut karena melihat seorang pengusaha sukses dan terkenal, dihormati banyak orang tersebut memilih untuk merendahkan harga diri di depan sang menantu yang akan pergi.

__ADS_1


Erina hanya terdiam membisu melihat sang suami tengah berusaha untuk menghentikan menantu pergi dengan cara berlutut.


'Zafer, bahkan ayahmu berbuat hal seperti ini demi bisa menyelamatkanmu, agar kembali menjadi seorang pria baik. Kau tidak tahu bahwa semua yang dilakukan hanyalah demi kebaikanmu,' gumam Erina yang saat ini tengah berjalan mendekati sang suami dan mengarahkan tangan pada pundak pria itu.


"Tsamara, tetaplah di sini untuk menjadi menantu kami karena hanya bisa berharap padamu. Aku yakin bahwa kau akan bisa membuat Zafer berubah. Jadi, jangan pergi. Aku akan selalu mendukung dan berada di belakangmu."


Adam Dirgantara berpikir jika hanya itu satu-satunya cara untuk menghentikan sang menantu pergi dari rumah. Jadi, ia tanpa membuang waktu memilih untuk berlutut di hadapan Tsamara


Ia yakin jika Zafer adalah seorang wanita yang baik dan telah berhijrah menjadi manusia yang bertobat dan tidak akan pernah melakukan kesalahan lagi. Jadi, ia berharap sang menantu bisa membuat putranya pun berubah.


"Zafer harus menjadi pria yang baik dan aku yakin kau bisa merubahnya. Kami sudah tua dan tidak tahu harus dengan cara apa lagi menasihati. Meskipun aku terkesan memaksamu, tapi ini adalah jalan terbaik untuk kalian."


"Apa kau tidak merasa kasihan pada putramu yang akan merasa bersalah karena ketika dewasa nanti menganggap diri sendiri adalah beban. Keanu tidak akan tega melihatmu bekerja keras sendiri untuk membesarkannya dalam keadaan cacat seperti ini."


"Aku masih mencari dokter untuk menyembuhkan kakimu, agar bisa berjalan lagi. Jadi, bersabarlah. Aku akan menebus kesalahan Zafer yang telah menabrakmu." Adam Dirgantara sudah mengungkapkan semuanya dan menunggu keputusan dari sosok wanita yang dari tadi hanya diam tersebut.


Sementara Tsamara saat ini tengah diliputi kegundahan dan kebingungan untuk mengambil keputusan. Ingin sekali ia tidak memperdulikan permohonan mertuanya, tetapi tidak tega.


Namun, ia pun ingin segera pergi dari rumah pria yang sama sekali tidak menginginkannya dan menyuruh untuk menandatangani surat perceraian.


"Tuan Aldi ...."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2